
Rintik gerimis menyambut pagi di kota Hamburg. Udara yang dingin menambah rasa sunyi di ruang rawat inap tempat Hyuna berada.
Disaat tengah menikmati keheningan, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka. Seketika pula Hyuna membuka kedua matanya yang sejak tadi terpejam.
"Dia ... Suamiku. Sepagi ini menemuiku? Ada apa dengannya?" tanya Hyuna, dalam hati.
Pria yang sudah tak asing lagi bagi wanita itu, muncul kembali. Raut wajahnya masih sama, datar.
"Pagi."
"Dia menyapaku? Tapi kenapa tidak ada senyum dari kedua sudut bibirnya," batin Hyuna, bermonolog.
"Pagi," sahut wanita itu, lirih.
"Bagaimana keadaanmu saat ini? Apa sudah lebih baik dari sebelumnya?" tanya Deo. Jangan berharap dari pertanyaan itu ada senyum yang mengikuti.
"Ya seperti yang kamu lihat. Aku masih sama, hanya bisa terbaring di atas tempat tidur." Kali ini suara Hyuna sudah kembali seperti biasa.
"Hari ini, kamu akan ikut pulang bersamaku ke rumah. Nanti ada perawat yang akan membantu pemulihanmu selama di rumah. Tenang saja, kamu tidak perlu risau. Karena aku jarang sekali pulang ke rumah," kata Deo sekaligus mengingatkan Hyuna di awal.
"De-o, apa benar kita sudah menikah? Kenapa kamu mau menikahiku yang cacat ini?" tanya Hyuna hati-hati.
"Maaf ... " Deo sebenarnya belum ingin mengatakan yang sebenarnya. Tetapi karena Hyuna bertanya, mau tidak mau ia pun harus menjawabnya. "Aku terpaksa menikahimu. Itu hanya karena demi menyelamatkan nyawamu. Jangan berharap aku bisa mencintaimu. Sebab, aku telah mencintai wanita lain yang selama ini aku cintai," tegas Deo dengan tatapan datar dan sikap dinginnya pada Hyuna.
"Oh ... Jadi begitu. Baiklah." Sepintas rasa kecewa merasuki relung hati Hyuna. Tak disangka, dikiranya Deo memang sukarela menikahinya. Menjadikan ratu dalam rumah tangganya. Namun itu hanya sekadar mimpi untuk Hyuna.
"Nanti kamu dan perawat yang bernama Debbora Olla, akan pulang bersama sopir pribadiku. Tinggallah di sana sampai keadaanmu sudah kembali seperti sebelum kecelakaan itu terjadi. Anggap saja rumahmu sendiri," papar Deo. Pria itu pandai sekali mengolah rasa. Padahal wanita cantik yang ada dihadapannya itu, jauh lebih menarik dibanding kekasihnya, Leika.
__ADS_1
Leika Gradita, wanita berusia 26 tahun yang berkecimpung di industri entertaiment sejak usianya 21 tahun. Awal karirnya dia memang berfokus pada perfilm-an layar lebar.
Meski karirnya mulai naik daun, tidak jarang Leika acapkali ditolak saat casting. Hingga di tahun ketiga perjalanan karirnya, Leika akhirnya bisa menemukan celah peran apa saja yang cocok untuk dirinya sendiri.
Sembilan tahun hubungannya dengan Deo, banyak hal yang telah dia lewati bersama terutama dalam karirnya. Meski demikian, Deo belum pernah menyentuh Leika lebih dari sewajarnya.
...----------------...
Selepas kepergian Deo dari kamar yang ditempatinya, Hyuna hanya terdiam seribu bahasa. Pria itu benar-benar dingin, meski di sisi lain dia sangat baik sekali telah menolong Hyuna saat kecelakaan itu.
"Kamu salah, cintaku telah bersemi di dalam hati sejak aku tahu bahwa kamu adalah suamiku. Biarkan aku mencintaimu meskipun harus tertatih," sahut Hyuna, dalam hatinya.
Air matanya tiba-tiba menetes tanpa permisi. Dirinya berusaha kuat untuk tetap semangat demi bisa sehat kembali. Apalah daya, air matanya jauh lebih tahu dan mengerti perasaannya.
Ditengah lamunannya, Bora masuk ke dalam kamar.
"Nyonya, aku akan membatumu mengemasi barang-barangmu. Sopir telah menunggu di depan lobby, sedangkan Tuan Deo entah pergi kemana menggunakan mobil yang lainnya. Semua persyaratan admistrasi pun telah selesai dia urus," jelas Bora yang berdiri sambil bersandar diujung tempat tidur.
