
"Deo, apa kamu sudah bertemu dengan Daddy-mu?" Wanita itu tak lain adalah Dovi. Sepertinya ia begitu sangat penasaran ketika tentang apa yang baru saja dibicarakan oleh suami dan juga anak sulungnya.
"Sudah Mom. Baru saja. Mommy mau menemui Daddy?" Deo berjalan dan mereka saling mendekat. Hingga keduanya berdiri saling berhadapan.
"Iya. Daddy-mu sedang apa di dalam?" Dovi masih berbasa-basi. Sebenarnya ia ingin bertanya keinti rasa penasarannya itu. Namun melihat raut wajah Deo yang tampak tidak kondusif, akhirnya ia urungkan.
"Duduk ... Ya sudah Mom, aku pergi dahulu. Bye Mom," pamit Deo lalu mencium pipi Mommy-nya sekilas. Setelah itu berlalu pergi meninggalkan Dovi yang masih berdiri di tempatnya.
Melihat hal itu, Dovi hanya menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. Lalu melangkahkan kakinya kembali, masuk ke ruang kerja suaminya.
Sementara Deo keluar dari rumah. Pria itu pun mengendarai mobilnya menuju apartemen untuk memastikan kalau Leika sudah berada di sana atau belum.
...----------------...
Ditengah perjalanan, Deo terkena macet. "Ada apa sih kok macet begini?" gumamnya. Tiba-tiba ingatannya terbayang akan kejadian yang menimpa Hyuna beberapa bulan yang lalu.
"Hyuna ... " Spontan Deo menyebut nama wanita itu, karena mobil yang mengalami kecelakaan di depannya itu memiliki warna yang sama dengan milik Hyuna. Namun berada di tempat kejadian yang berbeda.
Akan tetapi saat itu Deo tidak bisa menolong korbannya, sebab di sana banyak sekali wartawan yang meliput kejadian tersebut. Ia lebih memilih terus melajukan mobilnya.
Hingga hampir satu jam lamanya berkendara, Deo pun sampai di basemen apartemen. Ia memarkirkan mobilnya di sana.
Deo kemudian turun dari kursi kemudinya. Ia berjalan tanpa ada keragu-raguan dengan raut wajahnya yang datar. Ia pun segera masuk ke dalam lift menuju unit apartemennya.
Beberapa menit kemudian, Deo telah berdiri di depan pintu. Ia mulai menekan kode akses supaya bisa masuk ke dalam. Tak lama kemudian, pintu pun berhasil dibuka.
Ketika Deo baru saja masuk ke dalam. Pintu lift terbuka. Seorang wanita sambil menarik kopernya berjalan tergopoh-gopoh. Bahkan peluhnya pun sudah bercucuran di keningnya, entah sejak kapan.
Tepat saat pintu tertutup dengan sempurna, wanita itu sampai di depan pintu tersebut. Napasnya pun sampai tersengal-sengal, lalu sebelah tangan berpegangan pada gagang koper serta tubuh yang membungkuk guna mengatur napasnya.
Setelah beberapa saat, dirasa napasnya sudah kembali normal. Wanita itu membuka layar ponsel untuk melihat pesan yang tertera nomor kode akses pintu apartemen itu.
__ADS_1
"Fyuuuh!" Wanita itu menghempaskan napas pelan sebelum akhirnya masuk ke dalam.
Namun ternyata lampu apartemen tersebut sudah menyala hampir di seluruh ruangan yang masih terjangkau pandangannya.
"Apa sudah ada orang di sini? Jangan-jangan yang tinggal disini bukan hanya aku dan Deo saja," gumam wanita itu yang tak lain adalaah Leika.
"Orangnya adalah AKU!" ucap pria itu dengan lantang. Reflek Leika pun terkejut sampai membulatkan matanya. Lalu pria yang menjawab tadi muncul dari balik dinding berwarna putih sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Deo ... kamu sudah di sini rupanya?" Suara Leika bergetar. Ia merasa sangat gugup sekali.
"Iya, tentu. Sekarang, ikut aku!" perintah Deo lalu berbalik badan. "Akan ku tunjukkan dimana letak kamarmu," lanjutnya mengajak Leika pergi ke sebuah kamar yang memang telah ia siapkan.
Wanita itu kemudian menarik kopernya mengikuti Deo dari belakang. Sesekali matanya memutar malas karena marahnya Deo sangat berlebihan, menurutnya.
Langkah kaki Deo berhenti ketika sudah tiba di depan pintu kamar, begitupun dengan Leika.
"Ini kamar kita, Beib?" tanyanya pada sang suami, kemudian berpindah posisi ke samping Deo.
