Terpaksa Menikahi Penghulu

Terpaksa Menikahi Penghulu
CH.37 - Terpaksa Menikahi Penghulu


__ADS_3

“Nak, papa dan mama sangat senang akhirnya kamu udah sadar, gimana kata dokter?” ucap Papa.


“Kata dokter, Zhafira udah benar-benar sehat, Pa,” ucap Zhafira.


“Alhamdulillah,” kata semua orang serempak.


“Sekarang apa yang kamu rasakan, Nak? Ada keluhan?” tanya Ayah.


“Alhamdulillah gak ada keluhan, Yah,” jawab Zhafira tersenyum.


Tak lama, Bunda Hanum dibantu Bi Minah pun datang membawakan minum dan ikut duduk di ruang tengah. Sementara Bi Minah berlalu pergi ke dapur.


“Kak, akhirnya kakak sadar juga, kak Afkar gak kusut lagi mukanya,” ucap Syara bercanda.


“Ini juga ‘kan berkat kamu juga, Dek,” balas Zhafira.


“Maksudnya gimana kok Syara? Emang apa yang Syara lakukan?” tanya Mama penasaran.


“Emang Syara ngapain, Sayang?” imbuh Afkar bertanya pada istrinya.


“Dek, mau kamu yang cerita atau kakak?” tanya Zhafira menoleh pada Syara.


“Sini bentar cucu kakong sini aku gendong,” ucap Ayah menghampiri Chayra yang berada di pangkuan Zhafira.


Setelah Chayra berada pada Ayah Reyhan. Syara pun tersenyum menatap Zhafira.


“Syara cuma bilang kalau kakak gak sadar dari koma, papa akan menikahkan Syara dengan kak Afkar,” jawab Syara tertawa lepas.


“Kok bisa kamu kepikiran seperti itu, Dek? Atau ... emang benar papa mau menikahkan Syara dengan Mas Afkar?” tanya Zhafira meminta penjelasan.


“Papa aja gak kepikiran seperti itu, Nak,” balas papa.


“Emm ... itu karena Syara ingin berusaha membangkitkan semangat kakak, dan ternyata kekuatan cinta kakak dan karena kakak gak mau kehilangan kak Afkar akhirnya kak Fira bisa melawan ketidakberdayaan kakak dan bisa sadar!” seru Syara tersenyum.


“Terima kasih ya, Dek, kamu udah membantu kakak. Jujur, kakak selama ini seperti putus asa takut kehilangan kakak kamu,” lirih Afkar.


Mendengar apa yang Afkar ucapkan, Zhafira pun segera berhambur dalam pelukan suaminya.


“Hey, Sayang, gak malu itu dilihatin semuanya?” tanya Afkar.


“Biarin, Fira ‘kan kangen,” balas Zhafira dengan manja.


Dan tak lama, saat Zhafira dan Afkar masih berpelukan, Chayra menangis.


“Nah tu ... anaknya nangis tu, Kak,” celetuk Syara.


“Gak boleh tuh papanya dipeluk, Kak,” lanjut Syara tertawa.

__ADS_1


Zhafira pun segera menggendong Chayra, namun sayangnya dia menolak. Chayra mau di gendong papanya.


Dan akhirnya Afkar pun nenggendong dan memangku putrinya. Hingga tak berapa lama Chayra pun tertidur dalam pangkuan papanya.


“Emang anak papanya banget sih ini, ya,” ujar Mama Latifah tersenyum melihat cucu cantiknya yang terlelap.


“Kak Fira yang hamil, eh keluar-keluar dominan ke papanya,” celetuk Syara membuat semua tertawa.


“Kamu tuh ya, Dek,” balas Zhafira melirik pada Syara.


Setelah menidurkan Chayra, dari luar terdengar telpon Afkar berbunyi.


“Mas, HP kamu bunyi tuh,” ucap Zhafira memberitahu.


“Angkat aja, Sayang, aku nidurin Chayra sebentar,” balas Afkar.


Zhafira pun mengangkat telponnya dan ternyata teman kantor Afkar yang sedang menunggu karena malam ini Afkar ada kerjaan menikahkan di satu tempat.


Setelah teman Afkar menitip pesan, Zhafira segera menyampaikan pesan tersebut ke Afkar.


“Mas, teman kamu tadi bilang kalau dia udah nunggu di tempar orang yang mau Mas nikahkan,” ucap Zhafira memberitahu.


“Astagfirullah, kok mas bisa lupa ya.” Afkar melihat jam tangannya, dan ternyata Afkar udah terlambat lima belas menit.


“Duh, Sayang ... gimana nih, mana udah telat lima belas menit pula,” kata Afkar segera lari ke kamar dan berganti pakaian dan mengambil tasnya. Setelah itu, keluar pamit pada istrinya dan kedua orang tuanya juga mertuanya.


Sekarang tinggalah di rumah Zhafira sendirian, karena Bi Minah menemani Chayra di kamar.


Kurang lebih dua jam, akhirnya Afkar pulang ke rumah. Zhafira yang mendengar suara deru mobil suaminya segera membukakan pintu rumahnya.


“Loh, Sayang, kok belum tidur?” tanya Afkar mengecup kening Zhafira.


“Fira nungguin Mas pulang,” jawab Zhafira mencium punggung tangan suaminya.


