
Hyuna telah sampai di ruang kerja Deo. Wanita itu sengaja pergi pagi-pagi sekali. Karena dia ingin tiba sebelum pemilik ruangan itu tiba.
"Ternyata ruangan ini cukup nyaman juga."
Tiba-tiba pandangannya berhenti pada sebuah bingkai foto yang bertengger rapi di atas meja kerja. Hyuna berdiri dan menaruh tasnya di sofa.
Wanita itu penasaran, dan mendekat ke meja kerja itu.
"Ternyata dia masih menyimpan foto pernikahannya bersama Leika. Itu artinya perasaannya belum berubah terhadap wanita itu. Dia masih mencintainya," gumam Hyuna berasumsi.
Hatinya merasa teriris, sakit tapi tidak berdarah. Ia merasa ada hal lain yang membuat pria yang masih berstatus suaminya itu kembali mengejarnya. Yang jelas ia merasa bukan karena Deo benar-benar mencintainya.
Tak kuasa terus berdiri sambil memandang foto itu. Hyuna kembali duduk di sofa.
Tak lama kemudian, pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar. Seorang pria muncul dari balik pintu itu.
"Wangi parfum siapa ini?" gumam pria itu seraya memejamkan mata menikmati aroma yang asing, namun sangat membuatnya terasa nyaman.
Akan tetapi, Hyuna tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia memperhatikan Deo masuk ke dalam ruangan sambil menutup pintunya kembali.
"Pagi!"
"Suara itu ... " Seketika Deo menoleh ke sumber suara.
"Hyuna, sejak kapan kamu di ruanganku?" tanya Deo sambil mengerutkan kening, merasa heran.
"Sejak beberapa menit yang lalu," jawab Hyuna dengan santainya.
Deo berjalan menghampiri Hyuna, kemudian duduk di sebelahnya.
"Apa yang membuatmu menemuiku ke sini?" Deo memasang wajah serius.
Hyuna berusaha kuat menahan air matanya dari segenap emosi yang membuat dirinya merasa tidak nyaman saat itu. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab.
"Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu," jawab Hyuna.
"Tanyakan saja, sebisa mungkin akan ku jawab."
Hyuna terdiam sejenak. "Kamu ... Masih mencintai Leika?"
"Aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi Hyuna." Deo menatap dingin. Pria itu tidak suka kalau Hyuna membahas tentang Leika.
"Ck!" Hyuna berdecih. "Aku tidak bertanya tentang hubunganmu dengan Leika, Deo. Tetapi perasaanmu terhadap Leika!" tegasnya dengan penuh penekanan.
Deo memutar malas bola matanya. "Bisa tidak kalau kita tidak membahas tentang Leika?"
"Tidak usah munafik Deo. Di ruangan ini saja sudah terlihat jelas bukan? Foto pernikahanmu dengan Leika masih terpajang rapi." Hyuna mencoba membuka mata hati Deo.
__ADS_1
"Itu hanya sekadar foto Hyuna. Nanti akan ku ganti dengan foto pernikahan kita." Deo mulai berkilah.
Rasanya Hyuna ingin pergi karena malas dengan Deo yang pintar bermain kata pada jawabannya. Pria itu kira Hyuna akan mempercayainya.
"Tidak perlu Deo. Aku hanya minta kamu jujur saja itu sudah lebih dari cukup bagiku." Hyuna masih kuat menahan emosinya. "Tidak ada salahnya kamu kembali pada Leika. Dia mengandung anakmu dan kalian akan bahagia seperti mungkin ... Mimpi kalian."
"Tidak Hyuna. Sampai kapanpun aku tidak mau kembali padanya." Deo masih belum peka terhadap perasaannya sendiri.
"Ku lihat dari tatapanmu saja, tidak ada cinta yang kamu beri untukku. Duniamu selama ini hanya tentang Leika, kekasihmu." Hyuna menarik napas. "Kalau kamu terus begini, sembunyi dari perasaan yang seolah mencintaiku. Kamu tidak akan pernah merasa bahagia atas dirimu sendiri ... Aku maupun kamu berhak bahagia. Meskipun kita tidak bersama. Karena sumber kebahagiaan kita berbeda," tutur Hyuna dengan kerendahan hatinya.
