
Hyuna tidak pernah menyangka, kehadirannya di rumah itu membawanya pada sebuah pertemuan. Dimana setelah berbulan-bulan lamanya, ia tidak pernah melihat seseorang yang selama ini berusaha dilupakannya.
Akan tetapi, saat keduanya bertemu ... hanya pandang mata yang mampu menyiratkan arti rasa dari dalam hati mereka. Antara menggenggam sebuah rindu atau benci. Seolah dari keduanya tidak ada yang mampu membedakan.
"Doktee Gabriel, kalian ada hubungan apa? Lalu ini rumah siapa?" tanya Hyuna, menatap kedua pria yang ada di hadapannya. Hatinya ingin sekali menjerit, berteriak sambil memaki. Terutama pada pria yang berdiri tepat di belakang dokter itu.
"Sebenarnya---"
"Gabriel, biar aku yang menjelaskan kepadanya," kata Deo menyela ucapan dokter itu.
"Kamu mau menjelaskan apa? Aku kira tidak ada lagi yang perlu dijelaskan diantara kita," timpal Hyuna yang mulai merasa kesal.
"Hyuna ... " Deo berjalan melewati dokter Gabriel hingga tepat berada di depan Hyuna yang masih memegang pesanan mereka. "Aku akan menjelaskan semuanya," lanjutnya.
Hyuna langsung memberikan makanan itu kepada dokter Gabriel. "Dok. Ini ambil saja," katanya terdengar ketus lalu berbalik badan. Rasanya ia belum siap bertemu dengan Deo saat itu.
Seketika Deo menahan lengan Hyuna. "Tunggu Hyuna, beri aku kesempatan untuk bicara." Pria itu memohon dengan suaranya yang terdengar parau.
Dalam satu kali hempasan, Hyuna melepaskan tangan Deo dari lengannya. Wanita itu menoleh sambil menatap sinis. "Maaf, ini masih jam kerja. Aku tidak punya waktu banyak selain mengantarkan makanan yang kamu pesan!" katanya.
"Yang aku pesan?" gumam Deo dengan suara pelan.
"Hei, tapi makanan itu bukan aku yang pesan!" teriak Deo ketika Hyuna sudah naik ke atas sepeda motornya.
"TERSERAH!!" sergah wanita itu.
Sepertinya Hyuna terlalu terkejut saat melihat orang yang memang memiliki kemiripan dengan Deo. Padahal sebenarnya yang datang ke restauran tadi itu adalah Yundra, adiknya Deo. Sampai-sampai Hyuna mengira Yundra adalah Deo.
Sementara Yundra sendiri sedang berada di salah satu gedung theater untuk melihat pameran lukisan. Dan dia akan pulang ke rumah itu sekitar satu jam lagi.
"Deo, sepertinya kamu harus bersabar menghadapi wanita. Secara setelah sekian lama, dia mengira kamu itu tidak pernah memperdulikannya lagi. Pantas saja jika sekarang dia begitu terkejut dengan kehadiranmu yang tiba-tiba di negara ini," kata dokter Gabriel mencoba menghibur Deo.
"Lebih baik kita makan saja terlebih dahulu," ajaknya kemudian masuk ke dalam rumah.
"Tidak bisa Gabriel, kali ini aku harus mengejarnya!"
__ADS_1
Dokter Gabriel menghentikan langkahnya ketika mendengar kesungguhan Deo, lalu menyunggingkan senyum seraya berbalik badan.
"Kejarlah sampai kamu lelah. Kalau memang kamu yakin dia pilihan terakhirmu, buktikan padanya dengan kesungguhanmu yang sebenarnya," tegas dokter Gabriel.
"Baiklah, aku pergi dulu!" Deo akhirnya pergi dari rumah itu mengendarai mobilnya.
...----------------...
Sepanjang perjalanan Hyuna menangis, meluapkan segenap emosi yang saat itu sedang ia rasa. Bahkan perasaan seperti apa dan bagaimana pun sulit menjelaskannya sendiri.
"Sungguh menatapnya saja aku belum sanggup. Kenapa dia harus muncul tiba-tiba?" sesalnya dalam hati.
Ketika hendak mendekati restauran, Hyuna berhenti sejenak untuk menghapus air matanya. Bercermin dan memastikan kalau wajahnya tidak tampak seperti habis menangis.
Tanpa Hyuna sadar, Deo semakin mendekatinya di belakang. Ketika Hyuna hendak mengendarai sepeda motornya kembali, mobil yang dikendarai oleh Deo pun mendadak berhenti di depannya. Otomatis Hyuna langsung menarik tuas rem sangat kuat.
"Sial! Mobil siapa sih itu? Berani-beraninya memotong jalanku begitu saja!" Hyuna menggerutu merasa sangat kesal. Karena ia pun ingin segera sampai di restauran.
Lalu pemilik mobil itu pun turun dari kursi kemudi. Mata serta mulut Hyuna membulat bersamaan, lalu menarik napasnya sangat dalam.
