
“Yaudah, nanti Ayah ke sana. Ini mau kerja dulu. Gak sabar Ayah mau ketemu menantu dan cucu,” ucap Ayah.
“Iya, Yah. Anaknya mah lewat ya,” celetuk Afkar membuat mereka berdua tertawa bersamaan.
Setelah selesai berkabar dengan orang tuanya bertepatan pula Afkar udah sampai di tempat kerjanya.
Afkar masuk dengan wajah begitu ceria, sampai semua orang kaget dan bertanya-tanya karena beberapa bulan ini Afkar kerja dengan wajah kusut dan gak bersemangat.
Lestari yang melihat Afkar datang dengan wajah gembira langsung menghampiri, karena tau kalau mood Afkar sedang baik. Dia pernah kemarin sewaktu Zhafira belum sadar mood Afkar tidak baik hingga Lestari jadi sasaran amukan dari Afkar sebab Lestari selalu berusaha mendekati Afkar.
“Pagi, Pak Afkar, sepertinta hari ini bapak sangat bahagia? Mau saya buatkan minum?” tawar Lestari sambil tersenyum.
Afkar tanpa menjawab sapaan Lestari langsung masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan, Afkar begitu bersemangat untuk cepat menyelesaikan kerjaan agar lebih cepat pulang untuk bertemu istri cantiknya.
Afkar melihat jadwal kalau hari ini jadwal untuk menikahkan orang pada malam hari, jadi Afkar berinisiatif untuk pulang dulu setelah itu ketemuan dengan temannya di tempat yang dituju.
Setelah Afkar menyelesaikan beberapa pekerjaannya, Afkar pun segera memanggil temannya yang nanti menemani Afkar di acara pernikahan tersebut.
Tak berapa lama, teman Afkar datang dan bertanya, “Iya, Pak. Bagaimana?”
“Nanti saat kita ke acara nikahan, kita ketemuan di sana aja gimana?” balas Afkar bertanya.
“Oh, gak masalah, Pak. Lagian acarnya kan malam, kelamaan juga kalau kita nunggu di sini, Pak,” jawabnya.
“Oke, kalau gitu ... saya pulang duluan ya, kerjaan saya udah beres, dan tolong sebelum berangkat berkasnya disiapkan,” titah Afkar diangguki oleh teman Afkar kemudian segera keluar dari ruangan Afkar.
Setelah teman Afkar keluar, Afkar segera bersiap untuk pulang.
Saat di perjalanan, Afkar terlebih dahulu mampir di barbershop karena dia ingin terlihat rapi di mata istrinya.
Setelah dari babershop, Afkar segera mampir di toko bunga untuk memberikan bunga yang indah dan juga membelikan makanan kesukaan Zhafira.
Setelah dirasa cukup, Afkar segera menuju ke rumahnya dengan wajah yang tampak berseri-seri tak sabar untuk berjumpa dengan istrinya.
Saat sampai rumah, Afkar memutuskan langsung menuju ke kamar mencari istrinya. Namun, langkahnya dihentikan oleh Bunda.
“Assalamu’alaikum, Papa,” ucap Bunda Hanum mendekat pada Afkar sembari menggendong Chayra.
“Wa’alaikumussalam ... Eh, Bunda masih di sini. Chayra cantik, kamu sama mbah putri ya, Nak. Mama Chayra mana, Bund?” balas Afkar sembari bertanya.
“Mamanya lagi di kamar, kamu susul aja, Nak,” jawab Bunda.
Afkar pun segera berlalu pergi menuju ke kamarnya. Ternyata Zhafira sedang di kamar mandi. Afkar pun menunggu sampai Zhafira keluar kamar mandi.
Zhafira yang baru keluar dari kamar mandi, terkejut saat melihat Afkar udah duduk di sofa.
“Loh, Mas ... kok udah pulang?” tanya Zhafira.
__ADS_1
“Iya, Sayang, aku ‘kan masih kangen sama kamu,” jawab Afkar.
“Mas, kamu kelihatan beda dari tadi waktu berangkat loh, kamu semakin tampan,” balas Zhafira.
“Ya iyalah, Sayang, kan kamu udah sehat, jadi aku semangat lagi untuk merapikan diriku sendiri.”
Zhafira pun tersenyum dan beralih pada barang yang disamping Afkar.
“Kamu bawa apa itu, Mas?” tanya Zhafira.
“Ini untuk kamu istriku tercinta,” jawab Afkar sambil memberikan bunga dan makanan untuk Zhafira.
“Bunga yang indah, berasa pengantin baru deh. Terima kasih ya, Suamiku sayang,” balas Zhafira memeluk Afkar dengan erat.
“Aku yang terima kasih, Sayang, kamu udah berjuang sembuh untuk keluarga kita,” kata Afkar. Zhafira pun semakin erat memeluk Afkar.
“Sayang, ayo kita keluar kita makan di ruang makan, aku juga udah kangen sama putri cantik kita,” lanjut Afkar.
“Iya, Mas, sebentar. Fira pakai hijab dulu.” Zhafira pun segera mengenakan hijabnya dan segera keluar untuk menyiapkan makanan di meja makan.
Bunda yang melihat anak dan menantunya udah keluar pun segera mendekat dengan membawa Chayra.
