Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 20. Itulah Deo


__ADS_3

Hyuna salah tingkah ketika mendapat pertanyaan dari Deo. Tak disangka pria itu terbangun atau justru sudah terbangun entah sejak kapan.


"Maaf," cicitnya merasa malu.


Deo pun tersenyum tipis lalu merubah posisinya menjadi terlentang. Setelah beberapa saat, pria itu beranjak dari tempat tidur sambil merapihkan kembali pakaiannya. "Apa kamu sudah lebih baik Hyuna?" tanyanya.


"Ya, seperti yang kamu lihat," jawab wanita itu menatap suaminya.


"Aku harus pergi sekarang. Nanti kalau ada waktu luang lagi, aku akan menjengukmu kembali," ucap Deo yang sudah berada di dekat pintu.


"Iya, hati-hati dijalannya. Salam buat Leika. Lain waktu aku ingin bertemu dengannya, boleh?" pinta Hyuna tampak bersemangat. Akan tetapi raut wajah Deo justru tampak acuh.


"Aku pergi dulu," pamit pria itu kemudian bergegas membuka pintu.


"Deo!" panggil Hyuna. Suaranya sudah mulai terdengar lantang. Pria yang di panggilnya mengurungkan niat untuk melangkah dan memilih memutar tubuhnya, menoleh ke arah Hyuna. "Hati-hati dijalan!" serunya lalu melambaikan tangan.


Namun Deo hanya menyeringai. Pria itu memunggunginya lagi kemudian keluar dari kamar.


Senyum yang tadinya mengembang manis, seolah-olah tanpa ada rasa yang lebih. Seketika kempis ketika pintu kembali tertutup. Hanya sendiri di atas tempat tidur di ruangan itu.


Air matanya tiba-tiba menetes, yang ada hanya rasa sedih naik ke permukaan.


Ketika dia ada, aku bahagia. Ketika dia menyapa, aku bersyukur. Dan ketika dia pergi, aku rindu.


Kata orang, cinta itu buta. Kata orang, cinta itu keberuntungan. Dan kata orang, cinta itu sebuah kebahagiaan.Tapi kenapa? Hanya rasa iba yang kulihat dari matanya. Serta hanya kekosongan yang tersirat dari tatapannya. Tidak ada aku di sana. Suamiku, bisakah kamu disini bersamaku? Berlayar bersama menaiki perahu yang sama. Tapi kenyataannya? Kita berjalan bersama tanpa saling beriringan. Bolehkah aku membenci? Tentang kamu yang entah kapan menepi.


Untaian kata yang terucap dalam hati Hyuna, menandakan kalau wanita itu begitu mendalami perasaannya pada suami dadakannya itu.


Sementara itu, di lantai bawah. Bora melihat Deo menuruni anak tangga. Perawat itu menunduk hormat menyambut tuan-nya. "Selamat pagi, Tuan. Apa nyonya juga sudah bangun?"


"Pagi. Sudah ... Tolong kamu bawakan sarapan untuknya ya," titah Deo dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celana.


"Baik Tuan."


"Oh iya jangan lupa terus pantau kondisinya. Kalau terjadi sesuatu apa-apa tolong hubungi saya," kata Deo memerintah. Tidak mudah bagi pria itu membagi waktunya. Sedangkan Bora paham akan kondisi tuan-nya itu, berusaha untuk tetap mengikuti apa yang diperintahkannya.


"Ya sudah, saya pulang dahulu." Deo pun pamit lalu pergi dari rumah itu dengan mengendarai mobilnya.

__ADS_1


Bora mengehempaskan napasnya pelan, lalu menutup pintu dan kembali ke dapur. Perawat itu memilih mempersiapkan sarapan serta obat yang akan dikonsumsi oleh Hyuna.


Beberapa menit kemudian, Bora naik ke lantai atas menuju kamar Hyuna. Saat tiba di depan kamar yang dituju, Bora pun mengetuknya.


Hyuna yang sejak tadi menangis sampai tergugu pun segera menghapus air matanya saat mendengar suara ketukan pintu.


"Hyuna ini aku, Suster Bora," panggil perawat itu sambil memegang nampan.


Setelah dirasa sudah terhapus, Hyuna pun menjawab. "Iya, Sus masuk saja."


Lalu Bora membuka pintunya. Ia tersenyum pun menyadari apa yang habis dilakukan oleh Hyuna. Terlihat jelas dari kelopak matanya yang membengkak serta hidung memerah. Sudah pasti, hal itu selalu saja terjadi pada Hyuna ketika Deo habis mengunjungi dirinya.


"Hyuna sarapan dulu ya, setelah itu minum obat," ucap Bora seraya menutup pintu. Ia pun berjalan menghampiri Hyuna.


"Iya Sus," jawab wanita itu.


...----------------...


Deo kembali ke hotel untuk memastikan Leika masih ada di sana atau tidak. Namun ketika sampai di lobby, pria itu melihat sepasang pria dan wanita sedang berjalan keluar dari restaurant yang ada di hotel tersebut.


"Apa mereka menginap di sini juga?" gumam pria itu sambil memicingkan mata. Terfokus pada mereka. Langkah kakinya tetap berjalan menuju sebuah lift.


