Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 41. Ketemu Dokter Gabriel


__ADS_3

Hyuna duduk di kursi tepat berhadapan dengan laboratorium. Ia sedang menunggu hasil tes medical check up-nya.


Ketika ia menoleh tak sengaja melihat seseorang yang baru saja keluar dari ruang emergency.


"Dokter Gabriel?" sapa Hyuna membuat pria yang di sapanya itu pun menoleh ke arahnya. Pria itu tersenyum, tak di sangka menghampiri Hyuna.


"Hyuna? Sedang apa kamu di sini? Bukankah kamu tinggal di Jerman?" tanya dokter Gabriel. Namun Hyuna hanya tersenyum sambil mengerutkan alisnya.


"Aku habis medical check up. Kedua orang tuaku yang menginginkannya. Mereka takut kalau ada sesuatu yang bisa membahayakan kesehatanku pasca kecelakaan," jelas Hyuna. Semua pasien yang juga menunggu hasil laboratorium, hanya bersikap acuh kepada mereka.


"Oh, iya benar juga apa yang disuruh kedua orang tuamu itu. Omong-omong, bagaimana kabarmu sekarang?" Dokter Gabriel tetap bersikap ramah meski Hyuna bukan pasiennya lagi. Bahkan lebih ramah ketimbang masih menjadi pasiennya.


"Sudah sangat lebih baik, Dok. Dokter sendiri apa kabar? Lalu sedang apa di sini?" Hyuna menjawab dengan wajah berseri-seri.


"Saya sangat baik juga. Kebetulan ada pasien yang sedang saya tangani dirujuk ke rumah sakit ini. Mengingat ini rumah sakit besar dan juga memiliki alat medis yang lengkap," papar dokter Gabriel.


"Oh seperti itu, memangnya sejak kapan Dokter disini?" tanya Hyuna kemudian.


"Sejak semalam. Kemungkinan akan lama di sini, dikarenakan akan ada tindakan juga dan pemulihannya memerlukan waktu lumayan lama ... Um, Hyuna. Kalau kamu bosan menunggu, ikut saya saja ke ruangan. Kamu bisa sambil istirahat di sana," tawar dokter tampan itu yang senyumnya tak menyusut sedikitpun.


"Terima kasih atas tawarannya, Dok. Sebentar lagi mama-ku akan datang. Aku tidak ingin membuatnya mencari-cari keberadaanku kalau aku tidak ada di sini," kata Hyuna menolak secara halus.


"Loh, memangnya kamu tidak punya ponsel?" tanya dokter itu merasa tidak percaya. Pasalnya tidak mungkin seusia Hyuna tidak memiliki ponsel.


"Tidak, Dok. Aku hanya punya tablet dan laptop di rumah," jelas Hyuna membuat dokter Gabriel pun akhirnya paham.


"Kapan-kapan apa boleh saya berkunjung ke rumahmu?" Pertanyaan dari pria yang menggunakan jas putih itu, seketika membuat Hyuna terperangah.


"Boleh kok. Tapi rumah kedua orang tuaku tidak seperti rumah ...." Hyuna menghentikan ucapannya. Ia sedang berusaha melupakan semua hal tentang Deo. Sementara dokter Gabriel menunggu ia melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Rumah siapa?" tanya pria itu memastikan.


"Tidak ada." Hyuna tersenyum simpul.


Tiba-tiba saja dokter Gabriel menyodorkan ponsel miliknya kepada Hyuna dengan memberi kode melalui matanya. Pandangan Hyuna pun seketika teralihkan ke arah ponsel lalu menatap pria itu kembali.


"Coba tuliskan alamat rumahmu disini, siapa tahu aku bisa menjemputmu walau sekadar minum kopi?" bujuk dokter Gabriel. Padahal kalau dilihat dari wajahnya, ia termasuk dalam kategori pria yang dingin. Namun ternyata, sikap ramahnya itu mematahkan apa yang terlihat dari covernya.


"Baiklah." Hyuna meraih ponsel milik dokter itu. Lalu menuliskan alamat rumah kedua orang tuanya di sana. Walau dalam hatinya bilang, kemungkinan dokter Gabriel melakukan hal itu hanya sebesar empat puluh lima persen saja.


Setelah selesai, Hyuna memberikan ponsel tersebut kepada pemiliknya. "Sudah Dok."


Dokter Gabriel memeriksanya. "Wah, kalau ini sih tidak jauh dari rumah saya!" serunya sambil menyunggingkan senyum ke arah Hyuna. Sungguh tampan, tapi sayangnya wanita yang ada di hadapannya itu masih terikat oleh orang lain.


