Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.65 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Sayang, sebentar ya ... aku ke kamar dulu,” ucap Afkar pada Zhafira.


“Iya, Mas,” balas Zhafira.


“Papa dan ayah udah lama sampai?” tanya Zhafira.


“Ya ... gak lama, Nak, mungkin 15 menit setelah itu kamu dan suami kamu datang,” jawab ayah Reyhan.


“Papa dan ayah gak ke kantor?” tanya Zhafira lagi.


“Hari ini sengaja papa izin karena mau menemani kamu seharian,” jawab papa Fadlan.


“Kalau ayah memang udah dari kemarin izin. Mau jagain cucu,” kata ayah Reyhan.


“Papa, Ayah ... makasih ya karena selalu ada buat kami,” ucap Zhafira.


“Ya pastilah, Sayang, kalian kan anak kita. Ya nggak, Han?” kata papa Fadlan.


“Iyalah ... itu pasti,” balas ayah Reyhan.


Dan karena waktu udah malam, papa Fadlan dan mama Latifah yang sejak tadi bermain dengan cucunya pun pamit pulang. Karena papa Fadlan dan mama Latifah mau menemani Syara yang lagi hamil.


“Fira, Afkar ... papa dan mama pamit pulang dulu ya,” ucap papa Fadlan berpamitan.


“Iya, Pa, Ma. Hati-hati ya, sdh malam, Pa, Ma,” balas Afkar.


“Papa dan mama kenapa gak nginap sini aja? Ini udah malam loh,” kata Zhafira.


“Kasihan Syara di rumah, Nak, dia ‘kan hamil,” ungkap mama Latifah.


“Oh ... iya juga ya, Ma. Yaudah, hati-hati ya, Ma, Pa,” balas Zhafira.


“Iya, Sayang. Assalamu’alaikum,” kata papa Fadlan.


Dan setelah dapat jawaban dari Afkar juga Zhafira, papa Fadlan dan mama Latifah pun jalan ke depan. Saat sampai di ruang tamu, ayah Reyham dan bunda Hanum lagi duduk santai.


“Reyhan, Hanum, titip anak-anak ya. Besok kalau kamu mau kerja gapapa. Biar kalau pagi sampai sore kami yang jaga,” ucp papa Fadlan.


“Udahlah, gak usah kamu pikirkan. Istriku tinggal di sini kok beberapa hari, gak usah khawatir,” balas ayah Reyhan.


“Iya, makasih ya. Aku pamit dulu,” kata papa Fadlan.


“Iya ... hati-hati ya!” seru ayah Reyhan.


Dan papa Fadlan dan mama Latifah pun bergegas pulang, ayah Reyhan dan ibu Hanum segera ke kamar.


Keesokan paginya, mama Latifah udah berada di ruang makan menunggu yang lain. Tak lamaz papa Fadlan, Syara dan juga Rendra datang bersamaan.


“Selamat pagi, Mama,” panggil Syara.

__ADS_1


“Pagi, Nak, ayo segera sarapan,” balas mama Latifah.


“Mama kok udah rapi, mau kemana, Ma?” tanya Syara.


“Mama mau ke rumah kakak kamu, Nak, bareng papa sekalian papa ke kantor,” jawab mama Latifah.


“Tolong sampaikan salam kami buat kak Fira ya, Ma, insyaaAllah nanti pulang kerja kami ke sana,” ucap Syara.


“Nah iya, Ma, Pa ... titip salam juga buat kak Fira dan kak Afkar,” imbuh Ridho.


“InsyaaAllah ya, Nak, nanti mama sampaikan,” balas mama Latifah.


“Papa, kok diam aja?” tanya Syara.


“Papa dari semalam kepikiran kakak kamu, Nak, makanya sarapan buru-buru pengen cepat kesana,” jawab papa Fadlan.


“Oh ... iya gapapa oh, Pa. Papa mau nginap sana syara kan ada mas Rendra yang jagain,” kata Syara.


“Iya, Nak, nanti kami pikirkan lagi,” ucap papa Fadlan.


Dan sarapan mereka selesai papa dan mama segera berangkat disusul kemudian Syara Dan Rendra yang segera berangkat ke kantor.


Di jalan, Syara sedang memikirkan apa yang akan di berikan untuk keponakannya.


“Mas ...kira-kira kita belikan apa ya untuk Adrian?” tanya Syara lirih.


“Nanti aja pas makan siang kita ke pusat perbelanjaan , kita pilih-pilih di sana. Gimana?” tanya Rendra.