"Ada apa ini?" Deo mengepalkan tangannya. Dadanya pun seolah bergemuruh layaknya air yang mendidih. "Leika!" Pria itu berteriak memanggil nama istrinya.


Namun wanita yang dipanggil tak kunjung ada jawaban. Deo pergi ke ruangan yang memang terpisah dari pantry dan juga ruang tamu. Di ruangan tersebut, Leika tengah terbaring dengan pakaian lengkap tanpa ditutupi oleh selimut.


Suhu di dalam ruangan itupun terasa sangat dingin. Yang lebih mengejutkan, Deo melihat ada dua buah botol anggur dengan kadar alkohol yang berbeda.


"Leika, bangun!" ucapnya dengan penuh penekanan, sambil menggoyangkan bahu wanita itu supaya bisa segera bangun. Amarahnya masih sebisa mungkin ditahan.


Deo sudah berusaha untuk tenang. Akan tetapi Leika malah mendengkur cukup keras. Ia pun merasa frustasi lalu menghempaskan napas kasar.


Pria itu kemudian memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh, dan setelah itu mengenakan pakaiannya kembali. Kalau sudah begini, ia sangat malas untuk bertatap muka dengan Leika. Sebab ia paling benci kalau melihat wanita mabuk dan sangat urakan sekali.


Deo akhirnya mengetahui Leika yang sebenarnya. Selama masa berpacaran, Deo yang terkenal sikapnya yang dingin serta raut wajahnya yang datar memang tidak tahu menahu kebiasaan Leika seperti apa.


Beruntung wajah wanita itu cantik dan mampu menarik perhatiannya. Akan tetapi ... Karena permintaan Leika untuk tidak tercium awak media, semakin membuat Deo hanya menganggapnya kekasih tanpa menyentuh dirinya sebelum pernikahan tiba.

__ADS_1


Tidak ingin berlama-lama ada di ruangan itu, Deo pun keluar. Ia memanggil petugas hotel lewat telepon. Tak berselang lama, salah satu petugas pun datang dan menekan belnya. Deo segera membuka pintunya.


"Ada apa Tuan?" tanya petugas hotel tersebut.


"Saya hanya ingin kamu membersihkan ruangan ini! Lalu setelah selesai tolong berikan kunci ini padanya," perintah Deo sambil memberikan sebuah kunci padanya. Itu adalah kunci apartement miliknya. Pria itu sengaja menempatkan Leika di apartemen, bukan rumah seperti Hyuna.


Melihat kelakuan Leika seperti itu, membuat Deo berpikir ulang untuk mengajaknya pulang ke rumah. Mungkin bagi Fabios tidak masalah, tapi tidak dengan Dovi.


Dia punya uang serta kekuasaan. Maka pantas saja seorang Deo Ainsley menggunakan kedua senjata tersebut untuk kepentingannya.


"Baik Tuan." Petugas itu menunduk hormat dan Deo pun pergi dari hadapannya.


Selepas pria itu pergi, petugas pun pergi juga ke ruangan house keeping. Ia mengambil peralatan serta mengajak temannya untuk membersihkan kamar tersebut.


Mungkin supaya bisa lebih cepat. Mengingat kamar hotel tipe President Excekutif itu sangat luas dan juga banyak barang-barang mewah serta mahal.


Mereka membersihkan kamar itu hampir satu jam lamanya. Dengan penuh ketelatenan serta ketelitian, kamar tersebut pun rapih dan bersih seperti sebelumnya. Terkecuali bagian tempat tidur. Karena masih ada Leika yang terlelap di sana.


Tepat ketika keduanya akan keluar, Leika pun terbangun. Matanya melihat ke sekeliling ruangan yang sudah wangi serta bersih dan rapih. Wanita itu keluar dari ruang kamar.


"Apa kalian melihat suami saya?" tanya Leika menghampiri mereka.


"Tadi suami Nyonya sudah pergi dan ... " salah satu petugas yang diberi amanah oleh Deo pun mengeluarkan sebuah kunci lalu menyodorkannya pada Leika. "Tuan bilang kunci ini harus diberikan pada Nyonya."


Leika pun mengambilnya dengan kasar. "Omong kosong apa sih si Deo itu! Kenapa tidak menungguku bangun terlebih dahulu? Lagipula kunci apa lagi ini?" gerutunya dengan raut wajah yang sangat kesal.


"Maaf Nyonya, boleh kami membersihkan kamar? Karena sebentar lagi Nyonya harus check out," kata salah satu petugas tersebut meminta izin.


Leika menghempaskan napas kasar. "Ya sudah sana!" katanya sambil bersilang dada.


Wanita itu pun ikut pergi ke ruang kamar untuk mengambil ponselnya. Tak disangka, Deo telah mengirimkannya pesan berisi alamat apartemen yang akan ditempati Leika itu.


"Menyebalkan sekali Deo! Bukannya pulang ke rumah mewah itu malah menaruhku di apartemen!" Leika menghentakkan kedua kakinya lalu bersiap mengemas pakaian mereka untuk segera keluar dari kamar tersebut.


Bersambung ....


...****************...

__ADS_1



__ADS_2