Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 55. Pergi Ke Hamburg


__ADS_3

Hyuna seperti mendapat angin segar setelah bertemu dengan dokter Gabriel. Ia merasa semangatnya tumbuh kembali ketika mendapat saran dari dokter Gabriel. Maka dari itu, bagi Hyuna tidak ada salahnya untuk dicoba.


Setibanya di rumah, Hyuna mulai memesan tiket pesawat menuju Hamburg melalui aplikasi. Sayangnya penerbangan satu jam ke depan sudah kehabisan tiket, yang tersisa hanya penerbangan di sore hari.


"Bukannya Deo akan pulang sore ini juga? Bagaimana nanti kalau aku bertemu dengannya?" gumam Hyuna bimbang.


"Ah, aku majukan saja ke malam. Sekalian aku ingin pergi ke restauran terlebih dahulu untuk bertemu Tuan Thomas supaya bisa mengambil cuti panjang lebih cepat," sambungnya, berharap kenyataan sesuai dengan rencananya.


Hyuna mulai mengemas beberapa pakaian kedalam koper berukuran delapan belas inch. Rencana setibanya di Hamburg, ia akan pergi ke apartemen terlebih dahulu sebelum menemui Deo di kantor esok hari.


Selesai berkemas tanpa mengganti pakaiannya lagi, Hyuna keluar dari rumah mengendarai sepeda motornya menuju restauran. Sepanjang jalan di sana cukup sepi, mengingat saat itu masih dalam jam kantor. Sementara para anak sekolah dan mahasiswa sudah libur lebih dulu.


Saat tiba di restauran, Hyuna disambut oleh Angle di dapur.


"Loh, Hyuna! kamu terlambat?" Wanita itu terkejut karena teman kerjanya baru tiba di restauran dan sudah melewati jam kerja semestinya.


"Tidak, sepertinya aku akan mengubah rencanaku untuk pengambilan cuti panjang ini," jawab Hyuna. Kedua tangannya ditautkan, sedangkan raut wajahnya tampak gelisah.


"Loh kenapa? kamu sedang ada masalah?" tanya Angle penasaran.


"Pesanan nomor dua puluh lima!"


Suara teriakan dari teman kerja Hyuna yang lain dari depan seketika memotong obrolan mereka.


"Sudah kamu bantu dia layani pesanan pelanggan dulu. Aku mau ke ruangan Tuan Thomas." Hyuna merasa sedikit lega.


"Ya sudah, dia baru saja masuk ke ruangannya," jawab Angle lalu pergi dari hadapan Hyuna.


Tampa mengulur waktu lebih lama lagi. Wanita itu segera pergi ke ruangan Tuan Thomas. Sebelum masuk, tidak lupa ia pun mengetuk pintunya terlebih dahulu.


"Permisi." Hyuna membuka pintu dan menyapa sopan ketika telah mendapat perintah dari dalam.


"Hyuna, ada apa?" Pria itu mengangkat sebelah alisnya merasa terheran-heran dengan kedatangan Hyuna ke ruangannya.


"Saya ingin bicara dengan Tuan," jawab Hyuna sedikit gugup.


"Duduklah!"


Hyuna patuh. Berjalan lalu duduk berhadapan pada pria itu.


"Begini Tuan." Hyuna melonggarkan tenggorokannya terlebih dahulu. "Mengenai cuti panjang, saya ingin mengambilnya mulai hari ini," katanya diiringi helaan napas panjang.


Pria yang ada di hadapannya mengernyit. "Loh! Tidak bisa seperti itu Hyuna. Bukannya kamu bilang akan diambil mulai akhir pekan ini?"


"I-iya Tuan. Tetapi saya mohon boleh ya? Soalnya saya ada urusan yang harus saya selesaikan." Hyuna menunjukkan wajah memelas.

__ADS_1


Pria yang ada dihadapannya merasa tidak tega. "Ya sudah kalau begitu. Kamu koordinasi dengan Angle supaya mau menggantikanmu."


Seketika senyum pun terbit dari kedua sudut bibir Hyuna. "Baik Tuan. Terima kasih banyak."


"Sama-sama."


Hyuna menunduk hormat. "Kalau begitu saya pamit Tuan, permisi."


Perasaan Hyuna begitu lega ketika telah mendapat izin dari Tuan Thomas. Ia pun segera menemui Angle dan memberitahukan semuanya. Angle pun paham lalu memberi semangat padanya.


Tak hanya pamit pada Angle, Hyuna juga pamit pada teman-teman yang lain.


"Sampai bertemu lagi setelah liburan semuanya!"


Hyuna melambaikan tangan seraya melangkahkan kaki pergi dari restauran itu. Ia pun kembali ke rumah.


...----------------...


Tiga jam perjalanan, akhirnya Hyuna tiba di apartemen. Ia merebahkan tubuhnya sejenak di atas kasur. Sementara matanya menatap ke sekeliling kamar yang masih tampak berantakan.


Terbesit dalam pikirannya ingin merapikan saat itu juga. Namun rasa lelah pada tubuhnya membuat niat itu diurungkan kembali.


