
Pagi itu tidak seperti biasanya, Hyuna masih terlelap dibalik selimut warna pink yang tebal dan juga lembut. Siapapun yang melihat Hyuna terpejam saat itu, pasti merasa tidak tega untuk membangunkannya.
Termasuk Bora. Perawat itu membiarkan Hyuna menikmati tidurnya.
Mungkin karena pikiran wanita itu merasa lelah setelah semalaman berpikir keras terkait penawaran yang diajukan oleh Fabios. Emosi batinnya pun seakan terkuras. Sungguh ini merupakan hidup kedua setelah tidur panjangnya bagi Hyuna yang tidak mudah.
Tidak hanya itu, kantung matanya pun mulai terbentuk dan tampak menghitam. Bagaimana tidak? Dia baru saja tidur 2 jam menjelang pagi.
Tiba-tiba saja, pintu rumah itu terbuka. Bora yang saat itu tengah berada di dapur pun terkejut. Perawat itu segera pergi ke ruang tamu. Ternyata Deo yang datang.
"Pagi, Tuan," sapa Bora sambil menundukkan wajahnya.
"Hyuna mana, Sus?" tanya pria itu. Tampak raut kemarahan pada wajahnya.
"Di kamarnya Tuan, Nyonya belum bangun," jawab Bora. Dia bergidig ngeri karena Deo tampak menyeramkan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Deo langsung pergi ke kamar Hyuna. Pria itu sudah tampak rapih dengan toxedo berwarna hitam dengan kemeja putih serta sepatu pantofel yang juga berwarna hitam.
Deo seharusnya sudah berada di gedung aula pernikahan bersama Leika. Lantas apa yang membuatnya datang menghampiri Hyuna dan terlihat sangat marah? Apa ada masalah dengan pernikahannya? Atau ada sesuatu hal yang lain?
BRAK!!! (Suara pintu dibuka cukup kencang)
Karena saking terkejutnya dan nyawa terasa sudah berada di ubun-ubun, Hyuna terperanjat duduk di atas tempat tidur. Jantungnya pun berdetak sangat cepat, dan wajah polosnya melihat ke arah pintu.
"Kenapa kamu kesini?" tanya Hyuna ketika melihat Deo sudah rapih dan juga wangi berdiri di samping lemari.
Pria itu tidak langsung menjawabnya. Dia malah menutup pintu lalu menguncinya. Sontak perasaan Hyuna mendadak tidak baik-baik saja.
"Bertemu siapa kamu kemarin?" Deo bertanya balik dan terdengan ketus.
"Kemarin ... " Hyuna berpikir sejenak, sebab nyawanya terasa masih belum kumpul. "Oh, dia bilang ayahmu," jawabnya, polos.
"Apa yang kalian katakan?" Deo bertanya lagi. Pria itu terlihat semakin marah.
"Hanya memberitahuku tentang pernikahanmu hari ini," jawab Hyuna, terkesan acuh.
__ADS_1
"Tidak ada lagi?" Kali ini suaranya mulai penuh penekanan.
"Tidak." Hyuna menjawab sesantai mungkin. Walau sebenarnya ada ketakutan dalam hatinya melihat wajah Deo sudah memerah.
"Jujur Hyuna!" Entah apa yang diinginkan pria itu. Suaranya tiba-tiba meninggi tepat di samping telinga Hyuna.
"Ya, memang tidak ada. Dia ingin pernikahanmu dengan calon istrimu itu bahagia!" Wanita itu spontan berteriak. Sikapnya mengikuti alur perasaannya. "Itu saja." Kali ini dia bergumam.
Bagian dada Deo pun kembang kempis. Dia berusaha untuk meredam amarahnya. Terlebih ketika matanya saling bertemu dengan mata wanita yang ada di depannya itu sudah mulai berkaca-kaca.
"Tenang saja, hari ini aku tidak akan datang ke pernikahanmu. Aku sudah pernah bilang bukan? Kalau aku tidak akan pergi kalau bukan kamu yang menyuruhku melakukan itu," lanjut Hyuna dengan harapan Deo tidak akan mengambil keputusan apapun ketika sedang marah.
Kemudian ponsel yang ada di dalam saku celana pria itu bergetar dan layarnya pun menyala. Deo mengempaskan napas kasar sambil mengeluarkan ponsel tersebut. Dia berdecak ketika melihat tertera nama sang ayah pada panggilan itu. Dia pun menjawabnya.
"Iya, Dad ... " Deo kemudian terdiam, mendengarkan sang ayah berbicara. Sementara Hyuna merasa deg deg kan saat tahu orang yang menelepon suaminya itu. "Tunggu saja, aku akan segera ke sana." Sambungan telepon pun kemudian berakhir.
