
"Hallo, kak Nat?" Leika menjauhkan ponsel dari telinganya. Karena beberapa saat setelah orang yang dipanggil menjawab, tapi tidak terdengar suara dari orang diseberang telepon itu.
"Aneh, sudah terhubung kok tidak ada jawaban. Lantas siapa yang menjawabnya?" gumam Leika sambil mengigit kuku jari serta mondar mandir di samping tempat tidur. Hatinya merasa resah. Dia takut kalau Deo akan pergi meninggalkannya.
"Kak Nat, apa kamu mendengarku? Aku sedang butuh teman sekarang," ucapnya lagi dan kali ini suaranya sedikit bergetar bahkan hampir menangis.
Setelah cukup lama tidak kunjung ada jawaban, dia pun mengakhiri panggilan tersebut. Wanita itu menghembuskan napas kasar sambil menjatuhkan bokongnya, duduk di pinggir kasur.
"Siapa lagi yang bisa aku minta bantuan kalau bukan kak Nat? Kedua orang tuaku sangat tidak mungkin. Karena mereka hanya tahu aku bahagia menikah dengan Deo yang sangat kaya raya." Dia bermonolog dengan rasa sesal di hatinya.
"Semua gara-gara Nando! Andai saja malam itu aku tidak ikut merayakan pesta selesainya syuting film. Pasti sampai hari pernikahan, aku masih perawan," lanjutnya dengan raut wajah murung.
...----------------...
Sementara itu di tempat lain. Pria dan wanita sedang asik bergelut di atas ranjang yang mampu merubah sejuknya pendingin ruangan menjadi hawa panas dan juga lembab.
Saat di tengah permainan, ponsel seorang wanita berdering. Tanpa melepaskan penyatuan mereka, wanita itu menjawab panggilan teleponnya.
Seoorang wanita terdengar dari ujung telepon. Terus memanggil namanya, hingga panggilan tersebut berakhir dengan sendirinya.
"Aah!" Wanita itu terhenyak ketika pria yang menungganginya sejak tadi menghantamnya dengan kencang. "Cepatlah, aku sepertinya dia sedang membutuhkan bantuanku!" perintahnya.
Wanita itu tak lain adalah Nathania Andreas. Sedangkan yang memanggilnya lewat telepon yaitu Leika.
Nathania, biasa dipanggil Nat oleh Leika itu merupakan managernya. Sebagai manager tentunya Nat menjadi orang yang paling dekat dengan Leika, selain karir juga masalah pribadi.
Tak jarang Nat selalu memberikan nasihat tentang hubungan Leika dengan Deo.
"Aku masih lama, aah ... " Pria yang bersama Nat itu terus menghantamnya bertubi-tubi. "Tubuhmu sangat nikmat sekali, Hunny!" pujinya.
Nat pun sama. Acap kali bercinta dengan pria itu selalu ada kepuasan tersendiri dan mampu membangun moodboaster setelahnya.
__ADS_1
"Nando!" bentak Nat sambil berusaha melepaskan penyatuannya. "Come on! Aku sudah lelah sekali." Nat mengeluh karena sudah hampir dua jam lamanya mereka bertempur.
Semua berawal ketika selepas mahkota Leika direnggut paksa oleh Nando. Karena memang Nando sendiri memiliki rasa pada Leika, merasa frustasi mendengar kabar kalau apa yang diucapkan Leika malam itu ternyata benar. Wanita yang dicintainya akan menikah dengan pria lain.
Terlebih Nat datang seolah menjadi pahlawan untuk menghibur Nando. Namun justru dia malah terhanyut pada sentuhan serta permainan pria itu ketika berakhir di atas ranjang. Nat juga merasa frustasi, karena merasakan sakit karena cintanya pada Deo tidak kunjung terbalaskan.
"Baiklah, sebentar lagi aku akan sampai. Bersiaplah!" Nando semakin mempercepat hingga tubuh Nat berguncang hebat.
Beberapa saat kemudian, Nando berhasil melakukan pelepasan. Alhasil setelah itu Nat pun ambruk.
"Terima kasih, Nat. Tubuhmu tidak kalah indahnya dengan anak asuhanmu itu," puji Nando yang membandingkan antara Nat dan juga Leika.
Namun tidak ada jawaban dari Nat. Wanita itu langsung tertidur karena terlalu merasa lelah.
