
Beberapa jam lalu, tiba-tiba hujan mengguyur ditengah musim semi saat itu. Namun tidak ada suara petir yang biasanya cukup mengganggu telinga.
Penghuni rumah itupun satu per satu sudah bangun dari tidur mereka, termasuk Hyuna. Selesai mandi dan berganti pakaian, wanita itu mengumpulkan berkas yang akan dipakai untuk daftar ke kampus baru.
Setelah semuanya terkumpul lengkap, Hyuna memasukkan berkas itu ke dalam tas ranselnya. Kemudian keluar dari kamar menuju ruang makan.
Setibanya di sana, ternyata belum ada hidangan makanan di atas meja. Hyuna menaruh tas ranselnya lalu bergegas mengambil apron untuk membantu Mama-nya memasak sarapan.
"Pagi, Ma," sapa Hyuna sambil memakai apron dan menghampiri Nestya.
"Hei, pagi. Loh kamu kok pakai apron? Sudah duduk saja sana, sebentar lagi selesai kok," kata Nestya menolak bantuan dari anak bungsunya itu.
"Tidak apa-apa, Ma. Hyuna juga ingin belajar memasak. Mama tahu? Saat ingatan Hyuna kembali, masakan Mama tuh paling tidak ada yang bisa menyaingi!" seru wanita itu terlihat antusias.
"Oh iya? Memangnya selama di sana kamu tidak pernah makan makanan yang biasanya Mama masak?" tanya Nestya menoleh sebentar ke arah Hyuna lalu kembali lagi merajang bumbu dasar yang ada di atas talenan.
"Tidak sama sekali. Ya karena semua aturan di rumah itu sudah diatur oleh Deo. Makanya pelayan rumah yang baru pun, sudah diberitahukan di awal," jawab Hyuna sambil ikut membersihkan sayur mayur yang akan di masak.
Ditengah asiknya berbincang, Herya datang sambil menggendong Noi yang baru bangun tidur.
"Pagi Noi, kok mukanya merah. Pasti habis nangis ya? Kenapa?" Niat Hyuna ingin menyapa Noi, tapi apalah daya setelah itu Noi malah semakin nangis kejer. "Yah, malah nangis sih Kak?" tanya Hyuna seketika panik.
Herya terus menggoyang-goyangkan tubuh Noi supaya tangisnya bisa berhenti. "Iya Noi ini memang setiap pagi sama malam suka nangis semenjak aku stop ASI. Ini aku mau buatin susu untuknya dulu ya," kata Herya, tidak ada raut kemarahan pada wajahnya. Karena ia tahu kalau Hyuna baru melihat keponakannya lagi.
"Oh gitu. Ya sudah deh ... " Hyuna kemudian melihat wajah Noi lagi. "Maafin tante ya Noi," ucapnya pada gadis kecil yang menggemaskan itu. Namun lagi-lagi Noi yang tadi tangisnya hampir berhenti menjadi berlanjut.
"Noi tuh gitu, kalau ke sini pun nangis terus. Nanti, kalau sudah dua hari di rumah dan sering melihat kami. Barulah dia anteng," sanggah Nestya setelah Herya pergi dari dapur.
"Seperti itu Ma?" tukas Hyuna, terperangah.
"Iya. Persis seperti ibunya sejak kecil," jawab Nestya sambil memasukkan sayur ke dalam wajan.
"Mendiang kakek dan nenek entah dari Mama atau papa, selalu seperti itu. Makanya kami kalau menginap di rumah mereka minimal harus satu minggu," sambung wanita paruh baya itu.
"Oh iya, apa kamu sudah pernah bertemu dengan orang tua Deo?" tanya Nestya kemudian.
Hyuna mengangguk. "Sudah, sewaktu aku belum bisa benar-benar berjalan. Dia yang datang ke rumah pribadi nya Deo." Tubuhnya bersandar pada meja dapur menghadap ke arah Nestya yang sedang memunggunginya.
"Dua-duanya?" tanya Nestya memastikan.
