
Hamburg, Jerman.
Setelah pertengkaran hebat dengan Deo, Leika pergi ke sebuah club di tengah malam tanpa sepengetahuan Nat pula. Wanita itu sedang berada di tengah titik terendah dalam hidupnya.
Tak lama lagi Leika akan menyandang status baru. Tidak lagi menjadi istri dari seorang pengusaha kaya raya, Deo Ainsley. Namun di tengah pelampiasannya meminum alkohol yang cukup banyak, Leika mabuk bahkan tidak sadar apa yang telah di lakukannya.
Saat pagi tiba, wanita itu terbangun tanpa berpakaian lagi. Hanya tertutup selimut berwarna putih serta secarik kertas dengan sejumlah uang.
"Breng sek! Siapa yang semalam tidur denganku?" Leika medengus, teramat kesal. Ia pun membaca tulisan pada secarik kertas itu.
"Permainanmu sungguh luar biasa, Hunny! Kalau kamu hamil, mintalah pertanggung jawaban kepada suamimu. Jangan mencari aku, karena sampai kapanpun kamu tidak akan menemukan jawaban tentang ayah biologis itu."
"Aaaakkhhh! Aku bahkan sampai lupa meminum obat pencegah kehamilan! Bagaimana kalau kak Nat juga marah padaku kalau tahu aku hamil? Tidak, tidak. Hal itu tidak akan pernah terjadi." Leika bermonolog terlihat sangat gusar.
"Lalu kenapa dia tahu kalau aku punya suami? Apa tanpa sadar aku mengatakan hal yang tidak seharusnya aku katakan?" Leika berpikir sejenak. Namun sayang, pertanyaannya itu tidak kunjung ada jawaban dalam otaknya. "Bodoh, bodoh! Lebih baik aku segera pergi dari sini," kata Leika kemudian turun dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi.
Namun hal itu terjadi pada Leika sekitar satu bulan yang lalu. Dimana sepulang dari club, ia langsung menuju apartemen.
Sedangkan pembatalan pernikahan yang diajukan oleh Deo, diputuskan satu minggu setelah kejadian yang menimpa Leika tersebut. Deo pun sudah merasa lega, segala urusannya dengan Leika telah berakhir. Pria itu sudah tidak mau ikut campur terhadap hidup wanita yang sudah menjadi mantan istrinya itu.
Akan tetapi sebuah kenyataan menjungkir balikkan Leika. Wanita itu dinyatakan hamil disaat sudah tidak memiliki suami.
Wanita itu kebingungan. Jika Nat tahu, pasti segala macam pekerjaan pun akan terganggu. Termasuk pelanggaran kontrak yang sudah ditanda tangani olehnya. Leika akan terkena pinalti atas pelanggaran tersebut.
Akhirnya karena tidak tahu lagi harus kemana, Leika pergi menemui Deo di kantor. Saat itu, suasana kantor sedang ramai. Serta ada awak media pula di sana.
Melihat keberadaan Leika di kantor Deo, membuat rasa penasaran para wartawan itu menggerubunginya.
"Sial! Aku sampai tidak ingat untuk memakai baju samaran. Kalau begini, aku harus pandai berakting di depan mereka!" kata Leika dalam hatinya.
"Leika, ada urusan apa Anda kemari?"
"Apa hubungan dengan mantan suami sudah membaik?"
"Atau kalian akan rujuk kembali?"
"Jawab Leika, kami butuh jawaban darimu."
__ADS_1
Leika hampir saja sesak napas, kepalanya terasa pusing berputar. Sekuat mungkin ia tahan, guna meminimalisir pertanyaan lain dari pada awak media itu.
"Mohon maaf, saya belum bisa mengatakan apapun. Permisi." Leika mencoba menerobos desakan mereka yang semakin mendesaknya. Setelah beberapa saat, ia merasa lega karena bisa keluar dari gerubungan mereka.
Leika mempercepat langkahnya menuju ruang kerja Deo. Tidak sampai lima menit, lift yang ia naiki telah sampai di lantai tempat ruangan itu berada.
Zean yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya, merasa terkejut dengan kehadiran Leika di sana.
"Selamat pagi," sapa Zean. Pria itu mulai menerka tujuan Leika ke sana dalam benaknya.
"Deo ada?" tanya Leika terdengar ketus.
"Apa sudah ada janji sebelumnya?" Zean bertanya balik. Pria itu memperlakukan Leika seperti tamu Deo pada umumnya.
Di sisi lain ia merasa kesal karena security yang ada di depan lobby tidak ketat melarangnya masuk. Sebab, Deo sudah beri peringatan jikalau ada tamu siapapun kecuali orang tuanya, tidak boleh sembarangan untuk masuk ke lantai tempat ruang kerjanya berada.
"Apa harus memakai janji terlebih dahulu?" Suara Leika seketika meninggi. Rasa pusing di kepalanya semakin membuatnya sulit untuk berpikir jernih dan menjadi lebih sensitif. Terutama terhadap penolakan.
"Ya memang harus seperti itu." Zean tetap bersikukuh.
