Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 46. Ajakan Makan Malam


__ADS_3

Birmingham, Inggris.


Sore itu langit berwarna biru bercampur jingga serta keunguan. Hyuna takjub akan keindahan yang jarang sekali ia temui sewaktu di Hamburg.


Ia berdiri menatap ke langit sambil sesekali tersenyum.


"Rasanya kalau seperti ini, aku semakin jauh dengan Deo. Meski hubungan yang hanya memiliki status tanpa saling mengisi satu sama lain, entah kenapa sulit sekali melupakan dia."



Di tengah lamunannya itu, Nestya datang membawa segelas hot chocolate untuk anak bungsunya itu.


"Hyuna," panggil Nestya dengan lembut.


Wanita yang dipanggilnya pun menoleh lalu tersenyum. "Iya Ma?"


"Ini Mama minumlah." Nestya menyodorkan cangkir itu pada Hyuna.


"Hot chocolate?" tukas Hyuna, Nestya pun mengangguk. "Terima kasih, Ma!" Dengan senang hati ia menerimanya. Karena aroma coklat yang begitu kuat serta menenangkan, membuat ia tak kuasa untuk menolak.


"Mama perhatikan, sepulang dari kampus kamu kok murung. Kenapa?" tanya Nestya membuka pembicaraan. Ia takut fokus Hyuna pada belajarnya terganggu karena hal lain.


Namun Nestya tidak mendesak supaya Hyuna langsung menjawabnya. Ia membiarkan anak bungsunya itu menikmati hot chocolate buatannya. Menyeruput perlahan sambil menghirup aroma coklat yang sangat khas, itulah yang dilakukan oleh Hyuna.


Setelah beberapa saat, Hyuna menurunkan gelasnya lalu menatap langit kembali.


"Ma, salah tidak sih kalau membalas orang yang pernah nyakitin kita?" tanya Hyuna, menoleh ke arah Nestya berharap dapat jawaban yang menyegarkan pikirannya.


"Tidak salah, dan tidak benar juga. Tergantung cara kita membalasnya seperti apa? Memangnya kenapa? Kamu mau balas apa yang telah dilakukan Deo padamu?" Nestya berpindah posisi. Ia menyandarkan punggungnya di dinding menghadap ke Hyuna sambil bersilang dada.


"Hyuna hanya takut sewaktu-waktu dia meminta supaya bisa kembali padanya disaat kuliah Hyuna disini belum selesai," jawab Hyuna mendes ah pelan.


"Memang kalian itu masih suami istri. Secara hukum tidak salah kalau Deo membawamu kembali padanya. Tetapi, Mama pastikan dia tidak akan bisa membawamu tanpa seizin Mama dan juga papa. Kalau dia memang pria yang baik, dia pasti datang pada kami dan memintamu secara baik-baik ... " Nestya menarik napas dalam-dalam. "Namun setelah dia mampu melakukan itu, kami sebagai orang tua tidak bisa berbuat banyak. Karena keputusan sepenuhnya ada di tanganmu, Hyuna."


Hyuna meminum hot chocolate-nya lagi. "Menurut Mama balasan apa yang sesuai untuknya? Bagaimana kalau dia masih mempertahankan Leika? Hyuna tidak ingin dianggap orang ketiga diantara mereka!" Egonya masih tinggi. Ia tetap ingin menjadi satu-satunya jikalau Deo memintanya kembali. Masih wajar bukan?


Nestya menghela napasnya. Ia paham betul apa yang sedang di alami anak bungsunya itu, hubungan yang rumit. "Mungkin kamu bisa memberi dia banyak ujian. Jangan mudah terpengaruh dengan kata cinta yang sering dia ucapkan, tapi lihatlah apa yang dia lakukan untuk membuktikan cinta yang sebenarnya padamu."


Ditengah perbincangan mereka, bel rumah berbunyi.


"Ma, ada yang bertamu!" seru Hyuna sedikit terkejut.


"Siapa ya yang bertamu sore-sore gini? Papa tidak mungkin menekan bel apalagi kakakmu," timpal Nestya seraya menoleh ke ruang tamu lalu menatap Hyuna kembali.


"Biar Hyuna yang buka ya, Ma?"

__ADS_1


"Ya sudah, tapi sini gelasnya. Biar Mama yang taruh ke dapur," sahut Nestya mengulurkan tangannya. Hyuna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian memberikan gelas berisi sisa hot chocolate yang tinggal sedikit.


"Terima kasih, Ma."


"Sama-sama."


Hyuna pergi ke depan, sedangkan Nestya ke dapur.


Saat membuka pintu, Hyuna terkejut dengan kedatangan seorang pria yang tengah berdiri memunggunginya. Sesaat kemudian pria itu memutar badannya menjadi berhadapan dengan Hyuna.


"Dokter Gabriel? Sejak kapan Dokter tahu rumahku?" tanya Hyuna merasa tidak percaya. Kehadiran dokter tampan itu seketika membuat hatinya ketar ketir.


"Saya minta maaf, kemarin setelah makan siang saya sedang senggang. Lalu saya pun berniat untuk mencari rumahmu dari alamat yang didapat dari rumah sakit. Dan saat saya ke sini terhanya hanya ada ibumu, dia bilang kalau kamu belum pulang dari kampus," jelas dokter Gabriel tidak ingin Hyuna salah paham.


"Oh seperti itu ... " Hyuna keluar lalu mempersilahkan dokter itu untuk duduk di kursi yang terdapat di teras rumah. "Silahkan duduk, Dok."


