
Disebuah meja dengan posisi kursi saling berhadapan.Terletak tak jauh dari jendela, di sanalah Hyuna dan Dave duduk. Keduanya baru saja selesai memesan makanan.
"Hmm, Hyuna," kata Dave sambil melipat kedua tangannya di atas meja.
"Ada apa?" tanya Hyuna menatap Dave cukup lekat.
"Apa impianmu saat ini?" Dave bertanya balik. Pria itu mulai membuka topik pembicaraan.
Hyuna menurunkan pandangannyanke arah meja sesaat lalu menatap Dave kembali. "Aku ingin segera lulus lebih dari universitas dengan nilai yang terbaik tentunya."
"Kamu yakin hanya itu?" tanya Dave seolah tidak percaya.
"Ya, apalagi? Memang hanya itu impianku saat ini." Hyuna menarik napasnya dalam-dalam.
"Memangnya berapa usiamu sekarang ini?" Dave mengerutkan keningnya.
"Ya ... intinya sudah kepala dua," jawab Hyuna dengan santai.
Sementara ditengah perbincangan mereka, makanan yang tadi dipesan pun akhirnya tiba. Pelayan yang mengantarkan pesanan, menaruh satu persatu ke atas meja. Setelah selesai, pelayan itu pergi.
"Oh ya ampun. Ternyata kamu masih muda sekali!" seru Dave yang juga terperangah.
"Iya ... " Dalam hati Hyuna ingin bercerita tentang siapa dia sebenarnya. Namun ia masih merasa belum saatnya. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah makanan. "Kelihatannya makanan ini sangat enak. Bagaimana kalau kita makan?"
Dave tersenyum simpul. "Oke, yuk!"
"Selamat makan!" seru Hyuna.
Setelah menghabiskan makanan, baik Hyuna dan Dave membersihkan mulut dengan sehelai kain yang tersedia di sisi kanan mereka.
"Dave, apa sih pengalaman pertamamu yang selama ini belum kamu lakukan selama jadi dokter spesialis jantung?" tanya Hyuna.
"Apa ya? Hmm ... Oh iya beberapa waktu lalu. Temanku datang dari Jerman. Dia bilang ada anak temannya yang masih sangat kecil. Mungkin usianya sekitar dua bulan, lebih tepatnya bayi," jawab Dave yang sedang nyaman menyadarkan punggunnya di sandaran kursi.
"Oh ya? duh kasihannya. Kalau boleh tahu kenapa itu?" Hyuna penasaran ingin tahu.
"Jadi bayi itu mengalami pembentukan jantung yang kurang sempurna dan baru ketahuan pas lahir. Entah mungkin karena saat trismester pertama ibunya tidak memperhatikan asupan serta vitamin, jadilah seperti itu. Sebab biasanya dalam trismester satu itu adalah masa yang sangat penting. Dimana pembentukan pada organ vital tubuh bayi terjadi pada masa itu," papar Dave dan membuat Hyuna pun paham.
"Lantas kalau sudah kasus seperti itu. Memang harus ada tindakan?" tanya Hyuna, raut wajahnya pun tampak serius.
"Aku belum tahu pastinya. Karena bayinya pun belum di bawa ke sini. Temanku bilang akan datang pada akhir pekan ini. Aku berharap bayi mungil itu bisa kuat," jawab Dave lalu menghela napasnya.
"Hah! Rasanya aku ikut khawatir. Semoga saja ya." Hyuna tersenyum simpul yang juga penuh harap. Kemudian ia melihat petunjuk waktu yang melingkar ditangannya. "Sudah pukul setengah sebelas malam. Pulang yuk!" ajaknya.
Namun tempat makan itu semakin malam justru semakin ramai.
"Memangnya kamu sudah benar-benar kenyang?" tanya Dave memastikan kembali.
"Sudah."
__ADS_1
"Okay ... Yuk pulang!"
Keduanya beranjak dari tempat duduk masing-masing lalu pergi ke kasir. Dave segera mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celana bagian belakang, lalu membayarnya.
Beberapa saat kemudian, mereka pergi ke tempat dimana mobil terparkir. Setelah ketemu, mereka pun masuk ke dalam.
