
Masalah yang dialami Leika sampai di telinga Nat. Wanita yang berstatus sebagai manager-nya itu sangat murka. Terlebih ketika tahu kalau Leika tengah hamil.
Nat pun akhirnya menemui Leika di kantor tempat sel tahanan berada. Awalnya Nat cukup sulit untuk bertemu dengan wanita itu, tapi dengan segala pertimbangan serta waktu yang singkat, petugas pun mengizinkan.
Leika langsung menitikan air mata ketika melihat keberadaan Nat di sana.
"Kak Nat." Ia memeluk Nat sangat erat. Namun sayang, Nat tidak melakukan hal yang sama. Wanita itu justru langsung berusaha melepaskan pelukan anak didiknya itu.
"Kamu ini punya otak tidak sih? Sudah aku bilang sejak lama, jangan pernah menginjakkan kakimu di club malam. Rumah tanggamu waktu itu sudah berada di ujung tombak Leika, lalu dengan kamu melampiaskan masalahmu ke tempat seperti itu dikira akan berakhir bahagia, gitu?" Nat berkacak pinggang dengan mata yang membulat sempurna.
"Sekarang apa? Namamu sudah tercoreng, kamu hamil disaat statusmu sudah menjadi seorang janda. Lalu mantan suamimu malah menjebloskanmu ke dalam sel tahanan. Jika Nando mengetahui semua ini, aku sangat yakin kamu akan di blacklist dari PH-nya. Dan aku akan mengundurkan diri dari managermu," pungkas Nat. Ucapan terakhirnya membuat Leika merasa tersentak.
"Jangan kak Nat. Kita sudah lama bersama. Hanya karena ini kamu tega mengatakan hal itu?" Leika menangis kembali sampai tergugu. Mentalnya sedang di tekan habis-habisan oleh keadaan.
"Aku juga butuh makan, tempat tinggal dan juga gaya hidup untuk menopang penampilanku. Kalau kamu sampai di blacklist dari PH milik Nando, aku tidak yakin karirmu akan sampai puncak seperti sekarang." Benar-benar jelas terlihat kalau Nat tidak memihak serta mendukung Leika saat itu.
"Makanya kak Nat tolong aku untuk membujuk Nando, agar aku tidak dikeluarkan dari PH nya," bujuk Leika dengan sorot mata memohon.
Nat hanya terdiam. Padahal di dalam hatinya ia tertawa lepas melihat Leika di buang oleh Deo dan berada di titik terendah seperti itu. Dengan begitu, ia bisa memulai rencana barunya dan tentunya harus berjalan dengan mulus serta berhasil mendapatkan Deo.
"Ya sudah, nanti akan aku coba. Sekarang aku mau pergi dulu," kata Nat berpamitan dengan Leika. Selain itu, waktu yang diberikan untuk bertemu Leika pun sudah akan habis.
"Oke kak Nat, aku sangat minta tolong padamu. Hanya kak Nat yang aku yakin bisa menolongku," cicit Leika dengan suara pelan. Nat pun akhirnya pergi dari sana dan Leika kembali masuk ke dalam sel.
Baru saja Nat masuk ke dalam mobil, ponselnya berdering. Wanita itu memasukkan tangannya ke dalam tas yang sejak tadi dibawa-bawa. Setelah dapat, ia pun mengeluarkannya. Tertera nama Nando pada panggilan itu.
"Aduh, Nando. Perasaanku mulai tidak enak," gumam Nat lalu menjawab panggilan pemilik rumah produksi yang dinaunginya dengan ramah dan seolah sedang tidak terjadi sesuatu apapun.
"Hallo, Bos. Ada apa telepon?" Seperti biasa Nat dengan gaya kecentilannya.
"Kamu dimana?" Suara Nando terdengar datar dan menyimpan amarah, tidak seperti biasanya.
"Di luar Bos. Biasa habis meeting," jawab Nat. Wanita itu lebih pandai berakting dibanding Leika. Sampai terkadang sutradara pun menyuruhnya untuk terjun juga menjadi seorang artis. Namun Nat menolak, ia lebih suka bekerja di balik layar.
"Alasan! Cepat ke kantor sekarang, saya tunggu di ruangan!"
__ADS_1
Nat melonjak kaget ketika Nando berteriak di telinganya setelah itu memutuskan sambungan telepon begitu saja.
"Kalau Nando sudah tahu, aku harus apa? Lagipula, Leika kenapa juga bisa punya masalah seperti ini sih. Bikin susah saja! Ck!" Nat ikut merasa kesal. Di sisi lain ia juga takut tidak terima di PH milik Nando itu.