"Iya, terima kasih." Dokter Gabriel pun duduk. "Di rumah ini kamu tinggal dengan siapa saja?" tanyanya kemudian.


"Hanya bertiga, Dok. Mama, Papa, dan aku. Terkadang ada kakakku dan keluarganya datang berkunjung ke sini," jawab Hyuna.


Dokter Gabriel menganggukkan kepalanya berkali-kali, merasa paham. "Oh iya, saya ke sini ingin mengajakmu makan malam, bagaimana?" tawarnya sesantai mungkin.


Bagi Hyuna terlihat lucu karena sikap dokter Gabriel begitu kaku dan aneh. Seakan baru pertama kali berkunjung ke rumah wanita. Padahal dia seringkali berkunjung ke rumah wanita yang dulu pernah jadi teman dekatnya sewaktu masa kuliah.


"Iya malam ini," jawab dokter itu terdengar begitu meyakinkan.


"Um, sebentar ya aku mau tanya Mama terlebih dahulu. Tidak apa-apa 'kan?" pinta Hyuna. Ia merasa selama tinggal di rumah kedua orang tuanya, tetap saja mau kemanapun ia pergi harus minta persetujuan mereka.


"Iya, tidak apa. Silahkan," kata dokter Gabriel lalu tersenyum ramah.


Namun baru saja Hyuna berdiri, Nestya sudah lebih dulu keluar dari dalam rumah.


"Oh ternyata Dokter Gabriel yang datang," timpal Nestya.


"Sore, Nyonya," sapa dokter itu.


"Sore," balas Nestya dengan ramah.


"Omong-omong, kamu mau kemana Hyuna?" tanya Nestya pada anaknya yang baru saja berdiri.


"Mau ke Mama. Eh, Mama sudah keluar duluan," jawab Hyuna. Sontak membuat Nestya bertanya-tanya.


"Ada apa memangnya?" tanya Nestya sambil menatap Hyuna dan juga dokter Gabriel bergantian.


"Gini Ma---"

__ADS_1


"Maaf Nyonya, jadi begini ... " Dokter Gabriel melirik ke arah Hyuna yang meliriknya juga. Dokter itu mengisyaratkan dari matanya seakan berkata 'biar saya saja yang bicara'. "Saya mau mengajak Hyuna makan malam, apa boleh?" tanya pria itu.


"Kalau boleh tahu makan malam dimana?" tanya Nestya menyelidik. Wanita itu menjadi lebih protektif terhadap Hyuna. Bukan bermaksud membatasi, hanya saja ia tidak ingin sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Tidak jauh dari sini kok Nyonya. Mungkin sekitar pukul sembilan malam, Hyuna sudah tiba di rumah lagi. Mengingat besok Hyuna pun masih masuk kuliah," jelas dokter Gabriel dengan keberaniannya.


Hyuna hanya diam ketika melihat dokter tampan itu sedang bernegosiasi dengan Nestya. Ia tahu betul bagaimana sang mama kalau sudah over protective.


"Baiklah kalau begitu, saya izinkan," kata Nestya dengan santainya. "Kalau begitu saya masuk ke dalam dulu ya. Um ... " Ia melihat ke arah Hyuna yang masih memakai pakaian rumahan. "Sepertinya kamu harus ganti baju deh, Hyuna," sambung Nestya berbicara pada anak bungsunya itu.


"Iya, Ma," jawab Hyuna lalu Nestya pun pergi ke dalam lagi. Tak lama ia ikut masuk untuk berganti pakaian.


Tidak sampai lima belas menit, Hyuna telah siap dan menghampiri dokter Gabriel yang masih setia menunggunya di teras rumah. Tak lupa sebelum berangkat Hyuna pun berpamitan dengan Nestya.


"Sudah selesai?"


"Sudah, Dok!"


"Yuk kita berangkat."


Keduanya pun masuk ke dalam mobil. Kemudian dokter Gabriel mulai melajukannya.


"Memangnya mau makan malam dimana, Dok?" tanya Hyuna yang mulai penasaran.


Setelah pertemuan mereka di rumah sakit, tidak ada komunikasi diantara keduanya sama sekali. Baik Hyuna maupun dokter Gabriel sibuk dengan urusan masing-masing.


"Pokoknya tempat yang saya yakin belum pernah kamu kunjungi," jawab dokter itu yang justru semakin membuat Hyuna penasaran.


"Begitu ya, Dok?" Hyuna hanya tersenyum.


"Hemm," Dokter itu mengangguk lalu menoleh sekilas. "Omong-omong pertanyaan saya yang waktu itu belum kamu jawab Hyuna."


Hyuna mengernyit. Ia tidak ingat akan pertanyaan yang dimaksud oleh dokter itu.


"Pertanyaan yang mana Dok?"


"Itu loh, apa Tuan Deo tahu kamu ada di sini?"


Seketika Hyuna menarik napas dalam-dalam. "Sepertinya tahu." Ia menjawab sekenanya. Padahal ia ingin beristirahat mengingat tentang Deo. Namun apalah daya, pria itu bak memiliki sihir. Ketika namanya disebut saja, hati Hyuna kembali bergetar.


"Syukurlah, saya kira tidak tahu," kata dokter Gabriel.


Hyuna langsung menghela napas panjang. "Tidak mungkin juga aku menceritakan tentang apa yang sedang aku alami ke dia. Aku takut yang ada nanti tambah runyam," ucapnya dalam hati.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2