Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Sequel - 19


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, di pagi itu Hyuna mengirimkan pesan kepada Dave kalau dirinya akan berangkat ke bandara London Heathrow. Setelah pesan berhasil di kirim, Hyuna pun berangkat.


"Hyuna kamu yakin akan ke rumah temanmu di London sepagi ini?" tanya Nestya ketika Hyuna baru keluar dari kamarnya.


Apa? Teman? Hmm, Hyuna sepertinya sedang berbohong pada Mama-nya ketika kemarin saat meminta izin kepada kedua orang tuanya. Dia juga belum bercerita apapun tentang Dave. Mungkin karena Dave juga belum memberi pembuktian padanya. Semoga saja selama perjalanan tidak terjadi sesuatu apapun dengan Hyuna. Pasalnya kepergiannya ke London itu hanya ingin tahu apakah Dave masih ingat janjinya atau tidak. Sekaligus Hyuna ingin menghibur dirinya sendiri dari jadwal kampus yang padat selama satu minggu terakhir itu.


"Iya Ma. Aku juga tidak akan lama di sana. Soalnya, sore pun aku harus berangkat kerja," jawab Hyuna sambil mengambil sepatu dari dalam rak yang dekat dengan ruang tamu.


"Ya sudah kalau gitu, hati-hati di jalan ya ... " Nestya mengambil kotak makan berwarna biru dari atas meja makan. Kotak itu berisi sarapan untuk Hyuna. Karena perjalanan dari Birmingham ke London hanya menempuh beberapa jam saja, jadi wanita paruh baya itu takut Hyuna tidak sempat sarapan. "Ini bawalah, untuk bekal kamu selama di pesawat," katanya sambil menyerahkan kotak itu paaa Hyuna.


"Oh iya Ma. Terima kasih Mama-ku sayang!" seru Hyuna merasa bahagia lalu mengecup pipi Nestya seperti kilat. Lalu ia mengambil kotak makan itu dan memasukkannya ke dalam tas ransel.


Saat itu Hyuna pergi mengendarai motornya sampai ke bandara. Kebetulan saat pulang dari London beberapa waktu lalu, ia melihat tempat parkir khusus kendaraan sepeda motor. Meski jarak yang ia tempuh cukup jauh, namun Hyuna berhasil sampai di bandara tepat waktu sebelum keberangkatan tiba. Wanita cantik itu kemudian melakukan check in lalu menunggu di ruangan yang telah disediakan di bandara itu.


Tidak sampai lima belas menit, pesawat tujuan Heathrow telah siap dinaiki. Penumpang yang akan pergi ke sana langsung beranjak dari tempat duduk mereka dan masuk ke dalam kabin pesawat.


Sepuluh menit kemudian, para pramugari telah selesai menerangkan peraturan apa saja yang boleh dan tidak boleh di lakukan ketika pesawat sedang melakukan penerbangan. Lalu mereka pun akhirnya take off.


...----------------...


Beberapa jam kemudian, pesawat akhirnya landing di bandara London Heathrow. Entah kenapa perasaan Hyuna tiba-tiba gelisah. Sebelum turun dari kabin pesawat, ia memeriksa ponselnya terlebih dahulu.


Raut wajahnya seketika berubah seperti tampak putus asa. "Apa Dave sedang sibuk? Dia belum sama sekali membaca pesan dariku. Bahkan sejak semalam dia pun tidak online," batinnya mengeluh.


Namun karena sudah terlanjur tiba di bandara, tak sengaja ia menabrak seseorang dari arah belakang.


Brugh!

__ADS_1


"Maaf, maaf. Saya tidak sengaja," ucap Hyuna lalu memposisikan tubuhnya tepat berhadapan dengan orang yang ditabraknya itu. Tetapi wajah wanita cantik itu sambil menunduk seakan tidak siap mendapat lontaran amarah dari orang yang berhadapan dengannya.


"Hyuna?"


Seketika wajah Hyuna terangkat ketika orang tersebut menyebut namanya, serta suaranya pun tidak asing saat didengar olehnya.


"Deo? Sedang apa kamu disini?"


Pertanyaan itu sungguh lelucon bagi Deo. Hyuna sendiri tidak ingat akan anak pria itu yang sedang dirawat di rumah sakit tempat Dave praktek.


