
“Dafa!” panggil Brian yang segera memeluknya.
“Bang, lo ...” lirih Dafa yang membalas pelukan dari Brian.
“Duduklah dulu, Dafa, ada yang harus lo setujui sebelum lo benar-benar bebas,” ucap Brian yang mengajak Dafa untuk membahas persyaratan yang telah dibuat oleh Afkar.
Afkar telah menepati janjinya untuk membebaskan Dafa, kini giliran Brian yang akan menjelaskan Syarat itu untuk menepati janji Brian pada Afkar membawa Dafa pergi jauh dari keluarga Afkar.
“Apa yang harus gue setujui, Bang?” tanya Dafa yang duduk di hadapan Brian.
“Setelah lo bebas dari tempat ini, lo harus ikut gue ke luar negeri,” jawab Brian dengan tatapan serius tertuju pada Dafa.
“Gak bisa gitulah, Bang, gue udah punya tujuan saat udah keluar dari tempat ini,” sambar Dafa.
“Emangnya, apa tujuan lo?” tanya Brian.
Afkar, papa Fadlan, Rendra, dan juga Abhizar yang masih di tempat itu pun menyimak pembicaraan dua kakak beradik itu.
Setelah lama diam, Dafa pun kembali bersuara, “Tujuan gue Setelah keluar dari tempat ini adalah, membawa kembali Zhafira dan gak akan aku biarkan lepas lagi.”
Brakkkk.
Papa Fadlan memukul kuat meja di hadapannya. Kemudian menatap marah pada Dafa yang dengan berani berkata seperti itu di hadapannya.
“Pa, tenang dulu, Pa. Biarkan mereka menyelesaikan pembicaraannya dulu,” titah Afkar menenangkan papa Fadlan.
“Gimana papa bisa tenang ini, Afkar. Dengan seenaknya dia berkata seperti itu,” ucap papa Fadlan kesal.
“Pa, papa harus tenang dulu,” kata Afkar kembali menenangkan papa Fadlan.
Papa Fadlan pun diam tak bersuara kembali, namun netranya masih mengamati gerak gerik Dafa.
“Dafa, lo harus ingat, Zhafira udah menikah. Bahkan suaminya ada di sini, dia suaminya,” kata Brian sembari menunjuk Afkar.
“Iya, gue udah kenal sama dia. Itulah dia penghulu yang merebut Zhafira dari aku,” balas Dafa dengan sinis.
“Lagian, itu kesalahan lo dulu. Harusnya lo bisa melupakan Zhafira dan menjalani kehidupan lo sendiri tanpa harus melibatkan mantan lo yang jelas-jelas udah jadi istri orang,” kata Brian.
“Lo gak bisa ngerasain apa yang gue rasain, Bang. Gue sama Zhafira itu saling mencintai, bahkan dulu kami udah pacaran lama!” seru Dafa.
“Trus ... dengan maksud lo mengungkit hubungan lama lo dengan Zhafira, dia sebagai suaminya akan kasihan dan dengan senang hati mengembalikan Zhafira layaknya barang, hah?” balas Brian yang merasa kesal sendiri dengan adiknya itu.
“Asal lo tau ya, Dafa, Zhafira bukan cuma punya suami, bahkan dia sekarang udah punya dua anak,” lanjut Brian hingga membuat Dafa kaget.
“Dua?” tanya Dafa sembari mengernyit.
__ADS_1
“Ya, dua. Mulai sekarang lo harus melupakan Zhafira dan ikut gue ke luar negeri,” jawab Brian.
“Gak bisa semudah itu, mending gue di sini sampai waktu yang ditentukan untuk bebas, trus gue bisa menjalankan tujuan awal gue mendapatkan Zhafira kembali,” kata Dafa dengan penuh percaya diri.
“Gimana sekarang, Brian?” tanya papa Fadlan yang udah gak tahan dengan kata demi kata yang keluar dari mulut Dafa.
“Maaf, saya butuh waktu untuk bicara dengan Dafa berdua,” jawab Brian yang udah muak dan malu dengan perkataan Dafa.
“Baiklah, kalau gitu kami tunggu di luar,” ucap Afkar dan diangguki oleh Brian.
Afkar, Papa Fadlan, dan juga Rendra bergegas menuju ke depan. Sementara Abhizar berjaga dari jauh, namun tetap bisa mengawasi.
“Tolong rekam yang mereka bicarakan, bisa?” tanya Afkar berbisik pada Abhizar.
“Bisa, Pak,” jawab Abhizar yang langsung mengambil ponselnya dan merekam percakapan Brian dan Dafa.
“Mau sampai kapan lo di tempat ini? Lo mau membusuk di penjara?” tanya Brian.
