
Restauran steak yang cukup kenal di kota Birmingham, dipilih dokter Gabriel untuk makan malam bersama Hyuna. Meski awalnya sempat tidak mendapat meja, tapi rupanya keberuntungan masih berpihak padanya.
Setibanya di restauran itu, keduanya turun dari mobil. Dress casual yang dipakai Hyuna serta setelan kemeja dan celana jeans yang dipakai dokter Gabriel, membuat keduanya tampak seperti pasangan.
"Dok, tempatnya ramai sekali," kata Hyuna ketika mereka baru saja masuk ke dalam.
"Memang. Um ... apa kamu tidak suka dengan keramaian?" Dokter Gabriel bertanya balik.
"Oh tidak, hanya saja---"
"Kamu tenang saja, saya sudah memesan satu meja untuk kita berdua," sanggah dokter itu.
Hyuna seketika tercekat. "Oh baiklah kalau begitu."
Seorang pelayan wanita datang menghampiri mereka. "Selamat datang, bisa dibantu sebutkan pesanan meja atas nama siapa?"
"Gabriel Pardo."
"Baik," kata pelayan itu kemudian melihat ke layar tablet yang dipegang olehnya. "Atas nama Gabriel Pardo di meja nomor tiga puluh enam," lanjutnya.
"Mari saya antar." Kemudian pelayan itu berjalan lebih dulu. Kedua orang yang ada di depannya pun mengikuti.
Setelah tiba di meja, mereka duduk saling berhadapan. Lalu pelayan itupun mengambilkan menu yang berbentuk seperti buku.
"Silahkan di lihat terlebih dahulu, kalau sudah ingin memesan langsung saja catat di sini dan segera bayar ke kasir," kata pelayan itu sambil mengeluarkan selembar kertas polos seukuran nota kecil serta sebuah bolpoin.
"Baik, terima kasih," ucap dokter Gabriel dan Hyuna bersamaan. Lalu pelayan itu menunduk hormat dan pergi dari hadapan mereka.
"Silahkan Hyuna. Kamu pilih dahulu," titah dokter Gabriel dan dijawab anggukkan kepala oleh wanita yang duduk di hadapannya.
Beberapa saat kemudian, dokter Gabriel sudah kembali ke meja setelah membayar di kasir. Seketika suasana diantara mereka hening.
"Ehem .... " Hyuna melonggarkan tenggorokannya. Sebenarnya ia paling tidak suka berada di kondisi saat itu. "Dok," panggilnya membuat pria yang di hadapannya itu mengalihkan pandangan ke arahnya.
__ADS_1
"Ada apa Hyuna?" tanya dokter Gabriel memberi tatapan yang cukup dalam.
"Aku boleh tanya sesuatu tidak? Sedikit menyangkut hal pribadimu. Tetapi jika Dokter tidak nyaman, tidak apa-apa kok kalau tidak dijawab," kata Hyuna berhati-hati.
"Silahkan, saya orangnya santai kok. Mau tanya apa saja bebas," jawab dokter Gabriel dengan sikap santainya mampu mencairkan suasana yang sempat membeku.
"Sebenarnya Dokter itu sudah menikah belum? Ya, aku hanya takut ... Di sini, makan berdua sama Dokter, eh tahu-tahu ada yang datang menghampiri kita dengan raut wajah kesal," tanya Hyuna seraya terkekeh.
Mendengar apa yang dibicarakan oleh Hyuna, dokter Gabriel justru malah tertawa lepas. "Tidak, saya sama sekali belum menikah dan sedang tidak dekat dengan wanita manapun. Tapi tidak tahu ya kalau diam-diam ada yang mengagumi saya," katanya sedikit merasa percaya diri.
"Oh begitu ya Dok." Hyuna ikut tertawa. "Lalu kenapa Dokter belum menikah? Padahal kalau kata suster Bora, usia Dokter sudah matang," lanjutnya.
"Saya hanya belum siap. Karena bagi saya, menikah itu bukan hanya merubah status yang tadinya sendiri jadi berdua. Saya hanya mau jikalau nanti saya menikah, alasan terbesar saya yaitu ingin hidup bahagia bersama pasangan yang saya cintai dan mencintai saya," jelas dokter Gabriel. Sementara Hyuna yang tadinya sangat antusias ingin mendengar jawaban dokter itu, seketika raut wajahnya menjadi datar.
Menyadari ada perbedaan pada raut wajah Hyuna, dokter itu mencoba untuk mengembalikan keadaan.
"Meskipun saya tahu pasti, setelah pernikahan juga tak selalu mengantarkan pada kebahagiaan. Yakinlah, selama hidung masih bisa bernapas, kaki masih sanggup berjalan, selama itu pula banyak cara untuk menemukan kebahagiaan itu sendiri."
