Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Sequel - 20


__ADS_3

"Tuan Deo, kenalkan saya Dave Vallentino kekasihnya Hyuna Indira," kata pria itu terdengar sangat yakin. Dalam sekejap jabatan tangan keduanya melonggar lalu saling melepaskan.


Seketika Hyuna terharu dengan pengakuan Dave saat itu di depan Deo. Tidak salah kalau wanita itu datang ke London untuk menemuinya. Meskipun awalnya sempat merasa deg deg kan, namun akhirnya memberinya rasa percaya kalau Dave adalah pria yang terbaik untuknya.


Deo mengangkat dagunya sambil mengulum bibir dan menarik napas dalam-dalam lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Selamat untuk kalian berdua dan untukmu Hyuna, semoga Dave menjadi pria yang bisa membuatmu bahagia."


Sekilas kata-kata Deo bagai sebuah doa untuk Hyuna dan juga Dave. Tetapi dalam hati kecilnya, merasa kecewa. Sebab pertemuan tak sengajanya itu, ia berharap ada perbaikan hubungan antara dirinya dan juga Hyuna. Namun ternyata, wanita yang pernah ada dalam hidupnya telah menjatuhkan hatinya pada pria lain. Ada sebuah penyesalan karena pernah menyia-nyiakan wanita baik seperti Hyuna. Sementara hidupnya saat itu terombang ambing dengan keadaan yang tidak semestinya. Ditambah keberadaan Leika yang entah ada dimana, dan dibalik itu Deo pun sedang mencarinya serta akan membuat perhitungan pada ibu dari anaknya itu.


"Terima kasih atas doanya," ucap Hyuna dengan hati yang lega.


"Ya sudah kalau begitu, saya permisi." Deo pun pamit dan pergi dari hadapan mereka.


Setelah kepergian Deo, Dave memposisikan dirinya menjadi berhadapan dengan Hyuna. Lalu kedua tangannya meraih kedua tangan wanita itu. Wajah berseri ditunjukkan dari keduanya diiringi seulas senyum merekah yang tampak ada sebuah rindu.


Dari kejauhan Deo menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dan melihat kemesraan mereka dengan sorot sendunya. Meski banyak orang yang berlalu lalang seolah menghalangi pandangannya, tetap saja fokus mata Deo tertuju langsung pada mereka.


"Andai perpisahan itu tidak terjadi pada kita, mungkin orang yang ada di depanmu itu adalah aku."


Deo kemudian berbalik badan lalu melanjutkan langkahnya lagi menuju mobil yang tengah menunggunya sejak tadi.


Sementara itu di dekat pintu kedatangan. Dave menggenggam kedua tangan Hyuna sangat erat. Posisi mereka masih sama, yaitu saling berhadapan.


"Aku kira kamu tidak akan datang. Soalnya terakhir aku lihat, kamu sama sekali belum membaca pesanku," keluh Hyuna. Raut wajahnya tiba-tiba murung.


Dave menggoyangkan kedua tangannya. "Maaf, tadi aku berangkat pagi-pagi sekali ke rumah sakit karena harus visit beberapa pasien yang kemarin habis diambil tindakan. Maafin aku ya," kata pria itu. Suaranya terdengar sangat lembut.


Hyuna pun mengangguk sambil tersenyum. "Iya tidak apa-apa, yang terpenting sekarang kamu memang benar-benar datang."


Dave melepaskan sebelah genggaman tangannya lalu mengusap kepala Hyuna dan tidak disangka ia mencium keningnya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu," ucap Dave sambil menatap lekat kedua mata Hyuna.


"Aku juga mencintaimu," balas Hyuna semakin memperdalam tatapannya. Ia melihat ketulusan di sana, detak jantungnya pun semakin berdegup tak menentu.


"Jadi kamu mau jadi kekasihku?" tanya Dave untuk yang kedua kalinya.


"Iya, aku mau!" jawab Hyuna sambil malu-malu.


"Baiklah kalau begitu ... Apa kamu punya waktu banyak?" tanya Dave lagi.


"Hmm ... " Hyuna melihat petunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. "Tidak terlalu banyak sih, ya ... Hanya sampai pukul dua siang. Soalnya sore ini aku harus berangkat kerja."


"Oke kalau begitu, aku akan menggunakan waktu yang singkat di hari ini dengan sebaik-baiknya. Yuk ikut aku!" ajak Dave dengan sangat antusias dan juga bersemangat.


