Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Sequel - 21


__ADS_3

"Dave ... Kita hampir tidak terkontrol," kata Hyuna tedengar lirih.


"Maaf Hyuna ... Aku akan bertanggung jawab untuk ini." Dave menatap Hyuna dengan penuh keyakinan.


"Caranya?" tanya Hyuna yang masih memulihkan kesadarannya.


"Aku akan melamarmu dan menikahimu. Dengan begitu, aku akan bertemu denganmu setiap hari."


"Tapi aku masih kuliah kurang lebih targetku satu setengah tahun lagi Dave."


"Tidak masalah Hyuna, kamu bisa pindah kampus ke tempat kamu study banding kemarin. Apalagi prestasimu di sana sudah mumpuni. Kamu mungkin bisa lulus lebih cepat," bujuk Dave dengan sorot mata penuh harap.


Hyuna mengempaskan napas seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Otaknya mulai berpikir keras. "Kapan kamu mau menemui kedua orang tuaku di Birmingham?" tanya wanita cantik itu lalu melirik ke arah Dave masih dengan posisi yang sama.


"Lusa, aku akan ke rumahmu, untuk melamar dan akhir pekan kita akan melangsungkan pernikahan. Bagaimana kamu setuju?" Dave memberi penawaran yang diluar prasangka Hyuna.


"Kamu yakin kita akan menikah secepat itu? Aku sendiri bahkan belum pandai memasak dan memberisihkan rumah, Dave." Wanita cantik itu mengatakan apa adanya.


"Aku menikahimu bukan ingin menjadikanmu sebagai pembantu. Aku bisa saja menyewa orang untuk sekadar memasak, mencuci pakaian, menyetrika dan membereskan rumah. Bahkan aku sendiri bisa melakukannya. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu," jawab Dave dengan kesungguhannya.


"Tunggu, memangnya dimana keberadaan kedua orang tuamu?" tanya Hyuna. Sebab ia pun belum tahu banyak tentang hal pribadi Dave.


"Ayah ibuku ada di Rumania dan aku itu tiga bersaudara. Kedua adikku juga tinggal di sana," jawab Dave kembali keposisinya menghadap ke depan sambil memegang kemudi.


Hyuna menghela napasnya. "Maaf Dave aku belum bisa menjawab permintaanmu saat ini. Meskipun kita saling mencintai, kamu tahu sendiri bukan aku pernah gagal dalam pernikahan. Lebih baik kamu meminta izin dengan kedua orang tuaku," kata wanita itu.


"Baiklah, setelah ini aku akan memberitahukan kedua orang tuaku. Sebab aku pun tidak ingin terlalu lama menjalani hubungan jarak jauh," jawab Dave. Pria itu menoleh lalu mengusap rambut Hyuna dengan lembut.


"Hmm ... Kalau gitu sekarang kita mau kemana?" tanya Hyuna. Mengalihkan sejenak tentang rencana pernikahan mereka. Memetik pelajaran dari pernikahan sebelumnya, kalau dirinya dan juga Dave perlu banyak komunikasi dan waktu yang berkualitas berdua. Supaya bisa membangun cemistry diantara keduanya dan juga mampu mengontrol emosi perasaan masing-masing.

__ADS_1


Dave melihat waktu pada arlogi yang terpasang di salah satu tangannya. "Sudah mau masuk makan siang, kamu sudah lapar belum?" tanya pria itu.


"Belum terlalu sih, soalnya tadi aku sempat makan bekal yang dibawakan mamaku sewaktu menunggu keberangkatan pesawat."


"Oh kalau begitu ... " Dave terdiam, berpikir sejenak tentang tempat makan yang asik untuk menikmati waktu berdua dengan Hyuna. "Ah! Aku tahu dimana tempat makan yang cocok untuk kita berdua!" serunya dengan mata berbinar.


"Oh ya? Kamu serius?" tukas Hyuna merasa tidak percaya dengan mengerutkan kedua alisnya.


"Iya! Yuk kita ke sana," ajak Dave lalu melajukan mobilnya kembali.


Dalam waktu yang tidak lama, mereka telah sampai di sebuah tempat makan dengan nuansa khas pedesaan masyarakat London tempo dulu. Tempat makan itu pernah Dave temukan tidak sengaja di sebuah pencarian di internet.