Di rumah Zhafira, tampak mama Latifah sedang membahas aqiqah bersama bunda Hanum, dan mereka sepakat diadakan akhir pekan ini.


“Mbak, ini waktunya udah mepet loh. Gimana kalau kita segera menyiapkan aja apa yang perlu dibelanja dan sekalian kita ke catering langganan kita?” tanya bunda Hanum.


“Yaudah, ayo kita pergi, mumpung Fira dijaga Afkar, kita kan cuma sebentar,” balas mama Latifah.


“Kita naik apa ini, Mbak, suami-suami kita kan lagi pergi,” kata bunda Hanum.


“Udah udah, kita naik mobil online aja yuk,” ajak mama Latifah.


“Ma, Bunda, biar diantar mas Afkad aja, ya. Fira kan ada bi Minah yang nemenin,” ucap Zhafira.


“Emangnya gapapa, Nak? Nanti kamu kerepotan,” kata bunda Hanum.


“Gapapa, Bunda, malah mama dan bunda yang pasti kerepotan kalau naik mobil online, karena tujuannya kan gak hanya satu tempat,” ucap Zhafira.


“Mas, bisa kan antar mama dan bunda?” tanya Zhafira.


“Ya bisa lah, Sayang, asal kamu gak kerepotan jaga Adrian. Chayra biar aku bawa aja ya. Biar gak ganggu Adrian kalau bobok,” ucap Afkar.


“Iya, Mas. Makasih ya,” balas Zhafira.

__ADS_1


“Iya, Sayang, kok terima kasih segala. Ini kan juga untuk kita,” ucap Afkar.


Dan mereka pun setelah pamit segera pergi ke beberapa tujuan, tinggalah di rumah Zhafira sendirian.


Saat semua pergi, terdengar suara pintu diketok.


“Bi, tolong bukakan pintunya, tapi lihat dulu siapa yang datang ya, Bi,” pinta Zhafira.


“Iya, Bu, sebentar ya,” kata bi Minah.


Bi Minah segera ke depan dan melihat siapa yang datang, karena bi Minah gak mengenal siapa yang belum bertemu akhirnya bi Minah belum membukakan pintunya, bi Minah segera masuk ke kamar Zhafira.


“Akh akhirnya,”” tiada alarm.


“Bi Minah gak kenal Bu, pria itu belum pernah datang kerumah ini kata bi minah


“Pria yang datang, Bi? Siapa ya, Bi?” tanya Zhafira lirih yang segera berdiri melihat siapa tamu yang datang.


Zhafira segera membuka tirai dan melihat siapa yang datang.


Zhafira nampak berfikir, ‘Pria ini siapa ya? Aku gak kenal.’


“Tolong buka pintunya , aku tau kamu di rumah kata pria itu.x


“Cari siapa? Saya gak kenal kamu!” tanya Zhafira.


“Ya ... Kamu memang gak kenal aku, tapi kamu mengenal adikku. Cepat kamu buka, atau pintu ini aku dobrak!” bentak pria itu.


“Bi, ayo kita sembunyi di kamar, orang itu sepertinya berbahaya,” bisik Zhafira.


“Iya, Bu, ayo. Hati-hati ya, Bu,” ucap bi Minah.


Dan setelah sampai kamar , Zhafira menutup pintunya Dan segera menelpon afkar. Tapi saat di telp ternyata hp Afkar tertinggal.


“Aduhh, gimana ini, Bi, hp mas Afkar ternyata gak di bawa,” kata Zhafira panik.


“Ibu tenang ya, kalau ibu panik nanti mas Adrian nangis. Biar saya aja yang mencoba menelpon,” ucap bi Minah.


“Iya, Bi, coba bibi telpon semua ya,” pinta Zhafira.


Bi minah pun segera menelpon papa Fadlan.


“Assalamu’alaikum, Bi, ada apa?” tanya papa Fadlan.


“Maaf, Tuan ... ini ibu Zhafira sedang ketakutan kami di rumah sendiri, di luar ada orang gedor-gedor pintu tapi kami gak mengenalnya. Bahkan orang itu mau mendobrak pintunya,” kata bi Minah.


“Astagfirullah ... emang istriku dan besanku juga menantuku kemana, Bi?” tanya papa Fadlan.


“Pak Afkar, ibu Hanum dan ibu Latifah sedang pergi menyiapkan acara aqiqah, Tuan,” jawab bi Minah.

__ADS_1


“Yaudah, saya kesana sekarang, tetap di kamar dan kunci pintunya,” titah papa Fadlan.


__ADS_2