
Deo sadar kalau dirinya telah melukai hati Leika, kekasih yang amat dicintainya itu. Akan tetapi, entah kenapa yang biasanya dia pasti mengejar Leika dan meminta maaf padanya, justru hanya bisa terdiam dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
Apa semua ini karena kehadiran Hyuna? Bukankah dia hanya bertemu dua kali dengan wanita itu? Kenapa sikapnya menjadi berubah drastis?
Selepas pekerjaannya selesai, Deo memilih pulang ke rumah kedua orang tuanya. Namun, di dalam perjalanan tetap saja pria itu mencoba menghubungi Leika.
"Sial! Apa Leika sudah kembali ke Prancis? Benar-benar rumit sekali perasaanku saat ini. Aku memang begitu kesal pada Leika, tapi aku tidak mau kehilangannya!" kata Deo lalu memukul stir mobilnya cukup kencang.
Akan tetapi stir mobil yang dipukul oleh Deo itu tidak akan goyang ataupun terlepas. Secara mobil keluaran terbaru dengan harga fantastik itu, sudah dirancang sebegitu detail dan canggih.
Setibanya dirumah, Deo disambut oleh Dovi, ibunya.
"Tumben sekali anak mommy pulang sebelum langit gelap? Apa kamu terlalu suntuk mengerjakan pekerjaanmu di kantor, Deo?" sapa Dovi, lebih tepatnya sih meledek anak sulungnya itu.
"Aku hanya penat, Mom. Sudah ya aku mau ke kamar ... " kata Deo terkesan malas meladeni ibunya yang dia tahu pasti arah pembicaraannya akan kemana. Lalu pria itu melihat salah satu pelayan. "Bi tolong buatkan latte hangat, nanti antarkan ke kamar ya!" perintahnya kemudian.
"Baik, Tuan." Pelayan itu menunduk hormat. Lalu pergi ke dapur ketika Deo tidak ada dihadapannya lagi.
Dovi menggelengkan kepala seraya menghela napas panjang saat Deo bersikap demikian padanya. Padahal ada beberapa hal yang ingin dia tanyakan pada anak sulungnya itu.
Saat sudah di kamar, Deo melepas jas dan juga dasinya. Kemudian dia lemparkan sembarang ke atas tempat tidur. Seperti biasa, dia pun menyingsingkan lengan kemejanya hingga batas siku, lalu berjalan ke arah pintu kaca menuju balkon. Dia membukanya, langkah kakinya terus berjalan hingga berhenti pada pembatas balkon tersebut.
Semilir hembusan angin sore itu, mampu membuat bulu halus di wajahnya tersapu lembut, bak dibelai oleh sang kekasih. Langit jingga kemerahan pun seolah turut serta membawa rasa gundah di dalam hati bersamaan dengan tenggelamnya sang surya di ufuk barat.
Ditengah syahdunya menikmati sore yang indah, sediri dan penuh ketenangan, pintu kamarnya ada yang mengetuk. Deo menoleh lalu berbalik badan. Kemudian kakinya melangkah untuk membukakan pintu.
Setelah dibuka ternyata pelayan yang tadi disuruh membuatkan latte hangat untuknya.
"Permisi, Tuan. Ini latte hangat pesanan Tuan."
Tanpa berkata, Deo mengambil segelas latte itu dari tangan pelayan lalu mengangkatnya. "Terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama Tuan. Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya pelayan itu.
"Tidak ada, kamu bisa pergi sekarang!" perintahnya. Pelayan itu menunduk hormat lalu pergi dari hadapannya.
Deo membawa masuk latte hangatnya ke dalam. Dia kembali ke balkon untuk melanjutkan suasana sore yang terasa sangat nyaman baginya sambil duduk menggantung kaki menikmati latte miliknya.
Tepat satu minggu Hyuna menjalani perawatan di rumah milik Deo. Pelan-pelan, tubuhnya mulai menunjukkan perkembangan yang baik untuk segera pulih.
Hyuna sudah mulai bisa melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit sambil berpegangan pada Bora. Tidak mudah, memang. Setidaknya, Hyuna mau berusaha.
Selama itu pula, Deo tidak pernah muncul di hadapannya lagi. Terakhir ya itu, saat Hyuna masih berada di rumah sakit hanya untuk menyuruhnya pulang.
Namun karena rasa keingintahuannya sudah tidak dapat ditahan lagi, Hyuna pun memberanikan diri bertanya pada Bora.