Blup Blup! Suara keduanya menutup pintu masing-masing setelah turun dari mobil.


"Wah indah sekali pemandangannya. Darimana kamu temukan tempat ini?" Hyuna terkagum-kagum menatap kesekeliling halaman depan tempat makan.


"Waktu itu tidak sengaja nemukan tempat ini di internet. Kalau kata komentar orang yang pernah kesini sih bagus dan nyaman. Ya ... Untuk membuktikannya yuk kita masuk ke dalam!" Dave meraih tangan Hyuna lalu menggenggamnya.


Dave mengajak Hyuna duduk di salah satu meja yang sangat nyaman dipandang mata. Sebelumnya Hyuna tidak pernah merasakan bahagia seperti itu. Genggaman tangan Dave pun sangat erat seolah enggan untuk melepaskan. Bahkan ketika pelayan datang membawakan menu supaya mereka bisa memesan makanan serta minuman.


"Dave, bisakah tanganmu dilepaskan terlebih dahulu?" tanya Hyuna sambil mengerutkan alisnya dan memberi kode melalui matanya. Pelayan yang ada di samping mereka pun berusaha menahan tawa.


Dave seketika paham dan melepaskan genggaman tangannya itu. Pria itu pun salah tingkah.


"Silahkan bisa dilihat dulu menunya. Kalau sudah siap pesan, bisa langsung segera memanggil pelayan ya," kata pelayan itu bersikap profesional.


"Oh iya, baiklah."


Pelayan itu menuduk hormat lalu pergi dari hadapan mereka.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, keduanya pun telah memesan makan serta minumannya.


"Suasananya nyaman juga ya," ucap Hyuna basa-basi sebagai pembuka pembicaraan diantara mereka.


"Iya, kamu suka?" tanya Dave yang masih sedikit canggung. Belum pernah sebelumnya ia tergila-gila seperti itu pada wanita.


Hyuna mengangguk, "Iya". Pandangannya melihat kesekeliling yang ada di depannya. "Dave, apa kedua orang tuamu bisa menerimaku?" tanyanya kemudian.


"Tentu. Mereka tidak pernah menetapkan syarat untuk calon menantunya seperti apa dan harus bagaimana. Mereka hanya ingin anak-anaknya bisa menikah dengan orang yang dicintainya," jawab Dave sambil melipat kedua tangannya di atas meja.


"Kalau boleh tahu, adik-adikmu usia berapa?" tanya Hyuna lagi.


"Adikku itu satu lelaki usia dua puluh lima tahun dan satu lagi perempuan usia dua puluh satu tahun," jawab Dave lalu meraih tangan Hyuna lagi dan menggengamnya. Pria itu seakan takut kalay Hyuna akan kabur darinya.


Wanita itu tersentak lalu terkekeh. "Tenang saja Dave, aku tidak akan pergi darimu."


Dalam sekejap raut wajah Dave berubah serius. Hal itu membuat Hyuna langsung terdiam. Dave bahkan menatap wajah wanita cantik yang ada di depannya amat lekat.


"Meski aku bukan yang pertama yang menempati hatimu dan ada dalam hidupmu, izinkan aku menjadi pelabuhan terakhirmu. Sebab aku yakin saat pertama kali kita ketemu, kamu adalah pemicu detak jantungku. Melihatmu saja rasanya memiliki kekuatan tersendiri," ucap Dave dengan sorot teduhnya.


Hyuna masih bergeming. Kata-kata yang dilontarkan Dave barusan mampu menyihir alam bawah sadarnya.


"Sudahkah kamu yakin menjalani kehidupan bersamaku setelah kita menikah nanti?" tanya Hyuna dengan sorot mata yang enggan berpaling dari Dave.


"Iya, aku yakin," jawab pria tampan itu terdengar sangat meyakinkan. Sebuah senyuman pun terbit dari kedua sudut bibir Hyuna.


Bersambung ....


...****************...

__ADS_1



Dave Vallentino, pria berusia tiga puluh tahun berprofesi sebagai dokter spesialis jantung di rumah sakit terbesar kota London. Anak sulung dari tiga bersaudara itu, mampu membuktikan kepada kedua orang tuanya kalau dia mampu menjadi dokter yang dapat dibanggakan serta diandalkan.


__ADS_2