"Tidak, Ma. Hanya ayahnya saja. Aku awalnya merasa takut karena jika dilihat dari garis wajahnya, dia sangat tegas. Begitupun dengan nada suaranya yang penuh penekanan." Hyuna menghela napasnya. "Tapi, setelah aku dengar baik-baik apa yang dibicarakannya itu, ternyata untuk kebaikanku dan juga anaknya."
"Itulah yang Mama selalu khawatirkan sejak kamu kecil, kamu itu terlalu berani dan tidak takut dengan apapun yang ada di hadapanmu. Kalau papa-mu sih biasa saja, katanya supaya melatih mentalmu biar lebih kuat lagi." Nestya menjeda ucapannya karena hendak menaruh masakan yang sudah matang ke atas piring saji.
__ADS_1
"Ya. Mau bagaimana? Perasaan seorang ibu itu lebih sensitif. Tapi semakin lama Mama perhatikan dan pahami. Ternyata Mama percaya kamu memang bisa untuk melewati semuanya," sambungnya.
Hyuna langsung memeluk Mama-nya dari belakang. "Hyuna minta maaf Ma dan terima kasih atas segala pengorbanan Mama dan juga papa."
Hati Nestya begitu tersentuh. Ia hampir saja meneteskan air mata. Sebisa mungkin ia tahan, lalu tangannya mengusap lembut kepala serta tangan Hyuna. "Bagi kami, anak itu bukan aset. Akan tetapi sebuah hadiah dari Tuhan yang harus dijaga, dirawat serta diberi kasih sayang sepanjang masa." Nestya melepaskan pelukan itu lalu merubah posisinya menjadi berhadapan dengan Hyuna. "Mama harap, jika kamu menjadi orang tua. Terapkan semua yang baik, yang telah kami ajarkan padamu sejak kecil ya. Apapun hasilnya nanti, karena dengan memperbaiki dari prosesnya, takdir pun akan tahu hasilnya seperti apa."
"Iya, Ma." Hyuna tersenyum lalu memeluk Nestya kembali.
"Duh, masih pagi udah peluk-peluk saja. Papa juga mau dong di peluk sama anak Papa yang satu ini." Boy tiba-tiba datang ditengah haru birunya ibu dan anak tersebut.
Keduanya pun saling melepaskan pelukan satu sama lain.
"Pagi, Pa!" seru Hyuna lalu menghambur ke pelukan Boy yang sudah rapih dengan pakaian kantornya.
"Pagi." Pria itu memeluk anak bungsunya, sambil mengusap kepalanya juga. Tak lama kemudian pelukan pun terlepas. "Mama jadi antar Hyuna daftar kuliah di kampus dekat rumah?" tanyanya kemudian.
"Jadi. Semalam Mama sudah hubungi teman Mama yang bekerja pada bagian administrasi di kampus itu. Jadi Mama sudah bilang padanya akan ke sana hari ini," jawab Nestya sambil melepas apronnya.
"Ma, makanannya aku bawa ke meja makan ya?" tanya Hyuna.
"Iya, Nak," jawab Nestya ditengah perbincangannya dengan Boy.
Hyuna menata semua makanan yang telah dimasak oleh Mama-nya dengan rapih di atas meja.
"Yang biasa aku pakai saja, Pa. Sekalian sepulang dari kampus aku mau ke bengkel untuk service. Bulan lalu kita tidak sempat service kan," jawab Nestya lalu mengerucutkan bibirnya.
"Oh iya, aku saja hampir tidak ingat. Uangnya masih ada kan?" tanya Boy lagi sambil menaruh jari telunjuknya di bibir Nestya.
"Ada kok, Pa." Nestya kali ini tersenyum.
"Pa, Ma. Ayok kita sarapan!" ajak Hyuna lalu hendak pergi ke meja makan lagi.
"Eh, Nak apron kamu di lepas dulu," cegah Nestya ketika melihat Hyuna masih memakai apronnya sejak tadi.
"Oh iya, hehehe aku sampai tidak ingat." Hyuna segera melepas apron lalu menaruh kembali ke tempatnya.
...----------------...
