Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Sequel - 8


__ADS_3

Langit di kota London sudah gelap, sebab matahari telah terbenam sekitar lima belas menit setelah mereka tiba di tempat perjalanan akhir belajar sambil berlibur pada hari itu.



London Eye, merupakan landmark kenamaan kota London yang berada tepat di tepian sungai Thames, sebuah sungai sepanjang tiga ratus empat puluh enam kilometer yang membelah kota.


London Eye sendiri, dikenal dengan nama Energy of London. Dimana kincir raksasa setinggi seratus tiga puluh lima meter itu, akan membawa siapapun yang masuk ke salah satu ruangan berbentuk seperti kapsul itu mampu melihat secara keseluruhan kota London.


Apalagi suasana saat itu malam hari. Akan jauh lebih indah dengan hamparan lampu yang berwarna warni dari atasnya.



Dalam satu ruangan, dapat diisi oleh enam sampai delapan orang dengan berat maksimal sekitar seratus kilogram per orang.


Para panitia pun sudah mengelompokkan mereka ke dalam beberapa kelompok yang sesuai berat badan masing-masing individu rata-rata empat puluh lima sampai enam puluh kilogram.


Sungguh satu hari itu adalah pengalaman yang tak ternilai harganya bagi Hyuna.


Ketika tepat pukul setengah sembilan malam, mereka sudah menghambiskan tiga putaran sekalian makan malam yang disajikan oleh seorang koki di masing-masing ruangan itu.


Akan tetapi, tepat ketika Hyuna baru saja keluar dari ruangan itu, tak sengaja dirinya berpapasan dengan seorang pria yang akhir-akhir ini begitu baik padanya. Dave, sudah bisa ditebak bukan?


Pria itu tengah jalan bersama seorang wanita berparas cantik, tinggi semampai, rambut hitam nan lurus, make up flawless, serta tangan wanita itu melingkar di lengan Dave begitu erat. Sebenarnya Hyuna ingin sekali menyapa pria itu, namun melihat tangan wanita di sebelah Dave pun niatnya diurungnkan.


Keduanya hanya saling bemandang satu sama lain dengan raut wajah datar.


"Ayuk kita naik, kita hanya naik berdua 'kan?" tanya wanita itu dengan sebelah tangan lainnya berada di bahu Dave dan menatap pria itu bertingkah manja. Tentu pria itu langsung menoleh lalu mengangguk seraya menyunggingkan senyum.


Setelah mereka naik, Hyuna berbalik badan. Lagi-lagi matanya dengan mata Dave saling bertemu. Dari sorot pria itu seolah ingin mengatakan sesuatu padanya. Namun, Hyuna hanya menghela napas lalu pergi dari sana menuju tempat bus berada.


Sepanjang jalan menuju asrama, Hyuna hanya terdiam. Memandang ke luar jendela sambil tertegun. Ia sedang berusaha menetralkan perasaannya yang akhir-akhir ini kembali bergejolak karena Dave.


...----------------...


"Hyuna ... " Seorang wanita yang duduk disampinya itu menggoyangkan bahunya. "Bangun, Hyuna. Kita sudah sampai."

__ADS_1


Hyuna membuka matanya perlahan, lalu melihat ke sekeliling. Ternyata benar, mobil bus yang ia tumpangi telah sampai di halaman kampus. "Terima kasih telah membangunkanku," ucapnya pada wanita itu.


"Sama-sama. Aku duluan ya!" Wanita yang tadi membangunkannya pun berdiri kemudian turun dari mobil.


Sedangkan Hyuna mengumpulkan kesadarannya untuk beberapa saat. Setelah itu memastikan kembali kalau barang bawaanya tidak ada yang tertinggal di dalam mobil.


Disaat tertegun sepanjang jalan tadi, Hyuna sampai tak sadar tertidur. Mungkin karena tubuhnya juga merasa lelah, jadi rasa kantuk pun tak bisa tertahankan.


Hyuna turun dari mobil sambil membawa tas ranselnya. Ia menjadi orang terakhir yang turun dari bus itu. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju asrama.


Tiba-tiba ingataannya mengingat sepintas tentang kejadian tadi ketika bertemu Dave. Perasaannya sulit sekali diartikan dengan kata-kata.


