
Disaat Deo tengah menatap istrinya cukup lekat, tiba-tiba wanita itupun mulai sadar. Perlahan Hyuna pun membuka matanya. Pandangan yang awalnya buram, lama-lama jelas juga meskipun masih sedikit berbayang.
"Deo ...." lirih Hyuna. Wanita itu melirik ke arah pria yang duduk tepat di sampingnya.
Awalnya Deo mengira kalau Hyuna hanya sedang mengigau. Namun semakin lama jelas terlihat kalau istrinya membuka mata sambil menatapnya. Deo pun menghela napas lega. Itu tandanya, Hyuna masih selamat.
"Hyuna apa kamu melihatku dengan jelas?" tanya Deo memastikan. Sementara Hyuna hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Syukurlah ... Apa kamu mau minum?" tanya Deo dengan raut wajah teduhnya. Hyuna pun merasa heran. Ada yang berbeda dari sikap Deo, dibanding hari terakhir mereka bertemu.
Hyuna yang memang merasa haus serta tenggorokannya pun terasa kering. Dia mengangguk pelan, sambil berkata, "Iya."
Deo segera menoleh ke atas meja dan melihat segelas air di sana. "Apa kamu bisa duduk?" tanyanya lagi. Pria itu juga membuka bungkus sedotan supaya memudahkan Hyuna untuk minum.
"Kepalaku masih terasa pusing. Bisakah kamu membantuku untuk bangun?" Tubuhnya masih lemah. Terlebih sakit kepala yang tadi menghantamnya, sangat begitu menyiksa dirinya.
"Kalau masih pusing lebih baik rebahan saja. Bukankah tempat tidur ini sudah dirancang khusus? Sebentar ...." Deo menaruh g mencari sebuah tombol untuk mengatur posisi tempat tidur supaya bisa tetap bersandar tanpa perlu bangun. Tak lama, pria itupun menemukannya dan mulai mengaturnya. "Nah sudah nyaman?" tanyanya dan Hyuna mengangguk lagi.
"Terima kasih," kata Hyuna dengan senyumannya yang hampir tak terlihat. Tidak dapat dipungkiri, dia merasa bahagia ketika melihat suaminya ada ketika dia baru membuka mata. Terbesit dalam hati, berharap pemandangan seperti itu terus ada di setiap harinya. Namun sayang, itu mustahil baginya.
"Iya sama-sama," balas Deo lalu mengambilkan minum untuk Hyuna. "Minumlah," katanya sambil menyodorkan gelasnya mendekat ke arah mulut istrinya.
Setelah selesai minum, Deo menaruh gelasnya kembali ke tempat semula. Kemudian matanya menatap Hyuna lagi.
"Kenapa kamu disini? Bukankah ini malam pertama kalian?" tanya wanita itu, tetap berusaha ramah, tersenyum dan seolah-olah tanpa memiliki rasa.
"Iya. Suster bilang kamu pingsan makanya aku kesini untuk melihatmu," jawab Deo yang sebenarnya tidak ingin mendengar pertanyaan itu.
__ADS_1
"Kenapa tidak ajak aja Leika saja kemari? Kenalkan padaku, aku juga ingin mengenalnya," timpal Hyuna. Suaranya masih terdengar lembut sekali. Mungkin karena tubuhnya masih terasa lemah.
Deo tersentak dengan napas yang tiba-tiba tertahan beberapa saat, karena Hyuna mengetahui nama istri barunya, Leika. Namun seketika teringat kalau pernikahannya dengan artis papan atas itu ditayangkan di televisi nasional bahkan internasional. Tak heran Hyuna tahu wajah serta nama dari wanita tersebut.
"Yang terpenting, sekarang itu kesehatanmu. Lebih baik kamu fokus untuk sembuh, tidak usah memikirkan yang lain." Deo berdalih, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pria itu tidak ingin teringat akan kesalahan Leika yang membuat suasana hatinya mendadak kacau. Pun ingin menenangkan pikirannya.
Hyuna mengangguk paham. Wanita itu tidak membahas tentang pernikahan suaminya dengan Leika lagi.
"Um, Deo ... " Deo pun kembali menoleh ke arah Hyuna. "Apa kamu tahu tentangku sebelum kecelakaan itu? Orang tuaku? Atau mungkin saudaraku di kota ini?" tanya wanita itu kemudian. Manik matanya menatap lekat mata pria yang didepannya, berharap ada sebuah kejujuran di sana.