"Seharusnya aku yang tanya kamu. Sedang apa kamu di sini?" tanya Deo dengan sorot teduhnya. Tatapan pria itu masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu, yang saat itu adalah hari terakhir mereka menjadi sepasang suami istri.


Hyuna pun tercekat, lalu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. "Aku sedang menunggu teman di sini."


"Oh ... Bagaimana kabarmu Hyuna? Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu," kata Deo berusaha mengajak wanita itu untuk berbincang santai.


"Syukurlah. Oh iya temanmu masih lama?" tanya Deo.


Wanita cantik itu tidak langsung menjawabnya. Ia justru mengedarkan pandangannya ke sekitar. Berharap Dave akan segera datang padanya saat itu juga.


...----------------...


Sementara di rumah sakit. Dave baru saja selesai visit beberapa pasien yang telah diberi tindakan olehnya dan masuk ke ruangannya. Pria itu mengeluarkan ponsel dari dalam jas putihnya lalu dirinya tersentak ketika mendapati pesan dari Hyuna.


"Astaga. Aku sampai tidak ingat kalau Hyuna hari ini akan datang!" ucapnya lalu membuka jas putih dan menggantungkannya ke standing hanger. Ia segera mengambil kunci mobil dari dalam laci dan bergegas menghampiri Hyuna ke bandara.


Kecepatan mobil yang dikemudikannya itu mencapai batas maksimal. Bahkan saking kencangnya mobil tipe sport itu tiba di bandara dalam waktu yang amat singkat.

__ADS_1


Dave segera turun dari kursi kemudinya. Ia berlari dari halaman parkir menuju pintu kedatangan. Hingga beberapa meter Hyuna dapat terlihat olehnya. Langkahnya kemudian diperlambat. Ia pun jalan seperti biasa menghampiri Hyuna sedang bersama seorang pria yang dikenalinya.


"Bagaimana Hyuna apa kamu mau ikut denganku?" tanya Deo. Itulah pertanyaan yang Dave dengar ketika sudah di dekat mereka.


"Tuan Deo ... " sapa Dave membuat kedua orang yang ada di depannya menoleh kearahnya bersamaan.


Hyuna tercekat sekaligus bahagia karena Dave menepati janjinya. Namun wanita itu sedikit berkecil hati, perasaannya bilang status hubungannya dengan Deo cepat atau lambat akan diketahui oleh Dave.


"Anda kenal sama Hyuna?" tanya Dave dengan raut wajah datarnya. Begitu pun dengan Deo yang juga menunjukkan raut yang sama.


"Tentu. Saya sangat mengenalinya," jawab Deo lalu menatap Hyuna. Sedangkan wanita cantik itu hanya diam tanpa ada reaksi apapun.


"Bagaimana bisa? Dokter Gabriel juga kenal dengan Hyuna. Memangnya kalian teman lama atau apa?" Dave mulai penasaran sebab sudah ada dua orang yang mengenali wanita yang ia cintai.


"Jadi--"


"Deo adalah mantan suamiku." Hyuna memotong ucapan Deo. Senyum tipis yang hampir tak terlihat pun seketika nampak di kedua sudut bibir Deo ketika Hyuna mengakuinya.


"Mantan suami?" tanya Dave memastikan dan masih tidak percaya. Sebab yang Dave tahu kalau Deo adalah pengusaha terkenal dan kaya raya di benua Eropa itu.


"Dulu aku pernah kecelakaan, diselamatkan olehnya. Karena peraturan rumah sakit yang sukar ditolak, dia menikahiku. Aku sempat mengalami koma selama enam bulan karena adanya pendarahan di kepala pasca operasi. Selama enam bulan dan sampai aku pulih dokter Gabriel dan suster Bora yang merawatku. Namun selama itu pula, aku dan Deo hanya ketemu bisa dihitung dengan jari. Karena Deo memiliki wanita lain yang dicintainya, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah," jelas Hyuna dengan singkat, padat dan dapat dipahami oleh Dave.


"Ya kurang lebih seperti itu," sahut Deo membenarkan.


"Oh jadi begitu ceritanya." Dave mengangguk paham. Raut wajahnya masih datar. Namun tiba-tiba Dave mengulurkan tangannya. "Tuan Deo ... "


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2