Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 24. Kedatangan Pelayan Baru


__ADS_3

Wanita itu berdiri dan tersenyum pada Hyuna. Tangannya pun terulur lalu berkata, "Kenalin, aku Nathania. Biasanya banyak orang yang memanggilku, Nat. Dan kamu pun sama."


"Nat?" Hyuna terdiam. Karena seingatnya ia tidak memiliki teman yang bernama Nathania. Kedua sahabatnya di Inggris pun namanya Teresia dan Bridgia.


"Iya." Wanita itu mengangguk sangat yakin. "Mungkin karena kamu koma cukup lama, itu membuatmu kesulitan untuk mengingatku. Tetapi, tak apa. Dengan kita bertemu, kamu akan mengingatku ... lagi."


"Tunggu." Hyuna sedang tidak habis pikir. Dikira Nat, kemampuan mengingatnya masih belum benar. Ia pun berkata lagi, "Tapi memang benar, temanku tidak ada yang bernama Nat. Sebenarnya kamu siapa?" tanyanya kemudian.


Nat menghela napas lalu tetap tersenyum walaupun sebenarnya merasa kesal karena dirinya tidak dipercayai oleh Hyuna. "Intinya aku kesini ingin mengabarkan kalau orang tuamu sedang sakit keras. Terutama ibumu, dia terlalu memikirkanmu, dan kamu pun diminta untuk segera menemuinya," pungkas Nat yang tidak ingin terbuka kedoknya di depan Hyuna.


"Apa? Sakit keras?" tukas Hyuna merasa terkejut. Nat yang mendapat respon itu hatinya merasa bahagia. "Memangnya sedekat apa kamu dengan orang tuaku? Apa sebelumnya kita teman rasa sepupu?" cecar Hyuna. Alhasil Nat sedikit gelagapan, mulutnya bergerak namun tidak mengeluarkan suara.


"Iya, kalau kamu tidak percaya, pergilah bersamaku. Aku tunggu besok siang di bandara. Kita ketemu di sana," jawab Nat terdengar sangat meyakinkan.


Hyuna tidak menjawab iya ataupun tidak, yang jelas ia tidak mempercayai wanita tersebut. Hatinya tidak tergugah untuk mengikuti ucapan Nat.


"Siapa dia? Beraninya berbicara seperti itu. Kalaupun benar, aku akan meminta izin pada Deo dan pergi sendiri ke sana," ucap Hyuna dalam hatinya. Ia pun memberi tatapan dingin pada Nat yang tampak terlihat sangat baik.


"Ya, nanti aku pikirkan lagi," jawab Hyuna dengan entengnya.


"Baiklah kalau begitu." Nat berdiri lalu tersenyum seraya menghembuskan napasnya pelan. "Aku pamit pulang dahulu. Sampai jumpa!" serunya dengan melambaikan tangan sekilas serta tersenyum simpul. Hyuna ikut berdiri dan membalas lambaian tangannya.


Nat pun langsung pergi dari rumah tersebut. Sesaat kemudian Bora muncul membawakan nampan berisi dua gelas minuman.


"Loh, Hyuna. Dimana yang katanya temanmu itu? Apa dia sudah pulang?" tanya Bora ketika tidak melihat Nat di sana lalu matanya menoleh ke arah luar.

__ADS_1


"Iya Sus. Baru saja," jawab Hyuna sambil duduk kembali. Sementara Bora menaruh nampan tersebut ke atas meja.


"Cepat sekali. Memangnya dia benar temanmu, Hyuna?" Bora ikut duduk bersebelahan dengan Hyuna dengan jarak yang sedikit jauh.


"Aku tidak tahu, Sus. Tetapi, aku merasa asing dengannya. Bahkan aku tidak bisa mengingat apapun tentangnya. Apa itu artinya ingatanku belum sepenuhnya pulih?" Hyuna merasa heran karena saat melihat Nat tidak terlintas apapun di benaknya.


"Pilihannya ada dua. Pertama, mungkin saja dia memang belum pernah ada dihidup kamu sebelumnya. Ataupun yang kedua, dia bukan orang yang penting di hidupmu. Sepertinya kamu tetap berhati-hati. Meski disini tingkat kejahatan rendah, tapi tidak menutup kemungkinan segala sesuatu akan terjadi baik atau buruknya itu." Bora mencoba membuka pikiran Hyuna untuk tidak terfokus pada satu hal saja.


"Baiklah. Terima kasih banyak Sus," ucap Hyuna sambil tersenyum.


