
Tak terasa hari bahagia itu tiba. Setelah memutuskan untuk menjalin hubungan serius dengan Dave, semuanya berubah. Mulai dari belajar masak, semangat belajar supaya bisa segera lulus kuliah, serta penampilan Hyuna yang lebih feminim dari biasanya.
Balutan gaun berwarna jingga pucat yang dipadukan dengan sabuk kecil di pinggangnya, menambah kesan dewasa pada diri Hyuna. Apalagi model rambut yang di gulung ke atas dan hanya menyisakan sedikit sebagai poni ke samping.
Suasana gedung pernikahan itu sudah mulai dipadati tamu undangan. Sedangkan Hyuna masih berada di dalam salah satu ruangan, ditemani oleh Herya. Hatinya cemas bercampur gugup. Sebentar lagi dirinya akan melepas status jandanya.
Ternyata apa yang dikatakan Dave tentang kedua orang tuanya benar adanya. Ketika hari lamaran itu, pihak keluarga besar Dave datang semua. Terlihat dari raut wajah mereka kalau pernikahan pria itu begitu sangat dinantika.
Semenjak saat itu, Hyuna pun pernah di ajak dua kali pergi ke rumah kediaman kedua orang tuan Dave. Hal yang paling membuat Hyunq terharu, kalau dirinya justru mendapat sambutan yang baik ketika selesai memberitahukan tentangnya yang sesungguhnya.
"Hyuna coba kamu telepon Dave, tanyakan dia sudah sampai mana?" kata Herya yang baru saja melihat waktu kalau sebentar lagi acara pengesahan pernikahan akan dimulai.
"Memangnya kak Herya belum lihat di luar sudah ada keluarga Dave atau belum?" Hyuna bertanya balik. Lalu sang kakak pun menggelengkan kepala dan ia menghela napas sambil memutar malas bola matanya. "Tolong kak lihat dulu ke depan, mungkin saja Dave dan keluarganya sudah datang," kata wanita cantik itu.
"Oke deh. Kamu tunggu di sini ya. Aku akan segera kembali." Herya berbalik badan lalu keluar dari ruangan itu.
Sembari menunggu Herya kembali, Hyuna mondar-mandir di ruangan tersebut sambil merumat kedua jemari tangannya. Kebiasaannya yang jarang sekali memegang ponsel, membuat ia sendiri tidak ingat dimana ponselnya itu berada. Ia pun mulai mencarinya di sekitar ruangan itu.
__ADS_1
Ditengah sibuknya Hyuna mencari ponsel, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Saat itu posisinya Ia sedang membelakangi pintu. Hyuna pikir itu adalah Herya.
"Bagaimana Kak, apa Dave dan keluarganya sudah datang?" tanyanya, tak lama perasaannya pun leha karena ponsel miliknya itu ketemu. "Ah, syukurlah ternyata ada di dalam tas," gumamnya seraya berbalik badan.
"Kak--" Seketika tubuh Hyuna mematung saat melihat seseorang berdiri tepat di belakang pintu. Napasnya seolah tertahan dalam beberapa saat. "Sedang apa kamu di sini?" tanyanya lalu hembusan napas pun mampu dikeluarkan.
Tepat di beberapa langkah dari tempat Hyuna berdiri. Seorang pria berdiri tegap sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedua sudut bibirnya terangkat, bukan karena tersenyum bahagia melihat Hyuna melainkan ada sebuah hasrat yang ingin pria itu luapkan dari sorot matanya. Dia masih diam, sementara Hyuna berusaha menormalkan napasnya kembali supaya tidak tampak gugup di depan pria itu. Ya, dia adalah Deo. Pria itu memang sengaja diundang oleh Dave karena orang tua dari pasiennya yang paling kecil. Tiba-tiba Deo melangkahkan kakinya ke arah Hyuna. Semakin mendekat hingga berhenti dalam jarak satu langkah diantara mereka.
"Mau apa?" tanya Hyuna terdengar ketus, mematap Deo dengan berani. Kedua tangan yang ada di samping kanan dan kirinya merumat gaun pengantinnya itu.
Deo menarik napas seraya mengeluarkan sesuatu dari salah satu saku celananya. "Aku hanya ingin memberimu ini ...." Sebuah kartu ATM berwarma hitam lalu ia sodorkan kepada Hyuna.
"Itu permintaan maaf terakhirku padamu. Sekaligus sebagai rasa terima kasihku pada dokter Dave karena sudah dengan telaten memberikan perawatan terbaik pada Kaneira. Sehingga anak perempuanku sudah membaik berkat dirinya," jawab Deo sorot matanya berubah menjadi teduh. Tersirat ada sebuah kesedihan yang tidak mampu ia jelaskan pada siapapun. Apalagi ketika pria itu menyebutkan tentang anaknya.