"Tidak bisa begitu dong, Beib. Kita baru saja menikah loh masa iya pisah kamar? Tidak, tidak, tidak. Aku harus satu kamar denganmu." Leika protes kemudian berbalik badan. Ketika ia akan melangkah, tangannya ditahan oleh Deo. Ia pun menghela napas lalu menoleh ke belakang. "Ada apa lagi? Memangnya salah?"
Deo tersulut emosi. Pria itu bahkan mencengkram kuat tangan Leika. "Cukup ya!" Suaranya meninggi membuat wanita yang ada di hadapannya itu melonjak kaget.
Air mata Leika tiba-tiba membendung. Saat itu pula Deo melonggarkan cengkramannya. Hati pria itu pun terenyuh dan merasa bersalah. Oh tidak! rasa cinta yang dia pupuk selama 9 tahun, masih bertahta di relung hatinya.
Deo menghempaskan napas kasar lalu mengusap wajahnya seraya melepaskan tangannya dari tangan Leika. "Aku minta maaf," lirihnya.
Sementara Leika merasa sangat sedih lalu memunggunginya. Ia menangis sampai tergugu.
"Maaf. Aku masih butuh waktu untuk menerima kesalahanmu. Fine! jika hal itu kamu lakukan sebelum bertemu dan bersamaku." Deo berkacak pinggang. Ia berusaha untuk bisa berbicara dari hati ke hati pada Leika. "Tapi kamu bisa berpikir dan membayangkannya, pria mana yang tidak kecewa? selama sembilan tahun dia jaga dengan penuh cinta. Dikasih apapun yang kamu mau, bebas kamu mau melakukan apa saja, dan ketika harapanku merasa kita akan bahagia ... Justru kamu hancurkan hatiku dengan pengakuanmu itu!"
Leika semakin tergugu. Dalam hatinya juga merasa bersalah dan menyesali semua itu. Akan tetapi semua sudah terlanjur, nasi pun sudah menjadi bubur.
__ADS_1
Meski harus melakukan operasi keperawanan kembali, tetap saja tidak akan sesempurna dari asalnya. Pasti ada bedanya.
Deo berbalik badan sambil memijat keningnya. Sementara Leika perlahan memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan pria itu.
"Aku minta maaf, aku salah, Beib," ucapnya dengan suara bergetar ditengah isakan tangisnya. Deo hanya memejamkan matanya, dia paling tidak tega mendengar wanita menangis bahkan sampai seperti itu.
Tidak pernah terkira, saat hati pria itu luluh kembali, bayangan wajah Hyuna muncul di benaknya. Deo seketika bimbang, rasa cinta yang tadinya seratus persen untuk Leika. Perlahan terkikis dengan kesalahan wanita itu sendiri dan juga kehadiran Hyuna di hidupnya.
"Beib, kalau kamu mau marah sama aku. Marah saja. Aku terima karena memang aku salah. Tapi bisakah setelah itu kita kembali lagi seperti dulu? Aku kangen kamu peluk seperti setiap kali kita bertemu," pinta Leika dengan kerendahan hatinya. Deo pun mengangguk lalu selangkah maju ke depan dan membawa Leika ke dalam pelukannya.
"Sudah ya jangan menangis lagi. Lebih baik kamu istriahat saja di kamar kita ... Di lantai dua," kata Deo dengan suara yang sudah normal kembali. Tidak lagi terdengar amarah yang keluar dari mulutnya.
"Apa kamu mau menemaniku?" tanya Leika dengan suara manjanya dan Deo pun menarik napas dalam-dalam. "Semalaman kamu tinggalin aku di malam pengantin kita. Aku kan sedih Beib."
"Ya baiklah aku akan menemanimu," jawab Deo membuat hati Leika merasa lega. Keduanya pun pergi ke kamar mereka.
Tak lama berselang, mereka pun tiba di depan kamar. Ketika pintu sudah terbuka lebar, Leika tercekat akan kemewahan kamar utama di apartemen tersebut.
Namun Leika tetap bersikap anggun. Sebab ia tak pandai meluapkan kekaguman yang terpampang nyata di depannya itu. Deo masuk ke dalam lebih dulu, Leika pun mengikuti.
Sesaat setelah keduanya masuk dan Leika menutup pintu. Tiba-tiba saja wanita itu membuka setengah kancing kemeja yang dipakainya. Saat itu Deo masih berdiri memunggunginya.
Ketika Deo berbalik, alis matanya dikerutkan. Pria itu tahu apa yang dimaksud dengan Leika. Namun ia sedang tidak ingin melakukan hal itu. Yang ada rasa marahnya mulai muncul kembali, setelah tadi sempat menghilang.
"Jangan memancing hasratku!"
Bersambung ...
...----------------...
__ADS_1