Wanita itu benar-benar sudah siap untuk melepaskan Deo dari hidupnya. Dia tahu dan sadar diri, bukan Deo yang dia harapkan ataupun mengharapkannya. Mungkin akan ada pria lain.
"Hyuna, aku bisa belajar mencintaimu. Semuanya butuh waktu dan proses bukan?" Deo tampak memohon. Namun sayangnya Hyuna tidak luluh.
"Percuma Deo. Berbulan-bulan lamanya aku menunggu kamu datang dan berharap benar-benar memberiku kabar baik. Tetapi, ini yang aku dapatkan?" Hyuna menggelengkan kepala seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Maaf, bukan aku tidak sabar akan prosesmu yang katanya bisa belajar mencintaiku. Tapi aku rasa cukup. Aku ingin bahagia Deo. Aku sudah merelakanmu pergi dari hidupku."
"Tidak Hyuna jangan lakukan itu. Beri aku waktu sebentar lagi." Deo semakin gelisah.
Ditengah panasnya perbincangan mereka, pintu ruangan kembali terbuka. Tampak seorang pria berdiri di ambang pintu. Ternyata pria itu adalah Zean.
"Maaf Tuan dan ... Nona. Saya ingin mengantarkan berkas dari rumah sakit."
"Bawa ke sini," perintah Deo. Kedua telapak tangannya semakin dingin. Ia merasa deg deg kan untuk melihat hasil test DNA yang sebelumnya ia lakukan.
Zean memberikannya kepada Deo lalu pamit keluar dari ruangan itu. Tak lupa Zean pun menutup pintunya kembali. Pria itu kira kalau Deo sedang kedatangan tamu.
Lalu keduanya saling bertukar pandangan. Akan tetapi Deo malah menaruh berkas tersebut ke atas meja.
"Kenapa di taruh? Buka saja," pinta Hyuna yang sebenarnya penasaran akan berkas itu.
"Nanti akan aku buka," jawab Deo lalu menatap Hyuna dengan kedua tangan yang saling ditautkan.
"Buka saja. Apa aku tidak berhak melihatnya?" Hyuna tetap bersikukuh.
Deo pun menghela napasnya. "Baiklah akan aku buka." Lalu mengambil kembali berkas itu.
Setelah di buka, Deo memberikannya pada Hyuna. "Nih kamu saja yang baca hasilnya."
Hyuna pun mengambilnya. Ia mulai membaca dengan sangat teliti.
Beberapa menit kemudian ia kembali menatap Deo, lalu berkata. "Dia anak kandungmu Deo. Kamu harus mengakuinya."
Tubuh Hyuna bagai melayang. Bukan karena tidak menerima kehadiran bayi mungil itu. Akan tetapi saat itu ia tengah mempertaruhkan kebahagiaannya. Ia tidak mau kalau Deo hanya menjadikannya sebagai istri bayangan. Terlebih bayi itu adalah anak kandungnya sendiri
"Apa?" tukas Deo lalu segera mengambil bekasnya dari tangan Hyuna. Pria itu membacanya kembali.
Sebisa mungkin, Hyuna menahan air matanya. "Kembalilah pada Leika. Meskipun dia pernah memiliki salah yang bagimu sangat fatal, tapi dia sudah melahirkan seorang anak untukmu. Maafkanlah kesalahannya. Bukan aku tidak mau menjadi ibu sambungnya, tapi aku masih berat akan perasaanmu padaku. Aku lelah Deo berjuang sendiri selama ini."
Deo masih terdiam, namun matanya tidak kuasa menatap Hyuna.
__ADS_1
"Aku sangat yakin kalau kamu masih mencintainya. Jadikanlah anak itu sebagai jembatan untuk menyatukan kalian kembali. Tak usah menghiraukan perasaanku. Suatu hari aku akan bahagia, dan aku sangat berterima kasih padamu karena telah memberiku perawatan terbaik selepas kecelakaan itu."
