
"Mau tanya apa?" Deo merasa deg deg kan mengenai pertanyaan yang akan Hyuna lontarkan padanya. Namun pria itu masih bersikap tenang.
"Darimana kamu tahu rumah orang tuaku dan nomor ponselku?" Hyuna melirik tajam.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa aku salah berjuang untuk membujukmu supaya mau kembali padaku? Yang memang kamu itu masih istriku," jawab Deo. Kedua alisnya melengkung, tersirat ada kesedihan dari tatapan matanya.
"Aku hanya ingin tahu, Deo," balas Hyuna berusaha menahan emosi.
"Oh!" Deo terkekeh. "Kamu sengaja hanya memberikan alamat dan nomor ponselmu kepada Gabriel?" Lalu pria itu tersenyum dan menatap Hyuna seakan rendah dimatanya.
Seketika Hyuna pun akhirnya bisa menyimpulkan dan mendapat jawaban atas pertanyaannya sendiri. Kalau kemarin ia sempat melihat Deo di rumah yang sama dengan dokter Gabriel, itu artinya semalam pria itu mendapatkan informasi dari orang yang sama.
Hyuna pun tertawa. "Kenapa? Ada yang salah? Dia telah merawatku dari aku koma hingga sembuh. Lalu kamu? Apa pernah sekali mengunjungiku di saat masa terberatku? Memang aku sangat berterima kasih karena kamu yang telah membiayai semuanya. Tapi kenapa sekarang seolah kamu adalah korban dan aku tersangkanya? Sebenarnya yang dari awal memulai di sini itu siapa sih? aku atau kamu?" ujar Hyuna.
Mendapat cecaran yang bertubi-tubi, Deo hanya terdiam. Pria itu terus menatap Hyuna sangat intens.
"Kedua, ku akui sejak pertama kali kita bertemu. Aku telah jatuh hati padamu ... Andai kamu itu bukan suamiku, aku bisa saja menghilangkan perasaan itu. Akan tetapi takdir berkata lain, dia membuka kenyataan kalau ternyata kamu itu suamiku."
"Lalu kamu datang memberiku ancaman, aku terima dan kamu pergi bersama dia. Wanita yang katanya kamu cintai. Bahkan sampai menikahinya dan sekarang tengah mengandung pun kamu malah melepaskannya setelah kamu tahu kenyataan pada diri dia dan ternyata mengecewakanmu."
Deo masih diam. Pria itu memang sengaja diam, membiarkan Hyuna berbicara sesuai kata hatinya yang selama ini dirasakannya.
"Setelah itu kamu tiba-tiba datang padaku. Bilang kamu mencintaiku. Tanpa permisi dan bertanya, apa aku baik-baik saja setelah berbulan-bulan lamanya tanpa kabar darimu dan menunggu kepastian rumah tangga kita ke depannya?"
Sesak yang kian dirasakan oleh Hyuna semakin terasa menghimpit dadanya. Ingin rasanya menangis, namun ia tahan. Tetapi matanya tidak bisa bohong, di sana telah memerah.
"Hari ini kamu datang lagi, bersikap manis di depanku. Lagi-lagi mempertanyakan hal yang sama. Semua tentang kamu dan maumu. Hidupku sekarang bukan tentang kamu lagi, Deo. Aku sudah menempatkan kamu di masa laluku. Aku hanya fokus pada masa depanku. Mengejar cita-cita yang sempat tertunda karena kecelakaan itu."
"Dengan kamu seperti ini, aku semakin yakin. Hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi .... " pungkas Hyuna sambil mendes ah pelan. Hatinya sudah patah, sulit untuk disambung membali. Baginya biarpun patah, ya patah sekalian. Hancur, ya hancur sekalian.
__ADS_1
"Tidak Hyuna. Aku tidak mau berpisah denganmu," tolak Deo dengan tegas, seketika memegang kedua lengan Hyuna.
"Memangnya apa yang kamu takutkan jika berpisah denganku, Deo?" sergah Hyuna sambil menatap tajam.
"Karena aku mencintaimu, Hyuna. Aku baru menyadari hal itu sekarang. Kamu wanita yang baik, maka dari itu aku tidak ingin membuang berlian demi memungut sampah kembali," balas Deo dengan suara yang lembut. Kedua tangannya masih memegang lengan Hyuna.
