
Sebuah restauran western dipilih oleh Deo untuk melakukan dinner bersama Hyuna. Melihat penampilan wanita yang dinikahinya kurang lebih enam bulan yang lalu itu, dia kagum. Karena selama ini beberapa kali dia lihat, hanya tampak wajah pucat tanpa riasan make up sedikit pun.
"Hyuna ... " Deo menyunggingkan senyumnya walau hampir tak terlihat. "Kita pesan menu nya terlebih dahulu ya?"
Wanita itu mengangguk pelan seraya tersenyum simpul. "Perasaan ini, sama sekali tidak berubah dari terakhir bertemu dengannya," gumamnya dalam hati.
Setelah memesan makanan, Hyuna menatap Deo dengan raut wajahnya yang serius. "Sebenarnya apa sih yang akan kamu bicarakan, sampai-sampai kita harus bertemu di tempat seperti ini?" tanyanya. Kedua tangan dia taruh ke atas meja dan saling bertautan.
Deo tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangannya sekilas, lalu menatap Hyuna kembali. "Dua minggu lagi acara pernikahanku dengan kekasihku. Aku harap kamu tidak muncul pada hari itu dan mengatakan bahwa kamu adalah istriku," katanya. Lebih tepatnya sih memberi Hyuna ancaman.
Bak tertusuk sebuah duri yang bertubi-tubi. Selera makan Hyuna pun seketika lenyap seakan terbawa angin.
Betapa terkejutnya Hyuna ketika Deo mengatakan hal demikian. Seharusnya, dia yang menemani pria itu dalam perjalanan hidup hingga masa tuanya.
Apa takdir tak berpihak pada hati Hyuna yang sudah mencintai, tapi tidak dicintai? Sedih, kecewa dan ingin marah. Namun Hyuna hanya mampu tertegun, sebab dia sadar diri.
Kenyataan seolah menamparnya cukup keras. Deo menikahinya memang hanya untuk menolongnya saja, mungkin sebentar lagi putusnya ikatan itu akan terjadi. Atau mungkin diam-diam sudah mengajukan pembatalan pernikahan? Oh My God.
Hyuna menarik napasnya dalam-dalam, lalu mulai berbicara. "Kamu tenang saja. Aku akan tetap berada di tempatku. Tetapi, kalau selama bukan kamu yang menyuruhku pergi, aku akan tetap di rumah itu," ucapnya sebisa mungkin menyunggingkan senyumannya.
"Baguslah." Deo bernapas lega sambil membenarkan jas dan juga posisi duduknya.
Tak lama berselang, menu yang mereka pesan pun tiba. Pertama kali ketika Hyuna melihat makanan itu, sangat tidak berselera.
"Terima kasih telah mengerti diriku, Hyuna ... " ucap Deo sesaat setelah pelayan pergi dari hadapan mereka. "Setelah aku menikah nanti, kita masih bisa berteman. Dan juga ... Aku akan membantumu supaya bisa segera bertemu kedua orang tuamu," lanjutnya lalu menyantap steak yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Begitu mudahnya dia bilang seperti itu, sebab dia tidak merasakan apa yang aku rasa selama ini. Jadi, dia ngajak aku dinner hanya untuk membicarkan hal ini? Haruskah aku mundur menjadi istrinya? Awal pernikahan yang belum sempat aku rasakan indah, harus menelan pil pahit yang cukup menyiksa. Rasanya oksigen pun sangat sulit ku dapat. Terlebih ketika duduk saling berhadapan dengannya seperti saat ini." Batin Hyuna.
"Kamu bilang, waktu itu kamu nikahi aku hanya untuk syarat dari rumah sakit supaya aku bisa dapat tindakan. Sekarang, aku sudah pulang dari rumah sakit. Kenapa kamu tidak ... " Hyuna menghela napasnya. Sementara Deo seketika menghentikan makannya untuk menatap Hyuna.
"Tidak apa?" tanya Deo, menaruh garpu dan pisaunya di atas piring.
"Tidak kamu batalkan saja pernikahan ini." Hyuna melonggarkan tenggorokannya. Deo terlihat mengelutkan alis dan memberi tatapan yang sulit untuk diartikan. "Maksudku dengan begitu, setelah kita berpisah. Kamu bisa bahagia dengan kekasihmu dan aku bisa bahagia dengan hidupku. Tentunya dengan tidak ada ikatan yang tidak menjamin kebahagiaan kedua belah pihak, maka pikiran pun akan lebih tenang bukan?" usul wanita itu.