Ia menekan tombol lift untuk naik ke lantai atas. Namun tanda panah yang menyala sebagai tanda pergerakan lift itu, tidak kunjung turun ke lantai dasar. Hyuna berdecak lalu menekannya lagi.


"Hai, Hyuna! Kamu baru pulang?"


Suara itu terdengar familiar di telinga Hyuna. Wanita itu menoleh.


"Evan. Iya nih. Omong-omong kamu sediri darimana? Kok kayaknya bahagia sekali," ujar Hyuna mengerutkan alisnya.


"Oh ya? Dikampus ini juga?" tanya Hyuna lagi yang mulai penasaran.


"Ya iyalah. Mana mungkin di luar kampus ini, Hyuna," balas Evan lalu tertawa.


Hyuna terkekeh pelan. "Jangan bilang satu fakultas sama kamu?" selidiknya sambil memicingkan mata.


"Jelas! Kalau beda mana mungkin juga kan? Gini-gini aku pria pemalu loh!" Seketika Hyuna menatap Evan merasa jijik, dalam artian meledek.


"Malu-maluin kali!" sarkas Hyuna lalu terbahak.


"Eh sudah kebuka pintunya. Ayuk masuk!" ajak Evan dan Hyuna pun menghentikan tawanya seraya menganggukkan kepala.


Keduanya pun masuk ke dalam untuk menuju kamar masing-masing.


"Oh iya Hyuna, aku dengar dari anak fakultas kedokteran, kamu keponakannya pak Dave ya?" tanya Evan. Mungkin pria itu penasaran karena tiba-tiba saja berita itu langsung beredar luas.

__ADS_1


Pastinya Hyuna terkejut. Karena Evan sudah mendengar kabar itu. Rasa bersalah pun menghantuinya. Sebenarnya ingin sekali Hyuna mengatakan yang sebenarnya pada Evan, namun mengingat kalau Dave tidak masalah, akhirnya tidak jadi ia katakan.


"Hmm, kurang lebihnya seperti itu," jawab Hyuna terkesan acuh. "Kamu dapat darimana kabar itu?"


Suasana di dalam lift seketika berubah menjadi tegang dan sangat serius.


"Jadi, wanita yang aku ajak kencan tadi teman dekatnya anak fakultas kedokteran. Temannya itu sudah lama menyukai pak Dave. Terus katanya beberapa hari yang lalu si temannya itu lihat kamu dua kali masuk ke ruangan pak Dave. Pertama sendiri dan kedua sama pak Dave."


Hyuna masih diam mendengarkan penjelasan Evan.


"Nah kenapa wanita gebetanku itu tanya sama aku ... Karena dia pernah lihat aku bareng kamu dan juga Mona. Begitulah kira-kira sambutan dari saya," pungkas Evan. Namun Hyuna terkekeh geli saat mendengar kata penutup Evan. Suasana pun cair kembali.


"Kamu bukan lagi pidato di atas panggung Evan." Hyuna memutar malas bola matanya lalu berdecak.


"Eh lagian ya, aku baru tahu loh kalau kamu nasih ada ikatan saudara sama pak Dave. Secara dari mimik wajah kalian saja tidak ada kemiripan sama sekali," timpal Evan berpendapat sesuai dengan pandangannya.


"Memangnya menurut kamu kalau masih ada ikatan saudara wajahnya harus mirip?" Hyuna melirik ke arah Evan, yang mana Evan pun melakukan hal yang sama seraya menganggukkan kepala. "Tidak sedikit loh saudara kandung, satu orang tua tapi tidak punya kemiripan pada wajah mereka. Hayo loh!" sambung wanita itu.


Evan berpikir sejenak lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum lebar. "Iya juga sih."


Pintu lift terbuka dan keduanya keluar dari sana.


"Ya sudah Evan. Aku pergi ke kamar dahulu. Sudah larut malam juga. Bye!"


"Oke, Hyuna bye. Sampai berjumpa besok!"


Hyuna dan Evan pun pergi ke kamar mereka masing-masing.


Namun saat Hyuna sedang mencari kunci kamar, tiba-tiba ponselnya berdering. Alhasil ia mengeluarkan ponselnya terlebih dahulu dari dalam saku celana.


Hyuna mengerutkan keningnya ketika melihat nama yang tertera pada panggilan itu. Ia pun segera menjawabnya sebelum panggilan itu berakhir dengan sendirinya.


"Hallo?"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2