"Ya, Dokter benar. Sampai detik ini aku merasa bersyukur karena masih dikasih kesempatan itu. By the way, Dokter anak keberapa dari berapa saudara?" Hyuna mengalihkan pembicaraan ke hal lain.
Dokter Gabriel tersenyum. "Saya anak tunggal dan orang tua sudah tiada. Mereka mengalami kecelakaan ketika hendak datang ke acara wisuda saya beberapa tahun silam." Saat itu bergantian, raut wajahnya murung seketika.
Rasa sedih yang sempat menghampiri, segera mungkin ditepis olehnya. "Tidak apa-apa Hyuna. Its ok." Dokter itu pun tersenyum.
Tak lama kemudian, makanan yang sebelumnya mereka pesan pun telah datang. Pelayan mulai menaruh satu per satu ke atas meja.
"Lebih baik kita makan terlebih dahulu yuk!" ajak dokter Gabriel dan Hyuna pun mengangguk setuju.
...----------------...
Setelah selesai makan malam, masih ada setengah jam menuju jam sembilan malam. Keduanya pun telah berada di dalam mobil dengan sabuk pengaman yang telah terpasang pula.
"Sebelum mengantarkanmu pulang ke rumah, ada tempat yang ingin kamu kunjungi, Hyuna?" tanya dokter Gabriel.
Hyuna menutup sebelah matanya bersamaan dengan bibir yang sengaja ditarik ke satu sisi. "Sepertinya tidak ada, Dok. Aku juga kebetulan masih ada tugas kampus yang harus dikumpulkan besok," jawab wanita itu apa adanya.
"Oh begitu. Ya sudah berarti saya antar ke rumahmu sekarang ya?"
__ADS_1
"Iya, Dok."
Suasana malam di kota Birmingham sangat sepi. Mengingat malam itu bukan malam akhir pekan. Apalagi sepanjang jalan dari restauran menuju tempat tinggal Hyuna, tidak ada kendaraan yang berlalu lalang kecuali mobil yang di kemudikan oleh dokter Gabriel.
Kecepatan mobil yang hampir diatas rata-rata pun akhirnya berhenti di depan tempat tinggal Hyuna. Keduanya pun turun bersamaan.
Hyuna mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam rumah. Saat pintu terbuka, ternyata Nestya yang muncul dari pintu tersebut.
"Eh ternyata kalian sudah pulang," kata Nestya.
"Iya Nyonya. Saya ingin berterima kasih telah mengizinkan membawa Hyuna makan malam," sahut dokter Gabriel.
"Sama-sama, Dok. Saya juga berterima kasih telah mengantarkan anak bungsu saya ini pulang dengan selamat," timpal Nestya sambil tersenyum.
Dokter Gabriel pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu saya pamit pulang ya Nyonya, Hyuna," katanya kemudian berpamitan dengan mereka.
"Hati-hati dijalan Dok! Terima kasih atas makan malamnya," seru Hyuna menyunggingkan senyum sumringahnya.
"Sama-sama, permisi." Dokter Gabriel pun pergi dari sana lalu bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukannya. Tak lupa ia pun menyalakan klakson sebelum benar-benar pergi dari halaman rumah.
Setelah mobil yang dikendarai doktee Gabriel menghilang dari pandangan, ibu dan anak itu pun masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana makan malam dengannya? Apa menyenangkan?" tanya Nestya merasa penasaran.
"Hmm ... Lumayan," jawab Hyuna singkat. Sayangnya Nestya tidak merasa puas akan jawaban anak bungsunya itu.
"Lumayan bagaimana maksudnya Hyuna? Coba dong ceritakan pada Mama," bujuk Nestya yang terus mengikuti Hyuna sampai masuk ke dalam kamar.
"Intinya, lumayan menyenangkan Mama. Hanya itu. Selebihnya kami hanya berbincang biasa saja," papar Hyuna. Sementara Nestya hanya menghela napas panjang.
"Ya sudah kalau begitu. Mama harap dari yang sedang kamu alami saat ini, bisa segera mendapat titik terang kedepannya akan seperti apa," kata Nestya dengan kelembutan hatinya.
"Aamiin, Ma. Terima kasih banyak untuk segalanya." Hyuna merasa terharu, ia pun langsung memeluk Mama-nya sangat erat.
"Sana bersih-bersih, ganti pakaian terus istirahat," kata Nestya menyuruh Hyuna.
Pelukan pun terlepas. Hyuna mengangguk dan Nestya keluar dari kamar seraya menutup pintunya kembali.
__ADS_1
Bersambung ....