Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 23. Pulih Dari Tragedi


__ADS_3

Deo memalingkan wajahnya ke arah lain. Sebenarnya ia sangat tidak bergai rah melakukan hubungan suami istri bersama Leika. Ia ingin segera pergi dari kamar itu.


Akan tetapi, Leika justru malah memberikan tatapan nakal padanya. Wanita itu melangkahkan kaki menghampirinya. Hingga tepat satu langkah di depannya, tak disangka Leika pun memeluk serta menci umi lehernya.


"Apa kamu yakin tidak ingin merasakannya lagi?" goda Leika, tingkahnya semakin menjadi.


Deo bersusah payah menahan hasratnya. Tidak dapat dipungkiri, tubuh Leika memang sangat menggoda.


"Cukup Leika!" bentaknya


Alih-alih ingin menolak, Deo terpancing setiap sentuhan yang diberikan oleh wanita tersebut. Meski hati kecilnya menolak, tapi naluri kelelakiannya terus menyambut.


Akhirnya pergulatan panas pun terjadi di atas ranjang. Namun saat itu Deo melakukannya sedikit kasar. Amarahnya pun terluapkan lewat setiap hentakkan juga posisi mereka ketika berhubungan.


Selepas itu, keduanya tertidur sangat pulas. Leika merasa menang. Meskipun apa yang Deo lakukan berbeda dari pertama mereka lakukan, tapi ada kepuasan tersendiri untuk Leika.


...----------------...


Dua minggu berlalu. Deo seakan musnah dari hidup Hyuna. Pria itu tidak lagi mengunjunginya. Walau demikian, Hyuna perlahan bisa beradaptasi dengan perasaannya sendiri. Berusaha kuat demi kesehatannya juga.


Disamping itu, ingatannya sudah sangat baik. Kondisi kakinya pun sudah bisa digerakkan seperti sebelum terjadinya kecelakaan. Wanita itu sudah kembali dengan karakter dirinya yang asli. Sayangnya Deo tidak tahu dan sengaja tidak diberitahukan oleh Hyuna, Bora maupun dokter Gabriel.


Contohnya hari itu, dokter Gabriel datang untuk memeriksakaan kondisinya yang terakhir kalinya.


"Hyuna ... mengingat sekarang kondisimu sudah sangat baik, saya ucapkan selamat. Semoga setelah ini hidupmu juga semakin baik kedepannya," ucap dokter Gabriel. Bisa dikatakan sebagai tanda perpisahan yang mungkin entah ketemu lagi atau tidak dengan dokter berparas tampan itu.


"Aamiin. Terima kasih dokter dan suster Bora telah menemani saya hingga sembuh seperti sekarang ini. Itu artinya tujuh bulan sudah saya melewati masa kritis itu, terima kasih sekali lagi untuk kalian," kata Hyuna dengan segala hormat dan juga kerendahan hati.


"Sama-sama. Saya pribadi melihat kamu bisa sembuh saja bahagia. Mungkin Tuan Deo juga akan merasa bahagia jika memang dia tahu," seloroh dokter membuat senyum sumringah dari wajah Hyuna mendadak menjadi datar.


"Iya benar, tapi sayangnya ... mungkin tidak," timpal Hyuna. Ia menghela napas lalu tersenyum simpul.


Wajar memang karena Hyuna masih dalam masa transisi. Masa dimana dia harus bekerja keras mengolah perasaanya menuju fase dewasa. Dan itu tidaklah mudah, terlebih dengan statusnya yang dirubah karena keterpaksaan oleh Deo.

__ADS_1


Hanya sebuah status. Harusnya memang Hyuna tidak mesti memiliki rasa pada pria itu. Harusnya Hyuna pun bisa menyikapi takdirnya biasa saja. Namun Tuhan memberinya perasaan, sebab dalam hati Hyuna sendiri pun percaya, Deo adalah malaikat penolongnya. Hal itu secara tidak sadar telah terpatri dalam hatinya ketika Bora pertama kali menceritakan padanya.


Ditengah serunya bercengkrama, suara bel rumah itu berbunyi.


"Sus siapa yang datang?" tanya Hyuna menoleh ke arah Bora.


"Mungkin pelayan baru dirumah ini. Sebentar ya biar saya lihat terlebih dahulu," jawab Bora kemudian menunduk hormat dan pergi dari hadapan mereka.


Setelah Bora keluar dari kamar, hanya ada Hyuna dan dokter Gabriel di sana.


"Hyuna, apa sekarang kamu merasa bahagia?" tanya dokter tersebut. Entah kenapa pertanyaan itu membuat suasama kamar menjadi canggung.