Pria itu berjalan ke arahnya. "Turun. Aku ingin bicara padamu." Dalam sekejap sikapnya berubah menjadi sangat dingin. Apa ini bagian dari triknya supaya Hyuna merasa takut?
"Tidak mau! Aku masih kerja. Kalau mau bicara tunggu saja setelah aku selesai," tegas wanita itu menatap Deo dengan penuh keberanian. Hyuna kembali pada sifat dirinya.
"Tidak bisa! Aku maunya sekarang!" sergah Deo tetap pada pendiriannya.
"Terserah!" Hyuna tak ingin kalah. "Ternyata kamu tidak berubah, tetap egois! Tidak semua yang kamu mau bisa terkabul dalam petikan jari," lanjutnya sambil memicingkan matanya.
Deo menghempaskan napas kasar. Pria itu sadar, Hyuna berubah pasti karena dirinya juga.
"Kamu!" Jari telunjuknya mengarah ke wajah Hyuna, tak lama tangannya dikepalkan kembali. "Dasar tidak tahu terima kasih!" Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Deo.
Hyuna yang mendengar itu, hatinya semakin tergores. Akan tetapi menangis dan menunjukkan raut wajah sedih bukan pilihannya saat itu. Justru tatapan berani terus ia tunjukkan.
"Apa kamu bilang? Tidak tahu terima kasih?" sergah Hyuna diiringi hempasan napas kasar. Wanita itu tidak terima. "Kalau aku bisa memilih, lebih baik aku meregang nyawa daripada hidup justru malah bertemu dengan pria yang sangat egois sepertimu!" sarkasnya lalu napasnya pun sampai terengah-engah karena terlalu emosi.
__ADS_1
Deo berkacak pinggang lalu mengusap kasar wajahnya. Salah, dia benar-benar salah telah mengucapkan hal itu.
Dengan kerendahan hati, pria itu mencoba meredam emosinya. "Maaf ... " cicitnya. "Aku minta maaf," tambahnya.
Mata Hyuna masih berkaca-kaca dan sedikit memerah. Sebisa mungkin air mata itu ditahan, ia tidak ingin menjatuhkannya di depan pria yang sangat egois baginya.
"Lebih baik kemu pergi dari sini. Karena percuma kata maaf itu kamu ucapkan. Aku bukan boneka yang bisa kamu ambil dan buang sesuka hatimu. Baikmu diawal membuat rasa sakit yang sangat mendalam di hatiku!" Hyuna kemudian pergi darj hadapan Deo.
Pria itu juga ikut pergi dan menyusul Hyuna. Rupanya ia belum puas. Berhadapan dengan Hyuna kesabaran Deo sedang benar-benar diuji.
Walaupun sebenarnya Hyuna itu mudah untuk diatur dan diajak bicara. Namun karena sudah terlanjur merasa kecewa karena tidak dianggap, hatinya menjadi keras.
...----------------...
Di restauran, Deo sengaja memesan makanan dan duduk di meja yang berada disudut ruangan. Setengah jam berlalu, rasa bosan mulai menguasai dirinya. Ia masih tetap sabar.
Sementara Hyuna yang tahu akan keberadaan Deo di sana, sengaja mengambil lembur untuk bekerja satu hari full. Wanita itupun sengaja menghindari Deo, berharap dia bosan lalu pergi dari sana.
"Hyuna yang duduk di sana itu siapa sih? Kok dari pagi tidak pergi-pergi. Padahal sudah menghabiskan banyak makanan," tanya Angle merasa penasaran. Apalagi saat itu waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Entahlah, mungkin dia ingin menggemukkan badan makanya makan banyak," jawab Hyuna sekenanya.
"Sebenarnya dia itu tampan loh. Mukanya saja lihat deh, maskulin banget. Badannya juga bagus, berotot. Tapi kenapa dia malah mau menggemukkan badan?" Pandangan Angle tak lepas dari Deo. Wanita itu terkesima akan pria yang masih berstatus sebagai suami dari teman kerjanya itu.
"Aku tidak tahu, Angle. Lebih baik kamu tanyakan sendiri saja padanya," kata Hyuna seketika merasa kesal, terlebih jika Deo sejak tadi terus memperhatikannya.
Disisi lain, Deo yang merasa sedang dibicarakan pun akhirnya beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menghampiri Hyuna yang masih berdiri di belakang meja kasir.
Hyuna yang melihat itu merasa lega, ia mengira Deo akan pergi tanpa menghiraukannya. Sedangkan Angle justru kegirangan yang tanpa sadar menepuk kedua tangannya.
Malam itu, Deo jadi pelanggan terakhir berada di restauran tersebut. Hyuna langsung menarik tangan Angle supaya pergi dari sana karena sebentar lagi restauran akan ditutup.
Namun ketika Hyuna hendak masuk ke dalam ruangan khusus pegawai, Deo menghentikan langkahnya tepat di depan kasir.
"Tunggu!"
__ADS_1
Bersambung ....