"Sama-sama. Um ... " Bora melihat ke arah lain. "Sepertinya pelayan baru rumah ini sudah datang," lanjutnya ketika melihat seorang wanita membawa tas berukuran sedang dengan pakaian yang sederhana, hanya kaos dan jelana bahan panjang. Wanita itu berjalan menuju teras rumah.


"Mana Sus?" tanya Hyuna sambil mengikuti arah pandang Bora.


Sesaat kemudian, suasa ketukan pintu pun terdengar.


"Permisi ...." panggil wanita itu di teras rumah. Bora segera keluar dan menyambut kedatangannya. "Maaf, apa benar ini kediamannya nyonya Hyuna?" tanyanya ketika melihat Bora muncul dari dalam.


"Iya benar, dan kamu Vina?" tanya Bora memastikan.


"Iya benar. Saya Vina dari lembaga penyaluran asisten rumah tangga yang ada di Jerman," jawab wanita itu. Dari tampangnya ia terlihat kalem dan juga cekatan, serta tubuhnya pun masih segar bugar. Bora berharap setelah dia tidak ada disini lagi, Vina bisa membantu Hyuna.


"Baiklah kalau begitu silahkan masuk!" ajak Bora memberi jalan untuk Vian supaya bisa masuk ke dalam. Keduanya pun berjalan bersama. "Nah ini nyonya Hyuna," kata perawat itu memperkenalkan Vina pada penghuni rumah tersebut. Karena pemilik aslinya masih atas nama Deo Ainsley.


"Selamat pagi, Nyonya. Perkenalkan saya Vina," sapa wanita itu sambil mengulurkan tangannya. Hyuna pun dengan senang hati membalas uluran tangannya itu. "Ternyata Nyonya terlihat masih sangat muda ya," selorohnya berniat bercanda. Akan tetapi memang begitu pembawaannya.

__ADS_1


Hyuna pun tertawa, "Usiaku memang masih muda. Sembilan belas tahun," timpalnya membuat Vina terkejut.


"Serius Nyonya? Jadi Nyonya ini nikah muda?" tukas Vina merasa tidak percaya, sampai-sampai ia menggelengkan kepalanya.


"Iya, kamu benar. Senang bertemu denganmu ... " Hyuna terkekeh pelan lalu menatap Bora. "Sus, aku pergi ke kamar dahulu ya." Ia pamit pada Bora juga pada Vina. "Mari Vina. Nanti urusan rumah akan diberitahu oleh Suster Bora ya!" lanjutnya kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Baik Nyonya," jawab Bora dan juga Vina bersamaan.


Selepas Hyuna pergi, Bora mengantarkan Vina ke kamar yang akan ditempati olehnya. Berikut dengan segala sesuatu hal yang selama ini selalu perawat itu lakukan. Namun bedanya, karena sudah ada Vina, pekerjaan seperti mencuci serta makanan, diserahkan kepada Vina sepenuhnya.


...----------------...


Sementara di kamar, Hyuna sedang berpikir keras. Batinnya pun berperang.


"Aku bisa saja sih pergi sendiri tanpa izin terlebih dahulu kepada Deo dan menggunakan kartu yang pernah dia berikan padaku.Tetapi, rasanya tidak etis. Bagaimana pun dia suamiku dan aku masih menghargainya. Namun .... " Hyuna mendes ah pelan. Kemudian duduk di tepi tempat tidur.


"Bagaimana aku bisa menemuinya? Aku sendiri bahkan tidak tahu dia dimana sekarang ... Eh tapi tunggu, bukankah sekarang masih hari kerja? Mungkin saja dia di kantor. Aku harus meminjam ponsel Bora untuk mencari alamat kantornya!" kata Hyuna bermonolog. Ia bertekad untuk bisa segera bertemu kedua orang tuanya.


Hyuna berdiri lalu berjalan ke arah pintu. Akan tetapi ketika hendak membuka pintu, tidak sengaja punggungnya menyenggol sebuah jaket parasit yang disangkutkan pada stand hanger. Tiba-tiba selembar kartu nama jatuh dari dalam saku jaket tersebut, Hyuna pun mengambilnya.


"Ainsley Company .... " Hyuna juga melihat alamat perusahaan tersebut tertera di sana. Seketika ia langsung menggenggam kartu nama itu dan berjalan ke arah lemari untuk mengganti pakaian.


Tentang jaket itu, Bora bilang itu milik Deo. Karena terakhir saat pria itu bermalam, perawat itu melihat Deo mengeluarkan jaket dari dalam mobilnya, tapi tidak dipakai olehnya. Pria itu justru menggantungkannya pada stand hanger tersebut. Alhasil, sampai dua minggu setelah itu Hyuna tidak mengizinkan Bora membawa jaket itu ke tempat laundry.


Bersambung ....

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2