
"Jadi, kalau seandainya suatu hari cintanya tidak pernah jatuh kepadaku ... Apa itu sudah pertanda kalau aku harus pergi dari hidupnya?" Hyuna menatap mata Bora semakin dalam. Wanita itu sedang mencari jawaban di sana. Sebuah jawaban yang belum juga dia pahami dalam hatinya.
"Hyuna, untuk hal itu ... " Bora mendesah pelan, lalu berkata lagi, "Aku tidak bisa menjaminnya. Sebab hanya kamu yang bisa merasakan bagaimana hatimu bisa menerima kenyataan itu atau tidak? Tentunya, hal itu pun tergantung bagaimana pula dirimu bisa menarik perhatiannya? Bukan hanya sekadar rasa iba lagi darinya, tapi itulah cinta yang sebenarnya." Bora memberikan senyumannya. Tersirat dalam tatapannya, berharap agar Hyuna tidak pantang menyerah.
Hyuna menghembuskan napas panjang. Tatapannya teralihkan ke arah lain. Dia seolah kehabisan kata-kata. Karena dia sendiri pun merasa bimbang tentang akhir sebuah rasa yang membuat semuanya rumit.
"Daripada murung, lebih baik kita berjalan-jalan yuk! Supaya pikiranmu segar, jiwamu sehat, serta ragamu pun bisa lebih kuat lagi. Dan kamu bisa segera berjalan sepertiku!" seru perawat itu dan Hyuna masih tampak menimbang-nimbang.
Setelah cukup lama berpikir, Hyuna pun mengangguk sambik tersenyum menatap Bora kembali, tanda setuju.
"Yeay! Gitu dong," seru Bora lagi.
"Sus, tapi aku .... " Sakit dikepala Hyuna tiba-tiba menyerang hebat. "Ish!" Dia merintih sambil kedua tangannya reflek memegangi kepala.
"Hyuna, kamu kenapa?" tanya Bora yang mulai khawatir. Karena selama hampir satu bulan ini Hyuna bahkan hampir tidak pernah mengeluhkan sakit pada bagian kepalanya. Perawat itu segera membantu Hyuna untuk masuk ke dalam kamar.
Rasa sakit itu semakin kuat bahkan hidung Hyuna sampai mengeluarkan darah. Dengan segera, Bora melakukan pertolongan pertama.
Hingga dirasa darahnya sudah tidak sebanyak di awal, Bora pun memanggil dokter Gabriel untuk memeriksakan kondisi Hyuna lebih lanjut.
Sementara Hyuna sendiri tidak sadarkan diri. Tubuhnya lemas karena kehilangan cukup banyak darah. Wajahnya pun seketika pucat pasi.
"Hyuna bertahanlah," harap Bora dalam hati.
Setelah 20 menit berlalu, terdapat suara mobil yang berhenti di depan rumah. Bora segera melihatnya dari jendela.
"Dokter Gabriel," kata Bora saat melihat pria yang dikenalinya itu turun dari kursi kemudi.
Bora segera ke lantai bawah untuk menyambut kedatangan dokter tersebut di depan pintu.
"Sus, ada apa dengan Hyuna? Bagaimana bisa dia seperti itu?" tanya dokter ketika melihat Bora. Keduanya langsung masuk ke dalam sambil mempercepat langkahnya.
__ADS_1
Bora pun menceritakan yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu. "Hanya itu, Dok," katanya terdengar sangat yakin.
"Apa mungkin ingatan Hyuna tentang masa lalunya telah kembali?" gumam dokter Gabriel. Seketika Bora terdiam, karena teringat akan proses penyembuhan daya ingat yang mungkin akan dialami oleh Hyuna, pasca operasi beberapa bulan yang lalu yang pernah diberi tahu oleh dokter tampan tersebut.
"Bisa jadi, Dok. Tapi apa mungkin menjadi separah itu?" Bora merasa ragu. Dia takut kalau Hyuna mengalami hal lain yang bisa mengancam nyawanya.
"Itulah yang saya takutkan." Mereka tiba didepan pintu kamar Hyuna. Bora pun membukanya. Terlihat wanita cantik itu masih terbaring lemah. "Biar saya periksa kondisinya terlebih dahulu."
Dokter Gabriel dibantu oleh Bora memberi penanganan kepada Hyuna. Mulai dari periksa detak jantung, ambil darah untuk tes laboratorium, serta pemasangan selang infus dan memasukkan obatnya melalui infus tersebut.
"Sudah selesai, obat yang saya beri tadi akan segera bereaksi di dalam tubuhnya." Dokter melepas stetoskop lalu memasukkannya kembali ke dalam tas beserta alat-alat lain yang tadi sempat dia keluarkan. "Jika tubuhnya mengalami respon positif, maka cepat atau lambat ingatan tentang masa lalunya akan kembali. Namun jika sebaliknya, mau tidak mau kita harus membawanya ke rumah sakit untuk pengecekan ulang," jelasnya.
