
Dipenghujung acara, ponsel Deo yang ada di dalam saku celananya pun bergetar. Pria itu mengeluarkan ponsel tersebut kemudian malihat nama Aldo tertera dalam panggilan tersebut.
"Beib, aku angkat telepon dulu," kata Deo berbisik pada Leika, sedangkan matanya mengedarkan ke sekeliling ruang aula.
"Iya, Beib," kata Leika seraya menoleh sambil tersenyum.
Deo pun turun dari pelaminan, bahkan keluar dari ruangan supaya suara Aldo dapat terdengar dengan jelas.
"Ada apa Do?" tanya Deo setelah menggeser ikon telepon berwarna hijau.
"Tugas pertama yang Anda kasih, sudah saya kirim via email. Lalu untuk tugas yang kedua, saya harus pergi ke Inggris terlebih dahulu untuk memastikan. Kalaupun benar, buktinya akan segera saya kirimkan kepada Anda," jelas Aldo tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Baiklah, nanti akan saya cek." Deo memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana sambil menatap tajam seolah sedang membidik sesuatu yang ada di depannya.
"Oh iya. Selamat atas pernikahan Anda," kata Aldo sebelum mengakhiri penggilannya.
"Terima kasih." Tak lama kemudian, sambungan telepon pun terputus.
Deo berjalan menuju sebuah taman kecil yang tidak jauh dari tempat acara. Pria itu duduk di salah satu bangku kosong di sana.
Ponsel miliknya pun dinyalakan lagi. Lalu sepasang matanya melihat ke layar persegi yang sedang dipegangnya itu.
Dia penasaran akan bukti yang dikirimkan oleh Aldo. Setelah membuka aplikasi email, ternyata banyak sekali pesan masuk dan yang paling teratas yaitu dari Aldo. Sisanya ada beberapa dari Zean terkait pekerjaan.
Setelah mencermati sejumblah bukti tersebut, seketika sebelah tangannya mengepal. Pria itu merasa sangat marah, kesal dan timbul kebencian dalam dirinya terhadap pelaku yang baru saja dilihat dari ponselnya itu.
"Sial! Feeling ku selama ini benar. Wanita itu sangat licik dan bermuka dua. Aku harus buat perhitungan dengan dia!" katanya dengan rahang yang mengeras. Pria itu kemudian beranjak dari duduknya, dan melangkahkan kakinya menuju tempat acara.
"Pantas saja wanita itu tidak berani menemuiku. Rupanya dia sedang membuat rencana. Awas saja kau berani menyentuh keluargaku!" lanjutnya dengan amarah yang kian menjadi.
Saat sudah berada di depan pintu berukuran besar yang mengarah ke tempat pestanya itu, Deo menarik napas dalam lalu membuka pintu seraya menghempaskannya perlahan. Raut wajahnya kembali normal, seolah tidak ada sesuatu apapun yang baru saja dia alami.
Deo kembali ke pelaminan. Pria itu menggelengkan kepala ketika melihat Leika duduk sendiri di atas sofa dengan raut wajah cemberut. Kemudian Deo mempercepat langkahnya.
"Nungguin aku ya?" ledek Deo seraya duduk di sebelah Leika.
"Kamu dari mana saja? Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya? Para tamu sudah berpamitan sejak kamu keluar ruangan," keluh Leika. Sementara Deo terkekeh pelan.
__ADS_1
"Maaf, tadi ada urusan bisnis sebentar ... " Deo memegang dagu Leika lalu menariknya perlahan, seakan memaksa supaya wajah gadis itu menatap wajahnya. "Apa tamuku semuanya sudah pulang?" tanyanya kemudian. Leika menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Kalau teman-temanmu?" tanyanya lagi.
"Sepertinya sudah semua, hanya tinggal keluargaku dan juga keluargamu saja," jawab Leika lalu tersenyum simpul.
"Ya sudah kalau begitu, lebih baik kita ke kamar. Kamu pasti lelah karena sepanjang acara sering berdiri dengan heels setinggi itu," usul Deo, matanya melihat sekilas gerakan kaki Leika dari balik gaunnya yang tampak tidak nyaman.
"Iya, kamu tahu saja." Dalam hati Leika sebenarnya bahagia. Sebentar lagi, dia akan memiliki Deo seutuhnya.
Sepasang pengantin baru itu turun dari pelaminan sambil berpamitan kepada para keluarga yang masih berada di dalam ruangan, menikmati hiburan yang ada.
"Apa kamu masih kuat berjalan, Beib?" tanya Deo yang merasa tidak tega dengan Leika karena jalannya terseok-seok.
"Gendong," kata wanita itu dengan nada manja lalu mengangkat kedua tangan ke atas dan sedikit menghentakkan kedua kakinya.