"Pada dasarnya aku yakin kamu pria yang baik. Hanya saja mungkin waktu itu Leika belum memahamimu sepenuhnya," sambung Hyuna dengan suara yang mulai bergetar.
"Maafkan aku Hyuna ..." lirih Deo memberi tatapan sendu pada wanita yang ada di sampingnya.
"Terima kasih karena kamu baik, aku sampai jatuh hati. Meski sekarang aku sadar hatimu memang tidak pernah jatuh padaku ..." Hyuna menatap ke arah lain, memastikan kalau air matanya tidak jatuh saat itu juga. Lalu setelah cukup tenang, ia menatap Deo kembali.
"Maaf Hyuna. Aku sampai kalut dengan perasaanku sendiri. Sampai aku tidak sadar antara rasa cinta dan perduli. Semua yang ku lakukan padamu, aku minta maaf." Deo tak kuasa. Pria itu sadar kalau hatinya masih terpatri untuk Leika.
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar. Ku harap setelah ini, kamu segera mengurus pembatalan pernikahan kita. Aku doakan hidupmu akan selalu bahagia dengan anak dan istrimu nanti." Dengan suara yang semakin bergetar, cairan bening yang sebentar lagi tak bisa terus membendung di ujung mata, Hyuna ingin segera pergi dari hadapan Deo.
Pria itu menundukkan wajahnya sesaat, lalu menatap Hyuna kembali. "Baikah, kalau memang itu maumu, akan aku kabulkan. Mulai detik ini aku melepaskanmu Hyuna. Aku minta maaf sekaligus berterima kasih atas kesabaran serta telah menjaga dirimu senduri untukku. Maaf, aku belum bisa menjadi suami yang kamu inginkan."
"Iya ... Maaf Deo, aku pergi." Hyuna beranjak dari duduknya sambil menggenggam tas. "Terima kasih atas segalanya."
Deo tidak bisa lagi menahan Hyuna. Saat itu yang bisa ia lakukan mengikuti kata hatinya.
...----------------...
Setelah pertemuan sekaligus perpisahannya dengan Deo, Hyuna pergi ke Prancis untuk menemui kedua orang tua serta kakaknya.
Bagaimana dengan hatinya? Siapa sih yang menginginkan sebuah perpisahan setelah pertemuan yang baginya terasa indah?
Jawabannya pasti tidak ada. Namun pilihan Hyuna untuk pergi dari kehidupan Deo karena ia sudah tidak mungkin lagi berjalan menyusul pria itu yang sudah berada sangat jauh darinya.
Sekuat apapun ia tetap bertahan, selemah itupula ia berharap yang sudah pasti akan berpisah juga. Untuk menggenggam tangannya saja rasanya sulit, apalagi bertahta dalam hatinya?

Setelah satu bulan berlalu, Hyuna akhirnya mendapat kiriman surat dari Deo. Tentunya berisi tentang pembatalan pernikahannya dengan pria itu.
Hampir satu tahun menyandang status sebagai istri dari Deo Ainsley, sudah cukup baginya.
Mulai saat itu Hyuna menjadi lebih fokus kuliah dan juga bekerja. Ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.
Sejatinya apa yang sudah digenggam begitu erat, akan terlepas juga. Namun jika takdir masih menginginkan untuk bersama, pasti akan bersatu kembali.
Seperti halnya Deo. Pria itu telah memaafkan kesalahan Leika. Begitu pula dengan Leika yang mau berubah dan hengkang dari dunia entertaiment demi mengurus anak dan suaminya. Deo telah mewujudkan impiannya dengan memiliki keluarga bahagia.
Di sisi lain, waktunya Hyuna berjalan menggapai impian dan kebahagiaannya sendiri.
...*TAMAT*...
...----------------...
Assalamualaikum. Terima kasih telah membaca cerita ini. Maaf jika banyak kurangnya, baik dalam tatanan bahasa dan juga typo. Terima kasih juga atas sawerannya. Salam sayang dari author, semoga kalian sehat selalu.
Jangan lupa follow author ya! Biar tahu karya terbaru author. Terima kasih 😊
__ADS_1