Sedangkan Nando memilih beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu pergi dari kamar hotel tersebut menuju ke sebuah club yang menjadi tempat langganannya.
...----------------...
Entah ada angin apa, perasaan kecewa yang sempat dia rasakan terhadap Leika sedikit berkurang seiring mobilnya semakin dekat dengan rumah pribadi yang ditempati oleh Hyuna.
Apa cinta yang tadinya utuh diberikan pada Leika mulai terbagi pada Hyuna? Atau mungkin pria itu sengaja sedang mengalihkan perasaannya yang tidak ingin terlalu larut dalam pikirannya tentang Leika?
Deo tidak salah, jika memang mulai mencintai Hyuna. Tetapi Deo juga tidak benar, karena tidak ada wanita manapun yang ingin cintanya terbagi dengan wanita lain.
Setelah hampir satu jam berkendara, Deo pun tiba di rumah pribadinya tempat Hyuna berada. Dia memarkirkan mobilnya di garasi, lalu sebelum turun pria itu tertegun sejenak.
"Kalau begini kondisinya, Leika tidak boleh tahu kalau aku punya istri lain, selain dirinya. Cukup Hyuna yang tahu. Sebab hanya dia yang mampu menerima dan tidak memiliki rasa terhadapku. Dengan begitu, pernikahanku dengan mereka tetap berjalan dengan mulus tanpa ada yang merasa tersakiti," katanya dalam hati.
Lalu dia menghempaskan napasnya kemudian turun dari kursi kemudi. Langkah kakinya berjalan tanpa ada keragu-raguan.
Saat masuk ke dalam rumah, dia melihat Bora sedang menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Suster, bagaimana kondisi Hyuna sekarang?" tanya Deo sambil terus melangkah mendekati Bora. Raut wajahnya datar, tapi tidak tampak kemarahan maupun kekhawatiran berlebih di sana.
"Nyonya masih belum sadar, Tuan," jawab Bora sambil menunduk hormat.
"Kamu sudah menghubungi dokter?" Deo terus berjalan ke kamar Hyuna. Bora pun mengikuti.
"Sudah Tuan. Saya sempat telepon dokter Gabriel barusan, kata beliau seharusnya nyonya akan sadar kurang lebih satu jam setelah diberi obat. Namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda nyonya akan sadar," jawab Bora yang sebenarnya merasa khawatir akan kondisi Hyuna.
Perawat itu sampai kuwalahan menyamai langkah Deo yang dua kali lipat dari langkah kakinya. Sampai tak terasa keduanya telah sampai di depan pintu kamar.
Deo memegang handle pintu, seketika tubuhnya berbalik menghadap Bora yang dua langkah ada di belakangnya. "Sus, makan malam untuk Hyuna sudah di persiapkan belum?" tanyanya kemudian.
"Sudah Tuan. Makan malam untuk nyonya ada di atas meja kecil. Soalnya kalau nyonya sudah sadar, tubuhnya harus diisi banyak nutrisi dan juga cairan tubuh," jelas Bora dengan sopan.
"Baiklah, kalau begitu saya masuk ke dalam. Suster istirahat saja. Biar Hyuna saya yang jagain," titah Deo dengan wajah kalemnya. Sontak perintah dari pria itu pun membuat Bora sendiri terkejut sekaligus merasa lega.
"Baik Tuan, terima kasih. Tetapi kalau ada apa-apa dengan nyonya panggil saya saja ya," kata perawat itu. Sedangkan Deo hanya bergumam sambil menganggukkan kepalanya. Perawat itu menunduk hormat lalu pergi dari hadapan tuannya.
Setelah Bora pergi, Deo pun membuka pintu. Pria itu menghela napasnya ketika melihat Hyuna terbaring lemah kembali. Tidak seperti malam itu.
Hyuna tampak cantik meski duduk di atas kursi roda. Sorot mata pria itu pun mendadak teduh, seperti tersirat kesedihan sekaligus rasa iba yang melebur jadi satu.
Deo masuk lalu menutup pintunya kembali. Kakinya melangkah perlahan menghampiri wanita yang dinikahinya hampir tujuh bulan yang lalu. Pria itu pun duduk disamping Hyuna.
"Deo ... "
Bersambung ...
...----------------...
__ADS_1