Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.44 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Afkar pun bersiap pergi ke kantor.


“Mas, hati-hati, ya ... Mas gak usah ngebut loh, ya!” seru Zhafira.


“Iya, Sayang, kamu di rumah aja ya. Ingat, jangan ngerjain apa-apa. Kamu sedang sakit,” balas Afkar.


“Iya suamiku, Sayang ... Fira akan diam aja sampai kamu pulang,” kata Zhafira. Dan, Afkar pun mencium kening Zhafira lalu segera berangkat.


Saat di perjalanan menuju ke kantor, Afkar ditelpon sama papa Fadlan.


“Assalamu’alaikum, Pa ... ada apa?” tanya Afkar.


“Wa'alaikumussalam. Afkar, Syara bilang ada perempuan yang mengganggu rumah tangga kalian, apa itu benar? Papa gak akan ikut campur, hanya saja, papa pesan selesaikan masalah ini secepatnya,” jawab papa Fadlan.


“Iya, Pa, tapi alhamdulillah udah selesai kok, Pa, wanita itu udah dipenjara,” balas Afkar.


“Alhamdulillah, tapi sebenarnya ada masalah apa?” tanya papa Fadlan.


“Nanti aja ya, Pa, kami ke rumah papa, biar jelas masalahnya,” balas Afkar.


“Baiklah, sampai jumpa nanti malam, papa tutup telponnya, ya. Assalamu’alaikum,” kata papa Fadlan.


“Iya, Pa, Wa’alaikumsalam.” Setelah meletakkan ponselnya kembali, Afkar melajukan mobilnya menuju ke KUA.


Setelah sampai, Afkar segera mengambil berkas untuk dikerjakannya dan setelah itu dia kembali ke tempat kerja.


Saat mau masuk ruangannya, Afkar bertemu Lestari yang selalu menyapanya, “Pagi, Pak ... mau saya buatkan minuman?”


“Tidak perlu.” Afkar berlalu masuk ke ruangannya.


Di tempat perusahaan Syara bekerja, Syara yang sedang mengerjakan kerjaannya mendengar temannya yang bergosip.


“Eh, tau gak semalam waktu gue mau dinner, itu ada wanita ngamuk di depan restoran itu,” ucap Lia teman Syara.


“Emang kenapa wanita itu bisa ngamuk? Di depan restoran lagi. Gak malu apa,” kata Rosa menimpali.


“Katanya dia itu suka sama pemilik restorannya, tapi pemilik restorannya udah punya istri,” balas Lia.


“Wahhh, nekat banget tu.”


Syara yang mendengar pun jadi tertarik dan ikut nimbrung, “Emangnya restoran itu, apa namanya?” tanya Syara.


“Itu loh, Ra, restoran NUANSA RASA,” jawab Lia.


Deg.


Syara yang tau kalau itu restoran punya Afkar, segera keluar dan menelpon Zhafira.


Tapi saat mau menelpon, Syara tiba-tiba dipanggil bagian HRD. Syara pun segera ke ruangan HRD.


Tok...Tok...Tok...


“Maaf, Pak. Bapak manggil saya?” tanya Syara.


“Iya, ini terkait izin cuti kamu. Udah disetujui oleh Pak Reigha,” jawab HRD.

__ADS_1


“Wah, Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya, Pak. Itu saja, Pak?” balas Syara dengan sangat senang.


“Sebenarnya saya juga mau bertanya tentang kakak kamu, Syara, gimana keadaan kakak kamu? Masih ingin kerja atau resign?” tanya HRD.


“Nanti akan saya tanyakan ya, Pak, soalnya saya belum pernah bahas masalah ini ke kakak saya,” jawab Syara.


“Baiklah, secepatnya kabari ya!” seru HRD.


Dan setelah selesai, Syara pun keluar dari ruangan HRD, setelah keluar tepat makan siang Rendra mengajak Syara makan siang di kantin kantor karena hari ini kerjaannya sangat banyak sebelum dia cuti.


Setelah makan siang selesai, mereka pun segera menyelesaikan kerjaannya.


Di kantor Afkar, saat makan siang Lestari yang selalu caper, dia membelikan makanan untuk makan siang Afkar.


Tok...Tok...Tok...


“Masuk!” sahut Afkar dari dalam.


Lestari pun masuk ke ruangan Afkar, “Maaf, Pak, ini udah waktunya makan siang, saya belikan bapak makan siang. Tolong untuk sekali ini aja hargai pemberian saya.”


Dan setelah itu Lestari pergi. Saat Lestari udah menutup pintunya, Afkar menelpon OB. Tak lama kemudian OB pun datang.


“Bapak panggil saya?” tanya Wanto selaku OB di KUA.


“Iya, saya minta tolong bereskan ruangan saya, setelah itu tolong kunci aja ruangan saya, jangan ada yang berani masuk. Kunci kamu bawa aja!” seru Afkar.


