
Sore hari waktu Birmingham. Hyuna sudah tampak lebih segar serta sangat berseri setelah mandi dan berganti pakaian. Terlebih melihat keadaan kamar yang juga rapih, tidak seperti di apartemennya.
Ia memilih duduk di balkon kamar sambil memandang perkebunan buah milik kedua orang tuanya yang cukup luas. Meski belum ada yang bisa di panen, tapi keindahannya tetap ada.
"Kenapa aku baru menyadari sekarang? Tinggal di rumahku sendiri jauh lebih nyaman dan aman" Hyuna bermonolog lalu menarik napasnya dalam-dalam.
"Rasanya hidupku yang kedua ini, begitu sangat berarti. Terima kasih Tuhan, kamu pilihkan orang baik seperti Deo di tengah jantungku hampir tidak berdetak lagi. Meski pada akhirnya, detakan awal yang begitu aneh menurutku itu, membuahkan perasaan yang sulit sekali ku artikan dengan kata-kata. Hingga aku merasa terjebak sendiri di dalam lingkaran yang seharusnya tidak aku masuki," ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba saja, notifikasi pada tablet-nya berbunyi. Hyuna segera bangkit untuk mengambilnya dan membawanya kembali duduk di balkon kamar. Setelah dilihat ternyata sebuah surat yang dikirimkan oleh kampus di Jerman, berisi tentang penghapusan data sebagai mahasiswi.
Bisa dihitung hampir dua semester Hyuna tidak ada konfirmasi apapun ke pihak kampus. Alhasil kuota yang seharusnya diisi oleh Hyuna tidak terpakai lagi.
Hyuna hanya menghela napas berkali-kali. Pandangannya menatap jauh ke depan dengan ditemani angin sepoi-sepoi di sore itu.
Ketika sedang asik menikmati langit senja di negeri tempat kelahirannya, tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahunya pelan. Hyuna terkesiap sekaligus terkejut.
"Mama ... " ucap Hyuna ketika Nestya duduk di sebelahnya.
"Kamu sedang apa? Kok melamun, ada yang lagu kamu pikirin?" tanya wanita paruh baya itu dengan suara lembut.
Hyuna menarik napasnya dalam-dalam. "Sebenarnya banyak hal yang ingin Hyuna sampaikan ke Mama. Tetapi, karena sebentar lagi masuk waktu makan malam. Nanti ceritanya setelah makan saja ya, Ma."
"Iya, tidak apa. Cerita saja ke Mama kapanpun kamu siap. Meskipun Mama sangat penasaran, tapi Mama tidak akan memaksamu," kata Nestya lalu mengelus rambut Hyuna sebagai tanda sayang.
"Terima kasih, Ma." Kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya sambil menatap sendu pada Nestya.
"Untuk?"
"Untuk semuanya." Hyuna langsung memeluk sang mama sangat erat. Begitupun dengan Nestya sendiri.
Ditengah harunya antara ibu dan anak, Boy yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya sepulang dari kantor datang menghampiri mereka.
"Aduh, kok mama saja yang dipeluk ... Papa juga dong," ledek pria itu seraya tersenyum lebar.
Kedua wanita yang ada di hadapannya itu langsung melepaskan pelukan mereka satu sama lain.
"Papa!" seru Hyuna sambil berdiri dan merentangkan kedua tangannya. "Aku rindu sekali sama Papa."
__ADS_1
"Papa jauh merindukanmu, Nak. Bagaimana kabarmu sekarang?"
Hyuna melepaskan pelukannya, berganti menggelayut manja di lengan Boy. "Aku baik Pa. Sangat baik, karena bisa bertemu kalian."
"Loh memang sebelumnya tidak baik-baik saja? Apa yang terjadi Hyuna?" Kini justru Boy yang segera ingin tahu.
"Papa ... " Nestya menatap Boy sambil menggelengkan kepala. "Lebih baik kita makan malam terlebih dahulu, yuk," sanggahnya.
"Ya sudah kalau begitu, ayok!" Boy pun akhirnya menurut apa yang dikatakan istri tercintanya.
Saat tiba di ruang makan, Hyuna melihat seorang wanita bersamai anak perempuan berusia sekitar dua tahun baru saja muncul dari ruang tamu.
"Kak Herya!" seru Hyuna mempercepat langkahnya menghampiri wanita yang tak lain adalah kakak kandungnya. Ia ingat, sebab wajah sang kakak yang mirip dengannya.
"Hyuna! Adikku ... " sahut Herya lalu memberikan anaknya kepada suaminya terlebih dahulu. Karena ia ingin memeluk sang adik yang telah lama hilang kabar.
Boy dan Nestya, begitu pula dengan Richi (suami Herya) merasa tersentuh dengan kakak beradik yang saling melepas rindu satu sama lain.
"Kakak apa kabar?" tanya Hyuna sambil melepaskan pelukannya.
"Kakak baik. Kamu bagaimana? Kemana saja selama ini? Kami sangat merindukanmu. Sudah ya, jangan tinggal jauh dari kami. Di Birmingham saja," bujuk Herya memasang raut wajah sedihnya.
"Cepat katakan, hanya saja apa?" Sang kakak memegang kedua lengannya, menggoyang-goyangkannya sampai tubuh Hyuna terkoyak. Namun Hyuna hanya terdiam sambil memberi tatapan ragu.
Nestya dengan cepat memisahkan mereka. "Herya, sudah ya. Hyuna juga baru sampai tadi pagi. Lebih baik sakarang kita makan malam ya. Setelah itu barulah kita bicara di ruang keluarga, okay?" usulnya sambil menatap kedua anaknya saling bergantian.
