Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 44. Musuh Yang Terperangkap


__ADS_3

"Um, maaf Nando bukan ya aku tidak ingin memberitahumu. Aku hanya ingin nantinya Leika tetap bisa berkarir meskipun dia sudah keluar dari sel tahanan," jelas Nathania berusaha membela Leika di depan Nando. Ia sedang bermain peran dengan karakter baik pada raut wajahnya.


Tiba-tiba Nando melemparkan setumpuk berkas di hadapan Nat. Otomatis bekas yang tidak memakai paper clip itu berserakan kemana-mana.


"Kamu!" Nat merasa geram sambil menyodorkan jari telunjuk ke arah Nando. "Berkas apa ini?" tanyanya dengan hati terasa panas. Ia tidak suka diperlakukan seperti itu.


Nando tersenyum menyeringai. "Itu adalah berkas dari beberapa produser film yang ingin menginginkan peran Leika pada film mereka. Dan itu harus ditandatangani dalam waktu maksimal satu minggu ini. Kalau menunggu urusan Leika sampai selesai, mau sampai kapan? Yang ada semua produser film tidak ada yang tertarik dengan PH milikku ini!" Nada suara pria itu seperti anak tangga dalam nada. Pelan, sedang, tinggi dan semakin tinggi.


"Aku akan usahakan hari ini dia bisa keluar dari sel tahanan. Kalau memang butuh waktu satu minggu, itu artinya aku masih punya waktu enam hari lagi," kata Nat berusaha memberikan kepercayaannya terhadap Nando.


"Sudah basi! Sekarang dia hamil. Itu artinya dia sudah mencoreng namanya sendiri! Hamil tanpa suami, bagaimana menurut mereka tentang image-nya? Sedangkan garis dasar dalam kontrak itu tidak boleh syuting jika sedang hamil. Kalau sudah begini, apa yang mau kamu usahakan untuknya?" papar Nando seraya berdiri dari kursinya.


"Saranku, lebih baik kamu cepat cari pengganti Leika. Kalau bisa yang usianya lebih muda," lanjut pria itu dengan tegas.


"Hah? Tidak bisa secepat itu Nando. Mencari seorang artis baru untuk sebuah film besar pasti akan menjadi pertanyaan besar untuk produser film dan juga sutradara." Nat berkilah karena merasa Leika masih pantas. Selama perutnya masih belum terlihat buncit, ia merasa Leika masih bisa syuting.


"Baiklah, sekarang aku kasih waktu selama tiga hari. Kalau memang Leika sanggup, ambil. Namun kalau sudah diambil dan tiba-tiba berhenti di tengah jalan, kamu harus siap membayar denda pinalti kepada mereka. Lalu keluar dari PH-ku!" kata Nando memberi ancaman yang tidak main-main. Hal itu tampak sekali pada raut wajahnya yang sangat serius.


Nathania hanya terdiam. Ia tidak mampu bicara lebih banyak lagi. Pasalnya, ia juga belum bisa memastikan kalau soal itu. Sedangkan keuangan yang ada pada Leika sudah menurun semenjak diceraikan oleh Deo. Tidak ada lagi uang yang tanpa batas dan suka-suka bisa dia ambil.


"Keluar dari ruanganku sekarang! Aku tidak ingin terlalu lama melihat wajahmu lagi," kata Nando mengusir Nat dengan sorot penuh kebencian.


Saat itu Nat merasa seolah dialah yang menjadi korbannya. Berperan dengan karakter yang berbeda pada sangat mampu dia lakoni.


Nat akhirnya pergi dari ruang kerja Nando tanpa permisi. Wanita itu berjalan hingga tepat berada di depan lobby. Niatnya ingin segera pergi ke mobil untuk menemui Leika kembali. Akan tetapi sebuah mobil tipe sedan berwarna hitam berhenti di depannya.


Kedua sisi pintu yang sama pun terbuka. Tampak dua orang pria memakai setelan baju berwarna hitam turun lalu menarik Nat untuk masuk ke dalam. Sebelum berhasil berteriak, salah satu dari pria itu membekap hidung Nat dengan sebuah sapu tangan yang telah ditaruh obat bius.


Nat pingsan, dan kedua pria itu pun membawa masuk dirinya ke dalam mobil. Saat itu kondisi kantor Nando memang cukup sepi. Pintarnya orang-orang yang ada di dalam mobil itu mampu memanfaatkan celah ketika keadaan terlihat sudah aman.


Mobil itu membawa Nat ke sebuah rumah yang terletak jauh dari pusat kota. Daerah disekitar rumah itu dipenuhi pepohonan yang rindang.


Setibanya di sana, Nat diturunkan dengan cara di gotong dengan dua orang pria tadi. Nat pun dimasukkan ke dalam sebuah ruangan yang kosong tanpa barang-barang. Hanya terdapat satu kursi yang akan ditempati olehnya.

__ADS_1


Tak lama berselang, sebuah mobil Royce Phantom datang. Semua pria yang berpakaian hitam menunduk hormat ketika pemilik mobil itu turun dari kursi kemudi.


"Apa kalian berhasil menangkapnya?" tanya sang tuan dengan mimik datar.


"Sudah Tuan. Dia ada di dalam."


Setelah mendapatkan jawaban, sang tuan pun bergegas masuk ke dalam.


Benar saja, wanita yang sejak lama dia cari masih dalam kondisi pingsan. Sang tuan keluar lagi dari ruangan itu untuk memanggil salah satu dari para orang suruhannya.


