
"Tunggu!" panggil Deo dengan suara baritone-nya. Hyuna memutar malas bola matanya seraya menoleh. Berbeda dengan Angle hanya menatap datar padahal dalam hatinya senang. "Kamu sudah selesai bukan? Aku tunggu di depan segera!" perintahnya dengan penuh penekanan.
"Dia bicara dengan aku atau kamu Hyuna?" tanya Angle bisik-bisik pada Hyuna.
"Saya bicara pada Hyuna." Deo yang menjawabnya, karena suara Angle masih dapat didengar olehnya.
Namun Hyuna tidak menghiraukan Deo yang memerintah seenaknya. Ia malah berbalik badan.
"Yuk masuk, jangan meladeni orang tidak jelas!" kata Hyuna penuh emosi.
"Tapi mungkin dia ada perlu denganmu Hyuna?" cegah Angle dan Hyuna mengurungkan niatnya lagi untuk melangkah.
"Tidak ada. Dia hanya orang tidak jelas!" tegas Hyuna sekali lagi sambil melirik tanpa menoleh.
"Ha? Seperti itu ya?" Angle menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Justru ia yang merasa tidak enak hati pada Deo yang diacuhkan. Lalu ia menunduk hormat sebelum akhirnya masuk ke dalam.
Melihat Hyuna masuk dan restauran pun sudah sangat sepi, Deo pun keluar dari sana dan pergi ke mobilnya. Pria itu menunggu istrinya di depan bamper mobil sambil menyandarkan bokongnya di sana.
Sementara di ruang ganti, rupanya Angle masih penasaran tentang siapa pria tadi.
"Kamu benar Hyuna tidak mengenal dia?" tanya Angel disela mengganti pakaiannya.
"Iya, Angle," jawab Hyuna bernada malas.
"Tapi dia tampan sekali loh Hyuna. Apa kamu tidak jatuh hati padanya saat pertama kali bertemu?" tanya Angle lagi. Ia merasa hatinya berbunga-bunga ketika melihat Deo.
"Entah, aku tidak tertarik," jawab Hyuna terdengar ketus.
"Omong-omong daritadi kalau aku bertanya tentang dia kok kamu bawaannya emosi terus? Hmm ... " Angle mengusap dagunya. "Aku yakin pasti ada sesuatu. Tidak mungkin kan kalau dia semata orang tidak jelas?" Angle melirik dengan tatapan meledek dan kedua alisnya pun naik turun.
Hyuna yang telah selesai mengganti pakaian, menghempaskan napas kasar lalu mengambil tas, menutup loker dan menguncinya. Ia pun menyandarkan punggungnya di loker itu.
"Terserah, aku tidak perduli siapa dia. Bye Angle!" Hyuna melambaikan tangan lalu pergi dari hadapan teman kerjanya itu.
Wanita itu segera pergi ke parkiran motor khusus pegawai yang teletak di belakang restauran. Dia tidak perduli kalau Deo benar--benar menunggunya saat itu.
Alhasil Hyuna mengendarai motornya lewat pintu belakang dan tidak bertemu dengan Deo. Sementara pria itu terus mondar mandir di depan mobil sambil berkacak pinggang.
Hingga tepat pukul dua belas malam, ia masih di sana.
"Kemana perginya Hyuna? kenapa tidak muncul juga?" gumamnya sangat gelisah. "Apa dia tidur di restauran? Tapi lampu di restauran itu sudah mati semua!" lanjutnya sambil menghela napas.
__ADS_1
Saat itu, Deo juga tidak memiliki nomor ponsel Hyuna. Sedangkan yang punya hanya dokter Gabriel. Pria itu akhirnya pulang ke rumah yang Hyuna temui tadi pagi.
...----------------...
Setibanya di rumah, Hyuna langsung masuk ke dalam lalu tertawa puas karena berhasil pergi dari kejaran Deo.
"Aku tidak bisa membayangkan, Deo pasti masih ada di sana. Menunggu dengan raut wajah memerah karena kesal," katanya bermonolog sambil berjalan menuju kamarnya.
"Rasanya lelah sekali seharian bekerja hingga malam. Baru kali ini aku terasa terforsir," tambahnya ketika baru saja masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
Hyuna menghela napas, lalu menaruh tas ke atas meja kemudian pergi ke kamar mandi. Ia ingin segera istirahat supaya besok bisa masuk kerja tepat waktu.
