Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Sequel - 12


__ADS_3

Hyuna terkejut saat mendengar suara pria yang tak asing di telinganya. Wanita itu menoleh dan memposisikan tubuhnya menjadi berhadapam dengan pria yang ada di depannya.


"Aku sedang ikut Pak Joy untuk mengunjungi proyek pembangunan gedung baru di rumah sakit ini," jawab Hyuna. Melihat Dave memakai jas putih serta baru menyadari keadaan di sekelilingnya, ia tercekat.


Tiba-tiba disekujur tubuhnya merasakan hawa panas bercampur dingin. Hyuna memberi tatapan kosong ke arah Dave. Alam bawah sadarnya seakan berada pada masa itu. Masa dimana Hyuna terbaring lemah dalam keadaan tidak sadar di ruang ICU.


"Hyuna ... " Dave melambaikan tangannya melihat wanita cantik yang ada di depannya itu seketika tertegun.


Hyuna terkesiap lalu menatap Dave. "Aku tidak apa-apa kok," katanya seraya tersenyum.


"Syukurlah. Tetapi, aku lihat dari raut wajahmu seperti ada trauma. Ada apa?" tanya Dave yang menyadari hal itu. Tak diduga, tangannya meraih tangan Hyuna lalu mengecek denyutan nadi yang ada di pergelangan tangan wanita itu.


Hyuna terperangah sambil menatap wajah tampan Dave. Dengan cepat ia menarik tangannya. "Aku sungguh tidak apa-apa Dave."


"Dia mungkin trauma akan rumah sakit. Karena dia pernah mengalami peristiwa yang hampir saja meregang nyawanya."


Seketika Hyuna dan Dave menoleh ke sumber suara.


"Dokter Gabriel," gumam Hyuna pelan namun masih bisa di dengar oleh Dave.


"Kamu mengenalnya Hyuna?" tanya Dave menatap wanita cantik itu seakan tidak percaya.


"Dia ... Dokter yang dulu merawatku hingga pulih," jawab Hyuna sambil menatap Gabriel dan juga Dave saling bergantian.


"Memangnya kamu mengalami peristiwa apa?" Dave semakin penasaran. Pria itu tampak antusias ingin mendengar yang sebenarnya. "Bisakah diantara kalian ada yang mau memberitahuku?" tanyanya lagi.


"Jadi ... " Hyuna pun menceritakan kepada Dave tentang masa lalunya. Meski tidak detail, namun secara garis besar sudah mampu membuat Dave paham. Namun satu hal yang belum siap Hyuna ceritakan, tentang masalalunya bersama Deo.


"Kurang lebih seperti itu Dave," timpal Gabriel membenarkan.

__ADS_1


"Pantas saja, wajahmu berubah drastis. Tapi apa saat masuk ke toilet kamu tidak sadar?" tanya Dave.


"Tadi aku sangat terburu-buru karena sudah tidak tahan ingin buang air kecil. Apalagi toilet di rumah sakit ini tidak seperti di rumah sakit pada umumnya, melainkan seperti toilet di rumah," jawab Hyuna sedikit malu-malu.


Gabriel dan Dave pun saling bertukar pandang.


"Oh iya Dokter Gabriel ini teman kamu, Dave?" tanya Hyuna mulai curiga.


"Oh iya, benar. Katanya ada anak temannya yang sedang membutuhkan bantuanku. Kamu ingat yang semalam aku ceritakan padamu?" kata Dave mencoba membuat Hyuna mengingatnya kembali.


"Tentang bayi dua bulan yang memiliki kelainan jantung?" tanya Hyuna memastikan.


Di situ perasaan Gabriel sedikit gelisah. Pikirannya pun berkecambuk karena temannya yang dimaksud itu adalah bagian dari masa lalunya Hyuna.


"Iya, jawaban yang tepat!" seru Dave sambil tersenyum lalu mengacak rambut Hyuna. Seketika raut wajah wanita itu merengut, menatap tidak suka.


"Dave! Aku baru saja merapikan rambutku loh!" ujar Hyuna dan langsung merapikan rambutnya kembali.


Namun Hyuna tidak menghiraukannya. Wanita cantik itu fokus merapikan rambutnya kembali. Sementara Dave menoleh ke arah Gabriel yang sejak tadi hanya diam memperhatikan mereka.