Akhirnya tidak ingin Nando menunggu lama, Nat menyalakan mesin mobil lalu menancapkan pedal gasnya menuju perusahaan milik Nando.
...----------------...
Saat baru saja tiba di perusahaan, Nat mendapat beberapa pesan masuk ke dalam ponselnya. Nat melihatnya terlebih dahulu. Seketika matanya membulat lalu kepalanya menggeleng merasa tidak percaya.
"Darimana mereka semua mendapatkan berita itu? Padahal aku belum mengatakan apapun ke awak media," kata Nat merasa 'tersentil'.
Ternyata yang mengirimkan pesan itu beberapa teman wartawan. Mereka menanyakan terkait kebenaran masalah yang tengah dialami oleh Leika.
Berita tentang perceraian Leika dan Deo yang tadinya sengaja di redam, tiba-tiba naik ke permukaan. Nat sendiri bingung. Ada orang lain yang mendahului rencananya.
Namun Nat belum mau mengambil pusing, makanya ia tidak menanggapi pesan-pesan tersebut. Nat memilih segera turun dari kursi kemudinya, lalu pergi ke ruang kerja Nando.
Akan tetapi, ketika Nat baru saja hendak menaiki lift. Tidak sengaja mendengar dua orang wanita yang sedang membicarakan tentang Leika.
"Iya kamu benar, dari berita yang baru saja dimuat. Seketika mereka berdua akan hancur. Hahahaha ... dari awal mereka disini, aku tidak suka. Mereka mengambil semua yang sudah aku dapatkan begitu saja. Terutama Nando."
PROK! PROK! PROK!
Kedua wanita itu terkejut bukan main saat melihat kehadiran Nat di sana.
"Well, aku tidak menyangka. Orang yang selama ini berlagak baik, ternyata malah memiliki hati yang busuk!" timpal Nat. Dua orang yang ada di hadapannya pun merasa gugup.
"Apa bedanya dengan kamu. Bukankah kamu juga suka kalau Leika hancur dan dihempaskan oleh Deo? Kamu sendiri kan yang waktu itu cerita padaku," sahut salah satu dari keduanya.
Nat mengerutkan alis. Seketika ingatannya kembali saat mereka memang pernah bicara. Waktu itu Nat sedang menemani Leika syuting hingga tengah malam.
"Sudahlah Nat. Jangan sok suci. Pun kamu membela wanita itu seperti menjilat ludahmu sendiri. Kalau benci ya benci saja, jangan berlagak seperti malaikat," sarkas wanita yang satunya lagi.
Nathania mendadak tidak bisa berkutik. Apa yang dibilang mereka ada benarnya juga. Sesaat kemudian, suara deringan ponsel miliknya mampu menyelamatkan dirinya dari mereka. Ia kemudian pergi dari sana.
__ADS_1
"Lihat saja setelah ini, aku tidak yakim Nando masih menerimanya."
"Iya kamu benar, apalagi anak didiknya itu sudah mendekam di balik jeruji besi. Bisa apa dia tanpa si Leika?"
"Sudahlah, yang penting berita itu sudah terdebar. Sebentar lagi awak media akan mengejarnya untuk dimintai penjelasan."
"Okey. Yuk kita kembali ke lokasi syuting!"
"Okey!"
...----------------...
Nathania baru saja masuk ke dalam ruang kerja Nando. Pria yang ditemuinya itu masih menghadap ke belakang. Lalu kepulan asap tipis pun terlihat dari balik kursi kebesaran itu.
"Nando ... " panggil Nat dengan hati-hati. Tidak ada sapaan hangat, mesra ataupun menggoda. Tidak seperti biasanya.
Tak lama berselang, Nando memutar kursinya. Pria itu pun berhadapan dengan Nat.
"Dimana Leika?" tanya Nando datar.
"Dia ... Um, dia di ... " Nat sangat gugup. Ia sulit sekali berkata dengan baik.
"Dimana Leika?" Suaranya tiba-tiba meninggi. Nat sangat terkejut, bahkan detak jantung wanita itu seolah berhenti beberapa saat.
"Dia di kantor sel tahanan," jawab Nat dengan cepat.
"Hahaha! Bagus. Bagus sekali. Kamu berusaha menyembunyikan tentangnya dariku, Nat?" Suara Nando masih meninggi. Bahkan mulai penuh penekanan.
"Tidak! Bukan seperti itu Nando!" Nat sangat gugup. Peluh yang ada di keningnya pun mulai bercucuran.
"Ck!" Nando berdecak. "Lalu apa?" tanyanya kemudian. Pria itu benar-benar sangat emosi. Sebab Nat tidak langsung berkata jujur padanya.
"Um, ... "
Bersambung ....
__ADS_1