Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Sequel - 14


__ADS_3

Deo tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir dari sorot matanya, begitu pula dengan Dovi.


"Bisa kita bicara di ruangan saya saja?" pinta Dave karena ada beberapa hal penting yang ingin ia bicarakan dengan pihak keluarga.


"Baiklah Dok," kata Dovi lalu menatap Deo sambil mengangguk. Dalam hati, mereka sangat penasaran dengan kondisi Kaneira saat itu.


Ketika sudah berada di dalam ruangan, Deo dan Dovi duduk berhadapan dengan Dave. Jarak mereka hanya terpisahkan oleh meja.


"Jadi begini, operasi yang baru saja dilakukan pada pasien berjalan lancar. Saya harus akui, meskipun Kaneira adalah pasien saya yang paling kecil diantara lainnya, tapi semangat hidupnya sangatlah tinggi. Alhasil dia mampu melewati masa kritisnya selama operasi berlangsung," jelas Dave, namun tiba-tiba Deo angkat bicara.


"Jadi anak saya selamat Dok? Anak saya bisa sembuh?" cecar Dave dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Iya, Anda benar. Operasi Kaneira berhasil. Namun ... " Dave menghentikan ucapannya. Matanya melihat ke layar monitor yang ada di atas meja. Pria itu mengetik pada papan keyboard seakan sedang mencari sesuatu di sana. Deo dan Dovi saling bertukar pandang, merasa bingung.


"Namun kenapa Dok?" tanya Dovi yang tak sabar ingin segera tahu informasi selanjutnya.


Dave mengarahkan layar monitor itu ke arah mereka. "Namun ada beberapa hal yang perlu kalian perhatikan pada hidupnya setelah ini. Kaneira mungkin bisa sembuh dalam waktu yang tidak bisa saya tentukan, sebab saya pun bukan Tuhan. Selama hidupnya seiring masa pertumbuhannya nanti ... Pertama, dia akan ketergantungan mengonsumsi obat-obatan yang nanti akan saya resepkan. Kedua, dia tidak boleh terlalu kelelahan. Karena fungsi jantungnya bisa tiba-tiba melemah. Terakhir ... Jangan buat bagian dadanya terbentur benda keras serta terkejut berlebihan, hal itu bisa memicu terjadinya gagal jantung. Sampai sini paham?"


Deo maupun Dovi sukar berkata-kata lagi. Beruntung mereka orang berkecukupan, jadi mau tidak mau. Ketiga hal itu harus benar-benar mereka perhatikan selama ingin Kaneira hidup.


"Baiklah Dok ... Kami paham. Lantas, kapan Kaneira akan masuk ke ruang rawat inap?" tanya Deo yang tidak sabar ingin melihat bayi mungilnya itu.


"Kemungkinan sekitar empat jam lagi, mengingat saat ini pasien sedang berada di ruang penghangat untuk masa observasi," jawab Dave. Pria itu tampak berwibawa serta tegas dalam setiap mengambil keputusan.


"Akan tetapi saya ingatkan kepada kalian selaku keluarga yang saya yakin amat menyayanginya. Manusia yang memiliki kelainan jantung sejak lahir sulit ditebak sampai kapan dia akan bertahan. Kami selaku tim medis sudah berusaha semaksimal, semampu kami untuk menyembuhkan pasien dan membantu pasien menyambung hidupnya lebih lama lagi. Maka dari itu, jikalau suatu saat Kaneira tidak kuat, biarkan dia pergi dengan kerelaan penuh dari pihak keluarga." Dave mencoba memberi sebuah asumsi pada Deo dan juga Dovi.


"Baik Dok saya paham. Memang awalnya saya maupun kedua orang tua saya sempat merasa 'down'. Tetapi begitu dokter Gabriel bilang kalau temannya ada yang bisa mengatasi, saya pun selaku orang tua menganggap 'apa salahnya dicoba?' . Mendengar berhasilnya operasi pada Kaneira saja, saya sudah merasa bahagia Dok," kata Deo dengan kelapangan hatinya.


"Saya bersyukur kalau Anda bisa berpikir demikian. Itu artinya Anda termasuk orang tua yang bijak," sahut Dave lalu tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu kami permisi, dan terima kasih banyak Dok atas berhasilnya operasi tadi," sambung Deo seraya beranjak dari duduknya. Dovi pun mengikuti.