“Mas bawa apa itu?” lanjut Zhafira bertanya saat dia melihat Afkar membawa bungkusan warna hitam di tangannya.


“Ini loh, Sayang, tadi dibawakan bungkusan ini di tempat acara tadi. Dibuka yuk,” balas Afkar.


“Alhamdulillah, gimana tadi acaranya, Mas? Kan mas tadi terlambat?”


“Alhamdulillah lancar, Sayang, kan gak seberapa jauh juga tempatnya,” jawab Afkar dan mereka pun menuju ke meja makan. Kemudian, segera membuka bungkusan yang di bawa oleh Afkar tadi.


“Sayang, tolong panggil Bi Minah, biar ikut makan sekalian,” pinta Afkar.


“Iya, Mas.” Zhafaira dengan segera menuju ke kamar Chayra untuk memanggil Bi Minah. Setelah memanggil, Zhafaira dan Bi Minah pun keluar dari kamar Chayra bersama menuju ruang makan.


“Bi, sini kita makan bareng,” ajak Afkar.

__ADS_1


“Iya, Pak, saya makan di dapur saja,” balas Bi Minah yang tak enak mengganggu majikannya.


“Jangan, Bi, kita makan di sini bersama,” titah Zhafira.


Akhirnya Bi Minah pun ikut makan bersama Afkar dan juga Zhafaira, setelah makan mereka masuk ke kamar, Bi Minah juga bergegas kembali masuk ke kamar Chayra.


“Sayang, Mas mau ngecek restoran sebentar ya, kamu kalau mau tidur duluan gapapa,” tutur Afkar lembut pada istrinya.


“Iya, Mas. Tapi, aku nungguin Mas aja, baru makan juga gak enak kalau langsung tidur,” balas Zhafira.


Afkar pun segera menuju ke ruang kerja untuk menyelesaikan kerjaannya. Dia tiap malam mengecek pendapatan restoran dan cafenya. Sedangkan Zhafira menuju ke kamar menunggu Afkar kerja, dia memutuskan untuk membuka ponselnya.


Saat Zhafira membuka aplikasi Facebook, ada yang meng-tag dia dan beritanya tentang kecelakaannya dengan Afkar dan tentang tertangkapnya Daffa. Zhafira pun terkejut, dia gak menyangka kalau Daffa tega berbuat seperti itu.


Zhafira hendak bertanya pada Afkae, tapi melihat Afkar yang masih sibuk dia pun mengurungkan niatnya. Zhafira segera ke dapur mengambilkan minum untuk suaminya.


Setelah Zhafira selesai membuatkannya, langsung menaruh di meja kerja suaminya. Afkar yang melihat Zhafira membuatkan minum pun berterimakasih dan mengecup tangan istrinya.


Sekitar tiga jam sibuk di ruang kerja, akhirnya pekerjaan Afkar pun selesai dengan segera Afkar mengajak Zhafira tidur.


Saat mereka berbaring, Zhafira memiringkan badannya dan bertanya pada Afkar.


“Mas, udah lama Mas gak minta hak kamu, hari ini Fira udah siap kalau Mas mau minta hak,” ucap Zhafira.


“Emangnya kamu gak capek, Sayang? Nanti kamu sakit, ‘kan kamu belum pulih,” balas Afkar yang mengkhawatirkan kondisi istrinya.


Zhafira yakin akan baik-baik saja. Tentu Afkar pun tidak menolak tawaran istrinya. Akhirnya setelah menunggu berbulan-bulan, Afkar kembali dapat mendapatkan jatah dari istrinya.


Mereka Pun melakukan hubungan suami istri dengan hati-hati. Karena, Afkar masih takut kalau perut zhafira akan sakit. Dan setelah melakukan itu, mereka pun tertidur pulas.


****


Tak terasa hari ini tepat satu tahun kelahiran Chayra. Mereka semua merayakan ulang tahun Chayra di rumah saja secara sederhana. Hanya orang-orang terdekat saja yg datang. Walaupun Chayra belum mengerti, tapi dia sangat gembira karena banyak yang memberi kado mainan untuknya.


Setelah merayakan ulang tahun, mereka pun makan bersama. Syara mengajak Rendra untuk ikut hadir di acara ulang tahun keponakannya.


Dan setelah selesai acara makan, Rendra pun memberanikan diri bicara dengan Papa untuk melamar Syara.


Papa yang mendengar hal tersebut pun setuju karena Syara tampak begitu mencintai Rendra juga sebaliknya. Papa merestui dan mereka pun sepakat kalau lamarannya diadakan satu minggu lagi tepat weekand. Mendengar itu, semua pun menyetujuinya.


Setelah malam tiba, mereka pun akhirnya pamit pulang ke rumah masing-masing.


Afkar dan Zhafira menuju ke kamar Chayra untuk menidurkan putrinya. Kemudian, mereka segera masuk ke kamar untuk membersihkan badan.


Setelah selesai, Afkar dan Zhafira duduk di sofa karena Zhafira ingin menanyakan tentang kecelakaan tersebut.


“Mas, maaf sebelumnya. Fira hanya penasaran aja, Mas. Apa yang menyebabkan kecelakaan kita kemarin itu Daffa? Bukannya sebelumnya dia udah dibawa papa dan ayah ke penjara?” tanya Zhafira perlahan takut membuat suaminya tiba-tiba marah karena Zhafira membahas tentang Daffa.

__ADS_1


__ADS_2