
Setelah sampai kamar, Zhafira segera menelepon Afkar.
Drrrtt...Drrrtt...Drrrtt
“Assalamu’alaikum, Sayang,” salam Afkar saat panggilan udah terhubung.
“Wa’alaikumussalam, Mas. Kemana aja sih, Mas ... Fira telpon-telpon dari tadi gak diangkat,” gerutu Zhafira.
“Maaf, Sayang ... tadi ada tamu, ini baru aja pulang. Ada apa, Sayang?” tanya Afkar.
“Mas, tamunya laki-laki atau perempuan?” tanya balik Zhafira.
“Laki-laki, Sayang, pak Budiman. Itu, beliau mau menikahkan anaknya,” jawab Afkar.
“Oh, kirain perempuan,” balas Zhafira lirih.
“Ada apa tadi telpon, Sayang?” tanya Afkar.
“Eh iya, ini loh, Mas ... tadi dapat kabar kalau Syara hamil,” jawab Zhafira dengan antusiasnya.
“Oh, Alhamdulillah,” kata Afkar.
“Hah, gitu aja tanggapannya, Mas?” tanya Zhafira.
“Lah ... terus harus gimana? Kan bersyukur, Sayang, dapat berita bagus,” jawab Afkar.
“Iya-iya. Emm ... Mas, nanti pulang kerja kita langsung ke rumah papa ya,” pinta Zhafira.
“Besok aja ya, Sayang, besok ‘kan libur, kita bisa berangkat dari pagi,” balas Afkar.
“Emm, iya deh, besok aja. Akhhh, akhirnya Syara hamil, Mas. Dan usia kehamilannya beda lima bulan,” ucap Zhafira.
“Yaudah deh, Mas, kamu lanjut aja kerjanya. Assalamu’alaikum,” lanjut ucapan Zhafira.
“Iya, Sayang. Wa’alaikumussalam,” balas Afkar. Lalu, telpon pun ditutup.
Siang harinya di kantor, Afkar saat waktunya makan siang. Tampak Lestari tengah menyiapkan makan siang. Saat mau masuk ke ruangan, Afkar sudah akan pergi dan keluar ruangan. Afkar langsung mengunci ruangannya dan segera pergi. Lestari langsung memanggil Afkar.
“Pak ... pak Afkar!” panggil Lestari.
Afkar pun langsung berhenti dan Lestari pun langsung berdiri tepat di hadapan Afkar. Kemudian bertanya, “Pak Afkar, saya udah siapkan makan siang untuk bapak. Bapak mau kemana?”
“Saya mau pulang, makan siang. Saya udah ditunggu istri. Permisi,” jawab Afkar santai dan tak ingin emosional terpenting pada Lestari.
“Loh, Pak, ini trus makanannya gimana?” balas Lestari bertanya.
“Ya makan aja, saya ‘kan gak minta disiapin makan siang, apalagi anda yang menyiapkan,” kata Afkar.
“Yahh, Pak ... makan bareng sama istri ‘kan bisa nanti. Sekarang bisa makan siang sama saya dulu. Lagian, kalau bolak balik ke rumah ‘kan capek, Pak. Belum lagi habis-habisin bensin aja,” ucap Lestari membuat Afkar mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Hei, anda itu ngapain ngatur-ngatur saya. Bagi saya, makan bareng istri itu sangat penting, dan anda itu siapa? Sok-sok ngatur!” seru Afkar meninggalkan Lestari menuju ke mobil dan segera pulang untuk menemui sang istri.
Tak kama kemudian, tepatnya di rumah kediaman Afkar, Zhafira yang udah menunggu suaminya untuk makan siang pun segera mendekat arah pintu utama untuk membukakan pintu karena Afkar yang tampak datang.
“Assalamu’alaikum, Sayangku,” salam Afkar masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumussalam, Mas, kok telat datangnya?” tanya Zhafira.
“Maaf ya, Sayang, tadi ada sedikit gangguan di kantor. Yuk sekarang kita makan, dah lapar banget nih,” jawab Afkar.
“Iya, Mas, tapi maaf ya ... hari ini Fira gak masak, yang masak bi Minah,” balas Zhafira.
“Gapapalah, Sayang, yang penting ‘kan makan siangnya sama kamu,” kata Afkar.
“Ihhhh, manis banget sih, Mas!” seru Zhafira mengusap pipi suaminya.
“Iya dong, aku kangen banget loh sama kamu, Sayang,” balas Afkar tersenyum.
“Hmm ...bisa-bisa gak jadi makan siang nih. Makan yang lain,” celetuk Zhafira tertawa.
“Boleh kalau mau,” kata Afkar yang kemudian tertawa juga.
“Ayo makan dulu, Sayang, nanti baru makan yang lain” ajak Afkar dan mereka pun tertawa bersamaan. Lalu berjalan menuju ruang makan untuk makan siang.
