Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Sequel - 13


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak bilang padanya kalau Deo adalah mantan suamimu Hyuna?" Pria itu tak lain adalah Gabriel. Ternyata diamnya tadi seolah menjadi boomerang tersendiri untuk wanita cantik yang ada di depannya saat itu.


Hyuna menatap sinis ke arah Gabriel. "Untuk apa Dok? Dia memang bagian dari masa laluku, tapi kami sudah berpisah secara baik-baik dimata hukum. Lantas apa aku harus bilang pada setiap pria yang dekat denganku, kalau aku ini seorang janda?" Napas Hyuna mulai berembus tidak beraturan. Ia tersulut emosi. "Lagi pula kenapa Anda tiba-tiba menginginkan aku mengatakan hal itu? Toh hubungan aku dan Deo saja sudah tidak ada komunikasi sama sekali. Jadi untuk apa?" sambung Hyuna lalu menyeringai.


Gabriel yang Hyuna kenal adalah orang yang netral. Pria itu sama sekali tidak memihak siapapun. Niatnya pun mulia, hanya ingin membantu memulihkan kondisi keluarga besar Ainsley ketika sedang sakit. Makanya Hyuna merasa heran saat Gabriel berkata demikian. Seolah status yang disandangnya saat itu merupakan sesuatu hal yang penting.


Pria itu menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah telah mengatakan hal yang tidak seharusnya dipermasalahkan olehnya dengan Hyuna. Bahkan dia sendiri sudah tahu, betapa sakitnya berada di posisi Hyuna saat masih bersama Deo.


"Maafkan saya Hyuna ... Maaf, saya salah. Tidak semestinya memang kamu mengakui statusmu pada Dave sekarang. Hanya saja ... " Gabriel menjeda kata-katanya. Pria itu menggaruk keningnya yang tidak gatal.


"Hanya saja apa Dok?" Hyuna melipat kedua tangan di dada seraya memicingkan matanya.


"Saya kasihan dengan hidup Deo sekarang. Setelah kelahiran anaknya dan tahu akan kondisi yang tidak normal pada bayi mungil itu, Leika pergi meninggalkannya ketika masih berada di rumah sakit. Ibunya Deo sangat marah besar karena punya menantu seperti Leika yang lepas tanggung jawab pada anaknya." Gabriel mengembuskan napas kecewa, menujukkan sorot mata sedih kasa Hyuna.


Sementara Hyuna sendiri hanya diam menyimak ucapan Gabriel. Ia sendiri tidak tahu harus berkata apa. Memang ia sangat berempati dengan masalah yang dialami Deo saat itu. Namun tetap saja, hatinya sudah mati rasa pada pria yang pernah menorehkan luka begitu dalam.


"Aku turut sedih. Ku doakan semoga di tangan Dave, anaknya bisa selamat. Oh iya satu lagi, kalaupun. Dave tahu tentang statusku, itu terserah dia. Toh aku dan dia hanya sekadar berteman baik. Maaf Dok, aku permisi." Hyuna tidak ingin lagi mendengar apapun tentang Deo. Hidupnya sudah bahagia tanpa pria itu.


Apalagi semenjak kehadiran Dave dalam kurun waktu hampir dua minggu. Bagi Hyuna setelah study banding selesai, hidupnya akan kembali seperti semula. Tanpa Deo maupun Dave.


Gabriel membiarkan Hyuna pergi dari hadapannya. Pria itu terus menatap nanar punggung Hyuna hingga menghilang dari pandangannya. Tak lama dia tersadar dengan deringan ponsel di dalam saku jas putihnya. Gabriel mengeluarkannya lalu melihat nama yang tertera pada panggilan itu, dan ternyata itu adalah Deo. Dia segera menjawabnya lalu pergi dari sana dan berniat menuju ke ruanh kerja Dave untuk berkonsultasi.


Sedangkan setibanya di temoat proyek yang sedang berlangsung, Joy dan Anabella sedang asik berbincang.