"Sus, apa Deo benar-benar tidak pernah ke sini ya?"
"Suster bisa saja deh! Aku kan hanya sekadar bertanya ... " Hyuna tiba-tiba terdiam. Ada sebuah memori yang melintas di dalam benaknya. "Kenapa sampai saat ini aku belum mengingat apapun di masa laluku ya, Sus? Sulit sekali rasanya," tanyanya merasa aneh.
"Nyonya harus lebih bersabar lagi. Yang namanya berproses tidak ada yang lebih cepat dari sebuah kilat. Bisa jadi satu detik, satu hari, hingga satu tahun lagi, tidak ada yang tahu kapan Tuhan akan memberikannya kembali pada Nyonya," jelas Bora mencoba menenangkan kegundahan hati Hyuna.
"Benar juga," gumam Hyuna menghembuskan napas panjang.
Ditengah perbincangan mereka, telepon rumah itu berbunyi.
"Sebentar Nyonya, aku mau angkat telepon terlebih dahulu ya. Permisi," kata Bora pamit keluar dari kamar Hyuna, terburu-buru. Sebab wanita itu takut panggilan tersebut segera berakhir.
Hyuna menghela napas panjang lalu mendekat ke salah satu nakas yang ada di samping tempat tidur. Di salah satu bagian laci pada nakas tersebut, tersimpan berkas pernikahannya bersama Deo.
Berkas itu dibuka lagi oleh Hyuna. Dia memandanginya sambil tertegun.
__ADS_1
"Kalau aku sudah mengingat semuanya. Apa aku masih bisa bersama Deo? ... Meskipun dia seperti suami bayangan, tapi entah kenapa jantungku semakin berdebar walau hanya menyebut atau mendengar namanya saja. Seingatku, aku bahkan tidak mengenalnya sebelum ini. Disisi lain, aku harus tetap memastikan kalau dia hanya menikahiku."
"Nyonya?"
Suara Bora menyadarkan Hyuna dari lamunannya.
"Eh, Sus ... " Hyuna tersenyum lalu memasukkan berkas itu kembali ke dalam laci. "Siapa yang telepon barusan?" tanyanya kemudian.
"Tadi itu ... Tuan Deo yang menelepon." Bora tampak gugup.
"Deo? Ada apa?" tanya Hyuna lagi. Hatinya merasa sangat bahagia sekaligus penasaran. Layaknya seorang anak remaja yang baru merasakan jatuh cinta.
"Tuan Deo mengajak Nyonya untuk dinner malam ini. Jadi dia menugaskanku untuk membawa Nyonya pergi ke salon dan juga ke butik. Dia juga memberitahukan alamat salon dan butiknya padaku. Um ... Apa Nyonya tidak keberatan?" jelas Bora. Sebenarnya wanita itu turut bahagia karena Deo akan mengajak Hyuna pergi keluar walau hanya makan malam. Itu artinya hubungan antara Tuan dan Nyonya-nya itu mulai ada perubahan.
Hyuna tertegun kembali. Ingatannya tiba-tiba kembali pada saat sewaktu di rumah sakit. Lalu dia pun menghembuskan napas panjang seraya menyandarkan punggungnya di kursi roda.
"Sebenarnya aku senang karena Deo mengajakku makan malam berdua. Aku senang karena aku bisa melihat wajahnya lagi, meskipun aku tahu itu pasti tidak akan lama. Akan tetapi aku gelisah dan bertanya-tanya, hal apa yang akan dia bicarakan nanti? Bagaimana kalau tentang perpisahan? Bagaimana kalau dia menyuruhku untuk tidak berharap lagi padanya? Aku harus bagaimana Tuhan?" batin Hyuna terus menerka.
Bora merubah posisinya yang tadinya berdiri, kemudian duduk di pinggir tempat tidur berhadapan dengan Hyuna. Mereka terlihat seperti ibu dan anak yang sedang berbicara serius.
"Kalau menurutku, lebih baik terima. Aku yakin dia tidak mungkin mengajakmu bertemu. Apalagi sampai dinner seperti itu. Pasti ada hal lain yang ingin dia bicarakan," usul Bora. Namun Hyuna masih terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Bagaimana kalau yang dibicarakannya tidak sesuai bahkan jaauh dari harapanku?" Hyuna mendadak sedih. Air matanya mulai membendung sehingga bola matanya pun berkaca-kaca.
"Nyonya ... "
Bersambung ...
...****************...
__ADS_1