"Bagaimana Gabriel, apa Tuan Deo sudah siap untuk melakukan tindakan pada anaknya?" tanya Dave. Raut wajahnya tampak serius.


Deg!


Detak jantung Hyuna seolah berhenti beberapa saat. Matanya membulat menatap Dave dan juga Gabriel.


"Anaknya Deo? itu artinya Deo akan ke sini besok bersama Leika dan juga anak mereka? Aish! sepertinya setelah mendapat sertifikat, aku harus segera pulang ke Birmingham. Aku tidak ingin bertemu dengan mereka," kata Hyuna dalam hatinya.


Gabriel melirik ke arah Hyuna yang berdiri seolah tidak bernapas. Persis seperti patung. Namun dokter tampan itu tetap langsung menjawab pertanyaan dari Dave.

__ADS_1


"Dia bilang sudah siap. Karena selama dua hari terakhir, anaknya semakin sering menangis. Bisakah kita jadwalkan tindakan operasi itu secepatnya?" usul Gabriel. Meski raut wajahnya juga serius, namun lirikan matanya sesekali ke arah Hyuna untuk memastikan kalau wanita yang masih berdiri tak jauh darinya itu baik-baik saja.


"Tentu, lebih cepat akan lebih baik. Aku sarankan untuk tiba di sisi pagi hari. Karena sebelum tindakan pun harus melewati beberapa tahap pengecekan, guna meminimalisir ternjadinya hal-hal yang tidak di harapkan," jelas Dave. Pria iti menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Baiklah nanti akan aku sampaikan padanya," kata Gabriel lalu melirik ke arah Hyuna kembali. Namun semakin lama Dave tersadar akan lilirikan mata temannya itu pada Hyuna.


"Kenapa kamu terus melirik ke arah Hyuna?" tanya Dave mencoba menerka.


Saat menyadari Dave melihat ke arahnya, Hyuna terkesiap dan berusaha bersikap senormal mungkin.


"Tidak apa-apa," jawab Gabriel. "Kalau begitu aku permisi terlebih dahulu Dave, dan ... Hyuna." Ia pamit lalu pergi dari hadapan kedua orang yang ada di depannya.


Setelah Gabriel pergi, Dave menoleh ke arah Hyuna. Posisi mereka saat itu masih sama, saling berhadapan.


"Sepetinya banyak hal yang kamu sembunyikan dariku. Ada apa Hyuna?" tanya Dave menatap wanita itu sangat lekat dan dalam. Pria itu berusaha mencari jawaban lewat mata Hyuna.


"Maaf Dave, aku belum bisa bercerita sekarang. Sebab, traumaku baru saja pulih, dan kamu tahu? Usahaku untuk bangkit dari masa lalu yang sulit bagiku itu tidak mudah. Butuh proses yang panjang ... " Hyuna menghela napasnya. "Rasanya untuk mengingatnya lagi pun aku tidak sanggup," pungkas wanita itu.


Dave tidak bisa memaksakan. "Baiklah, tidak apa-apa. Lagi pula bukan ranahku untuk tahu segalanya tentangmu."


"Terima kasih sudah mengerti," balas Hyuna merasa lega. "Dave ... Sepertinya aku harus kembali ke tempat proyek. Aku tidak enak kalau Pak Joy dan Anabella menungguku terlalu lama. Permisi," lanjutnya kemudian pergi dari sana.


Hyuna melangkahkan kakinya dengan langkah pasti. Meskipun ada Dave di hidupnya saat itu, namun tetap saja pria itu belum bisa benar-benar meluluhkan hatin Hyuna.Sementara pria tampan itu pergi ke ruang kerjanya di rumah sakit itu


Ketika hendak menghampiri Joy. Tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang. Tubuh Hyuna berputar dan hampir saja terjatuh. Ia berusaha mencari keseimbangan. Namun ternyata seseorang itu membawa Hyuna masuk kedalam ruang kosong yang belum selesai dikerjakan.


Mata Hyuna membulat dan ia pun merasa terkejut. Bagaimana bisa orang yang ada di depannya itu bisa menyusulnya sampai ke proyek? Atau jangan-jangan orang itu memang sengaja mengikutinya?


Beragam pertanyaan muncul di benak Hyuna. Tak hanya itu, berbagai asumsi pun terus ia lontarkan dalam hati untuk mencari tahu sendiri jawabannya.

__ADS_1


"Ada perlu apa?"


Bersambung ....


__ADS_2