Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 45. Obrolan Ayah Dan Anak


__ADS_3

"Bagaimana Do. Kamu sudah dapat informasi mengenai Hyuna?" tanya Deo ketika sudah berada tepat berhadapan dengan Aldo.


"Sudah Tuan. Dia ada di rumah kedua orang tuanya di Birmingham, Inggris. Dia juga sudah memulai kuliahnya sekitar satu bulan terakhir ini," jawab Aldo tanpa ada keragu-raguan.


"Okey, terima kasih banyak atas informasinya. Penghasilanmu akan saya kirim melalui transfer. Kamu bisa kembali dengan aktifitasmu," kata Deo dengan perasaan yang sedikit lega.


Satu per satu masalah yang dihadapinya sudah terpecahkan dan mendapat jalan keluarnya. Hanya tinggal satu lagi, yaitu urusannya dengan Hyuna.


Pria itu masih belum tahu akan dibawa kemana hubungannya dengan wanita berusia sembilan belas tahun itu. Sebab, ia belum merasa jatuh cinta padanya.


Atau mungkin Deo sendiri yang tak sadar kalau sebenarnya percikan cinta itu sudah ada. Hanya saja, karena sebelumnya masih ada Leika yang bertahta di relung hatinya. Hyuna menjadi tersingkirkan.


Deo akhirnya pergi dari rumah itu. Rumah dimana tempat mengeksekusi para musuh yang berani menyenggol keluarga besar Ainsley.


Sebenarnya pihak berwajib itu tidak tahu kalau rumah itu sering ia jadikan sebagai rumah terakhir bagi orang-orang yang pernah mengkhianatinya. Makanya sebelum menggeret Nat ke sana, rumah itu telah dibersihkan seperti sebagaimana rumah pada umumnya.


Deo melajukan mobilnya ke sebuah kafe yang searah dengan perusahaannya. Ia pun mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum turun dari kursi kemudi. Setelah selesai, barulah ia masuk ke dalam.


Suasana kafe itu cukup ramai. Bahkan Deo sendiri tidak dapat tempat duduk dengan meja terpisah. Alhasil ia pun duduk di depan bar.


Sesaat kemudian ponselnya bergetar. Reflek Deo pun melihat ke layar benda pipih berbentuk persegi panjang yang sejak tadi dipegang olehnya.


"Daddy?" gumamnya lalu menjawab panggilan itu.


"Iya Dad. Ada apa?"


"Kamu dimana Deo?"


"Di Audrie's Cafè. Ada perlu apa Dad?"


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Tunggu aku, jangan kemana-mana!"


Belum sempat Deo menjawabnya lagi, panggilan tersebut diakhiri begitu saja oleh Fabios. Ia hanya menggelengkan kepalanya lalu memesan minuman pada pelayan bar yang ada di hadapannya itu.


Tidak sampai lima belas menit, Fabios pun tiba di sana.


__ADS_1


"Deo, apa yang kamu lakukan pada Leika? Kenapa kamu menjebloskannya ke dalam jeruji besi?" Fabios yang baru saja tiba, langsung to the point saat melontarkan pertanyaan.


Deo mengerutkan alis seraya memiringkan sedikit kepalanya. "Daddy tahu darimana?" tanya pria itu merasa heran.


Fabios tidak langsung menjawabnya. Melainkan mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan sebuah berita pada Deo. Fabios yakin kalau anak sulungnya itu belum tahu tentang berita tersebut.


"Apa ini Dad?" tanya Deo lagi masih merasa bingung.


"Kamu baca saja. Semua keluarga Ainsley bertanya pada Daddy. Kebanyakan dari mereka tahu tentang hal yang menimpa Leika dari berita itu. Makanya Daddy mencarimu ke sini untuk memastikan kebenarannya," jelas Fabios yang mulai geram sebenarnya.


Deo masih terdiam memandangi layar ponsel itu. Ia pun membidik layar mengenai pemberitaan yang mengatakan kalau 'Mantan Suami Tega Menjebloskan Mantan Istri Ke Dalam Jeruji Besi. Keluarga Ainsley : Kami belum tahu kebenarannya.'


Baru saja selesai permasalahannya dengan Leika dan juga Nat. Saat itu timbul lagi masalah baru.


"Dad, kenyataannya aku tidak sejahat yang diberitakan dalam situs itu. Biar aku jelaskan," kata Deo mencoba mengklarifikasi kepada Daddy-nya.


Fabios mendengarkan anak sulungnya itu dengan seksama. Berawal dari Leika yang tiba-tiba datang dan mengaku dihamili oleh Deo. Masalahnya dengan Nat, hingga akhirnya memasukkan kedua wanita itu ke dalam jeruji besi.


Namun sesaat setelah penjelasannya berakhir, minuman yang dipesan oleh Deo pun telah selesai dibuat.