"Baik Dok. Saya akan tetap memantau perkembangannya. Tapi ... " Bora menjeda ucapannya. Perawat itu melihat ke arah Hyuna, dia merasa kasihan dengan wanita itu. "Apa untuk saat ini Tuan Deo harus tahu?" tanyanya kemudian.
"Ya, beritahu tidak apa-apa. Dia juga wajib tahu perkembangan kesehatan Hyuna. Ya ... " Dokter mengangkat kedua bahunya sambil menarik napas. "Beruntung kalau dia mau melihat kondisi Hyuna, bukan?"
Bora mengangguk karena merasa paham. "Iya, semoga saja," gumamnya yang hampir tidak terdengar oleh dokter Gabriel.
"Ya sudah kalau begitu saya pamit untuk kembali ke rumah sakit memberikan sampel darah ke bagian laboratorium. Kamu, jangan lupa pantau terus ya. Makannya juga di perhatikan," kata dokter itu sebelum akhirnya pergi dari rumah tersebut.
Setelah mobil yang dikendarai dokter Gabriel pergi, Bora masuk lagi ke dalam rumah untuk menghubungi Tuannya. Berhubung langit pun mulai gelap, ditambah suara petir yang mulai bersahutan, Bora memilih pergi ke kamar tempat Hyuna berada.
Sebenarnya Bora tidak ingin mengganggu Deo, karena malam ini adalah malam pengantin pria itu bersama istri barunya. Namun demi Hyuna, dia akan tetap menghubungi Deo.
Di kamar hotel, Leika yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil menonton televisi mendengar getaran ponsel yang ada di atas meja tepat di sampingnya. Wanita itu melihat ke layar yang menyala itu.
"Suster Debbora?" Dia mengerutkan keningnya. Ada rasa penasaran yang membuatnya ingin menjawab panggilan itu. Namun baru saja hendak memegang ponsel, pintu kamar mandi pun terbuka.
Tampak Deo yang masih berbalut handuk dari pinggang sampai lutut. Sementara bagian atasnya itu terpampang nyata, berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Siapa yang telepon?" tanya Deo seraya berjalan ke arah meja kecil yang ada di samping Leika tersebut.
"Suster Debbora. Siapa dia?" jawab Leika lalu bertanya cepat. Dia merasa cemburu ada ketika ada wanita lain yang menghubungi pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.
"Bukan siapa-siapa." Deo menjawabnya dengan ketus. Pria itu masih merasa marah karena Leika baru jujur sekarang. Dia meraih ponselnya lalu pergi ke kamar mandi kembali untuk menjawabnya.
"Ada apa Sus?" tanya Deo. Berdiri di depan cermin dengan pintu kamar mandi yang sengaja dia kunci. Alisnya terangkat sebelah ketika mendengar penjelasan dari Bora. "Ya, satu jam lagi saya akan ke sana," ucapnya lalu sambungan telepon pun terputus.
Deo keluar dari kamar mandi. Mata langsung menatap Leika yang masih berada dalam posisi yang sama, pun menatap dirinya.
"Ada apa?" tanya Leika. Setahu wanita itu, perusahaan yang dipegang oleh keluarga Ainsley tidak ada yang bergerak dibidang farmasi. Makanya wanita itu heran ketika melihat kontak nama Bora pada ponsel Deo.
"Tidak ada." Deo menaruh ponselnya lagi. Kali melemparkannya ke atas sofa. Sedangkan dirinya segera memakai baju untuk pergi menemui Hyuna.
Setelah beberapa menit, Deo lewat di depan Leika hendak memakai sepatunya. Wanita yang tadinya duduk santai, seketika turun dari tempat tidur untuk menghampiri suaminya.
"Kamu mau kemana, Beib? Kenapa rapih sekali?" Leika bertanya-tanya. Dia sampai menelisik pakaian yang dikenakan oleh Deo dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Aku ada urusan. Kalau kamu mau makan malam. Duluan saja. Mungkin aku akan kembali larut malam," kata Deo dengan sikap dinginnya. Pria itu terlanjur kecewa karena menganggap Leika menipunya dengan berlagak setia selama ini.
"Kamu tega tinggalin aku di malam pengantin kita?" tanya Leika dengan suara gemetar dan raut wajahnya penuh dramatis. Matanya pun ikut berkaca-kaca.
"Jangan berakting di depanku. Cukup aku merasa ditipu satu kali." Deo menghempaskan napas kasar. Sedangkan Leika merasa tersentak. "Kalau kamu ingin mendapatkan maaf dariku, tanya pada dirimu sendiri," lanjutnya dengan penuh penekanan.
Deo meraih ponsel dan juga dompet serta kunci mobil, kemudian pergi keluar dari kamar hotel itu meninggalkan Leika sendiri. Sementara setelah pintu tertutup, wanita itu sangat merasa kesal.
Leika segera mencari ponselnya. Setelah ketemu, dia langsung menghubungi seseorang.
"Hallo ... "
Bersambung ...
__ADS_1
...----------------...