Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Sequel - 16


__ADS_3

"Dave ... " ucap Hyuna menegakkan posisi duduknya. "Kenapa kamu bisa tahu aku ada di sini?" tanya wanita itu lalu berdiri.


"Aku tahu dari teman satu kampus denganmu. Kenapa kamu buru-buru pulang ke Birmingham?" Pertanyaan Dave membuat Hyuna seketika tercekat.


"Karena aku ... " Hyuna tampak ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Dave.


Tampak raut wajah sedih pada pria yang berdiri tepat dihadapannya. Sementara pria itu menatap matanya sangat dalam.


Semakin lama Dave semakin sulit mengontrol perasaannya sendiri. Tangannya langsung meraih tengkuk leher Hyuna lalu bibirnya bersentuhan dengan bibir wanita itu. Hangat dan lembut. Dave seakan tidak peduli dengan banyaknya orang di ruang tunggu tersebut.


Sementara detak jantung Hyuna berdegub sangat cepat. Aliran darah yang mengalir pada nadinya pun begitu terasa desirannya sangat deras. Matanya yang tadinya membulat sempurna, perlahan terpejam. Ia menikmati rasa yang selama ini mati karena dalamnya luka.


Melihat Hyuna terpejam, Dave mencoba membuat mulut wanita cantik itu terbuka. Tidak sampai bersusah payah, Dave berhasil membuka mulut Hyuna. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Dave memperdalam ci umannya.


Bak gayung bersambut, Hyuna membalas ci uman Dave yang semakin lama semakin membuat darahnya berdesir hebat. Meskipun masih sedikit kaku, tapi Hyuna berusaha menyeimbangkan ci uman yang diberikan oleh Dave.


Persilatan lidah mereka harus berhenti ketika sebuah pengumuman mengenai penerbangan ke Birmingham akan segera berangkat. Mau tidak mau, Dave melepaskannya hingga menimbulkan sebuah benang tipis antara bibirnya dan bibir Hyuna.


"Maaf, aku lancang," ucap Dave merasa deg deg kan takut Hyuna marah. Tetapi, kalaupun marah Hyuna pasti akan marah di awal, tidak sampai menikmati seperti tadi.


Hyuna hanya menunduk karena tersipu malu. Pelahan Dave memengang dagunya dan mengangkatnya lembut untuk menatap wajahnya.


"Aku mencintaimu, maukah kamu menjadi kekasihku, Hyuna?" ucap Dave dengan sungguh-sungguh. Pria itu menatap Hyuna semakin lekat.


"Apa kamu sudah yakin dengan perasaanmu Dave?" Hyuna bertanya balik. Sebab yang diingikannya itu, jika memang ia jatuh cinta lagi, ia ingin menjatuhkan hati pada pria terakhir yang juga mencintainya sampai akhir hayat.


"Tentu sangat yakin. Lantas apa yang harus aku buktikan padamu, kalau aku memang benar mencintaimu?" kata Dave dengan sorot teduhnya.


Hingga pada pemberitaan keberangkatan yang terakhir kalinya, Hyuna sudah tidak konsenstrasi. Wanita cantik itu fokus pada pesawat yang sebentar lagi akan berangkat.


"Maaf Dave, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Temui aku satu minggu lagi di sini, jika memang kamu benar serius kepadaku," ucap Hyuna lalu segera pergi dari hadapan Dave karena pesawat yang akan ditumpanginya itu sebentar lagi berangkat.


"Baiklah jika itu memang maumu!" teriak Dave saat punggung Hyuna mulai menghilang dari pandangannya.


Dave pun melangkahkan kaki bersama harapannya pergi dari sana. Pria itu mulai memantapkan hatinya untuk wanita yang selama dua minggu kemarin mengisi hari-harinya. Sebelumny, belum ada wanita yang bisa menaklukannya. Bahkan pria berusia matang itu sering kali dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Namun karena dari dirinya tidak ingin, maka sampai saat itu dia belum juga menikah.

__ADS_1


Sampai di dalam mobil, Dave melihat pesawat yang sudah take off di udara. Pria itu tersenyum lalu berkata, "Sekeras apapun aku bertahan, kalau memang kita berjodoh pasti akan bersatu. Begitupula sebaliknya. Karena aku yakin Tuhan selalu punya cara menyatukan manusia dengan pasangannnya masing-masing."


Setelah itu Dave menyalakan mesin mobil lalu menancapkan pedal gas mobil menuju rumah sakit karena hari itu sedang tidak ada jadwal mata kuliah khusus kelasnya.


...----------------...


Sepanjang perjalanan di dalam pesawat, Hyuna menatap keluar jendela sambil memegangi bibirnya. Kebetulan saat itu posisi duduknya memang berdekatan dengan jendela.


"Selama aku menikah dengan Deo waktu itu, aku hanya beberapa kali dicium dan menciumnya. Tetapi saat bersama Dave kenapa rasanya berbeda, terasa tidak ada beban yang menghantui pikiranku. Hanya saja ... " batin Hyuna lalu menghela napas. Ia tidak habis pikir, kepulangannya dari London malah diberikan hadiah perpisahan oleh Dave.


"Apa Dave mau menerimaku yang sudah berstatus sebagai seorang janda?" Ia bermonolog dalam hati.