Sesaat setelah Boy dan Richi pergi ke tempat kerja mereka masing-masing, Nestya pergi ke kamar terlebih dahulu untuk mengganti pakaian. Tinggallah di ruang keluarga ada kakak beradik dan keponakannya.
"Kak, kak Richi itu kerja kantoran juga? Pakaiannya sama seperti papa," tanya Hyuna membuka obrolan mereka.
"Richi itu punya usaha sendiri, Hyuna. Ya meskipun masih berkembang, tapi sudah lumayan untuk kebutuhan bulanan kami. Masa sulit waktu itu ketika baru resign dari tempat kerja terus mulai dengan usaha baru. Tapi untungnya masa itu sudah terlewati," jawab Herya yang disambung dengan senyuman.
__ADS_1
"Oh begitu, usaha apa memangnya kak?" tanya Hyuna lagi yang begitu penasaran.
"Restauran bintang lima. Di pusat kota Birmingham. Letaknya tuh di samping hotel, nanti kapan-kapan kita dinner di sana, oke?" Herya mengacungkan jempol tangannya.
"Asik. Seru tuh kak, hehe." Hyuna bertepuk tangan seperti seumuran dengan Noi.
Herya hanya tertawa melihat tingkah Hyuna yang terkadang diluar dugaan. "Dek, kamu itu kan habis kecelakaan ya. Ibaratnya kayak hidup kamu yang kedua loh sekarang tuh. Tapi kenapa tingkah absurd-mu tidak hilang?" celetuk Herya dengan wajah memelas dan suara yang dibuat menyedihkan.
"Aku akan seperti ini sama orang yang memang tahu asliku seperti apa Kak," jawab Hyuna dengan sikap elegannya.
"Aih, kamu ini." Herya memutar malas bola matanya. Lalu mereka pun tertawa bersama.
"Ayok Hyuna kita berangkat!" ajak Nestya yang telah siap. Hyuna pun beranjak dari duduknya lalu mengaitkan tas ranselnya di bahu.
"Pulangnya aku nitip mekdi ya," kata Herya yang memilih di rumah saja.
"Oke siap!" sahut Nestya.
"Kami berangkat ya. Kamu jaga rumah!" seru Nestya sambil melambaikan tangan ke arah Noi. Lagi-lagi Noi malah menangis melihat mereka pergi. Herya segera membawanya ke kamar.
...----------------...
Sepanjang perjalanan menuju kampus, Hyuna sangat menikmati pemandangan dengan hamparan bukit nan permai. Sedangkan Nestya fokus menyetir mobil yang dikendarainya.
Tidak sampai setengah jam, mereka pun tiba di kampus tujuan. Nestya segera memarkirkan mobilnya. Setelah selesai, keduanya pun turun.
Nestya langsung mengajak Hyuna menuju bagian administrasi tempat temannya bekerja.
"Hai Nes, apa kabar?" sapa seorang wanita yang baru saja keluar dari ruangan yang hendak mereka tuju.
"Hai Sin. Kebetulan sekali. Aku baik. Kamu?" Mereka saling menci um pipi kanan dan kiri.
"Baik juga. Eh iya, baru aku mau telepon kamu. Ternyata kamu sudah sampai." Wanita itu melihat ke arah Hyuna dengan sikap ramahnya. "Ini anak bungsumu Nes? Cantik, hampir mirip sama Herya ya!" serunya. Sementara Hyuna ikut terkekeh geli.
"Hyuna kenalin ini Sintia, teman baik Mama sewaktu kuliah dulu. Benar begitu Sin?" kata Nestya memperkenalkan temannya pada Hyuna.
"Lebih dari itu loh hahaha." Mereka pun tertawa. Seperti sedang reuni. Hyuna menyikapi kedua wanita yang ada di depannya itu hanya bersikap kalem dan keanggunan tiada tara.
"Hyuna kamu ikut sama tante Sintia ya. Mama tunggu di depan," kata Nestya. Hyuna pun mengangguk.
Akhirnya Hyuna mengikuti Sintia masuk ke ruang administrasi untuk proses pendaftaran mahasiswi baru.
Bersambung ....
__ADS_1