Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH. 77 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

Saat Afkar dan Rendra hendak melangkah keluar rumah, tiba-tiba ponsel Zhafira berdering.


“Halo?” ucap Zhafira mengawali.


“Ya, benar ini dengan Ibu Zhafira?” tanya seseorang dari seorang telpon.


“Iya, benar. Ini ‘kan nomor papa saya, kenapa ko—”


“Maaf, mau mengabarkan, ini ada dua orang paruh baya mengalami kecelakaan,” sambar orang tersebut.


“Apa? Ke ... kec—kecelakaan?” tanya Zhafira yang khawatir.


“Iya, Bu. Maaf kalau lancang membuka ponsel korban, saya hanya berniat untuk mengabarkan saja,” balas orang itu.


Afkar yang melihat Zhafira lemas pun segera mendekat dan mengambil ponsel Zhafira.


“Halo, tolong sekarang hubungi ambulan, dan nanti kirimkan alamat rumah sakitnya ya,” pinta Afkar pada orang tersebut.


“Baik, Pak.”


Afkar pun mematikan ponselnya dan segera membantu Zhafira untuk duduk di sofa.


“Kak, papa dan mama kecelakaan?” tanya Syara yang ikut khawatir.


“Iya, Dek. Ayo kita semua bersiap ke rumah sakit,” balas Afkar.


“Rendra, tolong kamu yang setia mobil ya,” lanjut Afkar.


“Iya, Kak. Tapi ... anak-anak gimana? Kita ajak aja?” tanya Rendra setelahnya.


“Anak-anak kita titip ke ayah dan bunda deh. Bentar aku telpon,” jawab Afkar yang langsung mengambil ponselnya yang ditaruh sebelumnya di kantong. Sementara Zhafira melamun, pikirannya udah tak menentu memikirkan papa Fadlan dan mama Latifah.


“Assalamu’alaikum, Ayah,” ucap Afkar mengawali.


“Wa’alaikumussalam. Kenapa, Nak?” tanya ayah Reyhan.


“Jadi gini, Yah ... papa Fadlan mengalami kecelakaan. Rencananya, kami semua mau menyusul ke rumah sakit, tapi ... anak-anak gimana, Yah? Apa boleh kami titip Chayra, Adrian, dan Ammar?” jawab Afkar.


“Boleh, kami yang ke sana atau kalian antaranya cucu-cucuku ke sini?” balas ayah Reyhan kembali bertanya.


“Kami aja yang antar anak-anak ke sana, Yah. Nanti kami kabari kalau udah jalan ke sana. Ini kami mau siap-siap dulu,” kata Afkar.


“Yaudah kalau gitu, hati-hati ya ... nanti kabari kalau ada info terbaru kabar Fadlan dan istrinya,” ucap ayah Reyhan.


“Iya, Ayah.” Afkar pun segera mengakhiri panggilannya.


Afkar berjalan mendekat pada Zhafira kemudian berkata, “Sayang, ayo kita bersiap ke rumah sakit. Kita titipan anak-anak ke rumah ayah.”


“Iya, Mas.” Zhafira berdiri dan segera berjalan menuju ke kamarnya untuk bersiap.

__ADS_1


“Rendra, kamu tolong siapin mobil untuk kita pergi ya. Aku mau bantu Fira siapin barang-barang Chayra dan Adrian,” kata Afkar.


“Iya, Kak,” balas Rendra.


“Oh iya, barang-barang Ammar gimana, Syara?” tanya Afkar setelahnya.


“Syara kalau pergi-pergi udah selalu bawa barang-barang Ammar, baju gantinya, dan susu bantunya, udah lengkap di tas kok, Kak,” jawab Syara.


“Yaudah, udah lengkap berarti. Aku tinggal masuk dulu ya, titip Chayra dan Adrian bentar ya, Syara,” balas Afkar.


“Iya, Kak.” Syara pun mendekat pada anak-anak yang asik bermain di lantai.


“Papa dan mama mana, Onty?” tanya Chayra saat menyadari papa dan mamanya gak ada di ruang tengah.


“Papa dan mama lagi ke kamar sebentar, Chayra di sini aja sama onty dan adek-adek, ya,” jawab Syara dan dibalas anggukan mantap dari Chayra.


Sementara Afkar, dia baru saja dari kamar Chayra untuk meminta bi Minah membantunya menyiapkan barang-barang Chayra. Kemudian dia menuju ke kamar untuk memanggil istrinya.


Sesampainya di kamar, ternyata dia melihat Zhafira yang menangis tersedu-sedu di tepi ranjang.


Afkar pun mendekat dan mendekapnya erat, “Sayang ... jangan nangis gini, ayo kita ke rumah sakit dulu untuk melihat keadaan papa dan mama.”


“Hiks ... i—iya, Mas,” lirih Zhafira.


Tak lama kemudian, setelah siap, Zhafira pun menuju ke kamar Chayra untuk membantu Bi Minah menyiapkan barang-barang anak-anaknya. Sementara Afkar bergegas menyiapkan diri.