"Maaf telah membuat kalian menunggu lama," ucap Hyuna pada mereka. Lalu keduanya menoleh bersamaan.


"Kamu tidak nyasar 'kan Hyuna?" tanya Anabella merasa khawatir.


"Oh tidak ... Hanya saja tadi ada sedikit masalah, tapi tidak apa-apa. Semua sudah aman terkendali," jawab Hyuna membuat mereka merasa lega.


"Berhubung hari sudah mulai siang. Saya juga harus kembali ke kampus karena ada beberapa urusan. Bagaimana kita akhiri pertemuan ini?" usul Joy yang memang pria yang sangat sibuk.


"Iya benar apa yang dikatakan oleh Pak Joy." Hyuna tersenyum menatap mereka bergantian. "Anabella, terima kasih banyak ilmunya. Senang bertemu denganmu. Semoga kapan-kapan kita bisa bertemu lagi. Mengingat mungkin besok aku akan kembali ke Birmingham," sambungnya sambil mengulurkan tangan dan senang hati Anabella menyambut uluran tangan darinya.


"Iya sama-sama. Aku juga senang bertemu dan berbagi ilmu denganmu. Semoga lancar ya kuliahnya dan semoga apa yang kamu inginkan bisa tercapai, aamiin." Anabella mengembangkan senyum bahagianya.


"Aamiin. Begitupun dengan dirimu. Sukses selalu dalam karirmu, aku pulang dulu. Bye!" Hyuna melambaikan tangan. Sementara Joy sudah berjalan lebih dulu. Sebelum Joy semakin jauh. Hyuna pun segera menyusulnya.

__ADS_1


...----------------...


Keesokan harinya. Tepat dua minggu Hyuna berada di London. Kabarnya, hari itu akan diadakan pesta untuk para mahasiswa yang melakukan study banding di sana.


Hyuna sendiri, memilih memakai dress berwarna biru muda. Sedangkan Mona memakai setelan lengan panjang pada atasannnya serta rok model rempel sebatas lutut. Keduanya tampak cantik serta menawan. Mungkin setiap pria yang akan melihat mereka nanti akan terpikat.


"Hyuna semua barang-barangmu sudah masuk ke dalam koper?" tanya Mona berdiri diambang pintu ruang kamar Hyuna.


"Sudah semua. Kamu?"


"Sama. Kita ke tempat acara jam berapa? Soalnya makanan yang dipesan pak Andrew belum datang juga ini," jawab Mona yang tiada hari makan harus selalu tepat waktu.


"Loh aku kira dari tadi kamu tanya-tanya soal menu makanan itu pesan sendiri. Ternyata dari pak Andrew," ujar Hyuna melihat ke arah Mona.


*TingNong*


Suara bel yang berbunyi membuat Mona langsung bergerak cepat berjalan ke arah pintu. Sedangkan Hyuna menggelengkan kepalanya.


"Kalau soal makanan saja nomor satu. Dasar Mona, Mona," gumam Hyuna lalu melanjutkan merias wajahnya lagi.


Bersamaan dengan kurir pengantar makanan yang datang, Evan pun tiba di depan kamar dua teman wanitanya itu.


"Punya kamu yang mana? Makanan atau yang lain?" ledek Mona membuat Evan berdecak kesal.


"Eh, eh, eh, jangan bawa-bawa punyaku yang lain. Ketahuan pak Andrew tahu rasa loh, punya pacar kelakuannya begini," ujar Evan menatap sinis.


"Pak Andrew itu sudah tidak heran. Dia menerima aku apa adanya," kata Mona sangat percaya diri.


"Iya deh. Apa kata kamu saja. Ya sudah mana sini makanannya." Evan sudah tidak sabar, sebab perutnya sedari tadi terus berbunyi.


"Iya iya. Ini!" Mona memberikannya pada Evan.


"Terima kasih." Evan langsung pergi ke kamarnya.


Mona menutup pintunya kembali dan ia bersama Hyuna sarapan terlebih dahulu.