Setelah makan siang, mereka pun melanjutkan yang diobrolkan di kamar. Karena mau kembali kerja, Afkar dan Zhafira pun melakukan tugas suami istrinya hanya sebentar.
“Maaf ya, Sayang, kangen-kangenannya cepat. Karena aku mau kembali ke kantor,” ucap Afkar.
“Yaudah ... aku mandi dulu ya, Sayang, trus langsung kembali ke kantor,” kata Afkar.
“Iya, Mas. Kamu mandi duluan aja,” balas Zhafira.
Dan Afkar pun segera menuju ke kamar mandi, kemudian setelah selesai Afkar langsung berpamitan ke Zhafira dan pergi menuju ke kantor.
Setelah Afkar pergi, Zhafira langsung mandi dan segera bermain dengan putrinya.
Sementara di sebuah kantor, Syara dan Rendra, hari ini makan siang di kantin kantor.
Tapi Syara sama sekali gak bersegera dengan menu makanan di kantin.
“Dek ... mau makan apa?” tanya Rendra.
“Gak tau, Mas. Gak selera semua nih. Mau yang asem seger gitu loh, Mas,” jawab Syara.
“Mau apa? Biar aku carikan,” balas Rendra.
“Rujak buah aja ya, Mas?” pinta Syara.
“Loh Loh, nasi gimana? Gak makan nasi?” balas Rendra bertanya.
__ADS_1
“Emm ... gak usah ya, Mas, mual kalai makan nasi,” jawab Syara.
“Owh, yaudah. Tapi, kalau pengen apa-apa bilang ya, Sayang. Kasihan calon anak kita kalau gak makan nasi,” titah Rendra.
“Iya, Mas, kamu kok jadi bawel sih,” lirih Syara.
“Iya, Sayang. Karena, aku harus menjaga calon anak kita,” ucap Rendra.
“Iya, nanti setelah makan rujak buah, Syara makan nasi,” kata Syara.
Dan akhirnya Syara makan rujak buah sedangkan Rendra memesan ayam kremes.
Saat ayam kremes tiba, Rendra yang hendak makan pun selalu dapat gangguan dari Syara, setiap Rendra mau menyuapkan ke mulutnya selalu Syara minta disuapi. Sampai akhirnya makanan yang dipesan Rendra habis dimakan Syara.
Rendra karena belum makan pun memesan makanan lagi, karena buru-buru, akhirnya Rendra pesan bakso. Tak lama kemudian, baksonya pun datang, dan lagi-lagi Syara meminta disuapi bakso yang dipesan oleh Rendra. Karena Rendra yang udah sangat lapar, akhirnya Rendra pun memesan bakso lagi.
Akhirnya, mereka pun menghabiskan baksonya, dan mereka pun selesai dengan kenyang.
“Mas, kenapa tadi waktu makananannya aku habiskan, kamu gak marah?” tanya Syara.
“Ya nggaklah, Sayang, aku tau kok, yang pengen kan anak kita. Jadi, kenapa marah,” balas Rendra tersenyum.
“Makasih ya, Mas, kamu selalu ngertiin aku,” ucap Syara.
“Sama-sama, Dek. Kamu juga jaga ya calon anak kita,” kata Rendra.
“Iya, Mas, insyaaAllah.”
Sementara di tempat lain, Afkar yang tampak baru saja sampai kantor, Lestari yang melihat Afkar dengan rambut basah pun langsung sewot. Kemudian pergi.
Afkar yang masa bodo sama Lestari pun tidak menanggapi sama sekali. Afkar langsung masuk ke ruangannya dan segera menyelesaikan kerjaannya. Afkar mendengar ada pintu diketok langsung menyaut.
“Siapa?” tanya Afkar.
“Saya, Pak,” teriak teman Afkar dari luar ruangan.
“Masuk!” seru Afkar. Kemudian, teman Afkar pun segera masuk.
“Ada apa, Wan?” tanya Afkar.
“Kita nanti jam dua akan menikahkan dua orang, Pak. Jadi apa bapak udah siap?” balas temannya Afkar bertanya.
“Udah. Kapan kita berangkat?” ucap Afkar.
“Sekarang juga bisa pak, ini berkas juga udah siap kok,” kata teman Afkar.
“Yaudah kalau gitu, ayo kita berangkat,” ajak Afkar yang langsung berdiri dan bersiap berangkat. Teman Afkar pun mengikuti dari belakang.
Saat mereka udah keluar ruangan, pintu ruangan Afkar pun langsung dikunci oleh Afkar.
__ADS_1
“Kok dikunci, Pak?” tanya teman Afkar yang tampak heran.
“Biar aman saja, kadang ada orang yang gak tau diri langsung masuk aja. Padahal, gak diundang tapi langsung masuk aja nyelonong,” jawab Afkar.