Setelah tidur terlalu nyenyak karena terlalu lelah, tak terasa bunyi alarm yang berasal dari ponselnya pun berbunyi. Hyuna lekas mencari keberadaan ponsel itu menggunakan tangannya yang meraba ke sekitar tempat tidur.
Setelah di dapat, ia pun mengumpulkan kesadarannya terlebih dahulu. Kepalanya masih terasa pusing dan rasanya pun ingin sekali pergi tidur kembali.
Mengingat ada tanggung jawab yang di embannya, Hyuna pun segera bangun dan bergegas bersiap. Dalam waktu beberapa menit, ia telah selesai.
Tak lupa sepotong roti dan segelas susu menjadi santapan sarapannya pagi itu. Apalagi semalam ia benar-benar tidak makan sama sekali.
Baru saja hendak naik ke atas sepeda motor, terdengat suara notifikasi dari ponselnya. Tentunya ia melihatnya terlebih dahulu, siapa tahu penting? Pikirnya.
Hyuna memutar malas bola matanya. Suasana hatinya mendadak tidak baik setelah mendapat pesan dari dokter Gabriel.
[Ya sudah. Aku juga mau berangkat.]
Pesan balasan itu berhasil terkirim dan langsung terbaca oleh dokter Gabriel.
[Dokter Gabriel : Ya, kamu hati-hati di jalan]
Setelah itu Hyuna hanya membaca isi pesannya. Ia segera berangkat bekerja.
...----------------...
Setibanya di restauran, Hyuna sengaja memarkirkan sepeda motornya di belakang. Sebab, ia berjaga-jaga jikalau Deo seperti kemarin lagi.
Sesaat kemudian, ia telah selesai berganti pakaian dan pergi ke meja kasir. Ternyata pelanggan pertama yang ada di hadapannya itu Deo.
Hyuna tercekat lebih dulu sebelum menyambut pelanggan dengan kata-kata yang biasa ia gunakan.
"Ada apa kamu kemari?" tanya Hyuna, saat itu ia tampak gugup.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu denganmu. Dan aku sudah bilang pada pemilik restauran ini kalau hari ini kamu libur," jawab Deo dengan entengnya.
"Ap-apa?" Hyuna terbata. "Bagaimana bisa kamu mengenal pemilik restauran ini?" tanyanya tidak percaya.
"Tentu saja bisa. Apa sih keinginan seorang Deo Ainsley yang tidak terkabulkan?" katanya sangat percaya diri.
Hyuna menarik napas dalam-dalam. Otaknya mulai berpikir keras supaya mampu menghadapi orang seperti Deo.
"Sekarang lebih baik kamu ganti baju dan ikut denganku," perintahnya namun saat itu Deo jauh lebih santai. Tidak seperti biasanya yang selalu menekan dan memerintah dengan wajah yang penuh emosi.
"Memangnya kita mau kemana?" tanya Hyuna sambil mengangkat wajahnya dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Sudah, tidak perlu banyak bertanya. Cepat ganti bajumu."
"Jawab dulu kita mau kemana?" Hyuna bersikukuh ingin tahu.
"Sudah ku bilang 'kan? tidak perlu banyak bertanya nanti juga kamu akan tahu sendiri," jawab Deo sambil menghela napas. Menghadapi wanita dengan model seperti Hyuna memang butuh kesabaran yang tinggi bagi Deo.
"Ya sudah." Hyuna berbalik badan dan masuk ke dalam.
Di ruang ganti ia sengaja berlama-lama. Ia ingin tahu seberapa sabar Deo menunggunya.
Sementara Deo yang masih berdiri di depan kasir menunggu sambil memainkan ponsel. Pria itu sedang mengecek email yang dikirim oleh Zean padanya.
Tak terasa hampir setengah jam, Hyuna berdiri di depan Deo. Akan tetapi pria itu justru malah fokus dengan ponselnya.
"Jadi pergi tidak?"
Tidak ada jawaban dari Deo yang masih fokus.
"Ya sudah kalau tidak jadi, aku mau kembali bekerja." Hyuna langsung berbalik badan. Namun ketika ia hendak melangkahkan kaki, Deo berdehem.
"Maaf."
Hyuna menghela napas sambil memutar malas bola matanya. Kemudian, berbalik badan.
Tanpa berkata apapun lagi, tangan Deo meraih tangan Hyuna lalu di genggamnya. Hal itu membuat detak jantung Hyuna berpacu lebih cepat.
Tanpa sadar, Hyuna terus menatap mata Deo seolah bertanya. "Apa rasa cintaku untukmu memang masih ada?"
Bersambung ....
__ADS_1