Menahan rasa sesak yang semakin terasa terhimpit karena cintanya diujung harapan. Sementara cinta yang diberikan Deo pada Leika masih berkibar di puncaknya.
Hal itu menyebabkan makanan yang ada di atas piring Hyuna masih utuh karena tidak tersentuh oleh sang empunya sejak tadi. Berbeda dengan Deo yang sudah separuhnya dimakan.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" tanya Deo seolah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Hyuna. Padahal sejatinya, pria itu sedang menutupi sesuatu hal yang mengusik benaknya akhir-akhir ini.
"Deo, aku wanita dan sekarang hanya berstatus sebagai istri kamu. Aku berhak bahagia. Meskipun aku tidak ingat dengan masa laluku seperti apa, tapi aku punya hati. Naluri seorang wanita sembilan puluh sembilan persen tidak akan salah kepada orang yang dicintainya. Kalau orang itu memilih orang lain, untuk apa masih dipertahankan?" jelas Hyuna. Suaranya bergetar dan sebisa mungkin dia tahan supaya tidak meledak. Sebab dia masih ingin menjaga nama baik suaminya di muka umum.
Entah kenapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Deo, membuat mata Hyuna berkaca-kaca. Dalam hati wanita itu sudah menjawab 'iya' dari lubuk yang paling dalam.
Namun dihadapan Deo saat itu, dia menghempaskan napas kasar lalu memejamkan matanya beberapa saat. "Tidak. Aku tidak mencintaimu," jawab Hyuna terdengar sangat yakin.
"Tidak apa aku berbohong. Aku ingin menutupi luka yang sudah tertoreh karenanya. Aku memang tak paham dengan cinta. Tetapi perasaan itu membuatku membangun sebuah harapan-harapan yang indah. Meski pada kenyataannya, rancangan yang kubangun tidak sesuai dengan ekspetasi." Batin wanita itu jujur.
"Bagus deh kalau memang kamu tidak mencintaiku. Itu artinya aku merasa lega karena tidak ada yang merasa tersakiti setelah aku menikahi kekasihku nanti," seloroh Deo lalu melanjutkan makan malamnya lagi. "Habiskan makananmu, setelah itu kita pulang," titahnya kemudian.
"Baiklah." Hyuna menghela napas panjang, lalu mulai menyentuh makanannya. Dia tetap menghormati Deo yang telah mengajaknya untuk makan malam ditempat mewah itu, dengan menghabiskan makanan yang telah tersedia di atas mejanya.
__ADS_1
...----------------...
Setelah acara dinner selesai, mereka pun pulang. Hyuna naik ke dalam mobil yang sama ketika sewaktu berangkat tadi. Sedangkan Deo pergi ke mobilnya sendiri.
Hyuna pun akhirnya mau belajar. Untuk mencintai seorang Deo Ainsley, tidak butuh berharap padanya. Cukup menikmati hidup, segera lekas pulih, meskipun arah tujuan hubungan mereka entah akan kemana.
Diibaratkan sebuah kapal, Hyuna dibiarkan berlayar sendirian. Tanpa nahkoda yang memandu jalannya kapal tersebut. Hyuna juga buta akan arah mata angin, sehingga dia hanya mengikuti kemana angin itu berhembus tanpa melawannya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Hyuna hanya terdiam sambil melihat ke luar jendela mobil. Bora yang menyadari perubahan sikap pada Hyuna, seketika merasa gelisah.
"Nyonya ... " panggil Bora dengan hati-hati. Wanita yang dipanggilnya itu tidak langsung menjawab, melainkan dia menoleh.
"Ada apa Sus?" tanya Hyuna lalu tersenyum simpul.
"Apa Nyonya baik-baik saja?" Bora bertanya balik. Sebab dia takut kalau Hyuna memendam sesuatu hal yang berisiko besar untuk kesehatannya.
"Iya, aku baik-baik saja ... " jawab wanita itu lalu menarik napas dalam-dalam. "Sepertinya aku lelah sekali dan ingin segera sampai di rumah, supaya lekas tidur," lanjutnya, berusaha untuk menguap tapi tidak bisa.
Bora merasa sedikit lebih lega. "Kita tidak akan lama kok untuk sampai di rumah. Biasanya jalan raya di malam hari cukup sepi, jadi mobil bisa lancar berjalan tanpa ada kemacetan!" seru perawat tersebut.
Hyuna pun mengangguk sambil menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran kursi penumpang. Setelah itu matanya melihat kembali ke luar jendela dengan posisi duduk sedikit menyamping menghadap ke pintu.
Bersambung ....
...****************...
__ADS_1