
Pagi itu, Hyuna baru saja selesai bersiap untuk pergi ke kampus. Semangatnya sungguh luar biasa. Apalagi polesan make up tipis pasa wajahnya, membuat Hyuna tampak lebih segar.
"Mona, kamu sudah selesai?" tanya Hyuna berdiri di belakang Mona yang masih menyisir rambutnya.
"Sudah kok. Yuk berangkat!" ajak Mona seraya beranjak dari kursi.
"Kita mau sarapan dahulu atau bagaimana?" tanya Hyuna lagi lalu memakai tas ransel di punggungnya. Sedangkan Mona hanya memakai totebag yang dikaitkan pada salah satu bahunya.
"Pasti dong sarapan dahulu, itu lebih penting. Soalnya aku takut kurus," seloroh Mona sambil berkacak pinggang di depan cermin.
"Memangnya kalau kamu kurus kenapa?" Hyuna mengangkat sebelah alisnya.
"Takut para ciwi-ciwi di kampus pada iri sama aku," jawab Mona yang sangat percaya diri.
Hyuna tersenyum simpul. "Iya deh aku percaya. Yuk berangkat!" ajaknya dan Mona pun mengangguk.
Mereka telah janjian sebelumnya dengan Evan bertemu di depan asrama. Namun saat mereka sudah berada di tempat, Evan belum ada di sana.
"Si Evan kemana sih? Aku telepon dulu deh!" kata Mona sambil berdecak.
Sementara Hyuna menoleh ke kanan dan kiri, siapa tahu Evan tiba-tiba muncul. Pikirnya demikian.
"Gimana? Ada jawaban tidak?" tanya Hyuna saat melihat wajah Mona yang mulai kesal.
"Tidak dijawab. Kita duluan saja yuk!" Mona tidak mau menunggu lebih lama lagi. Panggilan itupun diakhiri olehnya lalu dimasukkan ke dalam tas.
"Ya sudah. Ayuk."
Namun baru saja mereka berjalan, Evan muncul dari arah gerbang utama kampus dengan napas yang tersengal-sengal ditambah kening yang bercucuran keringat.
"Tunggu!"
Kedua wanita yang ada di depannya itu langsung menghentikan langkah dan berbalik badan bersamaan.
"Kamu darimana saja sih Van? Sudah siang ini, kami tuh sudah lapar ingin sarapan!" gerutu Mona yang sangat kesal. Sementara Hyunq hanya bersikap biasa saja. Dari sana ketahuan bukan siapa yang lebih lapar sebenarnya? jelas Mona.
"Maaf, tadi aku habis ketemu sama senior satu fakultas denganku," kata Evan yang masih berusaha menetralkan napasnya.
"Wanita?" tanya Hyuna.
Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum lebar hingga menampakkan barisan gigi rapi dan bersihnya. "Iya, hehe .... "
Mona memutar malas bola matanya. "Masih pagi juga Van. Setelah selesai mata kuliah hari ini 'kan bisa," sergahnya lalu berbalik badan lagi dan melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Ya sudah lebih baik kita sarapan, sebentar lagi jam mata kuliah pertama akan dimulai," kata Hyuna berusaha melerai.
"Iya." Evan berjalan di belakang mereka. "Wanita kalau lagi lapar mengerikan juga ya," gumamnya dengan suara pelan, namun tetap saja dapat didengar oleh kedua orang wanita yang ada di depannya.
Akan tetapi mereka tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Evan barusan.
...----------------...
Selesai mata kuliah terakhir di hari ini, Hyuna memilih segera pergi ke asrama untuk mengambil pakaian milik Dave dan dikembalikan kepada pemiliknya.
Setelah bangun tidur tadi, pakaian itu sudah selesai disetrika olehnya. Maka dari itu Hyuna memang sengaja tidak membawanya dan ingin mengembalikannya dengan bertemu di luar area kampus, guna menghindari adanya berita yang tidak mengenakan.
Sesaat setelah memasukkan pakaian itu ke dalam paperbag, Hyuna mencoba menghubungi Dave melalui nomor yang kemarin sempat mengirimkan pesan padanya.
"Kenapa lama sekali menjawab teleponku?"
Berkali-kali Hyuna mencoba memanggil nomor pria itu, namun tidak kunjung ada jawaban. Akhirnya ia duduk di tepi tempat tidur dengan paperbag yang ada di sebelahnya.
"Apa mungkin dia sedang sibuk?" Hyuna berpikir sejenak.
Tiba-tiba saja ada sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Hyuna.
[Unknown : Saya baru saja selesai tindakan. Kalau kamu mau mengantarkan pakaian milik saya, taruh saja di ruangan saya di kampus.]