"Darimana Suster tahu kalau Deo pergi menggunakan mobil lain?" tanya Hyuna memastikan ucapan Bora.
"Tadi aku dapat laporan dari security Nyonya," jawab Bora jujur.
"Oh baiklah Sus. Pukul berapa kita pulang?" tanya Hyuna lagi. Wanita itu sudah benar-benar pasrah. Sebab kondisi hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Nanti lima belas menit lagi, dokter akan visit untuk memeriksakan kondisi Nyonya. Setelah itu akan ada perawat yang mengantarkan obat, dan barulah bisa diperbolehkan pulang," jelas Bora dengan gaya bicaranya yang santai. Sehingga kerisauan yang ada di hati Hyuna sedikit berkurang. Bora bisa menjadi teman yang baik selama di rumah, pikir Hyuna demikian.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu, dokter pun masuk ke dalam ruang rawat inap itu.
"Pagi, Hyuna. Perkenalkan saya dokter Gabriel. Sebenarnya saya yang pertama kali yang menanganimu. Kita baru sempat berkenalan. Bagaimana kabarmu hari ini?" sapa dokter bersikap ramah.
Hyuna tersenyum, "Sudah lebih baik dari kemarin Dok."
"Syukurlah ... " Dokter kemudian melihat ke arah Bora. "Sus, papan pemeriksaannya sudah ada?" tanyanya.
"Belum Dok, akan aku ambilkan sekarang!" jawab Bora kemuduan bergegas keluar dari ruangan.
Setelah Bora pergi, Hyuna menatap dokter Gabriel yang memang tidak bisa dipungkiri begitu tampan.
"Dok, kondisiku belum sepenuhnya pulih, apa sudah diperbolehkan untuk pulang? Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku?" tanya Hyuna, mengenai penyakitnya Bora hanya memberitahukan secara garis besarnya saja pada Hyuna. Sehingga pikirannya pun menjadi bercabang, terlebih hasil CT scan pun baru ada semalam dan dokter Gabriel baru mendapatkannya tadi pagi.
"Begini Hyuna, setelah saya lihat dari hasil CT scan. Kamu mengalami amnesia pasca trauma, dimana hal itu terjadi akibat cedera kepala yang kamu alami ketika kecelakaan itu. Sebenarnya tingkat cederamu saat ini masih dibilang tidak terlalu parah meskipun harus dilakukan tindakan operasi saat itu. Setelah saya periksa kembali, luka pasca operasi pun sudah membaik. Setelah ini hanya tinggal pemulihan ingatan masa lalu yang menghilang secara mendadak tersebut," jelas dokter Gabriel. Walaupun dia bersikap profesional dalam bekerja, tapi gaya penyampaiannya yang santai membuat Hyuna perlahan bisa paham dan mulai menerima dirinya sendiri.
"Bagaimana dengan kedua kakiku ini, Dok? Kenapa sulit sekali aku gerakkan? Rasanya seperti mati rasa," tanya Hyuna lagi.
"Seperti yang kita tahu, gerakan otot dikendalikan oleh sinyal pemicu yang diteruskan oleh otak. Kalau salah satunya ada yang rusak. Otomatis kelumpuhan itu bisa saja terjadi. Karena sinyal pemicu dari otak ke otot tidak sampai. Kasus ini dialami olehmu karena selama enam bulan mengalami koma, kedua otot kakimu seolah terhenti. Yaitu karena sinyal pemicunya pun terhenti." Dokter menjeda perkataannya.
"Kamu mengalami yang namanya paraplegia, dimana kelumpuhannya mempengaruhi kedua kaki. Namun kamu tidak usah khawatir, Hyuna. Kasus paraplegia masih bisa disembuhkan dengan terapi dan juga dibantu dengan obat. Saya yakin, Bora bisa membantumu untuk pulih kembali. Sedangkan untuk ingatan masa lalumu yang hilang, jangan terlalu dipaksakan. Perlahan ingatan itu akan kembali ada, terutama saat kamu mendatangi tempat-tempat tertentu," lanjut dokter Gabriel.
"Oh jadi seperti itu ya, Dok. Um ... Apa Deo sudah tahu tentang semua itu, Dok?" tanya Hyuna hati-hati. Sebab menyebut nama Deo saja, detak jantungnya berpacu dua kali lebih cepat.
"Sebenarnya ... "
__ADS_1
Bersambung ....