
Leika jatuh terduduk kemudian bersimpuh di kaki Deo. Wanita itu mulai mengeluarkan senjata dengan mengeluarakan isak tangisnya, bahkan sampai tergugu.
"Berdiri." Deo masih sabar dengan suara yang pelan. Namun Leika tetap di sana, lalu kedua tangannya memeluk sebelah kaki Deo. "Jangan seperti ini, Leika. Ku bilang berdiri!" Pria itu mulai kesal. Ia pun mengusap kasar wajahnya serta menggoyangkan kakinya supaya Leika bisa menjauh di sana.
"Aku tidak akan melepaskannya sebelum kamu mau maafin kesalahpahaman diantara kita," kata Leika sambil terus tergugu.
"Kesalahpahaman apalagi? Jelas yang salah itu kamu! Sembilan tahun Leika ... Dan semudah itu jalan sama pria lain hanya karena karirmu. Apa kekayaan serta kekuasaanku saat ini tidak cukup bagimu?" Deo mendes ah kasar lalu memejamkan matanya untuk beberapa saat. "Mulai detik ini, kalau kamu tidak keluar dari agency itu. Siap-siap saja, namamu akan dicoret dari keluarga Ainsley!" tegas pria itu dengan penuh penekanan.
"Tap-tapi aku ... "
"Tidak ada tapi-tapian!" Dengan cepat Deo memotong sanggahan wanita itu. Matanya membola serta memerah. Jari telunjuknya pun tidak tinggal diam. "Keluar dari agency atau keluar dari keluarga Ainsley?" tawarnya membuat Leika menggeleng cepat.
"Aku tidak bisa memilih diantara keduanya," jawab wanita itu dengan wajah memelas.
"Kamu harus pilih salah satu, dan ingat ... " Jari telunjuk Deo mengarah langsung ke depan mata Leika bak busur panah yang siap menancap. "Ini adalah kali pertama dan terakhir kamu seperti ini. Kalau nanti aku mendapatkan kabar yang sama, jangan harap aku akan tetap membelamu untuk tetap berada di dalam keluarga Ainsley." Deo benar-benar memberi penekanan terhadap Leika.
Walau sebenarnya yang Deo tahu, sampai kapanpun Leika akan tetap mempertahankan karirnya. Entah bodoh atau hanya ingin untung, semenjak wanita itu berhasil tidur dengan pemilik agency, karirnya semakin meroket.
"Deo, please ... Bukankah sejak awal aku bilang padamu, kalau aku akan mempertahankan karirku? Dan kamu pun sudah menyetujui hal itu. Tapi kenapa sekarang di permasalahkan?" Leika mulai protes.
"Bukan karirmu yang aku permasalahkan ... Tapi bisakah kamu sadar dan pakai otakmu!" Deo menunjuk ke kepalanya sendiri. Pria itu naik pitam. "Apa kamu tidak sadar? Setelah kita menikah, kamu sering keluyuran berduaan dengan bosmu. Its okay, kalau hanya sebatas makan siang, tapi ... " Deo beralih ke atas mejanya lalu langsung membuka halaman terakhir map yang sempat ia buka beberapa saat yang lalu.
BRAK!!!
Deo mengangkat lalu melemparkan kembali ke atas meja. Leika pun tersentak kaget seraya melihat ke map itu. Detak jantungnya seolah terhenti sejenak.
"Da-dari mana kamu dapatkan foto-foto itu?" tanya Leika terbata. Tatapannya enggan berpaling dari lembaran foto yang sangat jelas di depan matanya.
"Ck!" Deo berdecih. "Kamu lupa siapa suamimu?" Pria itu duduk kembali di kursi kebesarannya. Sedangkan Leika hanya terus menatap kosong ke arah foto itu. "Dari awal aku mengenalmu, aku memang jatuh cinta pada kesederhanaan serta kepolosanmu. Akan tetapi setelah kamu mengenal dunia hiburan, kamu mulai berubah."
__ADS_1
"Berubah? Tidak ada yang berubah dariku, Deo," timpal Leika seketika melihat Deo dengan wajahnya yang masih tampak basah karena air mata.
"Menurutmu. Karena kamu tidak bisa belajar dari setiap kesalahan yang kamu buat. Kamu tahu? Aku menikahimu, karena aku yakin kamu bisa berubah menjadi lebih baik, Leika!" seru Deo yang masih emosi.
"I'm so sorry ... " kata Leika dengan suara pelan.