"Aku sudah memaafkanmu Deo, dan Dave pun memang sudah menjadi tugasnya untuk membuat orang sakit menjadi sehat kembali," balas Hyuna. Melihat kartu itu, mengingatkannya pada kartu yang dulu pernah Deo berikan juga padanya. Namun sampai saat itu Hyuna tidak menyadari kalau kartu itu atas nama dirinya dan masih Deo simpan. Lalu di saat itu pula Deo berniat untuk memberikannya lagi. Karena nominal yang ada di dalam kartu tersebut tidaklah sedikit.
"Ambillah Hyuna ... Mungkin hanya ini yang bisa aku berikan padamu. Aku menyesal telah melepaskanmu dan tidak sungguh-sungguh belajar mencintaimu waktu itu. Sekarang, hidupku sudah tidak menentu arahnya, hanya Kaneira yang bisa memberiku semangat untuk menjalani hidup ke depannya dan berusaha menjadi ayah lebih baik lagi untuknya," ucap Deo. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca. Sangat terlihat jelas sekali kalau pria itu memang menyimpan banyak kesedihan di dalam dirinya. Namun apalah daya, menyesal pun tiada artinya. Sebab yang Hyuna cintai saat itu hanyalah Dave seorang.
"Deo, meski kita pernah bersama. Jangan pernah menyesali apa yang sudah terlewati. Kita tidak akan pernah sadar jikalau kita masih bersama sampai detik ini. Mungkin seperti inilah jalan yang seharusnya kita lewati. Berada dijalur masing-masing dengan tujuan masing-masing pula ... " Hyuna tersenyum tulus dan keduanya saling bertatapan. "Aku doakan, semoga kelak kamu bisa menemukan seorang wanita yang bisa membuatmu jatuh cinta setiap hari dan tidak saling mengecewakan satu sama lain," pungkas Hyuna.
__ADS_1
Deo mengempaskan napas kasar. "Aamiin. Bagiku kamu adalah wanita paling baik diseluruh dunia yang pernah aku temui. Wanita yang sabar dan cantik lewat hatimu. Aku bahagia pernah menjadi bagian dari hidupmu ... Selamat menempuh hidup baru mantan istriku. Semoga suamimu bisa membahagiakanmu selalu seumur hidupmu." Pria itu berusaha keras menahan haru yang membuat dadanya terasa sesak seperti ingin menangis.
Hyuna menunduk sambil menarik napas dan sedikit ada isakan karena ikut terharu. " Aamiin," katanya sambil mengangkat wajah dan tersenyum.
Lalu pintu ruangan itu terbuka.
"Hyuna keluarga ... Dave sudah datang." Herya terlonjak kaget karena melihat keberadaan Deo di dalam ruangan itu. "Kamu Deo 'kan? Sedang apa di sini?" tanyanya terdengar ketus.
"Iya benar. Saya hanya ingin memberikan hadiah pernikahan pada Hyuna secara langsung," jawab Deo santai. Sikapnya menjadi dingin kembali.
"Oh gitu. Ya sudah." Herya melirik sinis ke arah Deo sekilas lalu menatap adiknya. "Ayuk Hyuna, acaranya akan segera di mulai," ajaknya.
Hyuna ikut keluar dari ruangan itu karena tangannya ditarik oleh Herya. "Bye Deo."
Deo hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Sementara itu Hyuna bahkan belum sempat mengambil kartu yang disodorkan olehnya. Lalu Pria itu melihat sebuah tas yang ada di atas kursi, ia yakin kalau tas itu adalah milik Hyuna. Karena tadi sempat melihat Hyuna merogoh dan menemukan ponsel dari dalam tas tersebut. Setela itu ia pun pergi dari sana dan langsung menuju halaman parkir. Pria itu tidak kuasa menyaksikan pernikahan Hyuna bersama Dave. Ia memilih langsung pergi ke bandara untuk menemui anaknya yang masih berada di rumah sakit di London.
Di dalam gedung, suasana pengesahan pernikahan Hyuna dan Dave berlangsung hikmat. Suasana haru bercampur bahagia begitu terasa lekat di hati kedua mempelai maupun keluarga serta tamu undangan yang hadir. Hingga prosesi tersebut di tutup dengan pagutan kedua mempelai. Suara gemuruh tepuk tangan serta iringan musik yang romantis menambah suasana menjadi lebih intim di acara tersebut.
Bersambung ....
__ADS_1