“Bund, sini biar Fira yang gendong,” ucap Zhafira.
“Udah, Nak. Kamu makan dulu, setelah itu gendong Chayra,” titah Bunda diangguki oleh Zhafira.
Mereka pun segera memakan makanan yang dibeli Afkar. Setelah selesai, Afkar mengajak Zhafira dan Bunda duduk di ruang tengah.
“Sayang, kita ke rumah sakit ya, karena kamu kan baru sadar biar di periksa dokter dulu,” ucap Afkar.
“Fira udah gapapa, Mas. Udah gak ada keluhan, sebaiknya gak usah ke rumah sakit ya,” balas Zhafira.
“Bi Minah, tolong panggilkan suster Desi,” pinta Afkar.
Bi Minah yang berdiri di belakang Bunda Hanum pun mengangguk dan segera memanggil suster Desi.
Tak lama, Bi Minah dan suster Desi datang ke ruang tengah dan bertanya, “Bapak memanggil saya?”
“Begini, Sus, untuk kesehatan istri saya bagaimana? Apa perlu saya bawa ke rumah sakit?” tanya Afkar.
“Kalau secara keseluruhan, Ibu Zhafira udah sembuh, Pak, tapi saya sarankan sebaiknya bapak temui dokter dulu, biar dokter memeriksa ibu lagi,” jawab suster Desi menjelaskan.
“Baiklah, Sus, dan maaf sebelumnya. Karena istri saya udah sembuh, suster bisa kembali lagi bekerja di rumah sakit. Terima kasih banyak karena selama ini suster Desi sudah telaten dan baik merawat istri saya,” balas Afkar sambil memberikan amplop untuk suster Desi.
“Sama-sama, Pak, saya minta maaf kalau dalam merawat ibu saya ada kesalahan. Baiklah, Pak, Bu, kalau gitu saya pamit kembali ke rumah sakit,” ucap suster Desi.
“Iya, Suster, hati-hati ya,” balas Zhafira.
Dan suster Desi pun segera membereskan pakaiannya kemudian segera pamit pulang kembali kerja di rumah sakit.
__ADS_1
Setelah suster Desi pergi, Afkae pun mengajak Zhafira ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan istrinya pasca koma.
“Chayra, Sayang ... kamu di rumah sama mbah putri dan bi Minah ya, Sayang. Mama dan Papa hanya pergi sebentar,” ucap Zhafira lembut mengusap pipi gembul putrinya.
“Bunda, Fira titip Chayra sebentar ya, Bund,” lanjut Zhafira mencium punggung tangan Bunda.
“Hati-hati ya, Nak,” balas Bunda mengusap kepala Zhafira.
Kemudian Zhafira berlalu pergi menuju mobil karena Afkar udah menunggu di sana.
Setelah mereka pergi, Bi Minah pun menutup pintunya. Bunda membawa Chayra masuk kembali dan bermain di ruang tengah ditemani Bi Minah.
Tak lama, Zhafira dan Afkar udah tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke ruang dokter yang menangani.
Setelah antre, saatnya Zhafira dipanggil, Zhafira pun segera masuk bersama Afkar yang selalu setia menemani istrinya.
Dokter pun melihat siapa yg datang, “Wah wah, alhamdulillah ibu udah sadar ya.”
“Iya, Dokter, kedatangan kami di sini ingin memeriksakan keadaan istri pasca koma,” balas Afkar.
“Oh, baiklah. Silakan berbaring dulu, Bu,” titah dokter.
Dokter pun segera memeriksa Zhafira. Dan, tak lama kemudian Zhafira kembali duduk untuk mendengarkan penjelasan dari dokter.
“Bu, kami memastikan ibu saat ini udah benar-benar sehat dan tidak ada yang dikhawatirkan. Selamat ya, Bu,” ucap dokter membuat Afkar dan Zhafira saling pandang dan melempar senyuman.
“Alhamdulillah,” lirih Zhafira.
“Hmm ... dokter, saya mau menyampaikan sesuatu,” ucap Afkar.
“Iya, ada apa, Pak?” tanya dokter.
“Karena peralatan medis yg di rumah sudah gak dipakai, rencana akan saya berikan ke rumah sakit ini. Apa bisa?” ungkap Afkar.
“Alhamdulillah ... kami mewakili dari rumah sakit dengan senang hati menerima. Nanti saya akan meminta seseorang mengambilnya ya, Pak,” kata dokter.
Setelah berbincang, kemudian mereka keluar dari ruang dokter, mereka segera keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah.
Saat sampai rumah, ternyata Ayah, Papa, Mama, dan Syara udah menunggu di rumah.
“Papa, Mama,” kata Zhafira langsung berhambur memeluk papa dan mamanya bergantian. Dan dari dalam kamar, Syara keluar sambil menggendong Chayra.
“Ayah,” panggil Zhafira menyalimi Ayah Reyhan.
Syara memberikan Chayra pada Afkar. Kemudian, Syara segera memeluk Zhafira.
“Kak Fira,” ucap Syara dalam pelukannya.
Setelah berpelukan mereka semua duduk dan mengobrol di ruang tengah.
__ADS_1
“Nak, papa dan mama sangat senang akhirnya kamu udah sadar, gimana kata dokter?” ucap Papa.