Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.22 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Setelah itu Afkar dan Zhafira masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan rumah kediaman sahabat Afkar.


“Mas, katanya hari ini mau me time?” tanya Zhafira.


“Ini kan mau langsung jalan, Sayang. Oke, kamu maunya ke mana?” balas Afkar menghentikan mobilnya menatap dalam pada sang istri.


“Ayo ke taman dulu, Mas. Trus kita ke bioskop gimana? Seru gak sih, Mas. Pasti penghulu gantengku ini belum pernah nonton bioskop deh!” seru Zhafira.


“Oke, kita ke taman dan langsung mau nonton bioskop ya? Lagian kamu tau aja Mas belum pernah nonton bioskop,” balas Afkar.


Mereka berdua duduk di kursi taman, Afkar mengulurkan tangannya merangkul sang istri.


“Sayang, akhirnya Aurel dan pacarnya tertangkap, kita udah tenang ya. Terima kasih kamu udah mau menerima aku,” titah Afkar.


“Mas, aku yang berterima kasih karena kamu mau menggantikan laki-laki itu yang kabur saat pernikahan. Ya ... walaupun menerimanya dengan berat hati,” balas Zhafira tersenyum.


“Tapi, Sayang, kalau diingat-ingat kisah kita itu bisa diceritakan untuk anak-anak kita kelak,” celetuk Afkar membuat pipi Zhafira bersemu merah.


Setelah menghabiskan tiga puluh menit di taman, Zhafira udah merasa bosan dan mengajak Afkar menuju ke tempat kedua untuk mereka menghabiskan waktu bersama.


“Ayo nonton bioskop, Mas,” rengek Zhafira.


Afkar pun menuruti permintaan istrinya untuk segera menuju ke bioskop.


Mereka berdua benar-benar menghabiskan waktu hingga malam harinya mereka kembali ke rumah.


Zhafira masuk kamar dan langsung merebahkan badannya di atas kasur.


“Sayang, bersih-bersih, sholat setelah itu baru tidur,” titah Afkar diangguki oleh Zhafira.


Zhafira melepas hijabnya dan segera menuju ke kamar mandi. Saat udah keluar kamar mandi, “Mas, imam.in aku dong.”


“Iya, Sayang.” Afkar pun segera wudhu dan menyambar baju kokonya.


Mereka berdua sholat berjama'ah setelah itu istirahat.


***


Satu tahun sudah pernikahan Zhafira dan Afkar udah berlalu, hari ini mereka akan merayakan anniversary yang pertama.


Afkar dan juga Zhafira kini udah tinggal di rumah pemberian orang tua mereka.


Syara pun sekarang kerja di tempat Zhafira kerja atas bantuan dari Zhafira dia mendapat pekerjaan di sana. Bukan hanya pekerjaan, bahkan Syara juga udah punya kekasih.


Hari ini, Syara sengaja datang ke rumah Zhafira karena ingin membantu sang kakak menyiapkan acara untuk nanti malam.


“Kak, emang nanti acaranya di adakan di mana sih?” tanya Syara.

__ADS_1


“Gue sih pengennya diadakan di rumah aja, tapi Mas Afkar tuh yang mau merayakan di luar. Lo bantuin gue, ya, jangan sampai hadiah ini nanti tertinggal, ini hadiah spesial buat Mas Afkar,” jawab Zhafira sembari menatap hadiah yang udah dipersiapkan untuk suaminya.


“Emang apa isinya, Kak?” tanya Syara penasaran.


“Jangan kepo ya, Dek, nanti juga tau. Oh iya ... ajak juga itu pacar kamu. Siapa namanya?”


“Rendra, Kak. Oke nanti gue langsung shareloc tempat acaranya ke Rendra,” balas Syara.


“Nanti papa dan mama sama lo aja ya, Dek, kakak sama Mas Afkar akan jemput ayah dan bunda,” ucap Zhafira kembali.


“Iya, Kak, atur aja. Gue mah ngikut aja,” balas Syara tersenyum pada Zhafira.


Tak terasa sudah menjelang sore, Syara pun pulang karena akan bersiap-siap juga akan berangkat bareng papa dan mama.


Sambil mengantar Syara ke depan rumah, bertepatan pula dengan Afkar yang baru saja tiba.


“Yaudah, Kak. Gue pamit, ya!” seru Syara.


“Iya, hati-hati,” balas Zhafira.


“Kak Afkar, Syara pamit,” ucapnya langsung berlalu pergi menuju mobil yang tadi dibawanya.


Afkar mendekat pada Zhafira, “Assalamualaikum, Istri cantiku.”


“Wa’alaikumussalam, Suamiku,” balas Zhafira.


“Mas segera bersih-bersih, ya, kita ‘kan mau ke rumah ayah dan bunda dulu,” lanjut Zhafira.


“Tentulah gak sabar, karena akan ada yang spesial nanti akan aku tunjukan ke kamu.”