Setelah sarapan, Hyuna, Mona serta Evan pergi ke gedung tempat diadakannya acara seminar saat pertama mereka datang ke kampus itu.

__ADS_1


Sejumlah mahasiswa yang mengikuti study banding sebagian besar sudah berada di dalam sana. Ketiganya duduk di kursi barisan kedua dari depan.


...----------------...


Sementara itu, Dave sedang menunggu kedatangan pasiennya. Setelah berdiskusi dengan Gabriel kemarin, Dave sudah memiliki gambaran. Sebab Gabriel membawa hasil rontgen kepada Dave.


Hampir setengah jam menunggu, Dave yang ada di ruang emergency pun terkesiap saat mendengar suara mobil ambulance tiba. Ya, Deo memang meminta pihak rumah sakit untuk menjemputnya di bandara memakai mobil itu.


Setelah sopir memarkirkan mobil tepat di depan ruang emergency, asistennya langsung membuka pintu belakang. Beberapa orang perawat membantu menurunkan tempat tidur bayi mungil yang sedang terlelap dari dalam mobil.


Dua orang perawat wanita langsung melaksanakan perintah dari Dave. Sementara itu, Dave sendiri bertemu dengan Gabriel, Deo serta seorang wanita yang tak lain adalah Dovi, Mommy-nya Deo.


"Dave ini Tuan Deo, ayah dari bayi perempuan yang bernama Kaneira Ainsley ... Lalu ini ibunya Tuan Deo, yaitu Nyonya Dovi."


"Saya Dokter Dave Vallentino. Senang berkenalan dengan Tuan Deo dan Nyonya Dovi." Dave menjabat tangan kedua orang yang ada di depannya saling bergantian.


"Saya minta tolong ya Dokter Dave, selamatkan cucu saya," kata Dovi, sepasang matanya tampak sembab. Wanita separuh abad itu menjadi orang yang paling sedih ketika melihat cucunya yang selama ini dirawat olehnya.


"Kami tim dokter spesialis jantung akan berusaha semaksimal mungkin. Terlepas dari itu, kami juga memohon doanya kepada kalian untuk kesembuhan ananda Kaneira dan operasinya berjalan dengan lancar serta berhasil," kata Dave bersikap profesional.


"Baik Dok, saya minta lakukan yang terbaik untuk Kaneira," sahut Deo sangat yakin.


Lalu salah seorang perawat menghampiri Dave. "Dok pengecekan telah selesai dan hasilnya semua aman. Tindakan operasi bisa dilaksanakan segera."


"Baik." Kemudian Dave menatap ketiga orang yang bersamanya. "Kalau begitu saya permisi."


Dave pergi dari hadapan mereka menuju ruang operasi. Sebelumnya bayi mungil itu juga telah dibawa oleh perawat ke ruangan itu.


"Tuan, Nyonya ... Lebih baik kalian menunggu di depan ruanh operasi. Mari akan saya antarkan," usul Gabriel lalu keduanya pun mengangguk setuju.


Sepanjang Dave beserta tim melakukan tindakan, denyut jantung pada bayi itu naik turun. Namun disisi lain Dave mampu meminimalisir pendarahan yang keluar. Konsentrasinya penuh untuk menyelamatkan bayi mungil itu.


Mungkin waktu dua bulan bayi itu hidup, sungguh sudah sangat luar biasa hebatnya. Karena tubuh mungil itu mampu menahan rasa sakit yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata. Dia hanya bisa menangis sekuatnya saat setiap kali rasa sakit mendera.


Hingga satu jam lamanya proses operasi berlangsung, Dave beserta timnya selesai melakukan tugasnya semampu mereka. Lalu Dave pun keluar dari ruang operasi dan telah melepaskan perlengkapan khusus sebelumnya.


Deo beserta Dovi dan Gabriel beranjak dari duduknya bersamaan.

__ADS_1


"Dok, bagaimana keadaan anak saya?"


Bersambung ....


__ADS_2