Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Sequel - 18


__ADS_3

Nestya mengeringkan buah-buahan yang telah dicuci sebelumnya, lalu menghampiri Hyuna yang masih berdiri di samping meja karena memang perintah darinya. Wanita paruh baya itu membawa satu kotak berbagai macam buah di dalamnya.


"Ada apa Ma?"


Nestya pun menyodorkan kotak berisi buah tersebut pada anak bungsunya.


"Ini bawalah untuk teman mengerjakan tugas. Buah sangat bagus loh buat kesehatan dan kecantikan kamu," jawab Nestya santai.


Hyuna menerima kotak itu. "Oh iya Ma. Terima kasih. Kalau gitu aku ke kamar dulu ya!"


Nestya mengangguk seraya tersenyum simpul. Lalu Hyuna pun pergi dari hadapannya.


Setibanya di kamar, Hyuna menaruh kotak yang dibawanya itu ke atas meja belajar kemudian duduk dan membuka laptopnya. Wanita itu langsung fokus membuka file yang sudah terisi beberapa bahan untuk tugasnya.


Setelah diteliti ulang, ternyata Hyuna masih membutuhkan bahan lain yang bersumber dari buku dan kebetulan buku yang dimaksud itu tidak dimilikinya.


"Sepertinya aku harus ke perpustakaan umum, atau tidak ke toko buku," gumam Hyuna. Lalu membuka dompetnya, memastikan kalau ia masih menyimpan uang di sana.


Setelah uang di dalam dompet itu dirasa cukup, Hyuna segera mengganti pakaiannya lalu memasukkan dompet, ponsel serta kunci motor ke dalam sling bang.


Sementara Nestya yang sedang santai kembali di depan televisi menoleh ke arah pintu kamar Hyuna saat mendengar suara pintu itu terbuka.


"Loh. Rapi sekali. Kamu mau kemana?" tanya wanita paruh baya itu, menatap heran karena Hyuna berpakaian sangat rapi. Padahal tadi masih memakai setelan rumahan.


"Aku mau pergi cari bahan buat rangkuman Ma. Tidak lama kok, soalnya nanti sore aku sudah kembali bekerja di restauran." Hyuna berjalan menghampiri Nestya lalu mencium pipinya.


"Oh ya sudah. Kamu hati-hati dijalan ya."


"Oke Ma. Bye!"


Hyuna berlari kecil keluar dari rumahnya, menghampiri motor yang masih terparkir di depan garasi. Beruntung ia belum sempat memasukkannya ke dalam, sehingga tidak perlu repot mengeluarkannya.


Segala perlengkapan berkendara sudah dipakai olehnya. Hyuna pun menyalankan mesin lalu melajukan motornya.


...----------------...


Hari sudah menjelang sore, sementara Hyuna baru dapat beberapa bahan dari sekian banyak sumber yang telah ia cari. Mulai dari keliling di dalam perpustakaan umum terbesar di Birmingham, sampai pergi ke toko buku yang ada di dalam mall.

__ADS_1


"Cukup tidak ya? Apa aku harus mencari ke toko buku di mall lain?" Hyuna kemudian melihat petunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah sore lagi. Sebentar lagi aku harus pergi ke restauran."


Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Hyuna memutuskan untuk pulang ke rumah. Masa cutinya di restauran tempatnya bekerja paruh waktu sudah cukup lama. Maka dari itu, Hyuna pun kembali bekerja setelah kurang lebih tiga hari berada di rumah.


Tak lama berkendara. Hyuna tiba di rumah.


"Kamu baru pulang?" tanya Nestya ketika sedang membuat makanan untuk makan malam di dapur.


"Iya, Ma. Aku mau siap-siap dahulu!' Hyuna berlari menuju kamarnya.


Dalam tiga puluh menit, wanita itu telah siap untuk pergi bekerja.


"Ma, aku pergi dulu ya," kata Hyuna berpamitan dengan Nestya sambil memeluk lalu mencium pipi kanan dan kiri.


"Iya, hati-hati dijalan ya, Sayang!" teriak Nestya karena saat itu Hyuna sudah ada di teras rumah.


Di depan rumah, Hyuna berpapasan dengan Boy yang baru saja pulang dari kantor.


"Pa," sapa Hyuna seraya tersenyum.


"Loh kamu mau kemana ? Kok rapi sekali?" tanya Boy pada anak bungsunya itu.


Boy seketika mengerutkan alisnya. "Memangnya kamu masih bekerja di restauran itu?" tanyanya lagi dan Hyuna pun mengangguk yakin. "Papa kira saat kamu study banding kemarin itu sudag resign dari sana. Oh iya, Hyuna ... Di kantor Papa sedang ada lowongan sebagai staff officer bagian human resource. Siapa tahu kamu masuk di sana," sambung pria paruh baya itu.