Hyuna mengernyit. "Kenapa dokter bertanya seperti itu? tentu aku sangat bahagia sekali." Hyuna menunjukkan raut wajahnya seolah tampak menjadi wanita yang paling bahagia di dunia.


"Tidak ... " Dokter Gabriel menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan. "Saya hanya memastikan saja. Saya juga ikut merasa bahagia jika kamu benar-benar merasakan hal itu." Dokter pun bersiap untuk pergi dari kamar itu. "Baiklah Hyuna, kalau begitu saya pamit. Next, jika ingin konsultasi bisa menghubungi saya via email, telepon, chatting ataupun bertemu di rumah sakit," lanjutnya.


Hyuna terkekeh geli, "Baik Dok. Terima kasih banyak sekali lagi."


"Iya sama-sama. Bye Hyuna." Dokter Gabriel mengangkat sebelah tangan sebentar lalu berbalik badan dan keluar dari kamar Hyuna.


Namun jika dilihat dari penampilannya yang nyentrik dan mewah, Bora rasa Bukan. Tidak mungkin wanita yang terlihat berkelas itu mau menjadi seorang pembantu di rumah minimalis seperti itu, pikir Bora demikian.


"Maaf cari siapa ya?" tanya Bora sesaat setelah ia berpikir.


"Saya ingin menemui Hyuna. Apakah dia ada ?" jawab wanita itu dengan ramah dan tak nampak yang mencurigakan dari gelagatnya.


"Tapi maaf, ada perlu apa Anda mencarinya?" Bora bertanya lagi, sebab wanita itu baru ia lihat datang ke rumah itu.


"Saya temannya. Sudah lama sekali saya mencarinya, dan saya berniat akan mengajak Hyuna untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya di Inggris," jelas wanita tersebut.


Ketika Bora memperhatikan dengan lekat, wanita itu tetap pada wajah yang berusaha meyakinkan perawat itu. Saat itu juga, Bora pun merasa yakin bila wanita itu adalah temannya Hyuna.


"Baiklah, mari masuk. Saya akan panggilkan Hyuna terlebih dahulu," kata Bora lalu memberi jalan sambil mempersilahkan wanita itu untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Wanita itu pun duduk dan menunggu kedatangan Hyuna di ruang tamu. Sedangkan Bora pergi ke lantai atas menuju kamar nyonya-nya.


Setibanya di depan pintu, Bora mengetuknya lalu sesaat kemudian membukanya. Hyuna sedang berdiri di dekat jendela kamar dengan pandangan menerawang jauh ke luarnya.


Saat pintu terbuka, Hyuna menoleh lalu tersenyum pada Bora. "Ada apa Sus? Pelayannya jadi datang?" tanyanya.


"Belum. Aku ingin memberitahukanmu ... " Bora menutup pintu lalu berjalan mendekat ke arah Hyuna. "Di bawah ada seorang wanita yang ingin bertemu denganmu. Dia bilang temanmu. Kamu mau menemuinya atau tidak? Mungkin kamu akan mengingatnya juga?"


Hyuna mengerutkan alisnya sambil berpikir. "Temanku? Siapa namanya Sus?"


"Ya ampun aku sampai tidak ingat untuk bertanya namanya!" sergah Bora lalu menepuk keningnya.


Hyuna pun menggelengkan kepala sambil tersenyum datar. "Suster kebiasaan deh. Kalau dia bukan temanku bagaimana?" timpalnya lalu menghela napas.


"Maaf. Tapi orangnya sudah terlanjur aku suruh masuk," cicit Bora merasa bersalah sambil menundukkan kepala.


"Ya sudah, aku akan menemuinya." Hyuna berjalan ke arah pintu, sedangkan Bora masih berdiri ditempatnya. "Kamu temani aku ya!" serunya kemudian membuka pintu.


Bora mengangguk cepat dan berjalan dibelakang Hyuna sambil menutup kembali pintu kamarnya. Keduanya kemudian berjalan beriringan melewati anak tangga untuk turun ke lantai bawah.


Hyuna melihat keberadaan wanita yang dimaksud oleh Bora sedang duduk memainkan ponselnya di ruanh tamu. Mungkin karena gaya rumah itu model open space, jadi ketika menuruni anak tangga bisa terlihat.


Wanita yang tengah duduk itu menyadari kehadiran Hyuna dan Bora. Sambil tergesa-gesa, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Namun ketika wanita itu menoleh, ia terkejut dengan kondisi Hyuna saat itu.


"Bukannya dia cacat? Kenapa sekarang terlihat segar dan seolah tidak pernah ada bekas lukanya sama sekali?" Wanita itu bertanya-tanya dalam hatinya.


"Hai, kamu siapa?" sapa Hyuna dengan sopan. Sedangkan Bora pergi ke dapur untuk membuatkan minum.


Bersambung ....


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2