"Bulshit dengan kata cinta! Aku tidak percaya itu! Asal kamu tahu, semenjak aku mencintaimu, aku menjadi wanita yang bodoh, yang mau diduakan oleh suaminya sendiri! Aku tertatih, berusaha bertahan dengan rasa sakit dan sesak yang aku rasakan setiap hari! Kamu pikir pakai akal sehatmu, kalau kamu diposisi aku, apa sanggup kamu bertahan? Baru dikecewakan saja sudah dibuang!" balas Hyuna dengan emosi yang menggebu-gebu. Rasanya begitu puas melontarkan segenap perasaan yang tidak nyaman selama menjadi istri Deo.
Saat itu juga air mata Hyuna tak dapat lagi dibendung. Perlahan cairan bening itu turun dan mengalir membasahi pipinya. Bibirnya pun tampak bergemetar. Ia begitu emosi dan juga sedih, bercampur jadi satu.
Bucket bunga yang tadinya membuat Hyuna larut dalam keindahannya. Seketika dihempaskan begitu saja ke bawah lalu menepis kedua tangan Deo yang masih berada di lengannya. Setelah berhasil, kemudian langsung berbalik badan. Sebenarnya ia tidak ingin Deo melihatnya menangis.
"Pergi, Deo! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Sudah cukup penantianku selama ini. Lelah sekali rasanya berjuang sendiri," pinta Hyuna berdiri memunggungi Deo.
"Hyuna, aku minta maaf. Tolong beri aku kesempatan kedua," kata Deo memohon sambil meraih tangan Hyuna. Namun sayangnya segera ditepis kembali oleh sang empunya.
"Lebih baik kamu segera pergi dari sini. Karena kita berasal dari kalangan kasta yang berbeda." Setelah mengatakan hal itu, Hyuna langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Hyuna! Keluar! Aku masih belum selesai bicara," teriak Deo dari depan pintu.
Hyuna yang masih berada di balik pintu pun hanya menangis sampai tersendu. Sebenarnya apa yang diungkapkannya tadi hanya luapan emosinya saja.
"Bukakan pintunya, Hyuna. Aku tidak ingin berpisah denganmu!" lanjut Deo lalu mengetuk pintu cukup keras.
Namun Hyuna masih berdiri dengan tangan yang sambil mengunci pintunya. Perlahan ia terduduk di lantai yang dingin itu. Memeluk kedua kakinya dan menangis tergugu. Ia tidak menghiraukan teriakan Deo di luar.
"Hei, sedang apa kamu di sana!"
Seketika Deo menghentikan teriakan dan gedorannnya. Begitu pula dengan Hyuna. Wanita itu pun menghentikan tangisanmya karena mendengar suara seorang pria yang mungkin itu tetangganya sedang menegur Deo.
__ADS_1
"Maaf, Tuan."
Hyuna mendengar suara Deo meminta maaf pada orang itu. Setelah beberapa saat, suara Deo menghilang. Lalu yang terdengar hanya suara mesin mobil yang menyala.
Hyuna mengintipnya lewat jendela, dan ternyata benar. Deo sudah masuk ke dalam mobil.
"Syukurlah, akhirnya dia pergi," batin Hyuna sedikit merasa lega.
Ia menunggu sampai Deo benar-benar pergi dari halaman rumahnya. Tak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh pria itupun melaju.
"Lebih baik aku harus bertemu dengan dokter Gabriel. Ada apa sebenarnya?" gumam Hyuna lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
[Me : Dokter hari ini sibuk tidak? Bisa kita bertemu?]
[Dokter Gabriel : Tidak terlalu. Bisa Hyuna. Mau bertemu dimana?]
[Me : Di taman dekat rumahku saja.]
[Dokter Gabriel : Oke. Tapi apa kamu belum berangkat bekerja?]
[Me : Aku akan meminta libur hari ini.]
[Dokter Gabriel : Loh, kenapa? Kamu sakit?]
Akan tetapi Hyuna hanya membaca isi pesanny yang terakhir.
"Iya aku sakit hati pada pria egois seperti Deo!"
Karena tidak kunjung mendapat balasan lagi dari Hyuna. Dokter itu mengirimkam pesan kembali.
__ADS_1
[Dokter Gabriel : Baiklah setelah visit, saya akan segera ke sana.]
Bersambung ....