"Sial!" Tetapi tiba-tiba saja rasa mual dan dorongan ingin muntah membuat Leika merasa tidak nyaman. Matanya langsung mencari keberadaan toilet.
"Permisi Tuan." Zean membuka pintu setelah mendapat perintah dari Deo seperti biasanya.
"Ada apa Zean?" tanya Deo yang saat itu tengah fokus ke layar laptopnya. Pandangannya teralihkan sejenak dari layar itu ke arah Zean.
"Di luar ada mantan istri Anda. Namun sekarang ada di dalam toilet. Wajahnya pucat dan sepetinya dia ke toilet karena ingin memuntahkan isi perutnya."
Mendengar penuturan Zean. Amarah yang sempat padam, mulai berkobar lagi.
"Cegah dia jangan sampai masuk ke ruangan ini!" perintah Deo dengan tegas. Pria itu benar-benar muak jika melihat wajah Leika.
"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi." Zean menunduk hormat lalu berbalik badan. Tetapi tiada yang sangka, pintu tiba-tiba terbuka lebar.
BRAK!!!!
Kedua orang pria yang ada di dalam pun terkejut. Sedangkan wanita yang berdiri di gawang pintu mencoba mengatur napasnya, tampak emosi.
__ADS_1
"Aku ingin bicara pada mu, Deo!" ucap wanita itu, sangat angkuh dan penuh keberanian.
"Zean bisa keluar sebentar, biarkan dia masuk," titah Deo. Zean pun paham lalu langsung keluar dari ruangan itu.
Setelah Zean keluar, wanita yang tak lain adalah Leika itu masuk ke dalam sambil menutup pintunya kembali.
"Ada apa kamu mencariku? Bukankah urusan kita sudah selesai?" tanya Deo sambil menutup laptopnya kemudian berdiri.
Dengan cepat Leika menjawab, "Tidak, urusan kita belum selesai!"
Deo mengerutkan alis, merasa heran. Hati kecilnya bilang, pasti ada sesuatu yang tidak beres. "Apa? Katakan saja!" pintanya dengan tegas.
"Aku hamil!" Leika mengatakan itu dengan gamblang. Tanpa ada basa-basi ataupun memelas pada Deo. Seolah baginya Deo masih menjadi budak cintanya. Sayangnya ia salah.
"Hamil anak siapa? Pria mana yang terakhir menidurimu? Apa kamu tidak ingat, kalau aku hanya mengaulimu sebanyak dua kali?" cecar Deo bersikap santai sambil tersenyum menyeringai. "Dan dalam hari keputusan itupun ada bukti yang membeberkan kalau kamu menggunakan obat pencegah kehamilan. Meskipun kamu tidak mengakuinya," pungkas Deo.
"Tapi nyatanya sekarang aku hamil anakmu, Deo!" Leika bersikukuh ingin Deo mempertanggung jawabkan bayi yang sedang dikandungnya.
"Aku tidak yakin kalau itu anakku," kata Deo. Pria itu bersilang dada dengan pinggang yang ia sandarkan ke pinggir meja.
"Ini anakmu, Deo. Kenapa kamu tidak percaya? Sungguh aku tidak tidur dengan siapapun setelah kita menikah selain denganmu." Leika tiba-tiba bersimpuh di hadapan Deo sambil berderai air mata, dengan kepala yang menunduk.
"Persetan dengan ucapanmu! Ingat, aku tidak mempercayai lagi apa yang kamu katakan. Sekalipun kamu menangis di hadapanku. Sudah cukup aku ditipu olehmu, oleh cinta yang seolah kamu beri hanya untukku. Mulutmu itu bagai ular berbisa!" timpal Deo yang mulai naik pitam.
"Kasihanilah anak ini, Deo. Dia anakmu," kata Leika ditengah tangisannya.
"Tidak! lebih baik kamu cari saja ayah biologis dari anak itu. Aku sudah sangat muak melihatmu di sini. Segeralah pergi dari hadapanku!" tegas Deo dengan penuh penekanan.
"Tolong, jangan usir aku dan anak kita. Dia tidak salah. Kamu ayahnya, Deo." Leika semakin membuat amarah pria itu meletup-letup.
"Pergi, dari ruanganku sekarang!" teriak Deo dengan wajah memerah sampai bergetar. Ia sudah sangat emosi sekali.
Namun Leika masih berdiri di hadapannya tanpa bergerak sedikitpun. Terlebih Deo tidak ingin menyakiti wanita itu tanpa melalui tangannya.
Akhirnya tidak tanggung-tanggung, Deo menghubungi pihak berwajib supaya mengusir Leika dari sana dengan dugaan pemerasan. Tak lama berselang, beberapa anggota pihak berwajib pun datang.
"Deo, sial an kamu ya! Berani mengusirku dan anaak kita dengan cara seperti ini!" Leika berteriak sambil meronta. Sedangkan Deo menaruh kedua tangannya ke atas meja dengan posisi memunggunginya.
__ADS_1
Deo semakin tidak perduli tingkah brutal apa yang akan dilakukan oleh Leika setelah itu. Yang jelas, pria itu ingin menenangkan diri untuk beberapa waktu.
Bersambung ....