
"Hallo?"
"Hyuna kamu sedang apa? Baru pulang atau sudah mau tidur?"
"Aku baru sampai kamar Ma. Tumben larut malam gini Mama telepon. Ada apa?"
Tidak biasanya Nestya menghubungi dirinya disaat waktu sudah menunjukkan tengah malam.
"Sepi sekali di sini. Mama sendirian di rumah. Papa sedang ada tugas luar dua hari dan baru akan pulang besok sore."
"Duh kasihannya Mama-ku. Kak Herya tidak main ke rumah memangnya Ma? Hari ini kan akhir pekan."
"Tidak ... " Suara Nestya terdengar sangat sedih. "Dia sedang berlibur ke daerah pantai. Padahal jaraknya cukup jauh dari sini."
"Tapi Mama tidak sedang sakit kan? Kenapa suara Mama kedengarannya sengau?" tanya Hyuna mulai khawatir.
"Oh ini. Mama sedikit agak flu. Sebentar lagi kan akan masuk musim dingin. Maklum sudah tua, tubuh Mama tidak sekuat dulu."
Mendengar kata-kata itu hati Hyuna seketika terenyuh. Andai dirinya sedang berada di dekat Mama-nya, mungkin akan dipeluk saat itu juga.
"Mama sudah minum obat atau vitamin?"
"Sudah. Kamu tenang saja, sebentar lagi akan sembuh kok."
Hyuna merasa sedikit lega. "Daripada flu nya tambah parah, lebih baik Mama istirahat. Aku juga mau istirahat Ma, apalagi mulai besok pagi sudah mulai test. Kalau selama satu minggu besok hasil testnya bagus, minggu depan aku sudah bisa kembali ke kampus yang ada di Birmingham. Doakan aku ya Ma!"
"Oh seperti itu ... Iya, doa Mama akan selalu menyertaimu. Yuk kita istirahat! Kamu jangan lupa bersih-bersih dulu ya sebelum tidur, ganti pakaianmu juga."
"Iya Ma. Bye Ma! Selamat malam, semoga mimpi indah."
"Bye Sayang. Selamat malam juga, semoga mimpi indah."
Setelah panggilan berakhir, Hyuna memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Lalu mencari kunci kamar. Tidak lama kemudian, kunci pun ketemu. Hyuna segera masuk ke dalam.
Saat tiba di dalam, hampir seluruh lampu telah dimatikan. Begitupun ruang kamar Mona yang sudah tertutup rapat. Hyuna pun bergegas membersihkan tubuh, mengganti pakaian kemudian tidur.
...----------------...
Lima hari berlalu sangat cepat. Hari itu menjadi hari terakhir Hyuna mengikuti serangkaian test supaya berhasil mendapatkan piagam study banding dari kampus itu.
Selama lima hari pula, tidak ada pesan ataupun telepon masuk dari Dave. Pria itu bagai menghilang di telan bumi. Semakin kesini Hyuna tidak ingin berharap banyak.
Mengingat kandasnya hubungan yang pernah dialaminya dulu, tidak membuatnya tetap jalan di tempat. Sebab ia ingin bangkit dengan caranya sendiri.
__ADS_1
Ketika dosen telah meninggalkan ruang kelas, Hyuna begitu sangat lega. Dalam hatinya berharap semoga hasil yang diperolehnya itu bisa memuaskan. Karena ia yakin, bahwa usahanya tidak akan pernah mengkhianati hasil.
Hyuna segera membereskan alat tulisnya dan dimasukkan ke dalam tas. Lalu, keluar dari ruang kelasnya. Namun ketika baru saja selangkah di depan pintu, tak sengaja Hyuna berpapasan dengan Dave yang sedang jalan sendirian ke arahnya.
Saat itu detak jantung Hyuna seakan berhenti beberapa saat. Ia sangat mengingat malam itu. Mereka seperti dua orang asing yang baru pertama kali bertemu.
"Raut wajahnya masih sama. Ada apa sebenarnya dengan dia? Kenapa mendadak bersikap dingin seperti ini padaku?" tanya Hyuna dalam hati.
Ia tersenyum tipis dan hampir tak terlihat, setelah itu menundukkan pandangannya sampai Dave benar-benar pergi dari hadapannya.
Tanpa Hyuna tahu, saat Dave melewatinya. Mata pria itu terus melirik ke arahnya melalui ekor mata yang tajam.
Ketika Dave sudah pergi, Hyuna pun bergegas kembali ke asrama untuk beristirahat. Rasa lelah pada otaknya, terus mendorongnya untuk memejamkan mata sambil berbaring di atas tempat tidur.
"Hyuna!" Suara Mona sangat santer terdengar di telinganya. Orang yang dipanggilnya pun menoleh.
"Mona! Sedang apa kamu disini?" tukas Hyuna merasa terkejut melihat Mona berada dalam lingkungan fakultas yang diambilnya.
"Aku sedang menunggumu. Rencananya, aku sama Evan akan double-date nanti malam. Kamu ikut ya!" seru Mona tampak sangat antusias.
Namun berbeda dengan Hyuna yang terlihat bingung. Pasalnya selama ini, ia tidak tahu siapa pria yang dekat dengan teman satu kamarnya itu.
"Double-date?" tanya Hyuna memastikan.
"Iya. Ayuk, kamu ikut ya? Nanti kalau tidak ada pria yang sedang dekat denganmu, aku akan minta Evan untuk mengajak teman satu fakultasnya," bujuk Mona sambil memasang raut wajah memelas.