“Baik, Pak. Apa bapak nanti akan kembali?” tanya Wanto.


“Iya, saya setelah makan siang akan kembali. Dan ini makan siang untuk kamu,” jawab Afkar.


Afkar pun segera keluar ruangan untuk pulang kerumah makan siang. Afkar segera mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya.


Saat sampai rumah ternyata Zhafira sedang menyiapkan makan siang.


“Assalamu’alaikum, Sayang,” ucap Afkar mencium kening Zhafira.


“Wa’alaikumussalam, Mas. Duduk yuk, kita segera makan siang aja ya,” titah Zhafira.


“Sayang, kamu kan udah aku larang ngerjain apa-apa. Ini kok malah masak?” tanya Afkar yang terkesan protes.


“Mas, cuma masak sebentar kok, bumbunya juga simpel, gak perlu ngulek jadi gak buat lenganku sakit kok,” jawab Zhafira.


“Kamu itu kalau dibilangin ngeyel ya!” seru Afkar mencubit hidung istrinya.


Zhafira pun tersenyum, setelah itu mereka pun makan siang bersama, setelah Zhafira selesai makan, seperti biasa, menggantikan bi Minah sebentar untuk bi Minah makan siang.


Saat Zhafira akan menggendong Chayra, Afkar segera melarangnya, “Etttsss, Sayang, biar aku aja, kamu lagi sakit.”


Zhafira pun nurut.


“Mas, kamu gak kembali ke kantor?” tanya Zhafira.


“Kembali, Sayang. Bentar lagi, nunggu bi Minah dulu, kamu minum obat dulu gih, biar Chayra aku yang jaga,” jawab Afkar.


“Baiklah, Mas, Fira ke dapur dulu ya,” balas Zhafira.

__ADS_1


Afkar pun mengangguk dan mengajak main putrinya. Tak berapa lama, bi Minah pun selesai, Afkar segera memberikan Chayra ke bi Minah.


“Sayang, papa berangkat kerja lagi ya. Nanti papa cepat pulang,” ucap Afkar sambil mencium pipi putrinya.


Setelah itu, Afkar keluar menuju ke dapur dan segera pamit ke Zhafira.


Saat sampai dapur dia melihat istrinya yang tengah duduk sambil memegang keningnya, “Sayang, kamu kenapa?”


“Gak tau, Mas, tiba-tiba aja kepalaku pusing,” jawab Zhafira.


“Yaudah, yuk aku antar ke kamar, istirahat di kamar ya,” titah Afkar.


Dan zhafira pun menurut saat dipapah sama suaminya.


Saat sampai kamar zhafira pun segera di bopong Afkae dan di baringkan di tempat tidur. Setelah menyelimuti istrinya, Afkar pun kembali ke kantor untuk segera menyelesaikan kerjaannya.


Afkar gak tenang meninggalkan Zhafira sendirian saat sedang sakit.


Saat di kamar, Zhafira mendapat telpon dari Syara, Zhafira yang udah tidur pun segera tterbangb mendengar ponselnya yang berdering.


“Assalamu’alaikum, Dek, ada apa?” tanya Zhafira.


“Wa’alaikumsalam, Kak, kok suaranya lemes banget?” balas Syara.


“Iya, kakak tadi tidur habis minum obat,” jawab Zhafira.


“Kakak sakit? Sakit apa?”


“Gapapa, kecapean aja. Ada apa kamu telpon?” tanya Zhafira.


“Nanti aja, Kak, pulang kerja Syara main ke rumah kakak ya,” jawab Syara.


“Yaudah, kalau gitu kesinilah,” balas Zhafira. Dan mereka pun mengakhiri telponnya.


Sementara Afkar yang udah tiba di kantor saking buru-burunya Afkar malah menabrak seseorang.


Bruk.


“Maaf,” kata Afkar.


“Gapapa, Pak, sering-sering juga gapapa,” balas Lestari.


Afkar pun segera pergi tanpa menanggapi perkataan Lestari.


Lestari yang merasa bajunya basah segera ke toilet untuk membersihkan sebentar, saat melewati pantry Lestari melihat kalau Wanto sedang makan makanan yang tadi dia berikan pada Afkar.


“Hei, Wanto, kok jam segini baru makan?” tanya Lestari yang mau memastikan tentang makanan yang dimakan oleh Wanto.


“Iya, Mbak, tadi baru selesai membersikan ruangan pak Afkar,” jawab Wanto dengan santainya.


“Lah, trus ini makanan dari mana?”


“Dikasih pak Afkar, Mbak,” balas Wanto.


Lestari pun segera pergi menuju ke ruangan Afkar. Namun, saat mau masuk keruangan Afkar, ternyata ...

__ADS_1


__ADS_2