"Duh Pa, aku belum ada waktu buat kerja kantoran kayak Papa. Apalagi kuliah aku kan jadwalnya pagi terus. Mungkin setelah lulus kuliah, aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik dari sekarang ini," jawab Hyuna. Memang benar apa yang dikatakannya. Belum lagi jika ada tugas dari dosen, jangankan kerja kantoran. Kerja paruh waktu saja rasanya Hyuna harus pintar-pintar membagi waktu.


"Oh, iya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, kabari kami kalau sudah sampai tempat kerja!" seru Boy lalu mengusap bahu Hyuna.


"Iya Pa. Bye Papa!"


Hyuna pun berangkat menuju tempat kerjanya. Sepanjang jalan utama sore itu cukup ramai. Mungkin karena bersamaan dengan para pekerja kantor yang baru pulang kerja.


Tidak butuh waktu lama, Hyuna sampai di halaman belakang restauran, tempat biasa menaruh motornya. Namun ketika baru saja melepas helm, Hyuna melihat Angel membuka pintu.


"Hyuna!" seru Angel tampak sangat bahagia melihat keberadaan teman baiknya di sana. Wanita itu segera menghampiri Hyuna lalu memeluknya sangat erat.


"Angel, bagaimana pekerjaanmu selama tidak ada aku? Apa restauran sangat ramai?" Hyuna membalas pelukan Angel.

__ADS_1


Angel melepaskan pelukannya, "Hah!" Ia mengempaskan napas kasar. "Ya begitulah Hyuna. Kamu tahu sendiri bukan, ramainya di restauran ini dari hari biasa sampai akhir pekan? Walau begitu aku lega kamu masih mau bekerja disini dan jadi teman baik aku."


Hyuna terkekeh pelan. "Aku juga bahagia punya teman seunik kamu. Jujur aku sudah nyaman sih bekerja di sini, meskipun upah yang diterima tidak seperti mereka yang bekerja di kantoran dengan jabatan tinggi. Belum tentu bisa seperti kita yang mampu menghadapi berbagai macam sifat pelanggan."


"Iya kamu benar sekali!" Seru Angel menyetujui pendapat Hyuna. "Berhadapan sama mereka ternyata jauh lebih asik. Walau memang aku sendiri ingin bekerja di kantoran, tapi belum tentu suasananya senyaman di sini."


"Ya begitulah, setiap pekerjaan pasti punya sisi positif dan negatifnya. Kita ambil rasa syukur sebagai penengah. Karena diluaran sana masih banyak orang yang belum tentu bisa menghasilkan uang. Meskipun di negara kita pendidikan itu terjamin, tapi orang yang mau bertahan hidup dengan hasil jerih payahnya sendiri dengan cara yang baik itu mulai menurun. Kebanyakan dari mereka memilih cara yang instan." Hyuna menghela napas panjang. "Rasanya kalau kita ngobrol seperti ini tidak akan ada ujungnya. Nanti yang ada malah kita kena marah," pungkasnya.


Angel tertawa menyadari. "Benar juga ya. Ya sudah yuk kita masuk ke dalam!" ajaknya kemudian dan Hyuna pun mengangguk setuju.


Seharian itu jadwal Hyuna sangatlah padat. Sampai-sampai untuk membuka ponsel saja sangat jarang. Hingga tepat pukul sepuluh malam, Hyuna baru tiba di rumah. Tak disangka ketika baru sana membuka helm, ponselnya berdering.


Hyuna mengeluarkan ponselnya itu dari dalam tas, kedua sudut bibirnya mengukir senyuman hangat saat melihat nama yang tertera pada layar yang masih menyala itu. Ia pun tentunya langsung menjawab.


"Hallo, selamat malam Dave!" sapa Hyuna reflek karena bahagia. Pria yang membuatnya terpikat itu menghubunginya ketika rasa lelah melanda.


"Malam Hyuna. Kamu sedang apa?"


"Baru pulang kerja, kamu sendiri?"


"Kerja apa? Sudah mulai larut loh. Apa kamu sudah di rumah?"


"Kerja paruh waktu Dave, di restauran. Bukankah waktu itu aku pernah cerita padamu?"


"Oh iya ya ... Jadi kamu sudah sampai rumah belum?"


"Sudah Dave, baru saja. Kamu sendiri lagi apa?" Hyuna mengulang pertanyaannya lagi karena Dave belum menjawabnya sedari tadi.


"Aku juga baru sampai rumah, tadi sore ada tindakan. Jadi aku harus menyelesaikan tugas terlebih dahulu."


"Oh oke deh." Hyuna masuk ke dalam rumah. Kondisi rumahnya memang sudah sepi, karena kedua orang tuanya sudah pergi tidur ke kamar mereka. Ia juga langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuh serta mengganti pakaian.


"Dave, maaf aku tutup dulu ya. Aku sudah ada di kamar. Sudah ngantuk juga. Selamat istirahat Dave. Bye!" Hyuna ingin mengakhiri panggilan mereka.


"Hallo? Hyuna?" panggil Dave namun sayangnya panggilan sudah berakhir.


Kasihan sekali Dave, padahal pria itu masih ingin mendengar suara Hyuna. Apalagi tubuhnya pun sudah merasa lelah juga.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2