"Baiklah," jawab Herya sedikit kecewa. Akan tetapi tidak masalah baginya.
...----------------...
Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Televisi dibiarkan menyala namun dengan volume yang kecil supaya Noi (anaknya Herya dan Richi) bisa duduk manis saat menontonnya.
Saat itu, Hyuna duduk di sofa single. Sedangkan kakak dan kedua orang tuanya di sofa double.
"Hyuna, coba ceritakan pada kami. Hampir tujuh bulan kamu menghilang dan tidak ada kabar itu kemana dan bagaimana saja. Lalu sekarang bisa ada di sini?" tanya Boy dengan suara pelan.
Hyuna menghela napasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya angkat bicara untuk menjawab pertanyaan Papa-nya dan itu juga pertanyaan semua orang yang ada di ruang keluarga itu.
__ADS_1
"Awalnya ... " Hyuna menceritakan sedetail mungkin tanpa ada yang terlewat. Ia bercerita sesuai dengan apa yang ia dengar, lihat dan juga alami.
Mereka yang mendengarkan pun hanya menunjukkan respon dari raut wajah saja tanpa memotong ucapan Hyuna sama sekali. Bertahap dan mampu mengobrak-abrik rasa mereka.
Nestya sampai menangis di pelukan Boy saat mendengar apa yang disampaikan oleh anak bungsunya itu. Begitu pula dengan Herya.
"Sampai detik ini, aku masih berstatus seorang istri dari pria bernama Deo Ainsley." Itulah untaian kata terakhir ketika Hyuna menutup ceritanya.
"Ainsley? Apa dia pemilik Ainsley Grup?" tanya Richi untuk memastikan.
"Benar, Kak. Apa Kak Richi mengenalnya?"
"Tidak, Kakak tidak mengenalnya. Akan tetapi, perusahaan itu juga mulai berkembang di negara ini. Terutama di bidang kecantikan. Benar begitu 'kan Pah?" Boy mengangguk setuju akan jawaban dari Richi, menantunya.
"Oh begitu rupanya." Hyuna menghela napasnya lagi. "Sayangnya aku tidak tahu menahu soal itu. Bahkan sebenarnya aku ingin membatalkan pernikahan ini. Aku ingin melanjutkan kuliah yang sempat tertunda, tapi ... Entah," kata Hyuna seperti hilang arah tujuan.
"Kamu masih bisa kok kuliah di sini. Di negara ini, namamu masih bergabung dengan kami. Lagi pula pernikahan yang sedang berlangsung ini baru seumur jagung. Kalau kamu memang mau, kami bisa menyuruh seorang teman supaya pembalatan pernikahan itu diputuskan," jelas Nestya yang sejak tadi diam karena menangis, merasa kasihan dengan anak bungsunya itu. "Tapi ... " Tiba-tiba ia bicara namun seketika pula berhenti.
"Tapi apa Ma?" tanya Hyuna dengan cepat.
"Itupun kalau kamu memang tidak benar-benar mencintainya. Pria itu memang baik, tapi jika hubungan kalian tidak ada perubahan dan perkembangan ya untuk apa di pertahankan," jelas Nestya merasa sangat kecewa.
"Ya sudah, untuk hal itu biar nanti Hyuna ikut cari tahu terlebih dahulu. Sekarang yang terpenting, aku ingin daftar kuliah dengan fakultas sesuai dengan minatku." Hyuna mencoba meredam percikan amarah yang tersirat dari tatapan mereka.
Deo memang tidak sepenuhnya tidak salah. Hyuna pun sama. Lalu, siapa yang bisa menyalahkan sebuah perasaan? Jika hadirnya saja kadang tidak tahu pasti kapan datangnya dan kepada siapa menjatuhkannya.
Jika memang ada, coba uji dia. Jatuh cinta pada seseorang yang belum tentu mencintainya juga. Tantang dia, sejauh mana pengorbanan yang dia pertaruhkan kepada orang yang dicintainya itu.
Mereka pun akhirnya saling bertukar pandang lalu mengangguk bersamaan. Permintaan Hyuna yang satu itu di setujui oleh keluarganya. Terutama Nestya, baginya apapun yang membuat anak bahagia dan selagi mampu, ia pun akan berusaha mewujudkannya.
"Hyuna menurutku, jikalau kamu ingin tenang selama tinggal disini. Coba ganti semua akunmu. Siapa tahu suamimu itu sedang mencarimu 'kan? Apalagi setelah tahu kalau dia bukan orang sembarangan," usul Herya. Wanita itu ingin adiknya bisa fokus kuliah hingga selesai.
"Iya, nanti akan aku coba ganti Kak. Sekarang ini hanya ada tablet dan juga laptop, karena seperti yang kalian tahu. Aku tidak memiliki ponsel," kata Hyuna lalu menarik napasnya dalam-dalam.
"Nanti Papa belikan kamu ponsel baru sesuai yang kamu mau," timpal Boy yang seketika membuat Hyuna terperangah.
"Benarkah?" tukas Hyuna merasa bahagia. Boy pun mengangguk sambil tersenyum. Semua orang yang ada di ruang keluarga itu akhirnya ikut tersenyum, setelah tadi sudah banyak ekpresi wajah yang mereka tunjukkan.
__ADS_1
Karena malam mulai larut, akhirnya Herya dan keluarganya memutuskan untuk menginap. Dan semua penghuni rumah pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Bersambung ....