Dengan suka rela, Deo akhirnya menggendong Leika menuju kamar mereka.
Saat tiba di kamar, Deo menurunkan Leika dan menaruhnya di sofa panjang yang ada di kaki tempat tidur. Pria itupun membantu sang istri melepaskan heels-nya.
"Beib, mau kan bantu aku lepasin resleting gaun ini? tanganku tidak sampai," kata Leika meminta tolong.
"Iya, sini aku bantu."
Pria itu menurunkan resleting dengan sangat perlahan. Sedikit demi sedikit punggung Leika yang sangat mulus dan indah itu terbuka lebar tanpa ada sehelai benang pun yang menutupinya.
Sebagai pria normal, hasrat Deo mulai tersulut. Seperti minyak tanah yang disundut oleh korek api yang menyala.
Dia bersusah payah menelan ludahnya. Hingga resleting itu berhenti karena sudah batas akhir jahitannya.
Sementara Leika juga merasakan hal yang sama. Detak jantungnya pun berpacu lebih cepat. Untuk pertama kalinya Deo melihat tubuh indahnya.
"Beib," panggil Deo seraya mendekatkan wajahnya ke punggung polos milik Leika. Memberi kecupan di sana, membuat sang empunya memejamkan mata, menikmati aliran darah yang berdesir cukup cepat.
Deo memeluknya dari belakang. Kedua tangan kekarnya itu menelusup ke balik gaun. Alhasil bagian depan gaun tersebut terbuka, polos.
"Aku menginginkanmu, sekarang!" pinta Deo dengan suara paraunya.
Leika berbalik badan kemudian melepaskan pelukan suaminya, lalu berdiri. Wanita itu melepas semua pakaian yang menempel pada tubuhnya sejak tadi.
__ADS_1
Seolah mengikuti nalurinya, Deo mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya juga. Sepasang pengantin baru itu sedang diselimuti kabut gairah.
Jelas dari awal komitmen Deo benar-benar bisa dipegang untuk tidak menyentuh Leika. Namun baginya, setelah keduanya resmi menikah, disitulah saatnya.
Kamar mewah di hotel berbintang itu, seakan menjadi saksi penyatuan mereka. Padahal saat itu, matahari belum juga berganti. Namun itulah hasrat yanh tidak pernah kenal waktu kapan rasa ingin itu ada.
Namun ketika permainannya sudah sampai ke inti, Leika tidak merasakan rasa sakit yang biasanya dialami wanita yang baru pertama kali berhubungan. Akan tetapi, Deo terus melakukan keinginannya sampai akhir supaya tidak merasa tanggung.
Setelah hampir satu jam lamanya, Deo akhirnya menyemburkan lahar ke dalam milik Leika. Keduanya saling melenguh, merasa nikmat tiada tara.
Kemudian mereka saling berpelukan dengan peluh yang sudah bersatu padu. Bahkan pendingin ruangan pun baru bisa mereka rasakan setelah mengakhiri permainan panas tadi.
Karena cukup lelah, keduanya pun terlelap.
...----------------...
Langit di sore itu sangat indah. Tidak lama lagi sang surya akan tenggelam dan berganti dengan rembulan bersama bintangnya. Sementara sepasang pengantin baru itu baru saja siuman.
"Beib, kamu mandi duluan ya," kata Deo yang masih ingin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Leika yang masih setengah sadar pun menganggukkan kepalanya seraya turun dari tempat tidur dengan keadaan tubuhnya yang polos, menuju kamar mandi.
Saat Leika baru saja masuk, tidak sengaja mata Deo melihat ke arah sprei yang tadi tempat istrinya berada.
"Kenapa tidak ada darah? Apa aku bukan orang yang pertama melakukan hal itu dengannya?" Deo bertanya-tanya. Rasa cemburu mulai berkecambuk dalam hati dan mempengaruhi pikirannya.
Pria itu segera memakai pakaiannya, lalu duduk di sofa menunggu Leika selesai mandi. Sedangkan di dalam kamar mandi, Leika terus mengerutuki dirinya sendiri.
"Gawat, gawat! Bagaimana kalau Deo sampai sadar? Ah! Matilah aku." Leika mengacak rambutnya merasa frustasi. Lalu dirinya terkesiap seolah melihat sekelebat cahaya yang lewat di depannya. "Eh tapi untungnya sebelum acara aku sudah meminum obat itu. Bahaya kalau Deo sampai marah," katanya bermonolog sambil mondar mandir di depan cermin.
Tanpa berpikir lebih panjang lagi, Leika segera menyelesaikan mandinya. Hingga dua puluh menit kemudian, Leika pun telah selesai, lalu membuka pintunya.
"Leika ... "
Bersambung ...
...****************...
__ADS_1