"Oh ya? Dokter punya rumah juga di sini?" tanya Hyuna sepintas tak percaya. Karena pikirnya dokter Gabriel itu tinggal di Jerman.


"Memang rumah saya aslinya di sini. Rumah orang tua. Sedangkan di Hamburg, saya hanya menyewa rumah kos saja. Setiap minggu saya pasti pulang ke Birmingham. Kecuali jika perekerjaan saya sedang padat, mana sempat saya untuk pulang," jelasnya dan Hyuna pun mengangguk paham.


Beruntung, di tengah sulitnya Hyuna menjawab pertanyaan dokter Gabriel. Nestya pun datang menghampiri mereka.


"Mama!" seru Hyuna. Seketika pria yang sejak tadi berbicara padanya berbalik badan lalu melihat Nestya.


"Ini mama-mu, Hyuna?" tanya dokter itu. Sementara Hyuna hanya mengangguk penuh antusias.


"Oh, salam kenal. Saya dokter Gabriel, dokter yang menangani Hyuna hingga pulih ketika di Jerman," kata dokter Gabriel memperkenalkan diri.


Nestya menunduk hormat. "Oh ya? Salam kenal juga. Saya Nestya, mama-nya Hyuna. Tidak disangka ya bisa bertemu di sini. Saya berterima kasih sekali pada dokter karena telah menangani anak bungsu saya ini dengan baik. Semoga dokter sehat selalu."


Dokter itu terkekeh merasa sungkan akan sapaan yang diberikan oleh Nestya. "Sama-sama Nyonya. Itu semua berkat kemauan yang ada di dalam diri Hyuna sendir supaya bisa pulih total. Dan juga, suaminya."

__ADS_1


Nestya langsung menoleh ke arah Hyuna, menatap prihatin. "Oh seperti itu ya Dok. Sekali lagi saya berterima kasih sekali. Akhirnya sekarang bisa bertemu dengan Hyuna."


"Iya Nyonya." Suara deringan ponsel dari dalam saku jas putih yang dipakai dokter Gabriel pun berbunyi. "Maaf Nyonya, Hyuna. Sepertinya saya harus pamit. Semoga kalian sehat selalu, permisi," lanjutnya sambil melangkah mundur lalu menunduk hormat dan kemudian pergi dari hadapan dua orang wanita yang ada di depannya.


"Terima kasih Tuhan," gumam Hyuna sambil menghela napasnya.


"Kamu kenapa Hyuna? Kok seperti habis melihat hantu saja!" timpal Nestya mengerutkan alisnya, merasa heran karena Hyuna tampak sangat lega sekali.


"Tidak apa-apa, Ma," jawab Hyuna seraya tersenyum. Nestya melihat benda petunjuk waktu yang melingkar di tangan kirinya.


"Sambil menunggu hasilnya keluar, lebih baik ikut Mama yuk!" ajak Nestya. Padahal belum lama ia baru saja duduk di sebelah Hyuna.


"Kemana Ma? Bukannya mobil Mama sedang di service?" tanya Hyuna kebingungan.


"Ke suatu tempat. Kamu tenang saja, mobil Mama sudah selesai di service. Tadi hanya pengecekan mesin sama ganti oli saja. Makanya cepat." Nestya kemudian menarik tangan anak bungsunya supaya mau pergi dari sana.


"Apa tidak sebaiknya menunggu di sana saja Ma? Lagi pula tidak ada setengah jam lagi hasilnya juga akan keluar," usul Hyuna. Niatnya ingin sekalian saja menunggu lalu jika sudah selesai konsultasi ke dokter, setelah itu bisa pulang ke rumah.


Nestya pun tampak menimbang-nimbang. Akhirnya ia mengajak Hyuna ke kantin yang ada di rumah sakit itu.


Hyuna hanya menggelengkan kepala mengikuti sang mama. Rasanya setelah sampai di rumah, Hyuna hanya ingin mandi, ganti pakaian lalu tidur. Sungguh itu kenikmatan hakiki.


"Kamu mau apa Hyuna? Ambil saja ya, nanti sekalian Mama yang bayar," kata Nestya lalu pergi ke tempat minuman.


"Iya, Ma," jawab Hyuna dengan suara pelan. Ia mulai memilih makanan yang ada di dalam etalase.


Cukup lama dirundung kebingungan, Hyuna pun menjatuhkan pilihannya pada sebuah cake berlapis. Namanya Mile Crepes dengan perpaduan whipped cream dan buah stroberi yang sungguh menggugah selera makannya.


Tak hanya itu saja, secangkir hot chocolate pun ditambahkan sebagai pelengkap. Ibu dan anak itu sangat menikmati quality time mereka setelah sekian lama terpisah jarak dan waktu.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2