"Sama-sama." Dave tersenyum lalu keduanya keluar dari ruangannya, sedangkan Gabriel masih betah di dalam.


"Loh kamu tidak ikut mereka, Gabriel?" tanya Dave seraya mengerutkan alisnya.


"Tidak ... Um, Dave. Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Tetapi ini diluar tentang pengobatan Kaneira," jawab Gabriel tampak ragu.


"Lantas apa? Tanyakan saja," timpal Dave namun matanya beralih ke layar monitor.


"Tentang Hyuna ... "


Seketika Dave menoleh ke arah Gabriel yang saat itu duduk dengan posisi menghadapnya.


"Ada apa dengannya? Kamu menyukai pasienmu sendiri?" tanya Dave terdengar ketus. Gabriel tidak tahu sudah sedekat apa hubungannya dengan wanita itu. Bahkan diam-diam Dave telah menaruh hati pada Hyuna.


"Orang kedua? Lalu yang pertamanya siapa? Kamu?" cecar Dave dengan raut wajah serius. Padahal sebenarnya ia hanya bercanda dan sengaja melimpahkannya pada Gabriel.


"Astaga Dave, bukan aku!" Gabriel merasa kesal dan gemas sendiri.


"Ya kalau bukan kamu, kenapa harus takut? Jelas aku bukan tipe pria seperti itu ... " Dave mendekatkan kursinya pada Gabriel.


"Kalau aku memang menyukainya, aku akan mengejarnya tanpa dia mengejarku. Tapi kalau aku tidak suka, ya ... Aku akan menjauhinya," pungkas Dave dan itu membuat Gabriel membulatkan mata hingga sulit menelan ludahnya sendiri.


"Oke baiklah. Semoga apapun yang pernah terjadi pada Hyuna, tidak terpengaruh apapun jikalau memang kamu mencintainya," ucap Gabriel penuh harap. Dokter tampan itu sangat menyayangi Hyuna, oleh karena itu ia tidak ingin Hyuna terpuruk lagi.


Gabriel pun beranjak dari kursinya. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."


"Iya, memang lebih baik kamu pergi dari ruanganku Gabriel," ujar Dave memberi tatapan malas lalu tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Si alan kamu Dave! Bye!" Gabriel pun akhirnya benar-benar pergi dari sana. Dave hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil kembali ke meja kerjanya.


Tentang Hyuna ... Dave mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jas yang ia pakai. Jemarinya mulai mengetikkan nama Hyuna pada kontak telepon. Setelah ketemu, pria itu melakukan panggilan.


Beberapa kali memanggil, Hyuna tak kunjung menjawab telepon dari Dave.


"Apa mungkin ponselnya ketinggalan di asrama atau ada di dalam tasnya? Pasalnya sejak terakhir ketemu kemarin, dia sama sekali tidak membaca pesan dariku. Bahkan dia pun sekarang tidak menjawab teleponku. Ada apa dengannya?" Dave bermonolog. Pikirannya tersita sejenak gara-gara Gabriel membicarakan tentang Hyuna.


Ditengah lamunannya, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


"Permisi Dok, sekarang waktunya visit ke pasien bayi Kaneira," kata seorang perawat perawat yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


"Bisa tidak kalau mau masuk ruangan ketuk pintunya terlebih dahulu?" tanya Dave penuh penekanan karena terkejut.


"Maaf ... Dok. Saya kira--"


"Apa pasien sudah dipindahkan ke ruang NICU?" tanya Dave sengaja memotong ucapan perawat itu.


"Sudah Dok. Tapi tadi sesaat setelah masuk ruang NICU, kondisinya masih belum cukup stabil," jawab perawat itu dengan hati-hati.


"Ya sudah. Saya akan segera ke ruang NICU. Kamu siapkan lembar pemeriksaan, saya tunggu di sana!" perintah Dave dan dijawab anggukkan kepala oleh perawat itu.


Dave segera bersiap, mengalungkan stetoskop serta memasukkan ponselnya ke dalam laci dan tak lupa menguncinya. Sebab di ruang NICU dilarang membawa alat elektronik. Sedangkan perawat tadi pun sudah keluar dari ruangannya.


Setibanya di depan ruang NICU, Dave hanya melihat Dovi di sana.


"Dok ... "


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2