"Hyuna, aku tuh sampai sekarang heran ya. Kok kamu mau ambil jurusan yang kebanyakan peminatnya para pria. Padahal menurutku, kamu cocok menjadi seorang sekertaris atau dokter," kata Dave saat mobil yang di kendarainya sudah berjalan pada jalur jalan utama.
Hyuna terkekeh pelan. "Entah, aku hanya mengikuti kata hatiku saja dan memang dari kecil aku senang mendesign model rumah dan juga dekorasinya."
"Oh ... Tapi setahuku biasanya di fakultas yang kamu ambil itu banyak sekali penawaran proyek dengan gaji yang begitu menggiurkan hanya untuk mendesign saja," kata Dave yang memang ia sudah lama di kampus itu.
"Oh ya? Wah semoga saja aku bisa mendapat tawaran itu. Sehingga setelah lulus kuliah nanti aku tidak perlu melamar pekerjaan!" seru Hyuna.
Wanita itu bahagia mendapatkan berita baik yang bisa berpeluang untuk dirinya.
...----------------...
Keesokan harinya, Hyuna datang ke kampus untuk melihat hasil yang diperolehnya setelah melakukan test selama lima hari kemarin.Wanita itu merasa deg-deg kan, sebab ia juga punya saingan dari kampus yang berbeda dengan jurusan yang sama.
Setelah tiba di sebuah ruangan dosen yang mengajar di kelasnya, Hyuna menarik napas dalam sebelum akhirnya mengetuk pintu.
"Permisi," kata Hyuna setelah membuka pintunya. Di dalam sudah ada tiga mahaswa lainnya yang juga sedang melaksanakan study banding. Ia bergabung dengan ketiga orang itu.
Dosen mulai membacakan hasilnya satu persatu. Kemudian keseluruhannya.
Hyuna terkejut bukan main, ia pun tidak menyangka. Apalagi ketika dosen memberikan hasilnya pada masing-masing milik mahasiswa tersebut. Setelah itu mereka di suruh keluar dari ruanganya.
Sementara itu wajah dari ketiga mahasiswa yang lain tampak kecewa dengan hasil yang di dapatkannya. Namun mereka tidak berkecil hati karena dengan terpilihnya ikut study banding saja, sudah sangat bahagia.
"Hyuna tunggu ... " Cegah dosen itu ketika Hyuna telah mengantri paling akhir untuk keluar ruangan.
"Iya ada apa Pak?" tanya Hyuna berbalik badan.
"Ke sini sebentar," jawab dosen itu sambil memberi kode dengan tangannya. Hyuna pun melangkahkan kaki mendekat ke arahnya yang masih duduk di kursinya.
"Sekarang saya mau kunjungan ke sebuah proyek di rumah sakit terbesar di sini . Kalau kamu ingin menambah ilmu, kamu bisa ikut dan bisa bertanya langsung pada arsitek yang bertanggung jawab pada proyek itu. Bagaimana?" tawar dosen itu.
"Benarkah Pak? aku boleh ikut?" tukas Hyuna merasa tidak percaya.
Dosen itu mengangguk seraya berkata, "Iya. Yuk kalau gitu!"
Mereka keluar dari ruangan bersamaan lalu pergi ke rumah sakit yang dituju.
...----------------...
Rumah sakit terbesar serta terlengkap di kita London memang sedang melakukan banyak renovasi serta pembangunan gedung baru guna meningkatkan infrastruktur dan juga penempatan alat medis yang canggih.
Hyuna beserta dosennya telah sampai di rumah sakit. Mereka langsung pergi ke tempat proyek pembangunan yang sedang berjalan. Tak lupa keduanya pun memakai helm serta rompi.
__ADS_1
"Pak Joy, sebenarnya proyek di sini bekerja sama dengan perusahaan apa?" tanya Hyuna sambil berjalan beriringan bersama dosennya.
"Dengan perusahaan tempat saya bekerja. Makanya saya selalu mengutamakan anak didik saya yang lulus bukan hanya akademik saja yang bagus, namun dalam segi keahlian pun nomor satu," jelas pria paruh baya itu. Keduanya tampak seperti ayah dan anak. Karena memang dosen yang sering dipanggil Joy itu juga memiliki anak perempuan yang sebaya dengan Hyuna.