"Terima kasih ... " Deo kemudian menatap Daddy-nya. "Apa Daddy mau minum juga?" tanya Deo.


"Tidak, terima kasih."


"Baiklah kalau begitu. Aku minum terlebih dahulu, tenggorokanku terasa kering."


"Iya silahkan."


Fabios menunggu Deo selesai minum.


"Lantas sekarang hubungan kamu dengan Hyuna bagaimana? Apa dia masih tinggal di rumahmu?" tanya Fabios sambil memicingkan matanya.



"Hyuna diam-diam pulang ke rumah ke dua orang tuanya. Entah bagaimana bisa dia sampai di sama. Disisi lain aku merasa lega karena dia tidak bersama Nathania di hari itu," jawab Deo apa adanya.


"Inilah yang aku khawatirkan sejak lama. Leika, aku sudah tidak perduli dengan wanita itu. Perasaanku bilang kalau anak yang di kandung olehnya itu bukan darah dagingmu." Fabios menghela napasnya. "Untuk Hyuna, aku juga tidak yakin kalau dia mau kembali padamu lagi. Meskipun status kalian masih kuat di mata hukum negara ini, tapi sangat mungkin terjadi tanpa sepengetahuanmu diam-diam dia akan membatalkan pernikahan kalian," pungkasnya.

__ADS_1


Deo menghempaskan napasnya berkali-kali. "Lalu aku harus apa?" tanya pria itu menunjukkan raut wajah polosnya.


Fabios menggelengkan kepala lalu menunduk. Pria setengah abad itu tidak habis pikir, masalah yang dialami Deo justru membuatnya tampak seperti pria bodoh.


"Jangan tanyakan padaku, Deo! Coba tanya pada dirimu sendiri. Pantas tidaknya hubungan kalian di pertahankan!" jawab Fabios merasa geram.


"Justru aku lebih kasihan dengan Hyuna. Dia yang awalnya tidak tahu apa-apa harus terjebak pada masalah percintaanmu yang rumit. Terlebih sekarang ada berita yang kurang baik mengabarkan tentangmu. Seperti kamu harus bersiap jikalau suatu saat nanti saham yang kamu miliki pada Ainsley Grup akan habis tak tersisa," kata Fabios memberi peringatan, tapi lebih tepatnya sebuah ancaman.


"Astaga, kenapa aku tidak berpikir ke arah sana? Seperinya aku harus menghubungi Zean untuk memantau pekembangan saham!" pekiknya yang mulai panik.


"Lebih baik sekarang kamu pastikan bagaimana hubunganmu dengan Hyuna. Aku sudah menyarankanmu untuk melepaskannya saja. Kamu itu sudah dewasa, Deo. Tegaslah dalam mengambil keputusan!" tutur Fabios dengan nada yang penuh penekanan.


"Tidak Dad. Aku tidak akan pernah melepaskannya," sanggah Deo membuat Fabios seketika membulatkan matanya.


"Loh kenapa? Kalau kamu tidak mencintainya buat apa? Biarkan dia memilih sendiri pria yang pantas menikahinya. Kamu jangan egois Deo!" timpal Fabios tidak mengerti dengan pola pikir anaknya.


Namun Deo seketika terdiam. Karena ia sendiri pun tidak tahu alasannya. Yang jelas inginnya tetap ingin mempertahankan Hyuna.


Fabios menghela napas lalu menatap Deo sangat dalam. "Apa kamu mencintainya Deo?" tanya pria itu.


"Apa? Mencintainya? Apa iya aku mencintai Hyuna?" Deo bertanya-tanya dalam hati.


"Mungkin." Jawaban Deo membuat sang ayah gemas.


Fabios menghela napas panjang. "Ya sudahlah. Daddy yakin kamu sudah dewasa dan bisa tegas. Satu hal yang Daddy pinta padamu. Jangan mempermainkan wanita, kelak kamu memiliki anak perempuan yang sangat mencintaimu tanpa syarat," kata pria itu lalu menepuk bahu Deo.


"Oh iya!" Tarikan napas panjang seakan membebaskannya dari sesuatu yang menghimpit paru-parunya. "Besok, Yundra akan pulang ke sini. Dia akan membuka galeri di kota ini. Kemungkinan besar, dia akan tinggal lebih lama. Mengingat banyak hal yang mesti dia persiapkan," lanjut Fabios.


"Ya sudah kalau begitu Dad." Deo menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, Daddy masih ada pekerjaan. Jangan lupa cari tahu siapa yang membuat berita itu dan beri jera orang itu!" Tegas Fabios sekali lagi.


"Iya Daddy tenang saja."


Fabios akhirnya pergi dari sana. Sedangkan Deo segera menghabiskan minuman yang sebelumnya dipesan olehnya. Setelah itu Deo pun juga pergi dari kafe itu menuju kantornya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2