Deo mendadak jadi patung. Pria itu tercekat serta merasa kelu pada lidahnya. Napas serta detak jantungnya seolah terhenti. Dia mengerutkan alis lalu menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"Untuk itu ... " Deo merasa ragu untuk menjawabnya. "Nanti kalau aku sudah tahu, aku akan segera memberitahukannya padamu. Lebih baik sekarang kamu makan, minum obat, lalu berisirahat lagi supaya bisa lekas pulih," jawabnya.
"Baiklah .... " Hyuna menghela napasnya dan mengangguk patuh. Rasanya ingin sekali mencecar Deo dengan berbagai pertanyaan. Namun sayang, tubuhnya masih terasa lemah. Untuk mengeluarkan suara saja butuh tenaga, saat itu masih Hyuna tahan.
"Dia tidur?" gumam wanita itu ketika mendengar dengkuran halus yang diluarkan oleh Deo. Dadanya terasa sesak, bahkan detak jantungnya seakan tidak normal. Wanita itu baru merasakan tidur bersama seorang pria, terlebih suaminya.
"Tuhan, kenapa aku semakin merasa jatuh cinta padanya? Bagaimana jika dia tahu ingatanku sudah mulai pulih? Sejujurnya setelah aku ingat kembali, aku rindu kedua orang tuaku, tapi aku tidak ingin berada jauh darinya," batin Hyuna bermonolog masih menatap Deo yang sudah tertidur pulas.
Memang benar, selama Hyuna tak sadarkan diri, jiwanya terbawa ke sebuah peristiwa. Masa dimana sebelum terjadinya kecelakaan yang hampir meregang nyawanya itu. Dia ingat tentang hal terpenting dalam hidupnya sebelum bertemu dengan Deo.
Tentang kedua orang tuanya, sahabatnya, bahkan seseorang yang mengisi kekosongan hatinya. Usia 19 tahun, bukan lagi masa kekanak-kanakan. Sebenarnya Hyuna memiliki seseorang yang bisa dibilang 'teman tapi mesra'.
Sayangnya pria itu memilih sahabatnya ketimbang dirinya. Mungkin dari sakitnya hati Hyuna di masa lalu, kemudian hadirnya Deo yang baginya seorang pahlawan, itulah alasannya kenapa Hyuna tumbuh benih cinta dihatinya. Memang terkadang obat sakit hati karena cinta tak terbalaskan maupun dikhianati ya, jatuh cinta lagi.
__ADS_1
Setelah puas memandangi suaminya, Hyuna pun ikut tertidur.
...----------------...
Pagi itu, langit di kota Hamburg sangat cerah. Bahkan matahari sudah memancarkan sinarnya yang begitu mencorot ketika waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi.
Bora yang baru saja selesai menyiapkan sarapan berniat untuk membangunkan Hyuna.
"Semalam Tuan Deo pergi tidak ya? Aku sampai ketiduran. Dia juga tidak memberitahukan padaku kalau Hyuna sudah sadar atau belum. Atau jangan-jangan Hyuna belum sadar sampai sekarang dan Tuan Deo pergi begitu saja!" Berbagai macam opini di benak Bora terus berputar seperti permainan bianglala. Langkah kakinya kemudian di percepat supaya bisa segera tiba di depan kamar Hyuna.
Hingga tiga kali ketukan dia lakukan, pintu pun langsung dibuka olehnya. "Waw!" Siapa sangka Bora pun terkejut melihat tuan dan nyonya-nya tidur dalam satu tempat tidur yang sama.
"Hampir saja aku membangunkan mereka," gumam Bora sambil pelan-pelan menutup pintunya kembali, bahkan dia sampai menahan napas dan menyipitkan matanya.
Hembusan napas panjang pun keluar dari mulut Bora ketika berhasil menutup pintu dengan sempurna. "Akhirnya ... Semoga ada perkembangan yang baik dalam hubungan mereka. Kalaupun hampir terlambat. Setidaknya masih diberi waktu untuk memperbaiki. Terlebih Tuan Deo sendiri," katanya bermonolog sambil berjalan menuju lantai bawah.
Ketika pukul 9 pagi, Hyuna membuka matanya. Wanita itu segera melihat ke samping.
"Dia masih disini? Sebegitu lelahnya kah dia sampai jam belum bangun juga?" ucapnya dalam hati. Sedangkan yang tampak diwajahnya itu hanya sebuah senyuman.
Tiba-tiba hatinya seakan terdorong untuk menyentuh wajah tampan Deo. Dengan sangat hati-hati, jemari tangannya menyentuh pipi pria itu lalu turun ke dagu. Setelah dirasa tidak ada respon apapun dari sang empunya, Hyuna melakukannya lagi meski dalam hati ingin rasanya bersorak gembira.
"Apa yang sedang kamu lakukan pada wajahku?"
Bersambung ...
__ADS_1
...----------------...