"Aldo, apa berkas yang saya minta sudah kamu masukkan ke pihak berwajib?" Sang tuan itu tak lain adalah Deo.


"Sudah Tuan. Laporan yang Anda ajukan diterima oleh mereka karena bukti yang ada pun sudah kuat. Sebentar lagi mereka akan ke sini untuk menangkapnya," jelas Aldo yang memiliki raut wajah tak jauh beda dinginnya dengan Deo.


"Bagus! Musuh berhasil terperangkap. Kembali ke depan, suruh mereka berjaga di sekeliling rumah ini," titah Deo dan dijawab anggukkan kepala oleh Aldo.


"Baik Tuan," balas Aldo menunduk hormat lalu pergi dari hadapan Deo.


Sementara itu, Deo masuk ke ruangan tempat Nat berada. Tak disangka, obat bius yang diberikan oleh para orangnya Aldo sudah habis. Nat mulai terbangun dengan mata yang masih disipitkan.


"Kenapa? Asing ya dengan tempat ini?" Suara baritone Deo berhasil menyadarkan Nat dalam sekejap mata.


Nat menoleh ke sumber suara itu. "Deo, apa yang kamu lakukan? Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya nya tidak mengerti.


"Tidak usah memasang wajah memelas seperti itu. Aktingmu tidak berlaku di depanku. Karena aku sudah tahu siapa dalang yang telah mengobrak-abrik kehidupan pribadiku, maka siapapun itu aku tidak segan untuk menjebloskannya ke dalam sel tahanan seperti anak didikmu," jelas Deo menunjukkan sorot sinis.


Nat menatap Deo lebih dalam lagi. Walau jarak mereka cukup jauh, tapi dengan kondisi Nat yang diikat kedua tangannya pada sanggahan kursi, Deo yakin Nat tidak akan banyak berkutik.


"Deo tolong ... Jangan masukkan aku ke dalam jeruji besi. Aku tidak bermaksud menghancurkan hidupmu, aku hanya ... " Nat menghela napasnya. "Hanya ingin hidup denganmu, Deo."


"Bagus, sangat bagus sekali!" timpal Deo lalu memajukan langkahnya lebih dekat ke arah Nat. "Kamu puas menghancurkan masa depan wanita yang sudah berhasil menjadi pendampingku, lalu kamu masuk sebagai pahlawan untuk menarik perhatianku, seperti itu?" lanjut pria itu mulai naik pitam.


Tanpa Nat menjawab, Deo sudah mampu melihat dari sorot matanya. Wanita itu sungguh pandai bermain raut muka, tapi tidak dengan tatapannya.

__ADS_1


"Kamu egois Nat!" bentak Deo lalu mendengus. "Kamu peralat Leika, kamu jadikan dia wanita yang sangat angkuh, lalu setelah berhasil aku hempaskan dia, kamu bahagia. Sungguh kamu wanita yang hebat, Nat! Aku harap setelah ini karma akan berlaku padamu."


"Apa salah aku mencintaimu, Deo? Tapi itu caraku. Kamu sama sekali tidak melirikku. Kamu bahkan sering tak melihatku. Apalagi jika bersama Leika. Apa kurangnya aku Deo?" Nat menatap berani pada pria yang sejak tadi memberinya tatapan benci.


"Kita memang tidak pernah saling mengenal. Awalnya aku hanya tahu kamu sebatas manager Leika. Dan asal kamu tahu, cinta tidak pernah mendorong seseorang menjadi gila. Itu bukan cinta, melainkan ambisimu!" Deo memicingkan matanya. "Apa karena aku kaya raya, kamu mampu melakukan semua itu?"


Nat refleks mengangguk meskipun pelan. Deo seketika tertawa melihatnya. "Licik, benar-benar licik!"


Pria itu kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana lalu menghubungi Aldo yang ada di luar. Dia sudah semakin muak jika terus melihat wanita itu ada di sana.


"Sudah datang?" tanya Deo dengan pandangan yang tak lepas dari Nat supaya tidak ada celah untuk bisa kabur darinya.


"Sudah Tuan."


"Suruh masuk ke dalam!" Sambungan telepon pun di akhiri oleh Deo.


"Karena kamu sudah berhasil membuatku benci pada Leika, sekarang waktunya kamu berada dalam satu ruangan dengannya!" ucap Deo lalu melangkah mundur kembali.


"Masuk!" perintah pria itu sedikit berteriak.


Pintu ruangan pun terbuka lebar. Nat terkejut dengan kedatangan beberapa anggota berwajib di sana.


"Deo, kamu!" sentaknya sambil mengeratkan rahang.


"Silahkan dibawa. Saya akan menyusul ke kantor," kata Deo kepada para anggota itu.


Dengan cepat Nat dilepaskan dari ikatannya pada kursi itu. Setelah itu ia pun di borgol dan dibawa keluar oleh mereka. Tentunya Nat tidak tinggal diam. Wanita itu memberontak.


"Deo, awas saja kamu! Aku akan menghancurkan Hyuna setelah ini!" teriaknya dengan suara yang semakin menjauh.


Deo hanya terkekeh pelan mendengar ancaman dari Nat. Bisa dipastikan, hukuman yang akan diberikan kepada Nat jauh lebih berat ketimbang Leika.


"Coba saja kalau kamu bisa!" gumamnya lalu pergi dari ruangan itu dan menghampiri Aldo.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2