Seketika Mona menunjukkan raut wajah sedihnya. "Yah, sayang sekali. Padahal aku sama Evan ingin kamu ikut bersama kami."
"Aku minta maaf sekali Mona. Aku tidak bisa ikut. Tidak apa-apa ya?" Hyuna sebenarnya tidak enak hati ingin menolak. Sejujurnya ia sangat ingin ikut mereka untuk menghibur dirinya disaat rasa penat setelah mengikuti test.
Namun sayangnya mereka malah double-date. Kalau Hyuna sendiri pasti sama saja ujung-ujungnya mereka sibuk dengan pasangan masing-masing. Keputusan untuk tetap di kamar saja itulah yang terbaik bagi Hyuna.
...----------------...
Malam harinya, Hyuna sedang nyaman bersantai di depan televisi. Sedangkan Mona masih sibuk memasang alis mata. Sesaat kemudian, suara bel berbunyi.
Awalnya Hyuna tidak menghiraukan itu, ia tetap fokus melihat ke layar televisi.
"Hyuna ... Tolong bukakan pintunya dong! Sepertinya itu suamiku," kata Mona berteriak dari ruang kamarnya.
Hyuna yang mendengar itu pun terkejut. "Hah? Suami? Ngadi-ngadi deh kamu Mon!"
"Serius. Cepat bukakan dulu. Terus bilang kalau Mona masih siap-siap, oke? Toloooong ...."
__ADS_1
Hyuna memutar malas bola matanya. Ternyata wanita teman satu kamarnya itu jauh lebih ribet kalau mau kencan.
"Iya, okay ... " Dengan setengah malas Hyuna berdiri dan berjalan ke arah pintu. Bahkan ia tidak sempat melihat orang yang ada diluar melalui celah pintu tersebut.
Seorang pria berdiri dihadapannya sambil memegang bucket bunga berukuran jumbo, sampai menutupi wajahnya.
"Selamat malam Mona!"
Hyuna mengerutkan alisnya ketika mendengar suara pria itu. Sepintas ia paham kalau pria yang berdiri di depannya itu adalah kekasih Mona. Namun yang lebih bikin Hyuna merasa familiar itu adalah suaranya.
"Maaf, Mona masih siap-siap di dalam. Kalau Anda mau menunggu di sini saja ya. Soalnya tidak boleh ada pria yang masuk ke dalam kamar," ucap Hyuna dengan santainya.
Seketika bucket bunga itu diturunkan lalu tampaklah wajah orang yang sebenarnya. Hyuna merasa tidak asing dengan wajah pria itu. Ia pun berusaha keras mencoba mengingatnya, namun ternyata nihil.
"Ya sudah kalau sudah selesai, cepat suruh Mona keluar ya," balas pria itu yang tak lain adalah Andrew. Dosen yang katanya killer dan digilai oleh para kaum hawa di kampus mereka.
"Baik." Hyuna pun masuk ke dalam untuk menghampiri Mona. Ternyata Mona sudah siap.
"Mona, rasanya aku tidak asing ya melihat pria yang di depan itu?" tanya Hyuna. Sebab Andrew adalah dosen yang mengajar di fakultas yang sama dengan Mona. Makanya selama ini Hyuna hanya tahu perihal Andrew yang merupakan idaman hampir seluruh kaum hawa.
"Dia itu ... " Mona menjeda ucapannya. Mengingat kalau menjelaskannya saat itu waktunya tidak akan cukup. Sementara Andrew sudah menunggu di depan kamar. "Lain kali akan aku ceritakan padamu, Hyuna. Aku mau pergi dulu, bye! Baik-baiknya di kamar."
Hyuna melengkungkan kedua alisnya seraya menarik napas dalam-dalam. "Baiklah, bye! Hati-hati dijalan."
Mona keluar dari ruang kamarnya dan Hyuna pun mengikuti.
"Hai, Mona. Ini untukmu!" Andrew memberikan bucket bunga itu pada orang yang dimasud olehnya. Tentunya Mona sangat bahagia dan langsung memeluk Andrew sangat erat.
"Terima kasih banyak, Beib! Aku senang sekali," seru Mona ketika memegang sambil menatap bucket bunga itu.
"Sama-sama. Yuk kita berangkat!" ajak Andrew.
"Eh tapi bunganya taruh di kamar saja ya. Ribet juga bawa-bawa ini ke tempat makan," usul Mona dan Andrew pun mengangguk.
Hyuna yang melihat itu ikut merasakan kebahagiaan mereka. Ia sama sekali tidak membandingkan dengan hidupnya saat itu. Karena ia yakin, suatu hari pasti dipertemukan dengan pria yang lebih romantis dari itu.
Mona menyadari Hyuna masih ada tidak jauh dari belakangnya. "Hyuna aku titip ya!" seru wanita itu. Masih tergambar jelas raut kebahagiaan pada wajahnya.
"Baiklah. Kalian hati-hati di jalan!"
Mona mengangkat kedua jempol tangannya, sedangkan Andrew tersenyum sambil mengangguk pelan. Setelah itu, mereka pun pergi dari sana.
Hyuna merapikan bucket bunga itu ke atas meja makan. Lalu ia pun mulai menutup pintu kamar. Akan tetapi tiba-tiba sebuah tangan menahan pintu itu, sehingga Hyuna sulit untuk menutupnya
__ADS_1
"Tunggu, Hyuna ..."
Bersambung ....