
Afkar, Zhafira, Rendra dan Syara pun langsung menyalimi punggung tangan ayah Reyhan dan bunda Hanum. Kemudian melangkah keluar rumah.
“Papa ... mau ke mana?” tanya Chayra tiba-tiba berlari mendekat pada Afkar.
“Nak, papa mau jemput opa dan oma sebentar aja, ya. Papa mau minta tolong ke Kak Chayra untuk menjaga Adrian dan Ammar di rumah kakek. Bisa, Nak?” balas Afkar dengan lembut pada putrinya.
“Bisa, Papa. Chaya nanti bantu kakek, nenek dan bibi untuk jagain adek Adrian dan adek Ammar,” ucap Chayra.
“Putri Papa emang pintar. Kalau gitu, kami pergi dulu ya, Nak,” kata Afkar.
“Iya, Papa. Papa hati-hati, ya, Pa,” balas Chayra dan dibalas anggukan oleh Afkar.
Kemudian Chayra menyalimi Afkar, Zhafira, Rendra dan juga Syara. Lalu dia pun melambaikan tangannya.
Setelah mobil Afkar tak terlihat lagi, ayah Reyhan pun mengajak Chayra masuk ke dalam rumah, “Ayo cucu kakek, kita masuk ke dalam rumah.”
“Ayo, Kek, kan Chaya harus jagain adek Adrian dan adek Ammar,” balas Chayra.
“Iya, Sayang ... ayo ayo,” kata ayah Reyhan menarik lembut lengan Chayra dan menuju masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam, ternyata Adrian dan Ammar tampak main bersama ditemani oleh Bi Minah dan bunda Hanum.
“Nenek, Chaya mau susu,” ucap Chayra mendekat pada bunda Hanum.
“Bibi buatkan aja ya, Non,” sambar bi Minah.
“Nggak mau, Chaya mau dibuatin sama nenek aja,” balas Chayra.
“Udah, Bi ... gapapa. Titip Adrian dan Ammar ya,” kata bunda Hanum.
“Baik, Bu,” balas bi Minah.
Bunda Hanum pun berlalu pergi menuju ke dapur mengambil air hangat untuk membuatkan susu Chayra.
Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di mobil Rendra yang sejak tadi tampak sunyi dan tak seperti biasanya yang selalu ada selingan candaan dari Afkar ataupun Rendra.
Drrttt ...
Notifikasi pesan masuk membuyarkan lamunan mereka, Afkar pun menoleh pada istrinya dan bertanya, “Siapa, Sayang?”
Zhafira pun segera membuka ponselnya dan melihat notifikasi masuk dari nomor papa Fadlan.
“Orang tadi, Mas,” jawab Zhafira.
__ADS_1
“Apa katanya?” tanya Afkar kembali.
Zhafira yang masih belum kuat melihat notifikasi itu dari nomer papa Fadlan pun memberikan ponselnya pada Afkar.
Afkar yang paham dengan istrinya pun menerima ponsel Zhafira kemudian melihat isi pesan orang itu yang ternyata memberikan share loc rumah sakit.
“Rendra, kita ke rumah sakit pelita husada ya. Share loc udah aku teruskan pesan ke WA mu dari nomer kak Fira,” ucap Afkar.
“Oh iya, Kak.” Rendra pun membuka ponselnya dan membuka share loc tersebut. Kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit pelita husada.
Cukup memakan waktu yang lama, hingga mobil Rendra pun telah terparkir sempurna di parkiran rumah sakit pelita husada.
Afkar yang memang masih memegang ponsel Zhafira pun langsung menghubungi nomer papa Fadlan yang mereka tau masih dipegang oleh orang tersebut.
“Bentar ya, aku telpon orang yang tadi,” kata Afkar dan dibalas anggukan serempak oleh mereka semua.
Saat panggilan udah terhubung, Afkar pun mencoba berbicara duluan, “Halo, Assalamu’alaikum ... ini kami udah di parkiran rumah sakit. Anda di ruangan mana?”
“Wa’alaikumussalam ... saya masih di UGD, Pak,” jawab orang tersebut.
“Baiklah, tolong tunggu sebentar,” balas Afkar yang kemudian memutuskan panggilan telponnya.
“Ayo kita ke UGD,” ajak Afkar.
“Iya. Ayo!” seru Afkar.
Mereka pun bersamaan menuju ke UGD, sesampainya di UGD mereka bertemu tiga orang bapak-bapak yang mereka tau pasti itu orang yang menolong papa dan mama tadi.