Wanita itu melepas tas ranselnya. Ia hanya menggunakan almamater kampus lalu membawa paperbag. Kemudian ia pun keluar dari kamar.
Sementara itu, Mona tidak memberi kabar apapun terhadap Hyuna. Wanita itu pikir kalau Mona masih ada kelas ataupun kegiatan lain.
Sepanjang jalan Hyuna sengaja memperceoat langkahnya, ia tidak ingin menjadi perhatian mahasiswa yang ada di sana. Terlebih ketika hendak memasuki area fakultas kedokteran, mayoritas mahasiswa di sana adalah wanita. Kebetulan juga kelas yang letaknya berada di samping ruangan Dave itu banyak mahasiwa yang berada di luar.
Hyuna sampai menundukkan wajahnya. Namun ketika tiba di depan pintu, ia tidak langsung masuk ke dalam. Tatakrama pun tetap ia pakai meskipun ia tahu kalau Dave tidak ada di dalam.
"Hei, mau apa kamu masuk ke ruangan pak Dave?"
Hyuna tersentak ketika ia baru saja berhasil membuka gagang pintu, lalu mendapatkan pertanyaan dari salah seorang wanita yang berdiri tepat dibelakangnya. Hyuna langsung berbalik badan kemudian tersenyum.
"Aku hanya ingin mengantarkan barang yang tertinggal kemarin ... Pak Dave itu pamanku," jawab Hyuna terpaksa berbohong.
Memang sih kalau dilihat dari wajah, Dave masih cocok menjadi pamannya Hyuna. Apalagi pakaian yang selalu digunakanya itu selalu casual. Tak ayal predikat pria tampan dan mapan pun terdapat pada pria itu.
"Kamu serius? Tidak bohong 'kan?" tanya wanita berambut pirang itu lagi sambil bersilang dada.
"Benar, aku tidak bohong. Kalau kamu tidak percaya tanyakan saja pada pak Dave," jawab Hyuna terdengar meyakinkan.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu." Wanita itu pun pergi dari hadapan Hyuna.
"Untung saja dia percaya," gumam Hyuna sambil menempaskan napas lega.
Ia kemudian buru-buru masuk ke dalam untuk menaruh paperbag itu lalu keluar lagi dan menutup pintu. Setelah di rasa tidak ada yang menegurmya lagi, Hyuna melangkahkan kakinya kembali ke asrama.
...----------------...
Malam pun tiba, seperti biasa Mona dan Evan pergi ke tempat favorite mereka untuk berkumpul. Namun malam itu Hyuna memilih tetap di asrama untuk mengulas pelajaran yang hari ini telah dipelajarinya di kelas.
Wanita itu tidak ingin mengulang kesalahan dimasa lalu. Terutama bertemu dengan orang seperti yang pernah ada di masa itu juga. Baginya hidup setelah lepas dari Deo, sangat lebih indah. Jangan ditanya mengenai tentang perasaan padanya untuk Deo. Tentu sudah tidak ada lagi.
Semakin lama rasa kantuk mulai menguasai dirinya. Tanpa sadar Hyuna tertidur dengan posisis duduk, tangan dilipat di atas meja sebagai alas kepalanya.
Disaat ia tengah terlelap, deringan ponsel yang sebelumnya ada di atas meja belajar membuatnya terlonjak kaget. Kepalanya seketika merasa pening.
"Siapa sih yang telepon? Mengganggu orang tidur saja!" gerutunya lalu melihat ke layar ponsel yang masih menyala.
"Halo?" Hyuna menjawab dengan suaranya yang khas orang baru bangun tidur.
"Kamu ketiduran atau memang sudah tidur?"
"Ap-apa?" Hyuna terkesiap, kesadarannya langsung pulih dalam sekejap ketika mendengar suara pria yang dikenalinya di seberang telepon.
"Hei, aku tanya. Kok kamu tidak jawab?"
"Maaf, maaf. Aku ketiduran ... Dave."
"Sudah kenal suaraku rupanya."
Hyuna mengerutkan alisnya lalu menjauhkan ponsel dari telinganya untuk memastikan kalau yang menelepon itu benar Dave.
"Ada apa meneleponku malam-malam gini?"
"Hmm, saya ... Maksudnya aku hanya ingin bilang terima kasih padamu karena telah menepati janjimu dengan baik."
"Oh iya sama-sama. Ada lagi yang mau disampaikan?"
"Tidak, itu saja. Maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu. Selamat malam."
"Iya, selamat malam." Hyuna kemudian memutuskan sambungan telepon itu.
Entah kenapa wanita itu merasa degub jantungnya tidak seperti biasanya. Aneh, dan sulit diutarakan oleh kata-kata. Apa Hyuna jatuh cinta pada Dave?
__ADS_1
Bersambung ....