Tanpa terasa pesawat akhirnya landing di bandara internasional Birmingham. Para penumpang dalam kabin yang sama dengan Hyuna pun mengantre untuk turun dari badan pesawat.


Kedatangan Hyuna di bandara disambut oleh Nestya dan juga Boy. Wanita cantik itu berjalan seraya menarik koper dari pintu kedatangan, Hyuna menghampiri mereka dengan senyum sumringah dan wajah yang penuh kebahagiaan.


"Mama ... Papa ... Akhirnya aku bisa ketemu sama kalian lagi!" seru Hyuna lalu memeluk Nestya dan Boy bergantian. Hangatnya sambutan mereka, membuat wanita cantik itu terharu.


"Iya kami juga sangat bahagia!" sahut Nestya yang tak kalah bahagianya. Rasa khawatirnya selama kurang lebih dua minggu itu sirna seketika setelah melihat kepulangan anak bungsunya dengan selamat dan juga sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Bagaimanapun dan apapun yang menjadi takdir Hyuna sekarang, mereka tetap menyayangi sepenuhnya.


"Sangat menyenangkan, Pa!" seru Hyuna sangat bersemangat.


"Wow, kalau sudah begini pasti anak Papa satu ini bawa oleh-oleh yang tidak biasa nih," kata Boy tersenyum penuh rasa bangga.


"Tentu dong Pa! Nanti akan Hyuna perlihatkan ketika sudah berada di rumah, okey? Soalnya aku malas sekali membuka tasnya, hehehe." Mereka pun tertawa.


"Ya sudah, yuk kita pulang sebelum semakin malam. Mama juga sudah masakin makanan kesukaan kamu loh, Hyuna," ajak Nestya. Wanita paruh baya itu memang luar biasa. Ia selalu sigap dan pandai mempersiapkan segalanya. Namun meski begitu, tak lupa juga ia pun tetap lebih peduli dengan dirinya sendiri. Makanya walau usianya hampir setengah abad, wajah dan perawakannya masih tampak seperti usia dua puluhan.


"Asik, ayuk Pa kita pulang." Hyuna langsung menggelayut manja pada Boy. Hal itu tentu ya membuat Nestya menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin usia Hyuna sudah menginjak dua puluh tahunan, namun ketika bersama kedua orang tuanya dia tetap gadis kecil yang manja dan sangat ingin mendapat perhatian lebih dari mereka.


...----------------...


Saat tiba di rumah, Hyuna memilih makan malam bersama kedua orang tuanya terlebih dahulu. Ia benar-benar dimanjakan lidahnya oleh Nestya dengan hidangan makanan yang tersedia diatas meja makan.


Setelah makan malam karena sudah merasa lelah karena perjalanan yang cukup jauh, Hyuna pun memutuskan untuk pergi ke kamar. Ia langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Semua otot-otot yang lumayan kaku seketika melemas karena posisi tidurannya yang sangat nyaman.

__ADS_1


Lalu Hyuna pun baru teringat akan ponselnya. Ia bangun lalu beranjak dari tempat tidur untuk menghampiri tas ransel miliknya yang sebelumnya telah Boy taruh ke dalam kamar.


Ketika membuka layarnya dan menutup gambar pemesanan tiket pesawat, ia merasa terkejut akan banyaknya pesan yang dikirimkan oleh Dave.


"Astaga, ini sih lebih kepasa Dave yang menerorku. Apa dia tidak tahu kalau di dalam pesawat tidak boleh menggunakan ponsel?" ujarnya bermonolog lalu berdecak sambil menggelengkan kepala.


Sesaat kemudian, tiba-tiba panggilan masuk ke dalam ponselnya. Hyuna terkejut apalagi melihat nama yang tertera pada panggilan tersebut. Dengan perasaan yang campur aduk. Senang, gugup, serta gelisah, ia pun menjawabnya.


"Hallo Dave?" sapa Hyuna dengan suara selembut mungkin.


"Hai, apa kamu sudah sampai rumah?"


"Sudah. Ini baru selesai makan malam."


"Habis makan jangan langsung tiduran ya, biarkan perutmu mencermanya terlebih dahulu."


Hyuna menepuk keningnya karena beberapa saat yang lalu, ia baru saja merebahkan tubuhnya.


"Hyuna kok diam? Hayo ... Pasti kamu habis rebahan ya?" ledek pria itu membiat Hyuna tersenyum meringis walaupun Dave tidak melihatnya.


"Hehehe, iya. Aku sudah lelah sekali."


"Saranku lebih baik masih dalam posisi duduk dan menyandarkan kepalamu dengan bantal yang cukup tinggi. Lalu kamu pun bisa meluruskan kaki. Dengan begitu perutmu masih dapat mencerna makanan dengan baik."


"Oke Pak Dokter aku salah dan janji tidak akan seperti itu lagi!" tegas Hyuna bersungguh-sungguh.


"Baiklah ... Oh iya, sudah malam. Lebih baik kita istirahat yuk! Aku yakin kamu itu pasti lelah sekali."


"Iya Dave. Sangat sangat melelahkan."


"Kalau begitu, aku sudahi terlebih dahulu ya. Bye Hyuna."


"Bye, Dave!" Dalam hati Hyuna mulai merasa kegirangan sendiri. Sampai akhirnya telepon pun berakhir.


Hyuna segera mengganti pakaiannya lalu pergi ke alam mimpi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2