"Wah enak ya. Lulus bisa langsung berkarir!" seru Hyuna tampak antusias.
"Kalau kamu mampu, tidak ada yang tidak mungkin. Meskipun nanti kamu kembali ke kampus asalmu, saya lihat kamu salah satu mahasiswa berbakat di bidang ini," kata Joy berpendapat sesuai data dan fakta karena memang ia yang menguji Hyuna secara langsung lima hari kemari.
"Aamiin, semoga prestasiku tidak turun sampai lulus nanti." Hyuna berharap.
"Berarti sekitar satu setengah tahun lagi ya kalau kamu mau mendapat gelar cumlaude. Bisa?" Joy menantang Hyuna.
"Bisa, Pak!" jawab Hyuna sangat yakin.
"Bagus ... " Keduanya telah sampai dan di sana asa seorang wanitaa berdiri mengawasi para pekerja. "Nah ini Anabella Dun, dia arsitek penanggung jawab proyek ini," kata Joy memperkenalkan Hyuna pada arsitek yang dimaksud olehnya.
"Ya Tuhan, ternyata arsiteknya wanita Pak!" seru Hyuna merasa takjub. "Suatu kebanggan bagiku bisa bertemu dengan Anda," katanya seraya mengulurkan tangan pada Anabella. "Hyuna Indira. Senang bisa berkenalan dengan Anda."
Dengan senang hati Anabella pun menyambut uluran tangan Hyuna. "Anabella Dun. Saya juga."
"Ya sudah lebih baik sekarang kalian berkeliling dan biarkan Anabella berbagi ilmu dengan mu. Hyuna," perintah Joy.
"Pak Joy ini bisa saja!" timpal Anabella seraya terkekeh. "Mari Hyuna akan saya antar berkeliling."
Ternyata menjadi seorang arsitek itu masih bisa tampak cantik dan berwibawa, seperti contohnya Anabella. Dia cantik, tinggi, berkulit putih dan rambut berwarna coklat tua. Apalagi polesan make up flawless pada wajahnya, membuat wanita itu tampak semakin berkelas.
Anabella menjelaskan secara detail mengenai ilmu arsitek yang sudah dia kuasai selama ini. Terlebih dulunya dia adalah murid terbaik Pak Joy di universitas yang sedang Hyuna tempuh selama study banding itu.
Di tengah serunya perbincangan mereka, Hyuna tiba-tiba ingin buang air kecil.
"Anabella, apa kamu tahu dimana toilet? aku sangat ingin sekali buang air kecil," kata Hyuna dengan bulu halus area tangan kakinya sudah berdiri.
"Duh, sepertinya kamu harus ke toilet dalam rumah sakit. Soalnya toilet yang ada disini belum bisa difungsikan," jawab Anabella dengan melengkungkan alisnya.
"Kalau ke dalam arahnya lewat mana?" Hyuna semakin merasa tidak tahan. Sementara itu, Anabella melihat ke sekeliling.
"Oh dari sini lurus, terus nanti belok kanan lurus saja. Setelah itu nanti kamu ketemu ruang operasi dan toiletnya persis di samping ruang operasi itu," jelas Anabella dan seketika Hyuna pun paham.
"Ya sudah terima kasih ya. Aku mau ke toilet dulu!" seru Hyuna lalu segera pergi dari hadapan Anabella.
Tidak butuh waktu lama, Hyuna pun menemukannya. Ia segera masuk ke dalam.
Setelah selesai, Hyuna merasa sangat lega. Ia pun keluar dari toilet. Terlebih ia tidak ingin sampai Pak Joy meninggalkannya sendiri di sana. Namun ketika dirinya baru saja keluar, tak sengaja Hyuna yang sedang memegang helm proyek, berpapasan dengan seseorang yang semalam baru sana makan malam bersamanya.
"Hyuna, sedang apa kamu disini?" tanya Dave yang saat itu baru saja selesai melakukan tindakan.
"Aku ... "
Bersambung ....
__ADS_1