"Sudahlah, aku tidak ingin memperpanjangnya lagi." Deo berdiri kembali, lalu menutup map itu dan menaruhnya lagi ke dalam laci. "Intinya sekarang kamu sudah tahu kalau aku sudah mengetahui kelakuanmu di belakangku. So, kalau kamu ingin mempertahankan pernikahan kita ... Tunjukkan padaku kalau kamu bisa memperbaikinya," jelas Deo memberi ancaman pada Leika.
"Baiklah kalau itu maumu. Lihat saja, aku akan menunjukkannya padamu!" kata Leika terdengar sangat meyakinkan. Sementara Deo memicingkan mata seraya menyeringai.
"Bagus, aku akan hargai usahamu jika memang benar adanya." Deo tersenyum simpul dan kembali ke kursi kebesarannya untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Beib, bisakah kamu meluangkan waktu untukku sebentar? Aku sudah membawakan makanan kesukaanmu. Apa kamu tidak ingin mencicipinya?" tanya Leika ketika melihat Deo sudah membuka berkas yang akan dia periksa kembali.
"Taruh saja di sana, nanti aku makan jika pekerjaanku sudah selesai," kata Deo tanpa melirik sedikitpun ke arah Leika. Pria itu sedang mengontrol emosinya kembali.
"Please ... Aku hanya ingin melihat kamu memakannya." Leika masih bersikukuh. Sikapnya yang seperti itu membuat Deo menaruh rasa curiga terhadapnya.
"Kecuali kamu telah menaruh sesuatu pada makanan itu," pungkasnya sambil tersenyum sinis.
"Maksud kamu aku kasih racun, gitu?" Leika menggelengkan kepala, tidak terima. Wanita yang tadinya sabar dan masih menahan emosi supaya tidak meledak. Semakin lama sabarnya berbatas.
"Seharusnya kamu mengerti bagaimana diposisiku sekarang ini. Beri aku waktu, beri aku ruang supaya bisa menerima kenyataan yang tidak sesuai dari ekspetasiku. Lebih baik kamu tinggalkan aku untuk sendiri dulu. Aku yakin masih banyak jadwal yang sedang menantimu saat ini," kata Deo datar.
"Sumpah! aku benar-benar tidak menyangka kamu bisa berpikir seperti itu. Begitu buruknya aku dimatamu, Deo." Leika berbalik badan lalu berjalan dan meraih tasnya di atas meja. Kemudian pergi dari ruangan Deo.
Sikapnya Leika itu, membuat Deo berpikir ulang tentang kelangsungan rumah tangganya. Apa ini efek karena terlalu terburu-buru menikahi Leika? Sedangkan sebelumnya ada sesuatu yang sebenarnya sudah meradang dihatinya.
Deo mendes ah kasar ketika Leika menutup pintu cukup kencang. Sesaat kemudian, ponselnya bergetar. Pria itu segera melihat siapa yang memanggilnya saat itu.
__ADS_1
"Mommy? Ada apa ya?" gumamnya lalu menjawab panggilan telepon tersebut.
"Hallo, Mom?" sapanya dengan suara yang seperti biasanya, tanpa terdengar sedang marah ataupun kesal.
"Deo, kamu sibuk kah hari ini?" tanya Mommy terdengar cemas.
"Memangnya kenapa Mom? Pekerjaanku sedang banyak sih," jawab Deo sambil menghitung tumpukkan berkas yang ada di hadapannya.
"Mommy ingin ditemani ke mall. Ada beberapa barang yang harus dibeli. Daddy-mu sedang sibuk meeting di rumah," kata Dovi.
"Pelayan dirumah juga pada sibuk memangnya?" tanya Deo yang sebenarnya tidak ingin pergi kemanapun saat itu.
"Iya. Kalau pergi sendiri, tidak ada teman yang akan Mommy ajak berdiskusi," jawab Dovi yang berharap Deo akan mengantarnya.
"Um ... " Deo berpikir sejenak.
"Bagaimana Deo? Kamu bisa atau tidak?" tanya Dovi memastikan.
"Mommy mau tidak tunggu aku satu jam lagi? Nanti kalau aku sudah selesai, aku beritahu Mommy lewat pesan," pinta Deo.
"Ya sudahlah. Mommy tunggu, kalau gitu Mommy mau ke salon dahulu."
"Oke, salon langganan Mommy kan?"
"Iya."
"Ya sudah, bye Mom."
"Bye."
__ADS_1
Setelah telepon berakhir, Deo pun segera menyelesaikan pemeriksaan berkas itu. Kalau mendengar permintaan Dovi, ia tidak begitu tega untuk menolaknya. Mungkin, pikirannya akan lebih tenang setelah pergi keluar dengan Dovi, pikirnya demikian.
Bersambung ....