“Apa itu, Sayang? Sekarang aja ya, jangan buat aku penasaran!” seru Afkar.


“Ya gak bisa dong, Mas. Harus nanti, cepat bersih-bersih dulu badannya, bajunya segera Fira siapkan,” titah Zhafira segera dilaksanakan oleh suaminya.


Setelah siap mereka pun segera meluncur menuju ke rumah Ayah.


Sesampainya di rumah ayah ternyata kedua orang tua Afkar udah siap. Segera mereka pergi ke tempat yang di tuju.


Setelah sampai di sana, ternyata papa dan mama juga Syara dan Rendra udah tiba duluan. Mereka menghujani ucapan selamat pada Afkar dan Zhafira.


Afkar dan Zhafira segera memulai acaranya, saat mereka berdua sama-sama udah di depan dan menjadi sorotan para keluarga dan beberapa orang yang diundang Afkar pun memberikan kado untuk Zhafira begitu juga Zhafira memberikan kado buat Afkar.


“Mas aku mau kado dari aku dibuka sekarang di depan orang tua kita,” pinta Zhafira.


“Oke, Sayang ... aku buka ya,” balas Afkar diangguki oleh Zhafira.


Afkar pelan-pelan membuka pembungkus kadonya. Dan saat Afkar membukanya, Afkar langsung tertegun.

__ADS_1


Mama yang melihat menantunya terdiam pun langsung bertanya, “Apa isinya, Afkar? Kok gak segera diambil aja?”


“I—in ... ini benar, Sayang? Ka—kamu hamil?” tanya Afkar memastikan apa yang dilihatnya.


Perlahan Zhafira memgangguk-anggukkan kepalanya membenarkan apa yang telah dilihat oleh Afkar.


Afkar pun tanpa menunggu kama langsung menarik Zhafira dalam pelukannya hingga tak terasa sampai menitikkan air matanya.


Setelah memeluk Zhafira, Afkar langsung sujud syukur, “Alhamdulillah ya Allah, engkau telah mendengar doaku,” ucap Afkar lirih dalam sujudnya.


Apa yang dirasakan Afkar juga dirasakan kedua orang tua mereka. Mereka semua terharu dengan apa yang baru saja terjadi pada Afkar dan Zhafira.


“Han, kita akan akan punya cucu!” seru Papa Fadlan yang terlihat sangat bahagia.


“Iya, selamat ya. Kamu akan di panggil Opa,” balas Ayah Reyhan yang tak kalah bahagianya.


Mereka pun segera menikmati kebersamaan yang sangat bahagia terlebih setelah membuka kado dari Zhafira untuk Afkar. Bukan hanya Afkar yang bahagia menerima kado tersebut bahkan semua yang menghadiri acara pun turut bahagia juga.


Mereka saling mengobrol dan sesekali bercanda sampai tak terasa waktu udah sangat malam akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


Keesokan paginya, Zhafira yang dari pagi mual dan muntah Afkar sampai kasihan.


“Sayang, kita kerumah sakit ya, aku gak tega lihat kamu seperti ini,” ucap Afkar mendapat gelengan dari Zhafira.


“Gapapa, Mas, namanya juga hamil muda jadi harus kita nikmati semua prosesnya,” balas Zhafira.


“Mas, bisa minta tolong mintakan bi wati buatkan minuman hangat yang seperti biasanya aku buatkan buat kamu, Mas?” tanya Zhafira.


“Baiklah, aku ke dapur sebentar. Tunggu ya, Sayang.” Tak berapa lama, Afkar kembali membawakan minuman hangat yang diminta oleh sang istri.


“Ini minumannya, Sayang.” Afkar menyodorkan gelas yang berisi minuman tersebut.


Zhafira pun menerimanya dan segera meminumnya. Zhafira pun meneguk habis minumannya.


“Terima kasih, Mas. Kamu udah siap? Kalau udah yuk berangkat!” seru Zhafira yang merasa udah baik-baik saja.


“Kamu masuk kerja, Sayang? Emang kamu kuat?” tanya Afkar memastikan.


“Gapapa, Mas, aku kuat kok, nanti kalau gak kuat, aku istirahat,” jawab Zhafira.


“Mas telpon Reigha aja, ya, mintakan izin cuti buat kamu.”


“Mas, gak boleh gitu, jangan mentang-mentang pimpinan perusahaan itu sahabat Mas trus aku seenaknya kerja di sana. Fira gak enak sama teman yang lain, Mas,” balas Zhafira.


“Tapi, kamu beneran kuat, Sayang?” tanya Afkar kembali.


Zhafira pun mengangguk dan segera mengajak Afkar keluar dan berangkat kerja. Afkar seperti biasa mengantarkan Zhafira terlebih dulu ke kantornya setelah itu ke tempat kerjanya.

__ADS_1


Saat Zhafira mau turun, tiba-tiba Zhafira melihat seseorang dari masa lalunya.


‘Daffa,’ batin Zhafira.


__ADS_2