“Udah jauh-jauh gue dari luar negeri, udah setahun gue neror keluarga Zhafira sampai gue menculik anak Zhafira demi mereka mau mencabut tuntutan lo ini,” lanjut Brian.
“Sekarang keputusan lo gimana? Kalau lo gak ikut gue, sama aja lo gak menghargai perjuangan gue buat membebaskan lo dari tempat ini,” kata Brian.
“Gue ... gue bukannya gak mau hargai perjuangan lo. Cuma, gue tuh mau memperjuangkan cinta gue lagi, Bang,” balas Dafa.
“Lo gila ya? Zhafira gak bisa lagi dan gak pantas lagi buat lo perjuangkan. Gue malu dengan tindakan lo ini,” kata Brian.
“Gue masih nau menetap di sini,” jawab Dafa.
“Oke. Kalau gitu gue balik ke luar negeri sendiri, dan lo ... jangan anggap gue abang lo lagi. Gue udah muak!” seru Brian.
Dafa diam dan tampak berpikir.
“Dah, cukup sampai di sini. Jangan lagi lo panggil gue abang, karena dengan keputusan lo tadi, gue gak anggap lo sebagai saudara gue lagi,” ucap Brian.
Brian berdiri dan hendak berjalan meninggalkan Dafa namun lengannya ditahan oleh Dafa.
“Tunggu, Bang,” ucap Dafa menghentikan langkah Brian.
“Apalagi mau lo? Ngapain lo manggil gue? Mau nahan gue?” tanya Brian.
“Ya ... yaudah, gue mau ikut lo ke luar negeri dan gak mengganggu keluarga Zhafira lagi. Tapi, ada syaratnya,” jawab Dafa.
“Apa?” tanya Brian menoleh pada Dafa.
“Sebelum pergi ke luar negeri, izinkan gue ngobrol sama Zhafira walau lewat telpon,” jawab Dafa.
__ADS_1
“Kalau itu ... yang hanya bisa menentukan, suaminya. Jadi, lo izin langsung ke suaminya,” balas Brian.
“Gue gak sudi buat bicara sama penghulu itu!” seru Dafa.
“Gue yang izin. Tapi, lo diam tunggu di sini,” kata Brian.
Dafa mengangguk paham. Kemudian Brian berlalu pergi meninggalkannya. Tak jauh melangkah, Brian bertemu dengan Abhizar kemudian berkata, “Tolong jaga dia jangan sampai kabur atau pergi kemana pun.”
“Baik, Pak. Akan saya jaga,” balas Abhizar yang segera mendekat pada Dafa. Sementara Brian udah berlalu pergi.
Brian menemui Afkar, papa Fadlan, juga Rendra yang ternyata menunggu di depan.
“Bagaimana?” tanya Afkar yang menyadari kedatangan Brian.
“Tolong ikut gue masuk kembali,” jawab Brian.
Semua pun mengikuti Brian yang kembali pada Dafa dijaga oleh Abhizar.
“Oke, bagaimana?” tanya Afkar kembali.
“Dafa setuju untuk ikut gue ke luar negeri. Tapi, dengan syarat ... sebelum pergi, Dafa mau mengobrol sama Zhafira walau lewat telpon. Apa lo setuju?” balas Brian bertanya pada Afkar.
“Hmm ... jika hanya lewat telpon, dan memang itu syaratnya, gapapa. Tapi, harus on speaker,” jawab Afkar.
Afkar pun merogoh kantongnya kemudian mengeluarkan ponsel dan mencari nomor istrinya. Setelah ketemu, Afkar langsung menghubungi istrinya.
Tak lama, panggilan pun terhubung, speaker pun udah dinyalakan oleh Afkar.
“Assalamu’alaikum, Mas,” salam Zhafira mengawali.
Dafa yang mendengar suara Zhafira kembali pun sampai langsung menoleh dan menatap serius pada ponsel yang tepat dipegang oleh Afkar.
“Wa’alaikumussalam, Sayang. Ini aku udah di kantor polisi sama papa, Rendra, dan Brian juga. Di sini kami juga udah ketemu sama Dafa,” balas Afkar.
“Oh iyaa ... trus gimana, Mas?” tanya Zhafira.
“Sebelum Dafa pergi dari Indonesia, dia mau ngobrol sama kamu lewat telpon, gimana, Sayang?” kata Afkar.
“Mau kenapa lagi dia, Mas? Aku gak mau,” tolak Zhafira.
“Sayang, ngobrol aja dengan Dafa sebentar. Aku izinkan,” balas Afkar dengan lembut.
“Tapi, Mas ... ”
“Gapapa, ayolah,” sambar Afkar.
__ADS_1
Kemudian Afkar memberi kode pada Brian agar Dafa berbicara.
“Halo, Fira,” panggil Dafa.