Saat hendak keluar dari pintu rumah, Bi Minah memanggil, “Pak, Bu, saya boleh ikut ke rumah pak Reyhan? Setidaknya saya membantu jaga non Chayra, den Adrian dan den Ammar di sana nantinya.”


“Gimana, Mas?” tanya Zhafira meminta persetujuan suaminya.


“Iya, gapapa, Bi. Emangnya bi Minah udah bener-bener sembuh?” balas Afkar bertanya pada Bi Minah.


“InsyaaAllah udah saya pastikan sembuh, Pak,” jawab bi Minah.


“Kami tunggu di mobil ya, Bi. Segera bersiap, Bi,” titah Afkar.


Bi Minah pun mengangguk dan berlalu pergi ke kamarnya untuk bersiap.


Sementara Afkar, Zhafira dan Syara menggendong anak-anak menuju ke mobil yang di saja udah ada Rendra yang menunggu.


Sesampainya di mobil, setelah semua masuk, Rendra bertanya pada Afkar, “Langsung berangkat, Kak? Gak ada yang ketinggalan?”


“Bentar, kita nunggu bi Minah,” jawab Afkar.


“Ooo ... Bi Minah ikut ya, Kak?” tanya Rendra kembali.


“Ikut jaga anak-anak di rumah ayah nanti sekalian ngebantu bunda di sana,” balas Afkar membuat Rendra manggut-manggut.


Tak berapa lama kemudian, Bi Minah tampak menghampiri mobil Rendra dan mengetuk pintu, “Pak, Bu.”

__ADS_1


“Masuk, Bi,” balas Zhafira.


Bi Minah pun membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Setelah pintu ditutup, Rendra pun segera menyalakan mobil dan kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Afkar.


Tujuan pertama mereka kali ini ke rumah ayah Reyhan. Dalam mobil hanya terdengar candaan anak-anak yang lebih dominan pada ketawanya Chayra yang menghibur Adrian juga Ammar, sementara Afkar, Zhafira, Rendra, Syara, dan bi Minah hanyut dalam pikiran masing-masing.


“Pa, Ma, kita mau ke mana?” tanya Chayra yang memperhatikan semua orang hanya diam saja.


“Kita mau ke rumah kakek, Nak,” jawab Zhafira.


“Horeeee!” seru Chayra.


Cukup lama mereka di perjalanan hingga kini mereka pun sampai di rumah kediaman ayah Reyhan.


Chayra yang tak sabar pun udah turun dan berlari, “Kakek, Nenek!” teriaknya.


“Cucu kakek udah datang,” kata ayah Reyhan berjalan mendekat pada Chayra.


“Assalamu’alaikum, Ayah,” ucap Zhafira dengan suara bergetar menyalami punggung tangan ayah Reyhan.


“Wa’alaikumussalam,” balas ayah Reyhan.


“Yang sabar, semoga papa dan mama kalian tidak ada yang dikhawatirkan,” lanjut ayah Reyhan dan di-aamiinkan oleh semuanya.


Tak lama kemudian, bunda Hanum yang baru pulang dari warung pun heran melihat anak cucunya yang tumben datang hari ini. Biasanya selalu saat hari libur.


“Loh loh .... ini cucu-cucu nenek kok tumben ke sini?” tanya bunda Hanum setelah meletakkan semua barang belanjaannya.


“Udah, nanti aja dibahas ayo semuanya masuk dulu. Letakkan barang-barang cucu-cucuku di ruang tamu,” titah ayah Reyhan.


Kemudian ayah Reyhan mendekat pada istrinya dan berkata, “Bunda, Fadlan dan istrinya kecelakaan, anak-anak kita mau ke sana untuk melihat bagaimana kondisi Fadlan dan istrinya. Kita menunggu kabar mereka aja di sini, makannya mereka menitipkan cucu kita.”


“Ya Allah, Ayah ... kenapa gak bilang dari tadi,” lirih bunda Hanum.


“Ayah, Bunda, barang-barang anak-anak udah di dalam. Ayah dan bunda kok masih di situ?” tanya Afkar.


“Iya, Nak. Ini mau masuk,” balas ayah Reyhan segera menarik lembut lengan bunda Hanum dan bersamaan masuk ke dalam rumah.


“Sabar ya, Nak. Kalian langsung pergi aja, hati-hati di jalan ya,” titah bunda Hanum.


“Iya, Bunda ... kami pun udah khawatir mau cepet langsung ke sana,” balas Zhafira.


“Jangan ngebut ya, Rendra. Afkar, kamu jaga istri dan adik kamu,” ucap ayah Reyhan.


“Iya, Ayah,” balas Rendra dan Afkar serempak.


Afkar, Zhafira, Rendra dan Syara pun langsung menyalimi punggung tangan ayah Reyhan dan bunda Hanum. Kemudian melangkah keluar rumah.


“Papa ... mau ke mana?” tanya Chayra tiba-tiba berlari mendekat pada Afkar.

__ADS_1


__ADS_2