“Pak, ini ponsel korban, kalau begitu kami pamit dulu,” ucap orang tersebut.
“Bentar. Siapa nama anda?” tanya Afkar.
“Nama saya Gilang, dan ini teman saya Danu. Kalau dua bapak ini, tadi yang membantu kami membawa korban ke rumah sakit ini, Pak,” jawab Gilang.
“Baiklah, terima kasih. Setidaknya izinkan kami dari keluarga korban untuk memberikan imbalan pada bapak-bapak sekalian,” ucap Afkar.
“Gapapa, Pak, kami ikhlas,” balas Gilang yang tidak enak hati.
“Maaf, kami gak mau nerima, Pak. Karena kami hanya niat membantu dan tidak meminta imbalan,” imbuh Danu.
“Kalau gitu, sembari menunggu dokter keluar, tolong kalian tunggu di sini sebentar,” pinta Afkar.
Afkar pun segera pergi dari rumah sakit, namun sebelumnya dia menitipkan Zhafira dan Syara pada Rendra.
__ADS_1
Afkar mencari ATM terdekat, kemudian dia mengambil uang juga membeli amplop. Setelah itu, Afkar pun menuju ke UGD kembali. Ia memberikan amplop yang disiapkannya untuk empat orang itu.
“Tolong terimalah ini sebagai bentuk terima kasih dari kami, bukan sebagai imbalan,” ucap Afkar.
“Tapi, Pak ...” lirih Danu.
“Tolong diterima,” ucap Afkar kembali.
Setelah mereka berempat menerima, Afkar pun tidak mencegah lagi kepergian mereka, mereka sangat berterima kasih kemudian berpamitan pergi. Tak lama dari kepergian mereka, tiba-tiba dokter pun keluar dari UGD.
“Keluarga pasien?” tanya dokter pada Zhafira dan Afkar yang kebetulan berdiri di depan pintu. Sementara Syara dan Rendra tengah duduk di kursi depan UGD.
“Iya, Dok, kami anaknya,” jawab Zhafira.
“Bagaimana keadaaan orang tua kami, Dok?” tanya Syara yang tampak tidak sabar.
“Jadi begini, Pak, Bu, untuk papa anda mengalami mula pada bagian kepala dan hasilnya dapat kita tunggu saat pasien sadar nantinya. Sementara untuk mama anda, mengalami luka goresan ringan pada kepala juga bagian lengan yang mungkin kena pecahan kaca,” balas dokter menjelaskan.
“Menunggu pasien sadar?” tanya lirih Zhafira.
“Iya, Bu, luka tersebut memungkinkan pasien untuk mengalami amnesia, tapi semoga saja tidak. Kita menunggu pasien sadar baru bisa menentukannya,” jawab dokter.
“Jadi kapan kami bisa masuk dan bertemu orang tua kami, Dok?” tanya Rendra.
“Untuk sementara ini, mama anda sudah sadar dan akan dipindahkan ruangan terlebih dahulu, sementara papa anda belum bisa untuk ditemui. Mungkin beberapa jam lagi baru boleh,” balas dokter.
“Tolong diurus ruangan untuk mama anda agar bisa beristirahat di ruangan yang nyaman,” lanjut ucapan dokter.
“Baik, Dokter. Terima kasih,” kata Afkar.
“Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu. Mari, Pak, Bu,” ucap dokter berlalu pergi.
Setelah kepergian dokter, Zhaafira pun terduduk di kursi depan UGD, dia merasa sangat lemas mendengar berita ini. Syara dan Rendra pun dengan setia menemani Zhafira, sementara Afkar mengurusi ruang rawat inap untuk mama Latifah.
Sembari berjalan menuju bagian administrasi, Afkar merogoh kantongnya untuk mengambil ponselnya dan akan menghubungi ayah Reyhan untuk memberikan kabar.
“Assalamu’alaikum, Ayah,” ucap Afkar mengawali.
“Wa’alaikumussalam, Nak. Gimana? Udah sampai rumah sakit?” tanya Ayah Reyhan.
“Alhamdulillah udah, Yah, ni sekarang mau mengurus administrasi. Mama Latifah mengalami luka goresan ringan bagian kepala dan lengan. Kalau papa Fadlan mengalami luka berat di bagian kepalanya, Yah,” jawab Afkar.
“Kata dokter, kemungkinan besar bisa terjadinya amnesia. Tapi, untuk lebih pastinya, kita menunggu papa Fadlan sadar terlebih dulu, Pa,” lanjut Afkar.
__ADS_1
“Ya Allah ... amnesia, Nak?” lirih ayah Reyhan.