"Yuk!" sahut Hyuna yang tak kalah antusiasnya. Lalu tangan Dave menggenggam tangannya semakin erat. Keduanya pun berjalan menuju halaman parkir.


Setibanya di dalam mobil, keduanya tak lupa memasang sabuk pengamannya masing-masing. Setelah itu Dave pun mulai menyalakan mesin mobil dan melajukannya.


"Hyuna, kalau boleh tahu berapa lama sih pernikahanmu dengan Deo sebelumnya?" Dave membuka pembicaraan.


"Kurang lebih satu tahun dan itupun awalnya dia tidak mau pisah." Hyuna menghela napasnya. "Tapi aku bersikukuh untuk pisah."


"Kenapa?" Dave bertanya spontan.


"Ya kamu bayangkan saja berada di posisiku. Status memang sebagai istrinya. Namun hatinya bukan untukku, bahkan tidak pernah ada untukku. Wanita mana yang tahan jika hanya dijadikan figuran dalam hidup suaminya sendiri. Biarpun untuk mencintainya itu aku harus tertatih, tapi apalah daya aku hanya wanita biasa yang butuh cinta dan ketulusan seorang pria dihidupnya selain ayahnya sendiri."


Dave terdiam. Pria itu seolah sedang berpikir.


"Ya, memang tidak salah sih kalau kamu memilih untuk berpisah darinya. Malah bagus," sahut Dave sambil tersenyum bangga kepada Hyuna. "Kamu tahu bukan kalau anaknya itu sedang aku tangani?"

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Makanya waktu terakhir aku di London saat itu, aku segera meminta Mama-ku untuk memesankan tiket pesawat kembali Ke Birmingham."


Dave sedikit terkejut setelah mendengar pengakuan Hyuna. "Kenapa saat itu kamu tidak bilang padaku?"


Hyuna memutar malas bola matanya. "Kamu sedang pura-pura tidak ingat atau memang benar tidak ingat Dave?"


Seketika Dave pun mengusap tengkuk lehernya sambil tersenyum canggung. Pasalnya saat itu ketika Hyuna akan memberitahunya, justru ia malah mencium bahkan menautkan bibirnya.


"Habisnya, kamu itu begitu menggemaskan bagiku," jawab Dave berkilah. Memang pada dasarnya saja hasrarnya saat itu sudah tidak tertampung. Jadilah ci uman panas itu, ditempat umum pula. Menyebalkan Dave ini, tapi Hyuna suka. Bagaimana dong?


Hyuna terkekeh pelan, lalu dalam sekejap raut wajahnya mulai serius. "Oh iya, kamu sendiri dengan status aku yang sekarang apa tidak malu? Sedangkan kamu belum pernah menikah?" tanya wanita itu sangat hati-hati.


"Kenapa harus malu? Kan yang jalanin aku sama kamu. Bagiku, mau kamu janda ataupun sendiri selama bukan milik orang lain selai aku, tidak jadi masalah. Orang yang belum pernah menikah sekalipun, pengalamannya bisa di adu dengan yang sudah menikah. Dari segi mental maupun kemampuannya mengendalikan hasrat," jawab Dave dengan kebijaksanaannya.


"Aku merasa tidak salah mencintaimu, Dave," kata Hyuna mengalir begitu saja.


"Jelas dong. Salah tuh kalau kamu mencintai sesama jenis. Nah baru aku angkat tangan," seloroh Dave, kemudian keduanya tertawa.


"Kamu ini ada-ada saja sih." Hyuna mencubit lengan Dave. Walau sedikit terasa sakit, tapi masih bisa pria itu tahan. "Ternyata dibalik sikapmu yang tak acuh itu, punya selera humoris juga ya ... Meskipun datar."


Dave langsung terdiam, lalu menepikan mobilnya. Hal itu membuat Hyuna merasa terkejut bukan main.


"Dave kenapa kita berhen---"


Pria itu menarik tengkuk leher Hyuna yang saat itu belum siap menerima serangan darinya. Itu kali kedua Dave menci um Hyuna secara tiba-tiba dan yang pasti sudah bisa menebaknya bukan. Semakin lama ci uman itu berujung panas sampai ke ubun-ubun.


Setelah mulai sulit dikendalikan. Dave melepaskan pagutannya. Keduanya pun sampai terengah-engah karena hampir kehabisan napas.


"Dave ..."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2