Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.25 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Saat Afkar masuk ke ruang rawat, makanan yang disiapkan untuk Zhafira tetap berada di atas nakas, Zhafira sama sekali gak mau menyentuh makanannya. Afkar khawatir kalau sampai Zhafira gak mau makan.


“Sayang, kok belum di makan? Makan ya, Sayang, kasihan anak kita kalau kamu gak makan, aku minta maaf ya,” ucap Afkar sambil memegang tangan Zhafira.


Tangan Zhafira digenggam erat oleh Afkar, saat hendak mencium tangan sang istri, Zhafira segera melepaskan genggaman tangan Afkar.


“Sayang, kamu boleh marah sama aku, tapi, aku mohon jangan siksa diri kamu dan anak kita,” titah Afkar.


Tak berapa lama orang tua Zhafira dan Afkar datang langsung masuk ke ruang rawat Zhafira.


“Assalamu’alaikum,” salam mereka serempak.


“Wa’alaikumussalam,” balas Afkar.


Mama langsung memeluk Zhafira, begitu juga dengan Papa.


“Kamu kenapa, Sayang? Tadi waktu Papa ke rumah, kamu gapapa,” tanya Papa. Namun, Zhafira tetap gak mau ngomong.


Ayah mengajak Afkar keluar ruangan karena ingin menanyakan sesuatu.


“Afkar, ada apa dengan Fira? Jawab jujur!” tanya Ayah.


Afkar pun menceritakan semua tak ada yang ditutup-tutupi olehnya.


Ayah Reyhan pun langsung marah, “Bukannya tadi Ayah udah bilang ke kamu, Afkar, jangan emosi, Fira itu lagi hamil. Trus sekarang gimana? Fira udah kecewa karena kamu meragukannya.”


“Maafkan Afkar, Yah, itu karena Afkar takut kehilangan Fira,” balas Afkar.


“Sekarang Ayah gak tau dan gak bisa bantu, kita tunggu keputusan Fira aja,” ucap Ayah dan mengajak Afkar masuk ke ruangan Zhafira.


Di dalam ruangan, ternyata Zhafira sedang disuapi oleh Mama. Afkar merasa lega karena Zhafira akhirnya mau makan. Setelah makan, Zhafira pun di kasih obat kemudian tidur.


Papa dan orang tua Afkar pamit pulang, sedangkan Mama menemani Zhafira karena Zhafira gak mau di temani Afkar.


Keesokan paginya, setelah dokter memeriksa Zhafira ternyata kondisi Zhafira sudah membaik dan boleh pulang.


Afkar keluar dari kamar Zhafira dengan menunduk sedih. Sebelum keluar, Afkar berpamitan dengan Mama.

__ADS_1


“Ma, Afkar titip Fira, ya, Fira gak mau Afkar ajak pulang, malah Afkar disuruh pulang sendiri,” ucap Afkar Saat berada di hadapan Mama.


“Iya, Nak, Mama akan jaga istrimu, berikan dia ruang untuk berfikir, ya,” balas Mama dengan lembut.


Setelah berpamitan, akhirnya Afkar memutuskan pulang ke rumah Ayah Reyhan. Sesampainya di rumah, Afkar bertemu Bunda Hanum.


“Loh, kok ke sini? Emangnya gak nungguin istri kamu di rumah sakit?” tanya Bunda Hanum.


“Fira udah pulang dari rumah sakit, Bund, tapi Fira belum mau tinggal sama Afkar,” jawab Afkar sedih.


“Kamu yang sabar ya, Nak, biarkan dulu Fira tinggal di rumah papanya,” balas Bunda Hanum.


Afkar langsung masuk kamar dan segera berangkat kerja, sebenarnya Afkar sangat malas mau masuk kantor. Tapi, hari ini dia ada acara nikahan di beberapa tempat membuatnya mau gak mau harus tetap bekerja.


Afkar masuk mobil dan mobil pun melaju meninggalkan rumah Ayah.


Afkar tetap melakukan pekerjaannya walaupun dia gak fokus. Namun, Afkar tetap melakukan pekerjaannya.


Tak terasa dua bulan berlalu, dan selama itu juga Afkar dan Zhafira belum tinggal bersama. Afkar sering mengunjungi Zhafira tapi Zhafira tetap menolak di ajak pulang oleh Afkar. Afkar merasa hampir putus asa, tapi dia gak bisa berbuat apa-apa karena letak kesalahan ada di Afkar karena telah meragukan cinta Zhafira.


Zhafira tetap dengan aktivitasnya pergi bekerja, berangkat ke kantor bareng dengan Syara. Di kantor, Syara selalu mengawasi Zhafira jika bertemu dengan Daffa.