"Aku pergi dulu. Aku harap, ucapanmu itu bisa dipegang." Deo kemudian berbalik badan.
"Semoga acara pernikahanmu lancar," ucap Hyuna, terdengar enteng dan tanpa beban.
Hyuna menghela napas panjang. "Meskipun aku merasa cinta sendirian. Aku yakin suatu saat bisa memberi arti cinta padamu yang sesungguhnya. Semoga rasa sabar ini bisa mengantarkan kebahagiaan untukku. Entah akhir cerita kita yang seperti apa, itulah yang terbaik," gumamnya menatap nanar ke arah pintu kamar, seolah Deo masih ada di sana.
Sedangkan Deo berdiri di balik pintu. "Maaf Hyuna. Aku belum bisa memutuskan apapun. Meski aku juga belum tahu perasaanku seperti apa. Tetapi sudah ada Leika dalam hidupku selama sembilan tahun terakhir ini. Aku bahagia bersamanya sebelum ada kamu." Batinnya kemudian melangkahkan kakinya kembali.
Sementara di dapur, Bora merasa lega karena melihat Deo telah pergi keluar dari rumah tersebut. Perawat itu segera menghampiri Hyuna di kamar.
Saat membuka pintu, Hyuna sedang hendak merebahkan tubuhnya kembali.
"Apa kamu tidak apa-apa, Hyuna?" tanya Bora, merasa khawatir.
"Tidak, Sus. Aku merasa lelah sekali. Boleh aku tidur lagi?" Hyuna sudah merebahkan tubuhnya serta menarik selimut sampai batas dada.
"Boleh, tapi kamu sarapan sama minum obat dulu ya. Setelah itu boleh tidur lagi. Soalnya ini sudah siang loh, kasihan lambungmu belum diisi makanan sama sekali," jawab Bora sambil mengingatkan.
Hyuna pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Sus."
__ADS_1
Bora tersenyum mendengar persetujuan Hyuna. "Kalau begitu aku akan mengambilkan sarapan untukmu terlebih dahulu ya," katanya meminta izin.
"Iya, Sus," kata Hyuna seraya merubah posisinya menjadi duduk kembali.
...----------------...
Sementara di tempat lain. Seorang pria bersama kekasih hatinya telah resmi menjadi sepasang pengantin yang sah secara hukum.
Keduanya tengah tersenyum sumringah dengan mata berbinar di atas pelaminan yang dihiasi mawar merah segar. Mereka tampak serasi. Berdiri sambil berpegangan tangan sambil menunjukkan cincin yang dipakai di jari masing-masing kepada para tamu undangan dan juga awak media.
Sejak lama tidak pernah santer terdengar masa pacaran selebritis itu dengan sang pengusaha sukses. Lalu tiba-tiba saat berita pernikahan mereka naik ke permukaan, dunia seakan heboh.
Tidak sedikit para media yang menggoreng berbagai macam pemberitaan tentang mereka. Beruntungnya, tentang pernikahan Deo dan Hyuna sama sekali tidak tercium.
Kenapa? Ini semua karena Deo dan Fabios pun bekerja sama supaya berita diluar pernikahan yang sedang di gelar itu, berjalan dengan hikmat dan jangan sampai keluarga yang lain tahu. Termasuk Dovi, ibunya Deo sendiri.
"Selamat atas pernikahan kalian!" seru Zean yang datang bersama wanita, berjabat tangan dengan Deo dan juga Leika.
"Terima kasih, Zean," ucap Deo tampak bahagia.
Acara yang dilangsungkan selama 2 jam itu, berlangsung sangat meriah dan juga mewah. Tamu yang datang pun rata-rata dari kalangan selebritis, pejabat negara, serta kolega bisnis.
Namun disudut ruangan itu, berdiri seorang wanita mengenakan dress berwarna ungu lavender model span yang panjangnya hanya sampai pangkal paha, dengan bagian dada terbuka. Dia juga mengenakan aksesoris kalung, anting dan juga jam tangan bermerk, serta rambut yang sengaja digerai.
Dilihat dari sorot matanya, wanita itu memberi tatapan tidak suka serta sinis dengan sepasang pengantin yang ada di pelaminan itu.
"Sekarang kamu boleh memilikinya, Leika. Suatu hari, aku akan merebutnya lagi darimu!" ancamnya lalu tersenyum menyeringai.
Tanpa menunggu semua tamu undangan pergi dari tempat acara, wanita itu telah lebih dulu pergi. Dia merasaa tidak tahan melihat kebahagiaan sepasang pengantin itu. Dia iri dan juga dengki. Mungkin sebentar lagi, akan terjadi perang dingin antara dirinya dan juga Leika.
Bersambung ...
...****************...
__ADS_1