Hyuna menghubungi pihak apartemen untuk menggunakan jasa cleaning service. Tak sulit baginya, pun dapat menggunakannya.


"Dari Green Clean?" tanya Hyuna memastikan.


Wanita bertubuh tambun dengan rambut ikal yang diikat satu berbentuk cepolan itu menganggukkan kepala. "Benar Nona."


"Silahkan masuk," kata Hyuna dengan ramah lalu memberi jalan pada wanita itu.


Sementara unit apartemennya di bersihkan, Hyuna memilih menunggu wanita itu selesai di balkon sambil merebahkan tubuh di atas kursi santai. Matanya menatap langit malam yang sedang dipenuhi para bintang.


Sesekali ia mengembuskan napas membiarkan oksigen masuk ke dalam paru-parunya. Perlahan rasa tenang merasuki jiwanya. Semakin lama matanya terpejam, namun bayangan tentang Deo membuatnya seketika membuka mata.


Bagi Hyuna hubungannya dengan Deo harus memiliki titik terang yang jelas. Mungkin besok akan jadi masanya yang terakhir. Entah berlanjut ataupun berakhir.


Masih belum terbayang pertemuannya dengan Deo besok akan seperti apa. Mengingat pertemuan mereka tadi pagi, sungguh membuat Hyuna semakin dirundung kebimbangan. Ia hanya takut jikalau saat pintu hatinya sudah terbuka, namun Deo menjauh lagi.


Satu jam sudah apartemennya dibersihkan, akhirnya selesai juga. Hyuna beranjak dari kursi santai itu, kemudian masuk ke dalam. Tak lupa iapun menutup kembali pintunya.


"Nona, semua telah saya bersihkan. Pakaian Anda juga sudah saya cuci dan juga jemur. Mungkin kalau ingin dipakai cepat, besok pagi juga sudah kering hanya tinggal di setrika uap saja," kata petugas cleaning service itu.


Melihat ke sekeliling Hyuna tersenyum karena seperti unit apartemen yang baru saja di beli. "Baik, terima kasih banyak sudah membantu saya," balas Hyuna dengan rasa hormat, lalu mengeluarkan sejumlah uang dari saku celananya.


"Tidak usah Nona. Sebab saya sudah diberi upah dari pihak apartemen ini," ucap petugas itu sambil menahan tangan Hyuna dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Tidak apa, anggap saja ini bonus untukmu. Ambillah."


Petugas itu menatap Hyuna dengan rasa sungkan, perlahan tangannya mengambil uang yang disodorkan oleh Hyuna.


"Terima kasih Nona."


"Sama-sama."


"Kalau begitu saya permisi, selamat beristirahat." Petugas itu menunduk hormat lalu pergi dari hadapan Hyuna sambil membawa alat kebersihannya.


Hyuna bernapas lega. Selepas kepergian pegawai itu, ia menutup pintu lalu menguncinya. Iapun bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihakan tubuh setelah perjalanan tadi.


Sementara Hyuna mandi, ponselnya terus berdering. Tertera nama Mama-nya yang memanggil. Akan tetapi, Hyuna tidak mendengarnya karena dinding kamar kamar mandi itu yang dipasang pengedap suara.


Tiga puluh menit berlalu, Hyuna telah menyelesaikan mandinya. Tubuhnya hanya ditutupi oleh handuk kimono serta handuk kecil yang melingkar di kepalanya.


Hyuna pergi ke kamarnya, lalu matanya tak sengaja melihat layar ponsel yang terus menyala dan juga berdering disertai getaran. Ia segera menghampiri.


"Mama!" serunya ketika melihat ke layar tersebut. Sesegera mungkin ia pun menjawabnya.


"Hallo Ma?" sapanya dengan hati-hati.


"Kamu darimana saja sih Hyuna? Mama tuh khawatir sekali loh sama kamu. Kenapa seharian sulit sekali dihubungi?"


Hyuna menyipitkan matanya. Ada rasa sesal dalam hatinya karena sampai tidak ingat ponselnya sempat dimatikan. Apalagi ketika berada di dalam pesawat.


"Maaf Ma. Hyuna ... Hyuna lagi ada di apartemen. Di Hamburg," jawabnya sangat hati-hati.


"Di Hamburg? Sedang apa kamu di sana Hyuna? Jangan bilang kamu mau menemui suamimu? Apa yanh telah membuatmu mencarinya sampai harus ke sana?" cecar Nestya merasa kesal sekaligus khawatir.


Awalnya Hyuna sempat ragu untuk bercerita. Namun akhirnya ia terbuka terhadap Nestya tentang apa yang baru saja terjadi padanya.


Perlahan hati Nestya sedikit tenang, iapun memahami serta berharap Deo bisa menjaga anak bungsunya itu.


"Ya sudah kalau memang itu yang terbaik. Yang terpenting, kamu harus bisa jaga diri ya selama di sana."


"Iya Ma. Ya sudah, Hyuna mau pakai baju terlebih dahulu ya."


"Iya."


"Bye Ma!"


Hyuna memutuskan sambungan telepon itu lalu pergi mengenakan pakaiannya. Setelah selesai, ia merebahkan tubuhnya lalu memejamkan mata.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2