Daffa pun tak bisa menginjakkan kaki masuk ke dalam kantor ataupun hanya berdiri di depan kantor karena Reigha selaku pimpinan perusahaan udah memblacklist Daffa untuk tidak berkeliaran di sekitar kantor atas permintaan Afkar.


Setelah pulang kerja, Afkar merasa gak enak badan, dia segera masuk ke kamar untuk beristirahat. Selama dua bulan ini, Afkar sama sekali tidak memikirkan dirinya dan penampilannya serta kesehatannya.


Malam hari saat makan malam, Afkar belum juga keluar kamar akhirnya Bunda Hanum menyuruh Ayah memanggil Afkar.


Ayah segera menuju ke kamar Afkar dan langsung masuk ke dalam. Ayah melihat Afkar yang tidur, Ayah merangkul segera membangunkannya.


“Afkar, bangun makan dulu,” ucap Ayah sambil memegang lengan Afkar.


Ayah kaget karena badan Afkar terasa panas, “Ya Allah, Nak, kamu demam.”


Ayah dengan segera memanggil sang istri, “Bunda, cepat ke kamar Afkar, anak kita sakit!” teriak Ayah.


Bunda segera ke kamar tak lupa membawa termometer yang diambilnya di kotak obat.

__ADS_1


Bunda segera masuk ke kamar Afkar dan menaruh termometer di ketiak Afkar. Setelah lima menit, termometer diambil dan dilihat oleh Bunda, ternyata suhu 40°C.


“Ya Allah, Yah ... demamnya sangat tinggi, ayo kita bawa ke rumah sakit saja!” seru Bunda yang khawatir dengan putranya.


“Yaudah, ibu siapkan baju Afkar ya, Ayah siapkan mobilnya,” balas Ayah


Ayah segera keluar untuk menyiapkan mobilnya, tak berapa lama, Ayah masuk lagi untuk memapah Afkar dan membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah bunda Hanum masuk, mobil pun melaju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Afkar segera di bawa ke IGD. Dokter jaga pun segera memeriksanya dan ternyata Afkar terkena tipes dan harus dirawat. Afkar pun segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Ayah Reyhan segera memberi kabar pada besannya.


Di tempat lain, tepatnya di kediaman Papa Fadlan, mereka semua tengah berkumpul di ruang makan termasuk Zhafira pun berada di sana yang sedang makan bersama orang tuanya juga Syara.


“Fira, ini udah dua bulan kamu tinggal di sini, sampai kapan kamu akan tinggal bersama kami? Secara tidak langsung, kamu mengabaikan tanggung jawab kamu ke suami,” ucap Papa.


“Huh, buat apasih, Pa, tinggal bersama kalau gak ada rasa saling percaya,” balas Zhafira merotasikan bola matanya malas.


“Kalau memang seperti itu, yaudah, Papa akan segera urus perceraian kamu dengan Afkar. Daripada kamu akan terus menambah dosa karena kamu jadi istri yang mengabaikan suami,” titah Papa Fadlan membuat Zhafira kaget.


“Kok Papa malah mau Fira bercerai? Fira gak mau bercerai, Pa,” protes Zhafira.


“Kalau kamu gak mau bercerai, segera selesaikan masalah kamu. Bukan malah mendiamkan suami terus menerus, bukannya Afkar juga udah minta maaf dan menyesalinya,” balas Papa yang bersamaan dengan ponsel Papa berdering, ternyata Ayah yang menelpon mengabarkan Afkar sakit dan di rawat di rumah sakit.


Setelah telpon ditutup, Papa segera menyelesaikan makan malamnya dan mengajak Mama segera bersiap.


“Ayo, Ma, segera habiskan makanannya. Setelah itu, cepat bersiap, kita ke rumah sakit,” ucap Papa.


“Siapa yang sakit, Pa?” tanya Mama.


“Afkar, Ma. Afkar masuk rumah sakit,” jawab Papa.


“Hah? Mas Afkar sakit, Pa? Sakit apa? Fira ikut,” balas Zhafira merengek minta ikut pada Papa.


“Ngapain kamu ikut? Bukannya kamu udah gak peduli sama suami kamu? Udah, kamu di rumah aja ditemani Syara. Papa akan membahas perceraian kamu ke Afkar juga,” ucap Papa segera meninggalkan meja makan. Namun, disusul oleh Zhafira.


“Pa, jangan ... Fira sangat mencintai Mas Afkar. Fira gak mau bercerai dari Mas Afkar, Pa,” lirih Zhafira memegang lengan Papa untuk menahan langkah Papa Fadlan.


“Pa, Fira ikut Papa dan Mama ke rumah sakit,” lanjut Zhafira.

__ADS_1


__ADS_2